6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Rosmah Tami by Rosmah Tami
November 7, 2024
in Ulas Pentas
Memeluk Masa Lalu dengan Ingatan Yang Sadar: Catatan Festival Kala Monolog

Pertunjukan Monolog “Perempuan Etalase Mitos". Aktor Annisa Effendi\. Penulis Naskah Nurul Inayah. Sutradara Annisa Effendi

SUATU pagi 19 Oktober 2024 di Perpustakaan Umum Gowa, seorang seniman Jepang, Satoko Ichihara, ketika ditanya tentang ruh yang menggerakkan naskahnya yang nampak ditulis untuk menghibur dan mengajak penonton merayakan kehidupan, ia berpikir lama kemudian menjawab “negara kami tak pernah mengalami penjajahan itu mungkin bedanya”. Jawaban ini menjadi kalimat kunci mengapa ingatan akan masa lalu begitu banyak mengungkapkan kegelisahan, trauma, dan kecemasan yang banyak diungkapkan oleh Festival Kala Monolog tahun ini.

Menyusuri masa lalu, entah melalui ingatan atau merasai vibrasi benda-benda yang menjadi saksi peristiwa, mampu mendeteksi banyak hal. Ingatan dapat menjumpai sedimentasi kisah yang mungkin terungkap dalam bentuk luapan emosi masyarakat kota. Luapan yang dulu disangka sebagai tradisi yang mengakar atau budaya yang agung, akan tetapi ternyata energi emosi ini berakar dari masa lalu yang menakutkan. Bagi sebuah kota atau negara yang mempunyai masa lalu yang kelam, sisa-sisa perang masih dapat terdeteksi sampai hari ini, entah itu melalui cerita hantu yang dipelihara, luapan kecemasan, dan ketakutan yang entah dari mana. Tulisan ini berusaha mengaitkan teks-teks yang terurai di atas panggung dari beberapa pagelaran monolog pada Festival Kala Monolog oleh Kala Teater tahun 2024. 

Saya mulai menyatukan teks dari beberapa monolog ketika saya mengingat buku karya Faruk, yang berjudul Hilangnya Pesona Dunia. Buku ini berkisah tentang modernisme yang mengubah tatanan dunia dan dunia berubah menakutkan. Lalu, ilmu pengetahuan modern memperkenalkan dunia dengan dua ruang, ruang publik, dan ruang privat. Apa yang dilakukan dalam Festival Kala Monolog tahun ini adalah kembali mengenali dan mengingat ruang-ruang itu. Para seniman menggunakan tubuh mereka untuk merasai energi atau mengumpulkan ingatan mereka akan masa lalu ruang di kota ini. Panggung yang menghadirkan energi masa lalu ternyata banyak mengungkapkan hal tak terduga.

Trauma Ruang Publik

Hal yang pertama terasa adalah trauma dari ruang publik. Trauma ini dapat terihat dalam luapan emosi Annisa Effendi ketika menginterpretasikan naskah monolog Nurul Inayah “Perempuan Etalase Mitos”. Di atas panggung, sang aktris meluapkan rasa sangat jengah pada ibunya yang mendidiknya menjadi perempuan malebbi’. Ia seorang perempuan Bugis, terlahir dari seorang wanita Bugis yang menjaga harkat dan harga dirinya. Sang ibu meyakini perempuan malebbi’ adalah simbol keagungan wanita Bugis. Ia menjadi panutan setiap ibu untuk mendisiplinkan anak gadisnya, dari cara bertutur hingga cara bergerak.  Imaji ini adalah letupan ketakutan ibunya akan pandangan masyarakat. Sang ibu senantiasa merasa menjadi objek yang dilihat banyak mata. Dirinya dan anak perempuannya seakan berada dalam etalase.

