6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengakrabi Bali via Jalanan

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 5, 2025
in Esai
Mengakrabi Bali via Jalanan

Ilustrasi jalanan di Bali by Imagen

Mengakrabi dinamika Bali dapat dimulai dengan menelusuri jalannya. Petualangan jalanan tanpa target jelas mengenalkan kita pada gerak sosial-ekonomi dari pinggiran aspal. Jalanan yang menghubungkan Gianyar, Badung, dan Denpasar menunjukkan denyut kehidupan, mitos, dan modernitas Bali. Melintasinya seperti ziarah tak sengaja, mengakrabi saksi bisu dari ribuan kisah yang bergerak setiap hari.

Perjalanan dimulai dari persimpangan di Desa Sakah, Gianyar. Di sana, di tengah riuh lalu lintas, duduk bersila sesosok bayi raksasa: Patung Bayi Sakah. Secara resmi bernama Sang Hyang Brahma Lelare, patung yang digagas mantan Bupati Gianyar, Cokorda Darana (1989). Ini titik nol metaforis. Patung ini sebagai pengingat, Gianyar ialah “roh” dan markas seniman Bali. Disini karya cipta seni diawali dengan karya cipta murni, mulai dari kecil kemudian besar dan berkembang.  

Penempatan patung bayi di sebuah persimpangan sibuk bukanlah kebetulan. Inilah intervensi budaya yang disengaja. Patung ini berfungsi sebagai gerbang filosofis bagi para pelancong untuk merenungkan asal-usul kreativitas sebelum mereka mengonsumsi produk-produknya di sepanjang jalan. Sebelum kita melihat kilau perak di Celuk atau detail ukiran di Desa Mas, kita dihadapkan pada sumbernya: kreativitas murni yang belum terbentuk, suci dan rentan seperti seorang bayi. Jalan raya ini dibingkai bukan sebagai jalur transit, melainkan ruang kontemplasi. Perjalanan ini bukan lagi sekadar tur belanja, melainkan partisipasi dalam sebuah siklus kreatif yang lebih besar.

Meninggalkan Sakah, jalanan menyempit dan denyutnya berubah. Rute galeri terbuka yang membentang puluhan kilometer, melewati pusat-pusat kerajinan legendaris: ukiran kayu di Desa Mas, perak di Desa Celuk, dan pasar seni di Sukawati. Di kiri dan kanan, etalase-etalase kaca memantulkan kilau perhiasan perak. Tumpukan topeng kayu menatap ke arah lalu lintas yang tak pernah berhenti. Ada artshop lukisan, ada pula jejeran patung kayu. Aroma dupa yang samar dari pekarangan rumah berbaur dengan asap knalpot, menciptakan sebuah parfum khas yang hanya bisa ditemukan di sini. Inilah permadani kehidupan sehari-hari, yang dilukis dengan kegembiraan sederhana.  

Jalanan juga jadi panggung bagi ekosistem kendaraan di Bali. Skuter matik mendominasi, menjadi pilihan favorit karena praktis, irit, dan mampu menembus kemacetan serta jalan-jalan sempit. Honda Scoopy dengan desain retronya yang lincah menyelinap di antara celah seperti para penari. Yamaha NMAX dan Honda PCX yang lebih besar melaju dengan gagah. Jangan heran jika berpapasan dengan Harley-Davidson. Mobil-mobil wisata bergerak lamban seperti paus di antara kawanan ikan kecil. Terkadang kita dapat menemui mobil mewah melintas. Setiap kendaraan memiliki perannya, mencerminkan struktur sosial dan ekonomi Bali yang terus bergerak.  

Di sepanjang koridor ini, sebuah paradoks yang indah terungkap. Di satu sisi jalan, di dalam sanggar-sanggar seni, para pengrajin bekerja dengan kesabaran yang nyaris meditatif, menciptakan karya yang membutuhkan waktu berhari-hari. Di sisi lain, di atas aspal, berlangsung sebuah tarian kecepatan dan efisiensi di mana setiap detik terasa berharga. Jalan raya ini adalah titik temu antara Bali yang lestari dan Bali yang tergesa-gesa. Pengalaman berkendara di sini, kita dapat merasakan ketegangan produktif antara dua dunia tersebut secara langsung.

