6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa

Hartanto by Hartanto
May 14, 2025
in Ulas Rupa
‘Puisi Visual’ I Nyoman Diwarupa

Diwarupa, "Metastomata 2", acrylic on canvas, 2025

BERANJAK dari karya dwi matra Diwarupa yang bertajuk “Metastomata 1& 2” ini, ia mengusung suatu bentuk abstrak. Menurutnya, secara empiris tema Metastomata dapat mewakili konsep dalam berkarya nya Ia, Dengan bebas, Diwarupa mencoba bentuk-bentuk improvisasi. Ini, tambahnya, cendrung mengalir dgn kebebasan yg alami, imajinasi mengalir tanpa framing imaji tertentu.

Melalui pemahamannya terhadap tema Metastomata, dapat di interpretasikan sesuai dgn tema kali ini, Diwarupa memadankan, dimana ia memposisikan sebagai regulator dlm segala aspek proses kreatifitasnya – baik itu berinteraksi secara fisik ataupun non fisik. Sedangkan kecendrungan kecenderungan akan effect yg di peroleh dari improve tadi memberi visual yg secara kasat mata. Yakni sesuatu yg tdk menggambarkan wujud yg realistis, tetapi menghadirkan bentuk-bentuk yang penuh perhitungan secara balancing dan proporsional sebagai elemen yg utuh (abstrct form). Jadi, tambahnya, wujud dalam karya ini tidak lagi berasumsi menggambarkan sesuatu realistik tetapi menghadirkan sesuatu wujud yg baru ( new form )

Karya yang dipamerkan dalam rangkap 29 tahun Kelompok Seni Galang Kangin (KSGK) di Neka Art Museum tanggal 18 April hingga 18 Mei ini, benar-benar mencerminkan kebebasan ekspresi dan improvisasi dalam seni abstrak. Proses kreatif yang di gambarkan – di mana bentuk dan elemen terjadi tanpa framing tertentu—menghadirkan sesuatu yang segar dan mengalir alami. Pendekatan ini menempatkan perupanya sebagai pengatur atau “regulator” yang menjaga keseimbangan dan proporsi dalam abstraksi tersebut.

Diwarupa, “Metaverse”, tri matra, bola dan bubur kertas

‘Pembacaan’ Diwarupa, tema “Metastomata” menekankan pentingnya membebaskan imajinasi mengalir tanpa batasan. Ini mendukung pendekatan seni yang tidak terikat oleh norma realistis, melainkan lebih pada energi dan intuisi kreatif. Dengan menghindari gambaran realistis, Ia berhasil menciptakan bentuk-bentuk unik yang mengundang interpretasi. “New form” ini menantang penikmat untuk menemukan hubungan visual dan emosional melalui elemen-elemen seperti garis, warna, dan tekstur.

Karya Metastomata 1 oleh I Nyoman Diwarupa ini adalah sebuah lukisan abstrak yang penuh dengan energi visual dan kompleksitas komposisi. Menggunakan akrilik di atas kanvas dengan ukuran 147 x 122 cm, karya ini menampilkan berbagai bentuk dan warna yang saling bertautan, menciptakan kesan kedalaman dan gerakan yang dinamis. Warna-warna dominan seperti merah, hijau, kuning, dan abu-abu berinteraksi dalam lapisan-lapisan yang kaya tekstur, memberikan nuansa yang kuat dan ekspresif.

Dalam konteks pameran Metastomata: Metamorphosis Manifesto Galang Kangin, konsep Metastomata sendiri merujuk pada perjalanan kreatif dan refleksi ekologi. Istilah ini berasal dari stomata, yaitu pori-pori kecil pada daun yang berperan dalam pertukaran gas dan pengaturan suhu. Dalam seni rupa, metafora ini menggambarkan bagaimana kreativitas seniman berinteraksi dengan lingkungannya, menciptakan keseimbangan antara ekspresi pribadi dan ekosistem seni yang lebih luas.

Penggunaan akrilik memungkinkan Diwarupa untuk memainkan intensitas warna yang tinggi dan menciptakan lapisan tekstur yang memberikan kesan kedalaman dan keberanian visual. Teknik layering yang tampak pada karya ini menunjukkan proses penciptaan yang intens dan spontan, di mana setiap lapisan menambahkan narasi tersendiri dalam dialog visual antara kekacauan dan keteraturan. Bagi saya, sungguh menarik ‘narasi visual’ yang dibangun oleh Diwarupa melalui medium karya abstraknya.

