12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

JIKA ada di antara sidang pembaca yang budiman yang coba ingat-ingat pada tahun 80-an, banyak rumah-rumah orang Indonesia sederhana saja. Banyak yang berdinding papan, perabotan seadanya, televisi masih barang langka. Tidak ada sofa empuk, tidak ada pendingin ruangan, apalagi gadget canggih. Namun, anehnya, saya merasa hidup saat itu terasa tenteram. Ada ketulusan dalam ngobrol di teras rumah, ada keintiman dalam makan bersama keluarga, ada solidaritas dalam gotong royong membersihkan kampung.

Sekarang ini rumah makin mewah, barang-barang elektronik berseliweran, dan e-wallet siap melayani gaya hidup instan. Tapi kenapa rasa tenteram itu kini kok entah ke mana. Yang ada justru hidup yang serba terburu-buru, penuh distraksi, dan banyak orang makin sering dihantui kecemasan soal eksistensi diri. Sebenarnya apakah sisi kemanusiaan kita sedang terkikis, ataukah kita memang sedang bermetamorfosis menuju bentuk kemanusiaan baru, yang saya kurang bisa paham, yang model ketenteramannya berganti kulit dengan caranya sendiri?

Nostalgia yang (Hampir) Mustahil

Banyak orang percaya, solusi dari keresahan modern adalah kembali ke kesederhanaan lama. Contohnya,  makan bersama tanpa gawai, ngobrol tatap muka, atau gotong royong di kampung. Kedengarannya manis, tapi jujur saja, itu seringnya hanya nostalgia yang sulit diwujudkan. Karena realitas hari ini dan struktur yang membentuknya tidak akan mungkin bisa mundur. 

Ada beberapa alasan yang saya kira cukup jelas.  Saat ini, hidup secara digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak ikut, kita memang bakal ketinggalan. Untuk urusan makan bersama pasti  jadi barang mewah. Jadwal kerja yang padat, anak sibuk sekolah dan les, waktu keluarga makin sempit dengan jadwal masing-masing. 

Bagaimana dengan gotong royong? Mohon maaf, para pembaca yang budiman, mindset transaksional sudah merajalela,  orang jaman digital ini mau membantu kalau ada timbal balik.  Mau kembali ke alam, alam sendiri sudah rusak di banyak tempat. Lagi pula tubuh manusia modern sudah terbiasa dengan AC, Netflix, dan ojek online.

Maka, usulan sederhana seperti “ayo lebih sering makan bersama” seringkai jadi terasa naif. Karena masalahnya bukan sekadar perilaku individu, tapi soal struktur sosial-ekonomi yang memaksa kita hidup cepat, efisien, dan serba digital.

Alienasi, Gestell, dan Modernitas Cair

Ternyata, apa yang kita alami bukan hal baru. Karl Marx sejak abad ke-19 sudah menulis tentang alienasi, manusia dalam sistem kapitalisme tercerabut dari pekerjaannya, dari sesamanya, bahkan dari dirinya sendiri. Jadi keresahan modern ini bukan kebetulan, tapi konsekuensi logis dari sistem. Martin Heidegger menambahkan bumbu penyedap, katanya, manusia modern terjebak dalam Gestell, kerangka teknologis, yang membingkai cara kita melihat dunia. Akibatnya, cara kita merasa tenteram pun, saya rasa ikut diatur oleh teknologi.

Masih belum selesai, bahkan Zygmunt Baumanpunya istilah lebih mutakhir.  Modernitas hari ini disebutnya sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Segalanya serba sementara, pekerjaan, hubungan, bahkan identitas. Tengok saja bagaimana baru-baru ini Elon musk memecat 500 mentor AI Grok karena dianggap sudah tidak perlu. Mau diganti dengan mentor baru yang punya spesifikasi lebih tajam, tutor AI spesialis. Kebayang 500 orang yang tadinya dikontrak nyaman sekarang harus muter otak cari kerjaan lagi. Tidak ada lagi stabilitas yang memungkinkan kita duduk manis sambil meneguk kopi tubruk di sore hari. Kesimpulannya memang ketenteraman gaya lama mustahil diulang kembali. Yang lahir adalah bentuk baru ketenteraman, sesuai dengan logika zaman.