Epik di Persimpangan Modernitas

Semakin mendekati Denpasar, jalanan melebar di Jalan Bypass Ngurah Rai. Lanskap berubah menjadi lebih urban. Di sinilah, di tengah sebuah bundaran yang sibuk, sebuah narasi agung berdiri kokoh: Patung Titi Banda. Patung monumental karya I Wayan Winten ini menggambarkan adegan epos Ramayana. Kita saksikan Rama, dibantu oleh pasukan kera pimpinan Hanoman, membangun jembatan untuk menyelamatkan Sinta dari cengkeraman Rahwana. Patung ini merupakan perwujudan nilai kegotongroyongan, kesetiaan, dan kepemimpinan dalam memperjuangkan kebajikan.

Ke selatan, dekat Bandara Ngurah Rai, kita disambut oleh sang pelindung: Patung Satria Gatotkaca. Gatotkaca, ksatria sakti yang mampu terbang, simbol keberanian dan kekuatan. Masyarakat Bali percaya patung ini memberikan perlindungan spiritual bagi para pelancong yang datang dan pergi. Enam kuda yang menarik kereta perangnya bukanlah sekadar hiasan. Kuda itu ialah simbol dari Sad Ripu, enam musuh dalam diri manusia (nafsu, serakah, marah, mabuk, iri, dan bingung) yang harus dikendalikan.  

Rangkaian patung di sepanjang rute ini tanpa sadar membentuk sebuah narasi perjalanan pahlawan. Perjalanan dimulai dengan kelahiran dan potensi murni (Bayi Sakah), dilanjutkan dengan menghadapi tantangan besar yang membutuhkan kerja sama (Titi Banda), dan diakhiri dengan perwujudan kekuatan heroik setelah melewati ujian (Gatotkaca). Pengemudi di jalan ini bukan hanya berpindah dari titik A ke B, tetapi secara simbolis menapaki kembali arketipe mitologis ini. Jalan raya ini telah menjadi sebuah teks mitologis yang terukir dalam lanskap.

Meditasi dalam Kemacetan

Lalu, mesin berhenti. Roda tak lagi berputar. Macet. Penyakit perkotaan yang disebabkan pembangunan masif dan ledakan pariwisata. Macet juga bagian tak terpisahkan dari perjalanan. Awalnya, ada rasa frustrasi. Klakson bersahutan. Namun, jika kita memilih untuk menyerah pada jeda ini, perspektif pun berubah. Kendaraan bukan lagi alat transportasi, melainkan sebuah ruang observasi yang intim.  

Di tengah lautan kendaraan yang tak bergerak, detail-detail kecil yang tadinya luput kini menjadi fokus. Ekspresi lelah di wajah pengendara motor di sebelah. Tetesan keringat supir mobil pickup. Permainan cahaya matahari pada dasbor yang berdebu. Kemacetan, dalam konteks ini, menjadi sebuah upacara modern yang tak terelakkan. Kemacetan pun jadi sebuah ritual penantian kolektif.  

Jalanan pun jadi penyetara agung. Turis di dalam mobil ber-AC, pemandu lokal, pekerja kantoran, dan pengemudi ojek online, semuanya dipaksa masuk ke dalam kondisi yang sama: menunggu. Batasan sosial untuk sementara waktu larut dalam pengalaman bersama yang universal ini. Ini bukan lagi waktu yang terbuang, melainkan waktu yang ditemukan. Kesempatan langka untuk mengamati mikrokosmos warga Bali dalam keadaan diam yang dipaksakan. Ini momen untuk menemui kehidupan secara berbeda.  

Perjalanan di arteri Gianyar-Badung-Denpasar akhirnya berakhir, namun jejaknya menetap. Petualangan mengajarkan sebuah filosofi jalanan. Bahwa di pulau ini, mitos tidak mati, malah hidup dan bernapas di persimpangan jalan. Bahwa kemajuan tidak selalu berarti kecepatan. Terkadang pencerahan ditemukan dalam jeda yang tak terduga. Perjalanan ini menegaskan kembali apa yang dikatakan banyak orang bijak: tujuan akhir dari setiap perjalanan di Bali bukanlah sebuah tempat, melainkan keadaan batin.

Mesin telah dimatikan, namun perjalanan di dalam diri terus berlanjut. Sebab, seperti sebuah pepatah tua, “Kau bisa membersihkan pasir dari sepatumu, tapi Bali tidak akan pernah meninggalkan jiwamu”. Debu jalanan, gema mitos, dan keheningan yang ditemukan di tengah kemacetan itu kini telah menjadi bagian dari jiwa.  [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis ARIEF RAHZEN

Gerak-gerik Budaya Bali
Tags: baliJalanjalan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Sampai Masyarakat Batur “Rarud” Akibat Arus Modal

Next Post

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  — Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Bukan Entil, Bukan Pesor, Ini Ketongkol dari Marga  -- Kulineran di Festival ke Uma Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co