Judul “Metastomata 1” mengisyaratkan ide perubahan dan transformasi—suatu konsep yang sering muncul dalam kehidupan, baik secara emosional maupun eksistensial. Interpretasinya bisa sangat personal. Kedua karya ini mungkin mengajak kita merefleksikan tentang perubahan diri, pertumbuhan, atau transisi dalam hidup. Dinamika bentuk yang terus berubah dapat diartikan sebagai simbol perjalanan batin yang tidak pernah berhenti.

Para audiens merespon Metaverse, karya tri matra Diwarupa

Di balik ‘kekacauan’ tampak, ada struktur yang tersembunyi. Mengamati bagaimana elemen-elemen bertemu dan berinteraksi, pemirsa bisa merasakan adanya “aturan” di balik apa yang tampak seolah tidak teratur. Hal ini dapat merefleksikan realitas kehidupan modern yang penuh dengan ketidakpastian sekaligus memiliki pola tersembunyi di dalamnya. Kombinasi warna yang penuh semangat dan bentuk yang energetik juga membawa nuansa emosional yang mendalam. Mungkin karya ini merepresentasikan pergolakan batin, di mana setiap lapisan warna dan tekstur menggambarkan perasaan yang kompleks dan berlapis.

Selanjutnya, mari kita dalami karya “Metastomata 2” oleh Diwarupa. “Metastomata 2” merupakan karya abstrak yang dibuat dengan cat akrilik di atas kanvas berukuran 147 x 122 cm dan diselesaikan pada tahun 2025. Penggunaan akrilik memberikan kebebasan dalam menciptakan tekstur yang kaya serta lapisan warna dengan intensitas tinggi. Teknik layering dan penumpukan elemen visual mencerminkan proses penciptaan yang spontan dan penuh eksplorasi, di mana setiap lapisan tampak saling berinteraksi untuk menghasilkan narasi yang kompleks di atas kanvas.

Dalam karya ini, Diwarupa menghadirkan kombinasi warna yang menarik—dari nuansa biru dan hijau yang menenangkan hingga oranye dan ungu yang menyuntikkan semangat dan energi. Penggunaan warna-warna ini tidak hanya menciptakan kontras visual yang kuat tetapi juga mengatur ritme komposisi. Pola-pola swirling dan bentuk-bentuk tumpang tindih mengirimkan pesan tentang gerakan dan dinamika tanpa batas. Adanya dominasi warna-warna cerah yang berpadu dengan aksen gelap seperti hitam mempertegas dualitas antara kekacauan dan struktur.

Seperti halnya metamorfosis dalam alam, bentuk dan warna yang saling bertautan mengisyaratkan perubahan yang tiada henti. Kesan kedinamisan ini mengajak pemirsa untuk merenungkan perjalanan perubahan dalam kehidupan mereka sendiri, di mana setiap lapisan dan garis bisa menjadi simbol evolusi batin. Meskipun tampak liar dan acak, tatanan dalam lapisan dan pola menyiratkan bahwa terdapat struktur yang tersembunyi di balik kesan chaos. Hal ini dapat menjadi metafora kehidupan modern, di mana di balik ketidakpastian selalu ada pola yang menuntun kita menuju pemahaman dan kejelasan.

Kontras antara warna-warna yang menenangkan dan yang energetik menciptakan spektrum emosional yang luas. Karya ini mengundang setiap individu untuk menemukan resonansi pribadi; apakah itu perasaan damai, kegelisahan, atau bahkan semangat yang meluap, semua tersimpan dalam interaksi visual lukisan.

Diwarupa, “Metastomata 2”, acrylic on canvas, 2025

Ukuran yang besar dan kompleksitas elemen visual dalam “Metastomata 2” membuat karya ini menjadi pengalaman yang imersif. Saat berdiri di hadapan karya tersebut, penikmat seolah diajak menelusuri labirin emosi dan refleksi—mencermati detail-detail halus yang menampakkan perjalanan pikiran dan perasaan. Proses pengamatan ini memberikan ruang bagi setiap orang untuk menafsirkan karya sesuai konteks pribadi. Seperti menikmati sebuah puisi, menjadikan sebuah karya, baik karya rupa maupun puisi, setiap penikmat memiliki  interpretasi unik dan mendalam. Oleh karenanya, karya Metastomata 1 & 2 ini saya identikkan dengan ‘puisi visual’.