Wujud Ketenteraman Baru

Sekadar pemikiran rekreatif saja untuk kita semua, karena sekadar mengira-ngira ketenteraman model digital sepertinya cukup menghibur.  Kalau dulu tenteram berarti duduk ngobrol di teras rumah, sekarang tenteram berarti story Instagram kita dilihat banyak orang. “Like” saat ini sepertinya bisa sama legitnya dengan sapaan tetangga yang kebetulan lewat. Bisa juga ketenteraman dalam efisiensi dan kontrol. Dulu orang bisa bersikap tenang karena punya sikap nrimo,  kalau hujan, ya terima saja. Sekarang orang tenang karena tahu bisa memesan ojol dengan klik, atau melihat saldo keuangan lewat aplikasi. Makin banyak efisiensi  makin merasakan ketenteraman.

Nah, ada pula ketenteraman dalam konsumsi simbolis.  Budaya pamer di medsos alias flexing bukan sekadar sombong, tapi juga cara mendapat ketenangan. “Saya ada, saya diakui.” Foto liburan dengan view ciamik, kopi-kopi kekinian, atau gadget baru adalah penegasan identitas. Di sisi lain ada  yang menggapai ketenteraman dalam distraksi. Misal, Binge-watching Netflix, scrolling TikTok, atau nge-game bisa jadi bentuk relaksasi paling jujur. Hidup memang keras saudara,  distraksi boleh lah, jadi obat bius yang sah.

Model selanjutnya bisa kita sebut sebagai ketenteraman dalam mobilitas. Jadi, kalau dulu tenteram berarti punya tanah warisan, punya jaminan.  Beda jaman, sekarang tenteram berarti bisa pindah kota, kerja remote, atau traveling. Keterikatan diganti kebebasan bergerak.  Gotong royong tradisional mungkin punah, tapi komunitas hobi online, fandom, atau grup Discord muncul sebagai solidaritas cair. Tidak permanen, tapi cukup untuk bikin orang merasa tidak sendirian, suatu model ketenteraman dalam komunitas cair.

Menyakitkan bagi Model Lama

Bagi generasi lama, semua yang baru saja kita bahas  terdengar menyedihkan. Ketenteraman kok diukur dari likes? Masa, orang lebih tenang kalau nonton drakor daripada ngobrol dengan tetangga? Kok, solidaritas hanya sebatas grup Telegram? Tapi bagi generasi sekarang, itulah otentisitas mereka. Mereka masih bisa merasakan ketenteraman bersama kawan atau keluarga dengan obrolan warung kopi, namun mereka memang juga sungguh tenteram dengan notifikasi, saldo e-wallet, dan streaming series.  Apakah ini suatu degradasi atau malah metamorfosis?

Di sinilah pilihan filosofisnya, apakah kita mau menyebut ini degradasi, sebagai masa jatuhnya manusia ke level dangkal, kehilangan kedalaman relasi, tercerabut dari kemanusiaan sejati? Atau apakah ini sebenarnya metamorfosis, suatu evolusi bentuk kemanusiaan, di mana ketenteraman lama mati, dan ketenteraman baru lahir, meski dengan wajah yang dianggap dingin dan cair? Jawaban mungkin tergantung posisi kita. Generasi lama akan merasa kehilangan, generasi baru merasa wajar, B aja. Sama seperti nenek moyang yang dulu tenteram dengan radio tabung, tapi anak cucunya merasa tenteram dengan Netflix.

Pelan-Pelan Belajar Menerima Bentuk Baru

Ketenteraman model baru ini mungkin memang tampak asing, bahkan getir. Tapi menolaknya sama dengan menolak arah sejarah. Yang bisa kita lakukan tentu bukan kembali ke masa lalu, melainkan belajar menerima dan mendefinisikan ulang ketenteraman di zaman cair ini. Mungkin, ke depan, rumah tak lagi jadi pusat kebahagiaan. Mungkin, sahabat dekat kita justru tinggal di server Discord ribuan kilometer jauhnya. Mungkin, rasa damai kita lahir bukan dari alam yang hijau, tapi dari layar sentuh di hadapan kita.

 Apakah itu palsu? Tidak. Itu otentik dalam konteks zaman. Wajar jika terasa menyakitkan bagi yang masih merindukan ketenteraman gaya lama, tapi sekaligus membuka kemungkinan bahwa kemanusiaan memang selalu bermetamorfosis. Tapi ngomong-ngomong, ngopi bareng tetangga RT memang terbaik. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Kemakmuran yang Menyesatkan
Tags: manusiamodern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemecah Ilusi Kesetaraan Gender Melalui Klub Debat dan Diskusi

Next Post

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co