Dari mana perasaan ini berasal? Dari tuturan sang aktris, terungkap bahwa sang ibu mewarisi kisah dari orang tuanya. Dua generasi di atasnya hidup dalam masa perang. Masa ketika dunia telah kehilangan pesonanya dan tak lagi ramah bagi perempuan. Dunia bukan lagi tempat yang nyaman untuk bermain, alam tak lagi menjadi teman sejati. Pengalaman perang yang dikisahkan turun-temurun mewariskan trauma yang tak pernah selesai. Ketakutan perempuan menghadapi peperangan, kehilangan lelaki atau trauma lelaki yang tersisa dari medan perang. Perempuan telah kehilangan kekuatan untuk mempercayai semesta yang selalu ada mengayomi hidupnya. Ketakutan itu terwariskan pada sang anak padahal dunia telah berubah.

Meskipun sang anak membawa jiwa semesta dan jiwanya yang suci masih menangkap pesona dunia, jiwa itu terbelah dalam asuhan ibunya. Keinginan mengikuti gerak hatinya sekaligus realitas ruang publik yang ditunjukkan ibunya; tentang kota yang mendudukkan perempuan dalam kasta yang paling rendah tetapi menjadi simbol kehormatan yang paling tinggi. Ia menjadi simbol siri yang harus dijaga karena harkat keluarga ada pada selangkangannya. Ia tak serendah itu, dan ia mengungkapkannya dengan penuh amarah dan kecemasan.

Serupa dengan monolog “Perempuan Etalase Mitos”, monolog “Belanja Cinta” naskah Nurul Inayah yang dituturkan oleh Dwi Lestari Johan juga mengungkapkan kemarahan akibat siksaan karena merasa orang-orang senantiasa mengawasinya. Ia mengutuki toples uang di atas meja karena ruang hidupnya tersiksa. Ia mulai mengingat, uang panaik yang diinginkan orang tuanya untuk menarik kesan masyarakat luas, dan untuk menaikkan harkat keluarganya. Orang tuanya puas meraih simpati masyarat tetapi ia tak berhasil menikahi lelaki yang dicintainya, bahkan berujung dalam perceraian yang menyakitkan. Namun panaik tak pernah menjadi miliknya, tetapi menjadi milik keluarga untuk berpesta pora.

Ia benar-benar marah. Betapa ia merasa tak berharga di hadapan masyarakat. Pada masa kecil ia menjalani banyak disiplin untuk menjadi perempuan yang menjaga harkat agar ia bernilai yang dibuktikan dengan panaik. Ia merasa dikorbankan, panaik tak pernah ia miliki. Ia merasa tak memiliki jiwa tetapi hanya dianggap sebagai tubuh. Masyarakatnya masih membayangkan putrinya adalah I We Tenri Abeng yang berada dalam pingitan, suci, berilmu tinggi, dan berjodoh dengan manusia langit. Ia tak pernah bahagia dengan perkawinannya yang materialistik. Dalam hitungan waktu, ia segera akan menyandang gelar janda dan ia menjadi bulan-bulanan lelaki usil. Ia meluapkan kemarahannya merasa menjadi korban objek yang diperdagangkan. Ia adalah media eksistensi keluarga untuk memberi kesan di ruang publik.

Pada panggung lain, seorang TKW yang berani berhasil melangkah keluar dari ruang privatnya. Bukan hanya itu, ia bahkan telah berhasil keluar dari negaranya seorang diri, tanpa suami atau ayah. Apakah ia merupakan penggambaran kegagalan lelakinya membawa makanan segar penghangat perut anak-anaknya ataukah mimpi akan standar kehidupan yang memberi label ke setiap individu? Tak ada yang tahu. Karena ia seorang perempuan, ia terdampar pada ruang privat orang lain dan melayani kebutuhan-kebutuhan privat tuannya.

Ia tak lagi mempunyai ruang privat untuk dirinya sendiri, ruang yang sakral tempatnya memulihkan tenaga, sehingga jiwanya tak menetap terbang ke sana kemari mengikuti arah pikirannya. Jiwa menjadi budak pikirannya. Ia tak hanya tak memiliki tubuhnya, bahkan jiwanya pun sudah tak punya rumah. Sepanjang hayat ia mengutuki apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kekuatan femininnya telah menjelma menjadi maskulin, kata-katanya penuh kutukan, ketakutan, tangis air mata, amarah, dan sumpah serapah. Ia telah kehilangan kepercayaannya pada semesta.  

