JIKA ada di antara sidang pembaca yang budiman yang coba ingat-ingat pada tahun 80-an, banyak rumah-rumah orang Indonesia sederhana saja. Banyak yang berdinding papan, perabotan seadanya, televisi masih barang langka. Tidak ada sofa empuk, tidak ada pendingin ruangan, apalagi gadget canggih. Namun, anehnya, saya merasa hidup saat itu terasa tenteram. Ada ketulusan dalam ngobrol di teras rumah, ada keintiman dalam makan bersama keluarga, ada solidaritas dalam gotong royong membersihkan kampung.
Sekarang ini rumah makin mewah, barang-barang elektronik berseliweran, dan e-wallet siap melayani gaya hidup instan. Tapi kenapa rasa tenteram itu kini kok entah ke mana. Yang ada justru hidup yang serba terburu-buru, penuh distraksi, dan banyak orang makin sering dihantui kecemasan soal eksistensi diri. Sebenarnya apakah sisi kemanusiaan kita sedang terkikis, ataukah kita memang sedang bermetamorfosis menuju bentuk kemanusiaan baru, yang saya kurang bisa paham, yang model ketenteramannya berganti kulit dengan caranya sendiri?
Nostalgia yang (Hampir) Mustahil
Banyak orang percaya, solusi dari keresahan modern adalah kembali ke kesederhanaan lama. Contohnya, makan bersama tanpa gawai, ngobrol tatap muka, atau gotong royong di kampung. Kedengarannya manis, tapi jujur saja, itu seringnya hanya nostalgia yang sulit diwujudkan. Karena realitas hari ini dan struktur yang membentuknya tidak akan mungkin bisa mundur.
Ada beberapa alasan yang saya kira cukup jelas. Saat ini, hidup secara digital bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak ikut, kita memang bakal ketinggalan. Untuk urusan makan bersama pasti jadi barang mewah. Jadwal kerja yang padat, anak sibuk sekolah dan les, waktu keluarga makin sempit dengan jadwal masing-masing.
Bagaimana dengan gotong royong? Mohon maaf, para pembaca yang budiman, mindset transaksional sudah merajalela, orang jaman digital ini mau membantu kalau ada timbal balik. Mau kembali ke alam, alam sendiri sudah rusak di banyak tempat. Lagi pula tubuh manusia modern sudah terbiasa dengan AC, Netflix, dan ojek online.
Maka, usulan sederhana seperti “ayo lebih sering makan bersama” seringkai jadi terasa naif. Karena masalahnya bukan sekadar perilaku individu, tapi soal struktur sosial-ekonomi yang memaksa kita hidup cepat, efisien, dan serba digital.
Alienasi, Gestell, dan Modernitas Cair
Ternyata, apa yang kita alami bukan hal baru. Karl Marx sejak abad ke-19 sudah menulis tentang alienasi, manusia dalam sistem kapitalisme tercerabut dari pekerjaannya, dari sesamanya, bahkan dari dirinya sendiri. Jadi keresahan modern ini bukan kebetulan, tapi konsekuensi logis dari sistem. Martin Heidegger menambahkan bumbu penyedap, katanya, manusia modern terjebak dalam Gestell, kerangka teknologis, yang membingkai cara kita melihat dunia. Akibatnya, cara kita merasa tenteram pun, saya rasa ikut diatur oleh teknologi.
Masih belum selesai, bahkan Zygmunt Baumanpunya istilah lebih mutakhir. Modernitas hari ini disebutnya sebagai liquid modernity alias modernitas cair. Segalanya serba sementara, pekerjaan, hubungan, bahkan identitas. Tengok saja bagaimana baru-baru ini Elon musk memecat 500 mentor AI Grok karena dianggap sudah tidak perlu. Mau diganti dengan mentor baru yang punya spesifikasi lebih tajam, tutor AI spesialis. Kebayang 500 orang yang tadinya dikontrak nyaman sekarang harus muter otak cari kerjaan lagi. Tidak ada lagi stabilitas yang memungkinkan kita duduk manis sambil meneguk kopi tubruk di sore hari. Kesimpulannya memang ketenteraman gaya lama mustahil diulang kembali. Yang lahir adalah bentuk baru ketenteraman, sesuai dengan logika zaman.