Jika hendak memadankan karya Diwarupa dan perupa internasional, maka saya memadankannya dengan pelukis Amerika, Joan Mitchell. Saya tak memadankan secara visual, tapi spirit penciptaannya. Ia, salah satu tokoh penting generasi ke dua penggayaan Ekspresionis abstrak. Tak jauh berbeda dengan Diwarupa, Michel mengembangkan gaya khasnya: garis-garis berirama yang saling berlawanan dan bidang-bidang warna berlapis. Ini menjadi bahasa yang digunakannya untuk mengomunikasikan emosi dan pengalaman hidup.

Saat menggambarkan lukisan karyanya  ‘Bonjour Julie’, tahun 1970-an, kurator Klaus Kertess menulis bahwa Mitchell mendapat inspirasi untuk gaya lukisan ini dari karya de Kooning, Arshile Gorky, dan Vasily Kandinsky. Namun, ia mencatat: “Seluruh pengaruh tidak sama dengan lukisannya. Penyebaran cahaya yang halus; sapuan kuas sebagai proyektil dalam pertempuran genting antara keteraturan dan kekacauan; dan kompresi sentripetal dari sapuan, warna, dan bentuk… mentransposisi berbagai polifoni, urban dan organik, dari Kandinsky, Gorky, dan de Kooning ke dalam orkestrasi yang secara khusus merupakan orkestrasi Mitchell.”, Tandas Klaus. Menurut saya, demikian juga perbandingan antara Diwarupa dan Joan Michell, yang saya padankan proses kreatifnya.

Selain itu, pendekatan gestural dan pemilihan palet warna yang dinamis dalam “Metastomata” kadang mengingatkan pada karya Joan Mitchell—di mana tiap goresan dan perpaduan warna tampak seperti hasil tarian emosi yang mendalam. Meski kedua perupa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda, keduanya berhasil mengungkapkan intensitas dan fluiditas pengalaman melalui abstraksi, sehingga paralel dengan semangat yang dihadirkan oleh Diwarupa.

Menurut saya, penting untuk diingat bahwa karya abstrak selalu membuka ruang bagi penafsiran personal. Bagi sebagian orang, kekuatan visual “Metastomata” memang mengaitkan pada mekanisme spontan dan ekspresif ala Jackson Pollock, sementara bagi yang lain, nuansa emosional yang tersaji bisa lebih dekat dengan karya-karya Joan Mitchell. Hal inilah yang membuat diskursus seni selalu hidup—setiap penikmat seni membawa interpretasi dan pengalaman yang berbeda ketika menyaksikan karya ini.

Nils Udo, “Vulcano”, karya instalasi, a choumont-sur-loire 2018

Sepanjang tahun 1950 – 1970, Mitchell mengembangkan gaya khasnya: garis-garis berirama yang saling berlawanan dan bidang-bidang warna berlapis yang menjadi bahasa yang digunakannya untuk mengomunikasikan emosi dan pengalaman hidup. Pada kritikus, Michel berkata tentang karyanya, “Hal tertentu yang saya inginkan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Saya mencoba sesuatu yang lebih spesifik daripada film-film tentang kehidupan saya sehari-hari: Seperti puisi, saya ingin  mengekspresikan sebuah perasaan, lewat bahasa visual, yang puitik”. Ujarnya. Michel juga membuat ilustrasi buku The Poems (1960), sebuah buku puisi karya temannya John Ashbery.  Dan Diwarupa, juga mencipta puisi lewat karya rupa abstraknya.

Kendatipun demikian, meski karya Diwarupa mengedepankan spontanitas, ia tetap menjaga harmoni visual melalui balancing dan proporsi. Ini menciptakan keutuhan dalam komposisi, menjadikan karya tidak hanya ekspresif tapi juga menyenangkan secara estetis. Dalam proses kreatifnya, Diwarupa tidak hanya bekerja dengan elemen fisik seperti media atau tekstur, tetapi juga berinteraksi dengan aspek nonfisik—emosi, intuisi, dan inspirasi dari pengalaman. Hal ini menciptakan dimensi mendalam dalam karyanya. Karya Metastomata 1 & 2, serta Metaverse ini digelar di pembukaan pameran , ditambahkan elemen interaktif atau narasi singkat tentang perjalanan improvisasi perupanya. Ini menarik dan bisa memperkaya pengalaman batin penikmatnya. Terutama karya ‘Metaverse’nya.

