23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Aktor Politik Jadi Aktor Film: Dari Menonton Filmnya Ni Luh Djelantik, “Lagu Cinta untuk Mama”

Rusdy Ulu by Rusdy Ulu
January 21, 2025
in Ulas Film
Ketika Aktor Politik Jadi Aktor Film: Dari Menonton Filmnya Ni Luh Djelantik, “Lagu Cinta untuk Mama”

Ni Luh Djelantik dalam acara Special Screening film “Lagu Cinta Untuk Mama” yang ditayangkan perdana di bioskop XXI Living World, Minggu (19/01/2024) sore | Foto: tatkala.co

MELIHAT orang jadi pejabat di film tentu sudah biasa—apalagi jika film itu berkaitan dengan politik tentu karakter politisi akan dimainkan. Tapi ini berbeda. Ada pejabat politik tiba-tiba main film bertema cinta dan keluarga.

Pejabat politik yang saya maksud itu adalah Ni Luh Djelantik yang saat ini sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali. Hampir seluruh warga Pulau Bali mengenalnya, ia sosok “viral” kalau disebut dengan bahasa kekinian.

Ia menjadi salah satu orang sekaligus pejabat publik yang bermain di film “Lagu Cinta untuk Mama”. Film ini menceritakan perjuangan dan cinta kasih antara seorang ibu dan anak.

Film garapan sutradara Hasto Broto yang diproduksi oleh Dewa Film Production ini menjadikan Bali sebagai latar syuting. Tidak hanya sekadar latar syuting, film ini berusaha menampilkan sisi budaya dan karakter orang Bali.

Adegan awal film Lagu Cinta untuk Mama | Foto: tatkala.co/Rusdy

Alasan ini membuat Peter Taslim selaku Eksekutif Produser dari film ini membidik dua orang perempuan Bali untuk ikut bermain, sosok itu adalah Ayu Laksmi dan Ni Luh Djelantik. Kalau Ayu Laksmi memang dikenal sebagai pemain film, sudah lama ada di dunia akting dan asli Bali. Tapi yang satu lagi ini menarik, bukan aktor film tetapi lebih tepatnya aktor politik yang sedang coba-coba main film.

Bisa banting stir nih kalau ketagihan syuting. Hahaha. Tapi, tak ada salahnya pengalaman ini dicoba oleh Ni Luh Djelantik. Lagi pula ia orang yang suka menyibukkan diri dengan banyak hal, multiprofesi pokoknya. Jadi pengusaha iya, aktivis, influencer, sekarang politisi, dan ke depan barangkali bisa jadi artis. Lengkap sudah.

Bicara soal aktivisme Ni Luh Djelantik, ia juga dikenal sebagai salah satu—dan paling langka—perempuan Bali yang frontal menyuarakan apa saja yang dianggapnya merusak dan menggangu harmonisasi di Bali. Belakangan paling sering soal bule nakal. Saya pernah menganggap ia seperti AWK versi perempuan. Wkwkwk, bercanda, Mbok. Beda kok.

Tapi hal itu juga yang membuat saya penasaran ketika dapat ajakan menonton langsung film yang menggaet Djelantik sebagai salah satu pemerannya. Saya tertarik melihat bagaimana aktingnya? Apakah frontalnya juga terbawa saat akting? Seperti apa jadinya aktor politik tiba-tiba jadi aktor film? “Wkwkwwk menarik” ucap saya dalam hati.

Saya kebetulan mewakili Komunitas Mahima bersama Kadek Sonia Piscayanti dan Kayu Hujan, mendapat undangan Special Screening film “Lagu Cinta Untuk Mama” yang ditayangkan perdana di bioskop XXI Living World, Minggu (19/01/2024) sore. Acara ini semacam promosi awal sebuah film. Sebagai informasi film ini akan tayang serentak di seluruh bioskop XXI tanggal 29 Januari 2025.

Dalam Special Screening ini, secara pribadi Ni Luh Djelantik mengundang sahabat, teman, influencer, selebgram dan beberapa kalangan di Bali untuk sama-sama menyaksikkan debut film pertamanya itu. Oh iya, politisi juga turut diundang, saya sempat melihat Rai Mantra dan istri juga hadir di tengah-tengah penonton. Rai Mantra juga anggota DPD RI wakil Bali.

