7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Puisi-puisi: Rendezvous Biru, Di Sebuah Kapela

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Nyoman Erawan, bagian Monolog Rupa (2017)

.
UAP KOPI

Kita selalu merindukan puisi-puisi yang terbang bersama uap kopi
diam-diam menyelinap manja dalam hangatnya
meresapi wanginya untuk merasakan lapar, sisa-sisa masa lalu dan
guguran rasa yang lain
Kita selalu luruh dalam uap kopi yang bebas
menggeliatkan angan dari campakan ego
melayarkan kembali mimpi yang hampir samar karena cuaca
masihkah kita terjebak dalam medan magnet asing
ketika ampas-ampas kopi menyayat huruf-huruf ganjil dalam mata
lalu puisi-puisi berhamburan ke dalam dada ranummu
dan gelora kecipak darahmu
Hingga kita mulai percaya
bahwa kopi selalu menyediakan ruang untuk melabuhkan riuh rindu
karena ia mampu menjahit jerit kehilangan
dari perca-perca hasrat yang purba

(Tegaljaya, Oktober 2016)

DI SEBUAH KAPELA

Pukul duabelas lonceng kapela berbunyi
Nyanyian menggema terbang melintasi sejuta serapah
Mendedah segala nyeri mengisi kuk jiwa yang larat
Ribuan anak panah melesat seperti uap tangis balita
di antara homili
Di bawah cahaya lampu, sayap-sayap yang patah jadi tirai
dan anyir lidah dimurnikan nyanyian hosanna
Kita tak perlu mencari robekan baju atau serat-serat yang rontok
Hanya dengarkan seksama suaranya dalam mata injil
Di bawah lampu perca-perca harapan lahir
Konsekrasi membuka rahasia baju kita yang paling kelit
Memanjangkan rasa dan bayangan jadi energi untuk menjahit
Robekan yang asin oleh darah
Lewat tangan imam roh ditiupkan pada hosti yang sampai di telapak tangan kita
Kita segera menyantapnya
lalu tenggelam dalam serat baju kita masing-masing

(Tegaljaya, November 2017)

ABU-ABU

Di sini
Dua orang duduk dalam satu bangku panjang berunding
Tentang hari-hari yang lewat sia-sia
Dan hari-hari yang belum lewat
menghitung detak jam, melihat kalender dan menantang malam
Lalu mereka memutuskan mencari cara keluar
Dari kubang jelaga dengan cara indah dan rapi
Namun jelaga masuk ke bilik jantung
Mereka mencoba telanjang dan duduk di kursi terpisah
Rasa paling manusiawi terbit
Meliuk licin di serabut cinta
Cinta dan puisi mengambang dalam warna abu-abu
Mereka mencoba lagi menyalin surat cinta yang pernah mereka tulis
Tapi huruf-huruf dingin bermunculan
Membeku di kucup malam
Kelopak usia beringsut keriput
Sekeriput rasa yang mulai lelah oleh liang lapar
Janji kehilangan tuah di hari keramat
Kini dada merekapun berubah warna jadi abu-abu
Seperti mendung yang bergelayut di langit sore

(Tegaljaya, November 2017)

HARI KEMENANGAN

“Mereka mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.”

Jumbai panjang penuh penghormatan semestinya tak hanya untuk sebuah ritual
Mereka terlelap dalam anggur terbaik
Harum piala memuntahkan manis puja-puji
Kata-kata tuhan telah dipanggul di bahu masing-masing orang
Sedang mereka menyisihkan diri dan memasang tilam yang lain
Waktu tak pernah mengekalkan sebuah dusta apalagi kesesatan
Siapa yang menebar jala ia akan mendapat bagiannya
Maka sang waktu menjamin ada satu tiang yang dapat dijadikan sandaran
Meski terkepung silau oleh tirai jubah
Belati pikiran akan mengusap lembut punggungmu sebelum akhirnya menusukmu
Sekerat roti menjadi hambar meski dicelup dalam anggur
Tapi marilah berdoa
Atas keratan beban di kepala dan bahu
Dan salib yang terus memberat mendaki bukit tengkorak
Dengan senyum paling ramah merayakan lubang paling nyeri
hingga sampai di puncak pembebasan
di hari kemenangan

(Tegaljaya, November 2017)

RAHASIA SUNYI

Keringatmu kutampung dalam piala
Juga ludahmu
Kusimpan dalam lembar-lembar kitab
Tak lupa kujahit lidahku dalam huruf-huruf di tiap lembarnya
Hingga kita selalu bersama sekaligus mengakrabi nurani dibalik
Getar-getar yang nyala
“Pulanglah.” Ujarmu
Kilau gigimu membuka rahasia tubuh yang lama ditempeli identitas
Cakar-cakar emosi bersarang di kedua bilik dan serambi jantung
Serta beribu tanda tanya diantara barisan kecemasan
Keringatmu terlalu cukup untuk kugubah menjadi tawa atau catatan kematian
Terlalu cukup. Bahkan kurindui meski bisu memenjarakan seribu tangan
Dan segugus harap
Ah, aroma keringatmu telah menaksir jarak , langkah dan jadwal kepulanganku
Yang selalu menjadi rahasia
Rahasia sunyi.

