ADA sembilan atlet taekwondo Buleleng yang dikirim untuk Porprov Bali 2025, Minggu, 7 September. Hasil dari sembilan atlet itu, dua medali emas, lima perak, dan satu perunggu.
Dua emas disabet Putu Agus Wiradana Jaya dan Putu Ryan Angga Pratama Sastra. Sementara lima perak ditorehkan Wayan Agus Sulitra, Kadek Adi Darsana, Kadek Ristina Indriani, dan Komang Made Sida, dan Bintang Yodisa Suta. Sementara perunggu dicongkel Luh Putu Arya Darmayanti.
Semua perolehan itu diperas dari rasa sakit lebam kulit, mual perut dan keram otot, bahkan, juga ada yang diperas dari rasa sedih—kegagalan.
Salah satunya Putu Agus Wiradana Jaya, atau biasa disapa Wira. Ia adalah salah satu atlet yang menorehkan medali emas dengan latihan cukup maksimal, mengingat beberapa tahun lalu, katanya, ia sering gagal.
Jarak kegagalannya cukup panjang dari tahun dari 2022-2024. Yang membuat Wira sempat pesimis untuk tetap bertahan atau tidak di cabor taekwondo.
Gagal masuk tim porprov Bali (2022), dan gagal hampir di semua event dari 2023 hingga 2024. Di tahun 2022, Wira masuk tim Porprov Bali sebagai crew. Bertugas menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan oleh para atlet, membuat hati Wira terhenyak.
Ketika temannya bertarung dan menang, perasaannya seperti sedang ditendang, ya, pikirnya saat itu, seharusnya ia juga ikut serta dalam pertandingan sebagai petarung.

Putu Agus Wiradana Jaya (helm merah) | Foto: KONI Buleleng
Tapi tahun sekarang, tahun 2025 ini ingatan itu telah dibakarnya. Pada ajang Porprov Bali 2025, Wira sabet medali emas menuntaskan rasa sedih, pembuktian sebagai seorang pendekar yang layak disebut-sebut namanya.
Untuk sampai pada tahap emas ini, pendekar asal Busungbiu itu, sengaja berlatih sangat keras untuk menuntaskan sedihnya di tahun-tahun lalu. Dengan waktu latihan empat bulan dari bulan Mei hingga Agustus, ia hanya sedikit mengambil waktu libur untuk pemulihan dari rasa capek dan bosan.
“Saya latihan setiap pagi dan sore. Begitu terus dari empat bulan itu. Cape, berdarah, menangis, mungkin itu wajar, yah, namanya juga olahraga beladiri. Tapi apa yang membuat saya maksimal saat latihan, mengambil waktu libur sedikit, tanpa ijin bahkan, itu karena saya mengenang masa lalu saya, yang terus gagal di setiap kompetisi,” kata Wira.
Wira lahir di Singaraja, 26 April 2003. Lahir di Singaraja tapi lebih banyak waktu tumbuh di Denpasar. Di Denpasar, Wira pernah sekolah di SD Kristen Harapan, kemudian SMP Kristen 1 Harapan.
Di SMP kelas dua, Wira mulai tertarik dengan taekwondo. Ia berlatih taekwondo lebih serius setelah basket yang dianggapnya tidak lagi menarik.
“Saya disuruh orang tua masuk taekwondo. Awalnya tidak tertarik dan tidak tahu juga soal taekwondo itu seperti apa, bahkan, ketika saya ikut latihan di hari Minggu itu, saya cukup mencari kostum warna putih untuk menandakan bahwa kumpulan itu adalah orang latihan taekwondo, haha.” cerita Wira.
Kisahnya dalam mengenal ilmu beladiri taekwondo, berlanjut hingga sekolah di SMA N 6 Denpasar, yang membuatnya berkelana semakin jauh.
Ia banyak mengenal para pelatih yang mendidiknya menjadi seorang atlet tak mudah mengenal rasa menyerah. Beberapa di antaranya ada Sabeum Bilyan Gredika, Sanim Sandiaz Antonio, Sanim Putu, Sabeum Eka, dan Sabeum Arix.

Putu Agus Wiradana Jaya di podium penerima medali emas | Foto: KONI Buleleng
Di tangan para pelatihnya, Wira pernah sabet kejuaraan yang tentu saja membanggakan. Yaitu pernah menjadi Atlet Terbaik Walikota Surabaya (2019), Perak Porprov Bali (2019), Pernah masuk Tim Platda Tambahan di PON Papua (2021), dan terakhir medali Emas Porprov Bali (2025).
Di ajang Porprov, Wira dua kali bertanding di arena juang. Pertama, ia tanding dengan Wira (nama lawan) dari Bangli. Kedua, bertanding dengan Leon dari Badung, yang digelar di hari yang sama, Minggu, 7, September.
Dalam pertandingan itu, terdapat dua ronde dengan dua menit bersih setiap rondenya. Di ronde pertama menang dengan poin 12 : 8, di ronde kedua menang dengan poin 20 : 15.
“Tahun ini memang pelunasan atas apa-apa yang pernah gagal itu. Karena bagi saya, taekwondo itu, adalah harga diri!” kata Wira. Tegas.
Belajar dari Wira, soal hidup hanya soal keberanian. Berani untuk sembuh, berani untuk bangkit. Terima kasih emasnya Wira, terimakasih ceritanya. Merdeka. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto



