Coba mari kita simak karya lainnya Diwarupa yang bertajuk “Metaverse”. Menelisik karya 3 dimensi dari Diwarupa dalam bentuk 36 bola bertekstur kasar dan berwarna cokelat muda, serta tertata pada lantai berubin ini – terasa ada kekuatan simbolik yang mendalam. Setiap bola tampaknya memiliki karakteristik unik, dengan tampilan sedikit kerut atau tekstur seperti permukaan organik. Penataan yang sedikit tidak beraturan memberikan kesan alamiah dan spontan.

Bola sepak yang dibungkus tissue ini, sebagai bentuk dasar bisa merepresentasikan kesatuan atau keutuhan. Jumlah 36 mungkin memiliki arti khusus—bisa simbol numerologi, budaya, atau konsep spiritual tertentu. Mungkin saja bisa dihubungkan dgn angka mistis Nikola Tesla 3,6 dan 9. Metode 3-6-9 melibatkan penulisan tujuan seseorang ; tiga kali di pagi hari, enam kali di sore hari, dan sembilan kali di malam hari untuk mewujudkan keinginan. Berdasarkan kepercayaan Nikola Tesla pada kekuatan mistis angka-angka ini, akan Membantu menyelaraskan pikiran bawah sadar dengan niatan.

Tekstur kasar pada setiap bola mungkin menunjukkan elemen alami atau perjalanan waktu, seperti lapisan makna yang terukir secara bertahap. Penataan yang tidak simetris dapat melambangkan harmoni yang muncul dari ketidakteraturan. Ini mungkin sebuah pernyataan tentang bagaimana kita menemukan keseimbangan dalam kekacauan atau ketidaksempurnaan. Bola dapat diasosiasikan dengan siklus kehidupan, keterhubungan, atau spiritualitas yang mendalam, terutama dalam konteks budaya atau tradisi tertentu.

Judul “Metaverse” yang diusung untuk karya tiga dimensi Diwarupa memberikan dimensi tambahan yang menarik untuk interpretasi. Kata “metaverse” memunculkan gagasan tentang ruang virtual yang terhubung, dunia yang tidak lagi terbatas pada kenyataan fisik, tetapi mencakup kemungkinan tak terbatas di luar realitas yang kita kenal. Hal ini memberikan karya tersebut makna yang futuristik, sekaligus metaforis.

Bola-bola dalam karya dapat direpresentasikan sebagai elemen-elemen dari dunia fisik yang bertransisi menuju realitas digital atau dimensi baru. Penataan yang tidak beraturan mungkin menggambarkan fluiditas dan kebebasan dalam “metaverse,” di mana batasan waktu dan ruang menjadi kabur.

Kombinasi tekstur organik dan kehadiran fisik bola ini dapat menjadi refleksi tentang bagaimana dunia nyata dan virtual dapat berinteraksi dan bertransformasi. Dengan judul “Metaverse,” karya ini dapat berbicara tentang hubungan manusia dengan dunia yang semakin digital—sebuah kritik atau refleksi terhadap cara kita terhubung dan berkomunikasi dalam era modern.

Gambaran Metaverse pada era kini, menurut Diwarupa menggambarkan dunia digital maupun dunia materi. Ini, suatu gambaran dgn pola yg sama, unsur-unsur yang satu dengan yang lainnya terkait dlm satu sistem indra kita. Ia, membentuk dimensi kesadaran yang berbeda-beda – dan dengan itu, imajinya menciptakan komitmen dunia nya secara individual. Seluruh aktivitas nya membentuk objek secara algoritma berulang menjadi wujud hidupnya.

Menurut perupanya, konsep karyanya ini live painting. Melibatkan audiens. Karya ini memberi ruang pada setiap pengunjung utk mengekspresikan imajinasinya, menggambarkan dunia yg dikehendaki, goresan kuasnya mengisyaratkan setiap mahluk memiliki andil dlm keberlangsungan dunia yg mereka pijak. Oleh karenanya, karya ini memiliki potensi besar untuk menantang interpretasi dan menciptakan dialog mendalam dengan penikmat.

