6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 27, 2024
in Opini
Menyingkap Kekuatan Debus: Ritual Ketangguhan yang Mengungkap Keberanian, Pengakuan Sosial, dan Spiritualitas

Ahmad Sihabudin dan Geofakta Razali

Artikel ini ditulis bersama:

  • Ahmad Sihabudin, Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten
  • Geofakta Razali, Pengamat Psikologi Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta

WAKTU pertama kali saya menyaksikan seni Debus, saya tidak tahu apa yang harus saya pikirkan. Suara gemuruh penonton, bara api yang menyala, dan seorang pria yang dengan tenang menusukkan pisau ke tubuhnya sendiri, saya terperangah.

Namun, di balik rasa takjub dan sedikit ngeri, ada sesuatu yang lebih besar yang saya rasakan: kekuatan yang tidak sekadar fisik, tetapi juga spiritual dan sosial. Saya ingat seorang pria tua di sebelah saya berkata, “Ini bukan sekadar keberanian, Nak. Ini adalah hubungan jiwa dengan yang Ilahi.” Kata-katanya membuat saya berpikir, apakah sebenarnya seni Debus ini?

Hari itu, saya pulang dengan banyak pertanyaan. Apa yang membuat seseorang berani menghadapi rasa sakit seperti itu? Apa yang mereka cari—pengakuan, kedamaian, atau sesuatu yang lebih besar? Ketika saya mencoba mencari jawabannya, saya menyadari bahwa seni Debus lebih dari sekadar aksi ekstrem. Ia adalah medium yang menjembatani manusia dengan keberanian, komunitas, dan spiritualitas mereka.

Seni Debus mungkin dikenal banyak orang sebagai pertunjukan ekstrem yang mempertontonkan daya tahan tubuh terhadap benda tajam atau panas, namun seni bela diri asal Banten ini sebenarnya lebih dari sekadar aksi fisik yang menantang maut. Di balik kemampuan luar biasa para pelaku Debus terletak kepercayaan spiritual, hubungan sosial, dan keinginan mendalam untuk mencapai pengakuan dalam komunitas.

Dalam artikel ini, kita akan membahas seni Debus dari berbagai sudut pandang: rekognisi sosial, psikologi komunikasi, dan unsur spiritualitas yang menyertainya. Seni Debus bukan hanya pertunjukan ekstrem, tetapi juga ekspresi keberanian, spiritualitas, dan pluralitas manusia.

 Di Banten, Debus tidak hanya menjadi bagian dari budaya lokal, tetapi juga sebuah ritual yang merepresentasikan hubungan mendalam antara individu, komunitas, dan keyakinan. Dalam setiap aksinya, Debus menampilkan kekuatan fisik yang disandingkan dengan elemen spiritual, yang sering dianggap sebagai bentuk sihir kehidupan.

Perspektif pluralitas terlihat jelas dalam seni ini. Para pelaku dan penonton datang dari latar belakang yang beragam, namun semua menyatu dalam apresiasi terhadap nilai keberanian dan makna kolektif yang diusung Debus. Ritual ini mencerminkan kemampuan manusia untuk melampaui batas fisik, bersandar pada keyakinan yang mendalam akan kekuatan transendental.

 Seni Debus juga menjadi medium komunikasi universal yang menyampaikan pesan keberanian dan keterhubungan tanpa memandang perbedaan. Aksi menusukkan pisau atau berjalan di atas bara api adalah bentuk simbolisme yang menunjukkan bahwa keberanian dan keyakinan adalah bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja.

Dengan kekuatan pluralitas dan spiritualitasnya, seni Debus mengajarkan bahwa keberanian tidak hanya lahir dari fisik, tetapi juga dari koneksi yang mendalam dengan komunitas dan keyakinan yang lebih besar. Debus mengingatkan kita bahwa keberanian sejati melibatkan seluruh jiwa, tubuh, dan keyakinan.

Menurut Axel Honneth, rekognisi sosial (social recognition) merupakan kebutuhan dasar yang membentuk identitas individu. Rekognisi ini dapat diperoleh melalui tiga aspek utama: cinta, hak, dan solidaritas, yang memungkinkan individu merasakan keberadaan mereka dihargai dan dihormati. Di Banten, seni Debus menjadi salah satu cara di mana para pelakunya menerima rekognisi dari masyarakat.