Peran dan Karakter Ni Luh Djelantik dalam Film

Dalam film ini Ni Luh Djelantik mengambil peran seorang bibi dari tokoh perempuan bernama Indira. Ni Luh ditampilkan sebagai orang desa di Karangasem. Indira ponakannya itu merupakan seorang penyanyi kafe yang terjebak asmara dengan Krisna, anak pengusaha kaya di Bali. Namun hubungan mereka tidak disetujui oleh keluarga Krisna karena Indira dianggap berasal dari keluarga tidak berstatus, semacam miskin.

Penonton dalam Special Screening film “Lagu Cinta Untuk Mama” yang ditayangkan perdana di bioskop XXI Living World, Minggu (19/01/2024) | Foto: tatkala.co/Rusdy

Indira ternyata sudah hamil anak Krisna. Namun, ia malah dipaksa menggugurkan janinnya oleh Gayatri—ibu dari Krisna yang diperankan oleh Ayu Laksmi.

Ni Luh Djelantik berperan sebagai bibi Indira, muncul saat tokoh Indira memutuskan pulang ke kampungnya di Karangasem. Indira sudah lama tinggal sebatang kara, ia mendatangi rumah bibinya (Ni Luh Djelantik) untuk menceritakan apa yang terjadi selama di kota.

Dalam perannya Ni Luh Djelantik dipanggil dengan nama “Ni Luh” juga, sama seperti nama asli. Sepertinya sutradara berniat mempertahankan sisi orisinal tokoh politik itu.

Di momen ini penonton langsung sumringah melihat kemunculan Ni Luh Djelantik. Ia muncul pertama kali saat adegan menyambut kedatangan Indira yang pulang ke Karangasem. Ia tampil menggunakan kebaya Bali, persis seperti tampilan biasa yang sering ia kenakan setiap saat.

Di adegan ini ia menyambut dan mendengarkan cerita Indira. Ia geram terhadap perlakuan yang diberikan keluarga Krisna ke ponakannya itu. Ekspresi geramnya itu membuat pononton di ruangan bioskop tertawa tipis.

Penonton sepertinya merasa senang dengan karakter asli Ni Luh Djelantik yang dipertahankan dalam film. Di adegan ini ia meyakinkan Indira untuk tetap mempertahankan kandungannya dan merawat anak itu. Ni Luh mengatakan akan siap membantu ponakannya itu sebisa mungkin agar tetap tegar menghadapi masalahnya.

Karakter Ni Luh Djelantik dalam film berusaha mempertegas posisi keberpihakkannya. Adegan tadi seperti ingin menyampaikan bahwa ia selalu ada untuk orang yang tertindas. Citra yang cocok untuk Ni Luh Djelantik sebagai politisi.

Bukan hanya itu, ada adegan saat Ni Luh Djelantik membantu Indira di kampung untuk mencari kerja. Indira yang sudah tidak punya pekerjaan datang meminta bantuan ke bibinya itu. Oleh Ni Luh, Indira dibawa ke sebuah perusahaan tenun tradisional, di sana bibinya mempertemukan dia dengan pemilik perusahaan agar bisa dibantu untuk diterima sebagai karyawan.

Adegan itu seolah mengisyaratkan Ni Luh sebagai sosok penuh solusi, sama seperti umumnya pejabat yang memasukkan orang terdekatnya untuk bekerja dengan kekuatan jaringan dan komunikasinya.

Ada satu lagi adegan Ni Luh Djelantik yang hampir membuat seluruh penonton saat itu tertawa terbahak-bahak. Adegan itu saat Gayatri datang ke rumah Indira untuk melihat Kayla, anak dari Indira, ponakan Ni Luh, sekaligus cucu Gayatri yang pernah ditolaknya sendiri.

Saat Gayatri muncul di depan rumah Indira, kebetulan ada Ni Luh yang sedang menemani Kayla. Awalnya Ni Luh tidak mengenal sosok yang datang, ia menyambut layaknya tuan rumah.