Di panggung lain, seorang perempuan, Mega Herdiyanti, menarasikan pesona dunia di masa depan dalam naskah Mutiara Pulau. Mega memerankan seorang perempuan dari pulau yang berpendidikan rendah namun terpesona dengan janji pendidikan tinggi. Semua pasti percaya bahwa pendidikan tinggi adalah tangga menuju kelas sosial yang lebih tinggi. Harapan itu ia letakkan pada putrinya. Ia mengambil upah sebagai pappalimbang dengan memberi tumpangan bagi orang yang hendak menyebrang ke pulau lain. Upah itu sebagai bekal sekolah anaknya kelak.

Ia satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai pappalimbang. Sampai hari ini sekolah adalah harapan satu-satunya bagi mereka yang berada dalam level sosial yang lebih rendah. Sekolah merupakan jalan untuk membayarkan dendam mereka pada kesulitan hidup, meski mereka harus melupakan doa-doa pujian mereka di gelap malam karena terlelap lelah diburu mimpi yang kian dekat. Ia tahu, puji-pujian feminin mereka adalah elixir yang mampu mengubah dunia. Namun mereka tak lagi bersabar menunggu keajaiban karena esok anak-anak akan mati kelaparan. Lelaki yang berjuang di medan ruang publik telah melupakan mereka tanpa tanggung jawab. Naskah Mutiara Pulau tak berisi keluhan, kecemasan, tapi penuh harapan. Mega merayakan perannya dengan suka cita.

Nostalgia pada Energi Feminin

Percakapan tentang sepak terjang maskulin di ruang publik dapat terlihat dalam lakon Kasir Kita, Sopir 1989, dan Pendekar Pena.  Ketiga lakon ini juga memperlihatkan teknik mengingat. Ingatan akan asal mula kemenangan mereka yang bersumber dari energi feminin. Sama seperti Adam, kehidupan duniawi baru ia mulai setelah Hawa tercipta mendampinginnya. Hawa adalah energi yang berada pada I We Tenriabeng yang memberi inspirasi pada Sawerigading untuk memulai perjalanan, yang menyulap Walenreng menjadi perahu Sawerigading mengarungi lautan luas untuk menemukan I We Cudai. Energi feminin memang berada dalam ruang yang dalam yang sulit ditemukan, namun ia senantiasa merupakan sumber energi yang sanggup mengubah dunia. Energi ini diakui oleh pemeran laki-laki dalam beberapa lakon.

Pertunjukan Monolog “Jalan Terakhir” Aktor, Penulis Naskah, dan Sutradara Alghifahri Jasin | Foto: Ist

Lakon “Kasir Kita” menuturkan lelaki yang telah kehilangan kekuatan. Ia mengenang istrinya yang telah pergi dan istrinya membawa kekuatannya bersamanya. Ia berharap dengan cemas sang istri kembali. Lakon ini menegaskan keseimbangan maskulin dan feminin adalah kekuatan dan ketidakberdayaan maskulin ketika feminin absen. Pengekangan maskulin terhadap feminin ibarat pasir yang digenggam erat, ia akan menghilang dalam hitungan waktu. Kehadiran feminin sebagai kekuatan dapat terlihat dalam lakon Sopir Kita. Pemeran Sopir Kita, Ince Muhammad Alwan, menunjukkan emosi yang lebih intens ketika menggambarkan kehadiran istrinya sebagai tawanan. Ia dengan segala kekuatannya berusaha melakukan perlawanan terhadap kekuatan dominan meskipun ia hanya seorang sopir.