Para praktisi Debus sering kali dipandang sebagai sosok yang memiliki kedekatan khusus dengan leluhur dan alam gaib. Mereka tidak hanya mempertontonkan ketangguhan fisik, tetapi juga menunjukkan kedalaman spiritual yang mendasari kemampuan tersebut. Pengakuan ini memberikan tempat khusus bagi mereka dalam masyarakat, di mana mereka dianggap sebagai penjaga warisan leluhur. Dengan demikian, seni Debus memberikan ruang bagi pelakunya untuk mendapatkan pengakuan sosial yang memperkuat identitas dan peran mereka dalam komunitas.

Dari perspektif psikologi komunikasi, seni Debus dapat dilihat sebagai media ekspresi yang sarat makna. Setiap aksi dalam Debus dari menusuk tubuh dengan pisau hingga berjalan di atas bara api merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang penuh simbolisme. Para pelaku tidak hanya menampilkan ketangguhan fisik, tetapi juga menyampaikan pesan keberanian, komitmen, dan keterhubungan spiritual kepada audiensnya.

Pada tingkatan kelompok, Debus juga berfungsi sebagai sarana komunikasi kolektif yang menyatukan anggota komunitas dalam sebuah ritual bersama. Performa ini memperkuat identitas budaya, dan pesan yang disampaikan tidak hanya ditujukan kepada para penonton, tetapi juga menjadi sebuah pernyataan kekuatan kolektif dan ketahanan komunal. Ini adalah bentuk komunikasi yang mengedepankan aksi sebagai pesan, di mana bahasa tubuh dan ketahanan fisik menjadi sarana utama untuk menyampaikan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan spiritualitas kepada masyarakat luas.

Unsur spiritualitas dalam Debus tak kalah penting untuk dipahami. Banyak praktisi Debus yang meyakini bahwa kemampuan mereka kebal terhadap benda tajam dan panas merupakan hasil dari latihan mental dan koneksi spiritual yang mendalam. Sebelum melakukan aksi, mereka sering menjalani ritual khusus yang melibatkan doa, meditasi, atau bentuk puasa tertentu. Proses ini dipercaya memurnikan tubuh dan jiwa, mempersiapkan mereka untuk aksi yang mengandalkan ketenangan pikiran dan fokus mendalam.

Spiritualitas dalam Debus bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai elemen yang memberikan kekuatan batin dan mental bagi para praktisinya. Keyakinan bahwa mereka dilindungi oleh kekuatan yang lebih besar membantu mereka melewati rasa takut dan ragu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Debus adalah seni yang tidak sekadar fisik, tetapi juga melibatkan keseluruhan jiwa dan keyakinan. Bagi banyak pelakunya, Debus adalah jalan menuju ketenangan batin dan cara untuk menghormati serta berhubungan dengan leluhur.

Seni Debus bukan sekadar aksi ekstrem yang menantang nyali, tetapi juga ritual penuh makna yang menjembatani individu dengan komunitas dan spiritualitasnya. Di tengah keberanian yang diperlihatkan, Debus juga menjadi ajang pencarian pengakuan sosial dan pembentukan identitas yang dihargai dalam komunitas.

Melalui aksi yang terlihat “mustahil,” para pelakunya menunjukkan kekuatan tubuh yang dipadukan dengan kedalaman spiritual dan dukungan sosial, menciptakan ikatan antara individu dan masyarakat yang lebih dalam daripada sekadar pertunjukan.

Dalam perspektif psikologi komunikasi, Debus adalah bentuk komunikasi yang mengandalkan simbolisme dan bahasa tubuh sebagai pesan kuat bagi audiens. Ia adalah perwujudan nyata dari konsep rekognisi sosial, di mana pengakuan dan apresiasi dari masyarakat menjadi penting bagi pembentukan identitas individu. Bagi pelaku Debus, seni ini adalah jembatan menuju pengakuan, sekaligus sarana untuk menyelami spiritualitas dan makna hidup.

Dan jika Debus bisa mengajarkan kita satu hal, itu adalah keberanian untuk menghadapi apa yang kita takutkan. Jadi, apa “bara api” dalam hidu anda yang ingin anda taklukkan hari ini? [T]

Transformasi Ebeg Banyumasan: Menari di Jagat Digital
Jaranan di Tanah Borneo, “Kesurupan” dan Perpindahan Budaya
“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu
Tari Sanghyang Sengkrong dan Kepercayaan Masyarakat Adat Kepaon
“Membaca Sanghyang”: Tentang Ritual, Arsip, Posisi Perempuan, dan Pertanian
Tags: debusjawaseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Pilkada dari Sebuah TPS di Kampung Bugis: Ibu yang Terburu dan Dua Hansip Tanpa Bintang  

Next Post

Pinih Sira Ragane?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post
Pinih Sira Ragane?

Pinih Sira Ragane?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co