24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Teguh Wahyu Pranata by Teguh Wahyu Pranata
April 3, 2025
in Esai
Perjalanan Berburu Tetralogi Pulau Buru

Foto: Teguh

KISAH ini dimulai pada pertengahan 2022 lalu, ketika saya duduk di semester 3 dan mengikuti kelas sejarah kolonial dan sejarah pergerakan nasional. Dalam momen-momen tersebut, salah satu dosen kami menawarkan roman Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer sebagai bacaan alternatif.

Kami diarahkan untuk menilik jiwa zaman era kolonial dan pergerakan nasional melalui penggambaran Pram dalam empat seri roman buatannya. Adapun Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca adalah judul-judul dari empat seri fenomenal tersebut. Setiap bagiannya membahas tentang perjalanan bapak pers nasional: Raden Mas Tirto Adhi Soerjo. Karya itu disusun Pram ketika ia berada dalam masa pengasingan bersama para tahanan politik Orde Baru di Pulau Buru, Maluku.

Menariknya, Tetralogi Buru adalah karya terlarang selama kekuasaan rezim ketakutan Orde Baru. Setiap bagian Tetralogi Buru selalu dilarang peredarannya oleh pemerintah. Belakangan, ketika Orde Reformasi mulai berjalan, karya ini mulai dicetak ulang dan diedarkan.

Saya sendiri pertama kali membaca Bumi Manusia sebagai seri pertama ketika tidak sengaja menemukannya di perpustakaan fakultas. Perjumpaan pertama dengan Bumi Manusia langsung membuat saya tertarik. Saya tidak berhenti memuji Pram saat membaca buku itu selama satu minggu. Ya, satu minggu. Batas periode peminjaman buku saat itu membuat saya dan Bumi Manusia hanya memiliki waktu 7 hari. Meski akhirnya roman itu habis dalam lima hari enam malam, saya jelas tidak puas hanya sampai di sana.

Ketertarikan dengan Bumi Manusia dan rasa penasaran akan seri-seri selanjutnya membangkitkan keinginan saya untuk memburu Tetralogi Pulau Buru. Saya harus memiliki Bumi Manusia, juga mendapatkan dan membaca habis Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Perjalanan kemudian dimulai dengan pencarian referensi toko-toko buku di Bali, mulai dari gerai-gerai offline hingga toko online, dari toko yang menjual buku baru hingga toko buku bekas.

Setelah mengumpulkan informasi keberadaan toko, menyusun rute perjalanan dan mengumpulkan uang, saya akhirnya memulai perburuan, perjalanan panjang yang tak pernah dibayangkan. Saya ingat betul ketika menyusuri shortcut Singaraja-Denpasar bersama seorang teman untuk mencari tetralogi di Gramedia dan Togamas.

Kami kemudian menyusuri Gramedia Bali Plaza, Gramedia MBG, dan Gramedia Tengku Umar, juga Togamas Hayam Wuruk. Semuanya demi Pram dan tetraloginya. Namun, pencarian hari itu berakhir ketika pihak Togamas menerangkan bahwa stok terakhir Tetralogi Buru terjual tiga bulan sebelumnya sementara pihak Gramedia menyatakan bahwa stok telah kosong di seluruh cabang Gramedia Bali.

Saya pun pulang dengan tangan kosong. Belakangan saya baru mengetahui bahwa terbitan terakhir Tetralogi Buru dicetak tahun 2018. Buku-buku ini juga memang sangat langka, sekalinya ada langsung habis tak tersisa.

Saya terpaksa mencari ke toko online dan pelelangan buku di Twitter. Hasilnya, mayoritas yang dijual adalah bajakan. Jumlah buku tetralogi asli bisa dihitung jari, itupun versi bekas dangan harga yang tak main-main. Satu paket Tetralogi Buru umumnya dijual dengan harga 2 juta hingga 6 juta rupiah, harga yang tidak ramah di kantong mahasiswa. Satu buku bahkan dibandrol dengan harga 400 ribu rupiah belum termasuk ongkir, angka yang masih terlalu mahal untuk kelas menengah ke bawah.

Pada bulan-bulan berikutnya, memasuki tahun 2023, saya mencoba mencari ke Ganesha Book Shop, Ubud. Awal masuk saya disuguhkan dengan buku-buku berbahasa Inggris sepanjang mata memandang. Ketika saya bertanya apakah ada buku Pram, saya langsung diarahkan ke pojok depan di sebelah pintu, bagian yang sebelumnya berada di belakang saya. Tanpa di duga, Ganesha Book Shop yang hanya berjarak 19 km dari rumah saya ternyata menjual buku Pram. Satu buah buku Bumi Manusia, tiga buah buku Jejak Langkah. Masing masing dijual seharga Rp 150 ribu.