Kekuatan feminin semakin nyata ketika Haris Dogol melakonkan Kwee Tek Hoay, Sang Pendekar Pena. Meski pemerannya adalah lelaki, apa yang dinarasikan sebenarnya oleh Haris adalah energi feminin yang berperan dalam hidupnya sehingga ia mampu mempunyai kekuasaan ruang publik. Kwee Tek Hoay mempunyai seorang ibu yang selalu bangga ketika ia menulis.

Kemudian, ia merayakan kehidupan ketika ayahnya menyuruhnya kawin dengan seorang perempuan. Sebagai orang yang hanya berpikir untuk mencerdaskan bangsanya, kehidupan perkawinan tak pernah ia bayangkan. Namun ketika seorang perempuan memasuki kehidupannya ia sungguh takjub. Kwee Tek Hoay bagai seorang penyihir. Ia mampu mengubah ide-idenya menjadi kenyataan. Semua itu karena istrinya. Energi feminin adalah energi penciptaan. Energi ini berada dalam rahim perempuan yang diyakini merupakan representasi dari sifat Tuhan yang maha kasih.

Ia adalah cinta yang merupakan sumber kedamaian dan cinta kasih yang diberikan Tuhan. Kedamaian dan cinta kasih merupakan syarat wajib fokus yang merupakan mata air dari kekuatan penciptaan.  Dialah yang mengandung ide-ide Hoay sehingga ia bisa terlahir dalam berbagai bentuk simbol keberhasilan. Ia bahkan mengandung Hoay dan melahirkannya sebagai tokoh yang mengubah dunia.  Namun setelah energi itu kembali ke pemilikNya. Kwee tek Hoay juga memudar. Ia hidup pada kenangan dan ia pun pergi menyusul kekuatannya itu.

Ingatan dan Kesadaran

Festival Kala Monolog tahun ini menjadi pengingat bahwa manusialah yang memberi label pada ruang dan waktu sebagai masa lalu atau masa sekarang dan masa depan. Pada kenyataannya, waktu tak pernah berlalu dan selalu ada saat ini untuk dikunjungi melalui ingatan. Waktu yang hadir dalam ingatan dapat mempengaruhi ruang dalam tubuh manusia dan terekspresikan melalui penanda.

Dalam dunia mindfulness, mengingat masa lalu bukan berarti menyadari masa lalu, karena ingatan adalah pikiran yang mampu mempengaruhi kesadaran manusia, tetapi bukan kesadaran. Bagi para praktisi mindfulness, ingatan harus didampingi oleh kesadaran. Ketika ingatan memberi label pada masa lalu sebagai kesedihan, ketakutan, atau kenangan indah, label yang diberikan pikiran dapat mempengaruhi perasaan dan jiwa manusia. Mindfulness mengawasi pikiran karena pikiran bukanlah diri manusia yang sejati. Pikiran hanyalah teman sekamar yang tak pernah berhenti berbicara, dan dia akan terus menerus berbicara, melompat dari waktu ke waktu. Praktisi mindfulness melatih untuk menyadari dan mengenalinya.

Dalam teori sastra, ingatan menempati salah satu struktur yang mempengaruhi pikiran dan perasaan pembaca. Pembaca digiring ke masa lalu (nostalgia) atau ke masa depan (paranoia) untuk melarikan diri dari masa sekarang yang penuh konflik.  Struktur ini membentuk karya-karya romantisisme, karya yang menjadi penggerak modernisasi. Manusia modern dibentuk untuk berkonflik dengan masa kini, cemas dengan masa depan dan melarikan diri ke masa lalu. Jiwa modern menjadi sangat rapuh dalam menghadap berbagai macam konflik, ia menjadi trauma yang terwariskan melalui penceritaan meskipun generasi selanjutnya tidak mengalaminya. Trauma tak selesai pada orang yang mengalami saja.

