13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa

Made Manipuspaka by Made Manipuspaka
February 2, 2025
in Tualang
Jagra Siwaratri di Candi Prambanan dan Aku Bayangkan Candi itu Bagai Istana Para Dewa

Candi Prambanan saat Hari Siwaratri

KETIKA ada teman yang mengajak untuk melakukan renungan suci Siwaratri di Candi Prambanan, pada perayaan hari suci ITU pada Senin 27 Januari 2025, aku langsung menganggukKan kepala dan bilang ya.

Aku sesungguhnya tidak mengetahui bagaimana kebiasaan umat Hindu di Tanah Jawa, tepatnya di YoGyakarta dalam merayakan hari turunnya Siwa itu.

Sebagai orang baru—yang kebetulan menjadi mahasiswa semester 2 Jurusan Musik, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta—aku berusaha mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang ada di Kota Pelajar dan Kota Budaya itu. Tentunya yang baik-baik dan tetap ada kaitannya dengan pembelajaran. Sebab, aku ingin fokus pada cita-cita dan tidak mau mengecewakan orang tua.

Aku berangkat dari kost, sengaja mengendarai motor sendiri, sehingga dapat mengenal Kota Gudeg ini dengan lebih leluasa. Aku berangkat bersama teman yang menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Dalam perjalanan itu, sesekali aku bertanya, nama jalan dan kawasan yang dilewati. Tanpa terasa, kami sudah sampai di kawasan Candi Prambanan yang sungguh megah itu.

Maklum, ini kali pertama kunjungan aku ke Candi Prambanan, candi bercorak agama Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 Masehi itu. Ini pengalaman Siwaratri di Candi Prambanan sebagai angkatan kedua. Mungkin, karena aku pertama kali ke Prambanan saat malam hari semuanya beda, indah dan mempesona.

Candi Prambanan di Hari Siwaratri | Foto: Manipuspaka

Beberapa lampu sorot mengarah ke candi yang sangat terang dan dengan warna yang tajam, sehingga membuat candi semakin megah. Entah karena sering menonton film, aku merasakan suasana Candi Prambanan malam itu seperti di istana para Dewa. Entah itu ilusi atau khayalan yang selalu ada dalam pikiranku. Nemun, aku tak mau terlena, sehingga langsung melakukan persembahyang bersama tepat pukul 18.00 WIB.

Antusias umat melakukan persembahnyangan sangat tinggi. Panitia mengatakan, pada perayaan Siwaratri umat yang melakukan persembahyangan pertama itu diikuti lebih dari 3000 peserta. Jumlah itu, lebih banyak dari perayaan Siwaratri sebelumnya hanya diikuti 500 peserta. Umat yang melakukan persembahyangan begitu khusuk. Aku, bersama temanku pun bersembahyang dengan serius dan khusuk pula.

Usai sembahyang, panitia mengarahkan peserta persembahyangan menuju ke tenda yang ada di lapangan. Sayangnya, aku lupa menanyakan nama acara itu. Namun, yang pasti semua umat diberikan snack berupa kacang, pisang, jagung dan minuman teh. Acara itu mirip sebuah ajang sosialisasi, salaing mengenal satu sama lainnya. Sebab, umat yang menikmati camilan itu sambil berkenalan, lalu bercerita lebih akrab sambil menunggu acara Malam Sastra Siwaratri.

Malam Sastra Siwaratri itu menghadirkan banyak narasumber, namun aku tidak hapal semuanya. Aku diinformasikan teman akan ada Wakil Menteri Pariwisata Luh Puspa, dan Sugi Lanus yang diberitahu oleh ibuku lewat WA.

Acara kemudian dimulai dengan penampilan tari penyambutan khas Jawa. Meski biasa tampil di atas panggung, tetapi aku tidak mengetahui nama tari itu.

Panitia juga sudah menyebutkan, tetapi aku tidak mendengar secara jelas saking banyak orang. Tari penyambutan itu dibawakan oleh dua penari wanita yang melakukan gerak yang pelan, lembut dan halus dengan gerak yang penuh penjiwaan. Meski lama tak menari, jujur, aku terpesona dengan penampilan tari itu. 