Harga tersebut mungkin sedikit lebih mahal dari harga asli, terlebih yang dijual adalah buku bekas. Tetapi biar bagaimanapun ini adalah harta karun, paling tidak masih jauh di bawah Rp 400 ribu.

Karena saat itu kantong saya hanya berisi uang Rp 200 ribu, saya memutuskan untuk membeli Bumi Manusia. Saya berpikir bahwa belum saatnya membeli buku Jejak Langkah, lagipula saya belum memiliki buku Anak Semua Bangsa sebagai seri kedua. Saya berencana untuk membeli seri Jejak Langkah ketika sudah memiliki uang. Sambil menabung, saya melakukan bulan madu kedua dengan Bumi Manusia, membaca ulang roman indah itu, novel ke-2 saya.

Ya, saya jarang membaca novel sebelumnya. Satu-satunya novel yang saya baca sebelum Bumi Manusia adalah tulisan Gerson Poyk bertajuk Sang Guru. Membaca Bumi Manusia membangkitkan gairah saya untuk membaca karya fiksi. Saya membaca Bumi Manusia berulang kali untuk bertemu kembali dengan Minke, Anellies, Nyai Ontosoroh, dan yang lain. Menemukan kembali detail-detail kecil yang terlewat, tentang kelas sosial, pergundikan, dinamika masyarakat, pers, hingga perlawanan.

Setelah beberapa waktu, saya telah banyak mendapatkan informasi tambahan. Uang untuk membeli seri Jejak Langkah juga sudah cukup. Saya kemudian segara mencarinya, mencegah kalau-kalau seri itu juga habis terjual.

Siang hari, pada bulan-bulan akhir tahun 2023, saya berangkat dari rumah menuju Ubud, menuju Ganesha Bookshop. Saya berniat meminang seri Jejak Langkah. Namun, sesampainya di sana saya tidak menemukan apa yang saya cari. Setelah ditelusuri ternyata memang tidak ada. Naas, seri tersebut habis terjual. Buku yang sebelumnya tersisa tiga, dengan harga bekas Rp 150 ribu, habis tak tersisa.

Nampaknya diri ini memang terlalu meremehkan kelangkaan karya Pram. Di detik tersebut semua kesadaran akan kecerobohan muncul bersamaan. Ternyata saya bahkan tidak belajar dari buku Laut Bercerita, tidak belajar dari Biru Laut Wibisana. Wahai Pram, untuk bisa membaca karyamu sungguh serumit ini. Tetapi biar bagaimanapun perjalanan tetap berlanjut, walau sejauh ini masih tanpa arti.

Awal tahun 2024, saya kemudian berkesempatan mengunjungi Yogyakarta melalui program Kuliah Kerja Lapangan. Salah satu agenda pribadi saat itu adalah menemukan buku-buku Pram di toko-toko preloved. Bisa ditebak, lagi-lagi saya gagal atas beberapa sebab. Memasuki akhir tahun 2024, kabar burung beredar mengenai cetak ulang buku-buku Pram. Kabar yang belakangan dikonfirmasi penerbit Lentera Dipantara sebagai kebenaran. Spesial perayaan “Seabad Pram 2025” buku-buku akan dicetak ulang. Pada bulan februari, launching pun dilakukan di Blora, tempat kelahiran Pram. Disusul mulainya pre-order di platform-platform digital.

Saya tidak menyianyiakan kesempatan ini dan segera membeli sepaket Tetralogi Buru edisi khusus secara online. Setelah menunggu 18 hari, pesanan saya pun sampai. Tetralogi Buru yg telah lama saya buru. Namun, sementara masih banyak buku Pram yang belum dicetak ulang, RUU TNI disahkan. Buku Pram kembali dalam bayang-bayang pelarangan. [T]

Penulis: Teguh Wahyu Pranata
Editor: Adnyana Ole

Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Memantik Kesadaran Berbangsa Melalui Buku “Bumi Manusia”
Tags: Pramoedya Ananta ToersastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fenomena Viralnya Selebriti Perempuan Suku Baduy

Next Post

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Teguh Wahyu Pranata

Teguh Wahyu Pranata

I Nengah Teguh Wahyu Pranata, lahir di Demulih, Susut, Bangli. Pecinta Sejarah, anak ideologis Multatuli. Memiliki ketertarikan dengan perempuan juga kronik-kronik peristiwa 65. Dapat ditemukan di Instagram sebagai teguh.inst.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co