Wujud Ketenteraman Baru
Sekadar pemikiran rekreatif saja untuk kita semua, karena sekadar mengira-ngira ketenteraman model digital sepertinya cukup menghibur. Kalau dulu tenteram berarti duduk ngobrol di teras rumah, sekarang tenteram berarti story Instagram kita dilihat banyak orang. “Like” saat ini sepertinya bisa sama legitnya dengan sapaan tetangga yang kebetulan lewat. Bisa juga ketenteraman dalam efisiensi dan kontrol. Dulu orang bisa bersikap tenang karena punya sikap nrimo, kalau hujan, ya terima saja. Sekarang orang tenang karena tahu bisa memesan ojol dengan klik, atau melihat saldo keuangan lewat aplikasi. Makin banyak efisiensi makin merasakan ketenteraman.
Nah, ada pula ketenteraman dalam konsumsi simbolis. Budaya pamer di medsos alias flexing bukan sekadar sombong, tapi juga cara mendapat ketenangan. “Saya ada, saya diakui.” Foto liburan dengan view ciamik, kopi-kopi kekinian, atau gadget baru adalah penegasan identitas. Di sisi lain ada yang menggapai ketenteraman dalam distraksi. Misal, Binge-watching Netflix, scrolling TikTok, atau nge-game bisa jadi bentuk relaksasi paling jujur. Hidup memang keras saudara, distraksi boleh lah, jadi obat bius yang sah.
Model selanjutnya bisa kita sebut sebagai ketenteraman dalam mobilitas. Jadi, kalau dulu tenteram berarti punya tanah warisan, punya jaminan. Beda jaman, sekarang tenteram berarti bisa pindah kota, kerja remote, atau traveling. Keterikatan diganti kebebasan bergerak. Gotong royong tradisional mungkin punah, tapi komunitas hobi online, fandom, atau grup Discord muncul sebagai solidaritas cair. Tidak permanen, tapi cukup untuk bikin orang merasa tidak sendirian, suatu model ketenteraman dalam komunitas cair.
Menyakitkan bagi Model Lama
Bagi generasi lama, semua yang baru saja kita bahas terdengar menyedihkan. Ketenteraman kok diukur dari likes? Masa, orang lebih tenang kalau nonton drakor daripada ngobrol dengan tetangga? Kok, solidaritas hanya sebatas grup Telegram? Tapi bagi generasi sekarang, itulah otentisitas mereka. Mereka masih bisa merasakan ketenteraman bersama kawan atau keluarga dengan obrolan warung kopi, namun mereka memang juga sungguh tenteram dengan notifikasi, saldo e-wallet, dan streaming series. Apakah ini suatu degradasi atau malah metamorfosis?
Di sinilah pilihan filosofisnya, apakah kita mau menyebut ini degradasi, sebagai masa jatuhnya manusia ke level dangkal, kehilangan kedalaman relasi, tercerabut dari kemanusiaan sejati? Atau apakah ini sebenarnya metamorfosis, suatu evolusi bentuk kemanusiaan, di mana ketenteraman lama mati, dan ketenteraman baru lahir, meski dengan wajah yang dianggap dingin dan cair? Jawaban mungkin tergantung posisi kita. Generasi lama akan merasa kehilangan, generasi baru merasa wajar, B aja. Sama seperti nenek moyang yang dulu tenteram dengan radio tabung, tapi anak cucunya merasa tenteram dengan Netflix.
Pelan-Pelan Belajar Menerima Bentuk Baru
Ketenteraman model baru ini mungkin memang tampak asing, bahkan getir. Tapi menolaknya sama dengan menolak arah sejarah. Yang bisa kita lakukan tentu bukan kembali ke masa lalu, melainkan belajar menerima dan mendefinisikan ulang ketenteraman di zaman cair ini. Mungkin, ke depan, rumah tak lagi jadi pusat kebahagiaan. Mungkin, sahabat dekat kita justru tinggal di server Discord ribuan kilometer jauhnya. Mungkin, rasa damai kita lahir bukan dari alam yang hijau, tapi dari layar sentuh di hadapan kita.
Apakah itu palsu? Tidak. Itu otentik dalam konteks zaman. Wajar jika terasa menyakitkan bagi yang masih merindukan ketenteraman gaya lama, tapi sekaligus membuka kemungkinan bahwa kemanusiaan memang selalu bermetamorfosis. Tapi ngomong-ngomong, ngopi bareng tetangga RT memang terbaik. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI


