Candi Prambanan di Hari Siwaratri | Foto: Manipuspaka

Selanjutnya sambutan dari Ibu Wakil Menteri Pariwisata Luh Puspa yang mendukung kegiatan keagamaan di Candi Prambanan ini. Lalu, berlanjut dengan sambutan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi yang mengangkat topik tidak jauh dari keberadaan Candi Prambanan dan Siwaratri.

Narasumber yang merupakan teman pamanku, juga teman orang tuaku, sehingga aku pun merasa dekat dengannya. Saat itu, Sugi Lanus mengatakan, Candi Prambanan itu memiliki empat arah, sehingga saat melakukan persembahyangan bisa menghadap kemana saja. Paparan itu, sekaligus menjawab pertanyaan peserta yang menanyakan sebaiknya melakukan sembhayang menghadap arah mana.

Salah satu peserta kemudian menanyakan, Candi Prambanan ini adalah kawasan suci, namun juga sebagai pusat pariwisata. Kalau ada yang berkunjung, tetapi mereka sedang mengalami menstruasi, namun ia akan tetap akan membayar tiket masuk, apakah itu boleh atau tidak?

Sugi Lanus menjawab boleh saja, tetapi setiap pagi dan setiap buka Candi harus melakukan pembersihan setiap pagi. Pintu masuk untuk orang yang bersembahyang dan wisatawan dibedakan.

Walau peserta sesi diskusi ini mulai berkurang, karena kursi-kursi mulai ada yang kosong, namun suasana diskusi tetap hangat dengan berbagai pertanyaan. Seseorang kemudian bertanya, seandainya ada umat Hindu yang ingin melalukan persembahyangan apakah dikenakan tiket atau gratis. GM Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Timur, mengatakan, boleh tetapi mungkin tidak dikenakan tiket pada saat hari-hari raya saja, bukan setiap hari.

Suasana diskusi tetap menarik, namun beberapa orang, ada yang tidur di samping tenda. Mereka tidur beralaskan karpet. Di sampingnya, ada pula yang ngobrol, entah apa yang dibicarakannya. Aku pun merasa ‘nguyuk’ pula, namun beridsaha mengikuti acara sampai akhir.

Candi Prambanan di Hari Siwaratri | Foto: Manipuspaka

Diskusi berlangsung sampai pukul 00.00 WIB. Setelah itu, seluruh peserta melakukan sembahyang dilanjutkan dengan pembacaan 1008 nama Siwa bersama seluruh peserta. Pada saat itu, mulai banyak peserta yang tidak kuat melakukan jagra (bergadang), sehingga ada yang keluar dari area Candi Siwagrha.

Pembacaan nama Siwa berlangsung selama 1 jam 15 menit. Selanjutnya, diisi dengan acara bercerita tentang Lubdaka oleh Sugi Lanus. Pada saat itu, peserta yang kuat bertahan tak sampai 100 orang.

Acara bercerita itu berlangsung hingga pukul 05.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan kembali, yaitu persembahyangan Hari Raya Tilem sampai pukul 06.00 WIB. Aku berusaha mengikuti semua acara. Usai acara, aku pulang dengan kondisi ngantuk pula. [T]

Penulis: Made Manipuspaka
Editor: Budarsana

Yang Tercecer dari Borobudur dan Prambanan
Dari Legenda ke Fakta, Menyibak Sejarah dan Pesona Candi Prambanan
Jalani Tawur Agung di Candi Prambanan (Lagi)
Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso
Tags: Candi PrambananHari SiwaratriHindu JawaSiwaratriYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bulan Bahasa Bali Menuju Bali Harmoni

Next Post

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Made Manipuspaka

Made Manipuspaka

Mahasiswa jurusan musik, ISI Yogyakarta

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Tirtayatra Toska Se-Delod Ceking  :  Pura Goa Gong 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co