Diwarupa, “Metastomata 1”, acrylic on canvas, 2025

Dan pada saat pembukaan, banyak audiens yang merespon karya ini, dengan menorehkan sketsa pada bola-bola kertas tersebut. Setiap audiens, menggoreskan karya sketsanya, sesuai pengalaman estetik dan intelektualnya. Karya ini, lantas ‘membuka’ dialog dengan penikmatnya. Mungkin audiens tertarik melihat susunan sejumlah objek sferis – bola-bola dengan permukaan kasar dan warna netral, seperti beige atau coklat muda, dengan beberapa bercak gelap. Bola-bola tersebut disusun di atas lantai ubin dengan pola yang tampak acak, di mana beberapa bola saling berhimpitan. Kombinasi antara bentuk yang alamiah dan latar geometris ubin menciptakan dialog visual antara ketidakteraturan dan keteraturan. Pola penyusunan yang tampak tidak terduga ini mengundang penikmat untuk menemukan ruang di antara kekacauan dan struktur yang mendasarinya.

Teknik yang dipilih Diwarupa tampak menonjolkan karakter material dari setiap bola. Permukaan yang kasar mengisyaratkan adanya eksplorasi tekstur – sebuah pendekatan yang membuat objek-objek tersebut tidak hanya sebagai representasi visual biasa, melainkan medium untuk menyampaikan pengalaman taktil. Ketika diletakkan pada lantai ubin yang memiliki pola reguler, perbedaan antara sifat alami objek sferis dan kekakuan struktural ubin menambah dimensi dinamika yang kompleks pada karya ini.

Karya ini mengingatkan saya pada karya Nils Udo, seniman Tri Matra asal Jerman. Terutama karya Nils Udo yang bertajuk ; “Vulcano”  2018 yang di gelar di munisipalitas Chaumont-sur-Loire. Kastil Château de Chaumont-sur-Loire, Loir-et-Cher, Prancis ini pertama kali dibangun pada abad ke-10 Masehi oleh Odo 1, Pangeran Blois. Tempat ini sempat  dihancurkan oleh Louis XI pada tahun 1465. Rekonstruksi dimulai pada tahun 1469 dan berlanjut hingga abad ke-16 Masehi. Château de Chaumont-sur-Loire terkenal di seluruh dunia karena Festival Taman Internasional acap digelar disini. Kawasan ini merupakan kiblat desain lanskap dan seni kontemporer.

Dalam seni kontemporer, ada pergeseran besar dari sekadar representasi visual menuju eksplorasi materialitas – cara suatu benda berinteraksi dengan ruang dan bagaimana teksturnya mempengaruhi pengalaman sensorik. “Trimatra” mengangkat diskusi tentangmaterial alamiah versus struktur geometris, yang sejalan dengan pendekatan para seniman instalasi masa kini seperti Nils Udo yang sering mengeksplorasi hubungan antara bentuk, ruang, dan tekstur.

Salah satu diskursus utama dalam seni kontemporer adalah bagaimana keacakan dan keteraturanbisa saling bertautan, mencerminkan keadaan sosial, politik, atau emosional dalam dunia modern. “Trimatra” menghadirkan bentuk yang alamiah namun tetap memiliki keteraturan tertentu, sejalan dengan konsep yang kerap muncul dalam seni generatif dan eksperimen ruang seperti yang dilakukan oleh seniman Tri Matra Vietnam Danh Vo, yang menggabungkan bentuk-bentuk geometri dengan estetika alam. Menurut saya, karya-karya Nils Udo dan Danh Vo, banyak yang mengandung nilai-nilai puitik. Demikian juga dengan karya-karya dwi matra maupun tri matra Diwarupa. Perkenankan saya menyebutnya Puisi Visual. [T]

  • Sejumlah referensi diambil dari sejumlah sumber

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA
Satire Visual Wayan Setem
‘Semiotika Senirupa’ Ardika
‘Tangis Alam’ Agus Murdika
Orkestra Warna Wayan Naya
Dewa Soma Wijaya, Penjaga Budaya Lama
Kosa Poetika Senirupa Anak Agung Gede Eka Putra Dela
Trimatra Galung Wiratmaja
Selilit: Perlawanan Simbolik Ketut Putrayasa
Memorial Made Supena
Tags: Komunitas Galang KanginNeka Art MuseumPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menakar Kemelekan Informasi Suku Baduy

Next Post

45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

45 Tahun Rasa itu Tak Mati-mati: Ini Kisah Siobak Seririt Penakluk Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co