Begitu Indira mengatakan bahwa itu adalah Gayatri, ibu dari mantan kekasihnya, yang menolak dia dulu, secara bersamaan ekspresi Ni Luh berubah total sambil bangkit dari tempat duduk menghampiri Gayatri. 

“Ini baru Ni Luh Djelantik,”  ucap saya dalam hati.

Penonton lain juga langsung terpingkal-pingkal melihat adegan itu. Benar-benar seperti ingin melabrak orang.

Sayangnya Indira malah menyuruh bibinya itu membawa Kayla masuk ke dalam rumah. Seandainya dibuat adegan Ni Luh dan Gayatri (Ayu Laksmi) bertengkar di situ mungkin seru. Orang bisa lihat perbandingan akting marah-marahan pemeran film senior dan, ya, sebut aja pemeran junior gitu. Wkwkwkwk.

Untuk pengalaman pertama syuting film, Ni Luh cukup natural membawakan karakter asli dirinya yang dipadukan dengan sedikit drama-dramaan. Hebat juga, dari sekian perempuan Bali,  Ni Luh Djelantik yang dipilih sebagai representasi perempuan Bali di film.

Saya tidak mau menyebut ini sebagai kampanye politik. Sutradara tentu punya pertimbangan sendiri terhadap sosok Ni Luh Djelantik.

Karakter Ni Luh Djelantik dalam film ini sepertinya diusahakan oleh sutradara agar tetap seperti gambaran Ni Luh Djelantik asli sebagai wakil rakyat. Atau “pelayan rakyat” kalau istilah yang sering Ni Luh Djelantik sendiri pakai.

Ni Luh Djelantik berswafoto bersama penonton film “Lagu Cinta Untuk Mama” | Foto: tatkala.co/Rusdy

Ia bisa saja memerankan sosok Gayatri yang kaya dan suka marah-marah juga, atau katakter lain. Tapi pertanyaannya apakah itu cocok dengan jiwanya? Apakah apakah ia mau memerankan karakter yang menindas seperti Gayatri? Sementara di kenyataannya ia adalah wakil rakyat. Masa harus kelihatan menindas, tentu tak cocok dengan citra yang sedang dibangun saat ini. Walau dalam dunia perfilman itu tak masalah. Tapi karena ini pejabat politik, tentu berbeda briefing-nya dengan sutradara.

Itu juga, barangkali tantangan jika memilih pejabat untuk bermain film, mencari karakter apa yang bisa cocok untuk diperankan, tanpa menghilangkan sisi-sisi asli dan citra sang pejabat. Dan tidak mudah bagi pejabat untuk memerankan karakter yang berbeda dari perilaku aslinya. Masa mereka tiba-tiba bisa langsung akting layaknya Reza Rahardian misalnya, atau tiba-tiba Ni Luh Djelantik ini bisa langsung seperti Dian Sastro.

Sebenarnya tidak ada salahnya juga pejabat bermain dalam dunia film. Bagi produser film itu memiliki nilai marketingnya tersendiri. Sementara, bagi pejabat, itu akan dimanfaatkan untuk membangun kesan dirinya ke publik.

Kira-kira karakter seperti apa yang asik diperankan oleh Ni Luh Djelantik ke depan jika dapat tawaran main film lagi. Dan kelihatannya ia memang menikmati apa yang baru saja dilakukannya itu. [T]

Penulis: Rusdy Ulu
Editor: Adnyana Ole

“Forushande”: Bagaimana Orang Bisa Berubah Menjadi Sapi?
Elphaba-Glinda (Wicked 2024): Cermin Kontras Psikologi Identitas dalam Komunikasi Antarbudaya
Parade Puisi Brutal dari Tierra del Fuego
Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tags: balifilmNi Luh Djelantikresensi film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Aktualisasi Jagat Kerthi dalam Harmoni Semesta Raya

Next Post

Pelukan Orang Tua kepada Anaknya, Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Rusdy Ulu

Rusdy Ulu

Kontributor tatkala.co

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Pelukan Orang Tua kepada Anaknya, Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co