( Tegaljaya, Mei 2017 )

RENDEZVOUS BIRU

Bu, hanya pada angin kita berkicau lantang tentang kesunyian yang merambat menjadi dialog
Semata karena ia ringan dengan segala rupa resah dan gerigi pedih
Ia bebas lepas laksana udara
Menyusupi setiap ruang pilu
Menghempas lelap dan jaga
Segala embun kerak, keranda purba yang terbaca dalam diam
Menggetarkan kita dalam pengasingan tak berujung
Bu, telah sampai manakah suara kita?
Tak adakah ruang sepanjang detak waktu untuk kita bersama
Sekadar bertukar kata (hengkang dari sepah orang)
Untuk memberi warna pada mata kita yang telaganya telah lama menguap
Karena mimpi yang bersimpangan dan getar energi berseberangan
Bu, di rendezvous biru
Litani – litani bangkit menggapai langit
Setelah sekian lama mengendap di pucuk ingin
Di rendezvous yang redup dengan wangi lily
Selalu kutunggu kerling matamu meski kata-kata tak mampu mewakili tetes rindu
Biarkan aku mencipta syair dari intisari doa
Untuk mengabadikan perjalanan yang kian uzur
Dikerat usia

(Tegaljaya, November 2017 )

Tags: Puisi
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Cagub atau Cawagub? Kabar pun Beredar, Sudikerta pun Menjawab

Next Post

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
0
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

by Pitrus Puspito
March 1, 2026
0
Puisi-puisi Pitrus Puspito | Jarak Mencuri Kau Dariku

JARAK MENCURI KAU DARIKU Ketika cinta mulai terjelaskanjarak telah mencuri kau dariku. Sementara pagi tak menjanjikanbahwa kau akan datang,setiap detik...

Read moreDetails

Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

by Aura Syfa Muliasari
February 28, 2026
0
Puisi-puisi Aura Syfa Muliasari  |  Mampir di Nakarempe

MAMPIR DI NAKAREMPE angin berlalu liarmenelisik dan menjelma lalim yang jemawamembawa perkarabersoal tentang pendapa di ujung desa tapi atap ijuknya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

by Vito Prasetyo
February 27, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Hidup Bagai Galeri Ponsel

Hidup Bagai Galeri Ponsel Tatapanmu seperti sinar yang tersasardi antara bantal-bantal bau peluhkita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengantapi hening...

Read moreDetails

Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

by Ida Ayu Made Dwi Antari
February 22, 2026
0
Puisi- Puisi Ida Ayu Made Dwi Antari | Resonansi Jiwa

LENTERA DI AMBANG PINTU Penghujung tahun ini dinginTangis seperti membendung waktuMenyesakkan batin Ada seseorang pernah jadi muara harapKini pupusKecewa mendekapkuHarapan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

by Wayan Esa Bhaskara
February 21, 2026
0
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hikayat Begadang

Hikayat Begadang satu peringatan, bayangkanada tangga menuju surga, dan aku siap-siap menaridi bawahnya, malam kliwon baru saja usai tak ada...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

by Chusmeru
February 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Aku Tanpa-Mu Ramadan hari iniSama seperti saat lalu ya RabbMenghitung pinta yang tak habis di sela doaMenagih nyata yang tak...

Read moreDetails

Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

by I Wayan Kuntara
February 15, 2026
0
Puisi-puisi I Wayan Kuntara | Aku Benci Politik

Aku Benci Politik aku benci politikdatang dengan senyum licikmanis kata-kata penuh retoriknamun di baliknya tersimpan taktik aku benci politikJanji-janji menggema...

Read moreDetails

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

by Made Bryan Mahararta
February 14, 2026
0
Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Hipokrit

Sepintas Kita pernah berjumpa meski sesaatdari pagi yang masih terasa beratsampai langit semakin gemerlapdan lampu jalan redup perlahan, padam Ku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

by Maria Utami
February 13, 2026
0
Puisi-puisi Maria Utami | Dongeng Robusta Nusantara

Pengakuan Si Pahit dari Sumatra Aku tidak punya waktu untuk urusan asmaradi ketinggian yang manja.Lahir dari tanah Lampung yang keras...

Read moreDetails
Next Post

Koruptor itu Sampah, Buanglah pada Tempatnya…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co