25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 18, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang Pembaca yang budiman, coba tanya anak-anak kita hari ini. Mereka lebih kenal siapa, Norman Erikson Pasaribu atau Iben MA? Lebih ngerti isi novel Bumi Manusia atau alur drama Korea Love Scout? Lebih nyaman baca buku 30 halaman atau scroll TikTok tiga jam tanpa jeda?

Kira-kira apa jawabannya? Ya, sudahlah. Mari kita bersama diam sejenak dan menenggelamkan diri dalam renungan eksistensial bahwa kita sedang hidup di zaman di mana membaca dianggap kegiatan aneh. Bahkan kadang, membaca lebih dianggap sebagai hukuman daripada hiburan.

Padahal membaca itu suatu fondasi. Bukan cuma fondasi ilmu, tapi fondasi cara berpikir, cara hidup, bahkan cara kita menghadapi dunia yang makin kompleks ini. Tapi apa mau dikata, minat baca di negeri kita ini sedang dalam sakaratul maut. Dan parahnya, kita pura-pura tidak tahu. Bahkan cenderung tak mau tahu, dan berharap semua akan baik-baik saja. Kita membiarkan generasi muda tumbuh di tengah dunia yang hiperaktif, cepat, ramai, penuh notifikasi, tanpa dibekali keterampilan membaca yang kuat. Itu bukan sekadar kekurangan. Saya pikir itu adalah bom waktu.

Diam-Diam Merawat Budaya Anti-Baca

Para Pembaca yang budiman, mari kita buka data. Indonesia pernah menempati peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca, itu menurut World’s Most Literate Nations. Bahkan dalam survei PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, skor literasi anak-anak kita tetap stabil, di posisi bawah.

Banyak faktor yang bisa dituding, misal; budaya lisan yang dominan, pendidikan yang fokus pada hafalan, akses bacaan yang terbatas, hingga teknologi digital yang lebih menyenangkan daripada halaman-halaman buku. Tapi mari kita jujur saja, kita sendiri sebagai masyarakat, orang tua, guru, pembuat kebijakan, memang gagal membangun ekosistem membaca yang relevan dan menarik.

Faktor lain bisa jadi karena sejak kecil anak-anak kita lebih dididik untuk patuh daripada penasaran. Mereka lebih dibiasakan menghafal definisi daripada merenungi isi. Lebih sering disuruh belajar demi nilai ujian daripada belajar demi mengerti. Belum lagi buku-buku pelajaran kita yang, tebal, penyajian yang kaku, dan sering kali lebih bikin ngantuk daripada bikin paham.

Kita sering menyuruh anak membaca buku tebal yang membosankan, padahal mereka hidup di dunia visual, interaktif, dan serba cepat. Kita menilai buku dari “beratnya”, bukan dari kemampuannya membuat anak penasaran. Kita lupa bahwa kecintaan membaca bukan muncul dari kewajiban, tapi dari rasa ingin tahu yang dibangkitkan secara perlahan.

Celakanya, yang disalahkan adalah anak-anak kita. Dibilang malas, bodoh, tak punya semangat. Padahal sepertinya ini soal rancangan sistem pendidikannya. Sistem yang tak pernah memberi ruang untuk belajar dengan dasar rasa ingin tahu. Sudah jelas kan, siapa yang sejak awal mematikan gairah membaca itu sendiri?

Dunia Melesat, Kita Masih Ngelag

Sementara itu, dunia di luar sana sudah lari jungkir balik. AI menulis puisi, robot bisa mencuci baju, bahkan anak 12 tahun di luar negeri sudah bikin startup. Dunia kini berubah bukan per minggu, tapi bahkan per jam. Dan semua perubahan itu berawal dari satu hal, membaca dan kemampuan memahami informasi.

Tapi anak-anak dan generasi muda kita apa kabar? Kebanyakan dari mereka membuka internet bukan untuk belajar, tapi buat scroll gosip. Mereka bisa tahu semua fakta soal artis Korea, tapi gak mengerti kenapa harga cabai di saat-saat tertentu bisa naik. Mereka tahu semua lirik lagu terbaru, tapi gagal paham isi Pancasila sila ketiga. Kita mencetak generasi yang update soal tren, tapi blank soal makna yang lebih hakiki. Yang cepat baca caption, tapi susah mencerna esai. Yang bisa main HP 10 jam, tapi baca buku 10 menit sudah teriak bosan. Dan kita membiarkan itu terjadi, sambil nyeruput kopi di pagi hari.

Membaca Bukan Sekadar Aktivitas, Tapi Proses Menjadi Manusia

Filsuf-filsuf dunia sudah memberikan peringatan ratusan, bahkan ribuan tahun lalu. Plutarch berkata, “Pendidikan adalah menyalakan api, bukan mengisi bejana.” Kant mengajarkan pentingnya berpikir sendiri, “Sapere aude” atau “Beranilah menggunakan akalmu sendiri!”, dan itu cuma bisa dilakukan kalau otak dilatih untuk mencerna bacaan.

Paulo Freire lebih ekstrem lagi, dia mengatkan bahwa membaca itu senjata pembebasan dari penindasan. Literasi adalah alat pembebasan. Suatu bangsa, seperti bangsa kita ini, yang tak serta merta serius membangun budaya baca, pastinya sedang menyiapkan generasi yang tidak mampu membebaskan dirinya dari kebodohan, manipulasi, atau ketidakadilan.

Jika kita terus menoleransi rendahnya minat baca, maka bersiaplah menghadapi masa depan dengan generasi yang mudah terpapar hoaks, tapi malas memverifikasi. Anak-anak yang gagap menghadapi kompleksitas dunia kerja digital. Masyarakat yang pasif dan gampang diarahkan oleh narasi politik dangkal, dan itu sudah terjadi. Bangsa yang makin tertinggal dalam kompetisi global karena tak mampu mengolah dan menciptakan pengetahuan baru.

Kita akan menghasilkan lulusan sekolah yang sekadar hafal, bukan paham. Yang mudah lupa karena tak pernah membaca untuk mengerti, hanya membaca untuk nilai dan lulus.  Sekali kita kehilangan kemampuan membaca dengan mendalam, kita kehilangan kemampuan berpikir merdeka. Para pembaca yang budiman pasti ingat dengan ungkapan dalm bahasa Latin “Cogito ergo sum”yang berasal dari filsuf Prancis René Descartes. Aku berpikir, maka aku ada. Jika generasi penerus kita tidak mampu “berpikir”, maka kita bersiap bangsa ini untuk tidak mampu ”ada”. Itulah bom waktu kita.

 Tidak Klasik, Jangan Kaku

Meningkatkan minat baca tidak bisa hanya dengan membangun perpustakaan atau menyuruh anak membaca buku pelajaran. Harus ada perubahan pendekatan yang relevan dengan zaman, dan tetap setia pada tujuan budaya baca, yaitu membangun manusia yang berpikir. Solusi mengatasi krisis baca ini tidak bisa lagi pakai pendekatan Orde Baru atau bahkan Orde Lebih Baru: “ayo membaca!” atau “membaca itu penting!” Lah, para pembaca tahu anak-anak sekarang bukan robot. Mereka perlu alasan yang masuk akal. Mereka perlu konteks yang relevan.

Jangan remehkan komik atau webtoon karena dari situ anak-anak bisa diajak pelan-pelan ke literasi yang lebih berat. Meski perlu strategi khusus karena beresiko, bisa kita gunakan media sosial, bukan malah dilarang. Konten edukatif di TikTok atau YouTube bisa jadi pintu masuk, cuma memang harus selektif.

Kita juga harus membangun kebiasaan bertanya, bukan sekadar menjawab soal. Anak yang suka bertanya pasti akan cari jawaban, dan itu bisa jadi lewat membaca. Pemerintah bisa melibatkan influencer. Ajak seleb membaca buku dan cerita di IG Story-nya. Dengan demikian, dalam konteks modern ini membaca akan punya gengsi. Bisa juga dengan membuat membaca sebagai kegiatan seru. Agak susah ini, dan butuh effort memang. Misal, diskusi buku sambil ngemil, review bacaan lewat meme, atau apa pun yang bisa membuat kegiatan membaca jadi lebih hidup.

Dosa Kolektif Kita

Krisis baca ini bukan soal anak malas atau gerusan zaman yang makin canggih. Ini soal kita sendiri, yang tak pernah sungguh-sungguh mencintai membaca, lalu menurunkan ketidakcintaan itu ke generasi berikutnya. Kedengarannya seperti dosa turun-temurun ini. Dan kalau ini dibiarkan terus, kita sedang menyiapkan generasi yang kehilangan kekuatan dasarnya yaitu akalsehat.

Generasi yang bisa membaca tapi tak paham, bisa sekolah tapi tidak mengerti dunia, bisa bicara panjang tapi kosong makna. Generasi yang riuh di permukaan tapi kosong di dalam. Generasi yang akan tumbuh menjadi massa yang gampang diarahkan, dijadikan komoditas politik, atau bahkan tumbal pembangunan.

Mungkin memang anak-anak dan genersi muda kita tak suka membaca. Tapi lebih parah dari itu, mungkin kita semua sedang melupakan mengapa membaca itu penting. Jikaitu benar, maka itu bukan sekadar kelalaian. Maaf kata, itu sudah masuk kategori dosa kolektif kita. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tag

Tags: Literasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulun Pangkung Menjadi Favorit: Penilaian Sensorik, Afektif, atau  Intelektual?

Next Post

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co