Hari ini, manusia telah jauh berjalan melampui era modern. Oleh karena itu, mengunjungi masa lalu kali ini seharusnya dipandu kesadaran bahwa realitas sekarang telah dibangun atas dasar modernisme di masa lalu yang traumatik. Mengunjugi masa lalu dengan kesadaran bukan untuk mengutuki dengan sumpah serapah akan tetapi untuk memeluk dan menerima masa itu apa adanya, untuk mengerti apa yang terjadi dan membuka ruang pemahaman sebagai terapi pembebasan dan pelepasan emosi yang melekat melalui penanda budaya.

Para lelaki yang telah terlibat perang dan para perempuan yang menjadi rumah tumpahan kepedihan trauma peperangan memerlukan kunjungan untuk kita peluk hari untuk menerimanya sebagai kenyataan apa adanya. Hanya dengan penerimaanlah, emosi masa lalu dapat melepaskan dirinya dengan bebas. Kembali memeluk masa lalu, menerimanya dan memaafkannya akan membuka lembaran bagi kita semua.

Ia akan membuka peluang kembalinya pesona dunia yang telah lama hilang. Sebagaimana hari lebaran, kita berziarah pada yang telah mati, kita memberi pelukan pada mereka yang masih hidup dan kita berharap lembaran baru kehidupan terbuka lebar.  Karya senilah yang mengayomi penemuan-penemuan kemanusiaan dan menyeimbang kehidupan. Seni yang merayakan kehidupan bukan mengutuki kehidupan. [T]

Merayakan Perjalanan Setelah Menonton Pertunjukan Kelas Teater Shiro-San
Yang Terhubung: Ancaman dan Harapan | Catatan Pentas Kala Teater
Tags: Festival Kala MonologKala TeaterMonologTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Percik Estetik Made Gunawan

Next Post

Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Rosmah Tami

Rosmah Tami

Dr. Rosmah Tami, adalah Dosen Bahasa dan Sastra UIN Alauddin Makassar, Indonesia. Bidang spesialisasinya adalah Sastra Komparatif, Sastra Islam, Perempuan dan Sastra, Sosiologi Sastra, Semiotika dan Estetika Islam.

Related Posts

Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

by I Gede Tilem Pastika
March 1, 2026
0
Menembus Batas Fisik: Dialektika Atma Kertih dalam Estetika Ruang dan Cahaya dalam Lakon ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’

MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara...

Read moreDetails

Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

by Wahyu Mahaputra
February 28, 2026
0
Pertunjukan Mini Esai Performatif ‘Desa Kami’: Sebuah Gugatan dan Refleksi dari Desa

DERING telepon membangunkan saya dari tidur siang hari itu. Di seberang sambungan, suara Ariel Valeryan: sahabat dari Kuningan, Jawa Barat...

Read moreDetails

Pesan, Refleksi, dan Kritik Sosial dalam Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

DRAMA Bali modern atau teater berbahasa Bali yang dipentaskan oleh sejumlah kelompok teater dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 menunjukkan...

Read moreDetails

Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

by Rusdy Ulu
February 25, 2026
0
Teater Bali Modern ‘Jaratkaru’ dari Kawiya: Sekilas Tentang ‘Urban Stress’ dan Kehilangan Waktu Memikirkan Pernikahan

EMPAT orang masing-masing membawa ember dan lap pel, lalu mengepel lantai panggung secara bersamaan. Mereka menarik lap pel dengan gerakan...

Read moreDetails

Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

by Kadek Sonia Piscayanti
February 16, 2026
0
Musikal ‘Perahu Kertas’ Dee Lestari: Pertunjukan Bagi Mereka yang Rindu Pada Diri Sendiri

MUSIKAL Perahu Kertas di Ciputra Artpeneur Theater, Jakarta, hadir pada saat yang tepat, ketika banyak manusia bingung menemukan diri mereka,...

Read moreDetails

‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
‘Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati’ di SMAN 1 Kuta Selatan —Dari Ide Tengah Malam hingga Panggung Bulan Bahasa Bali

SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali...

Read moreDetails

Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

by Son Lomri
February 6, 2026
0
Siapa Kita dalam Lakon “Aduh” karya Putu Wijaya? —Catatan Pentas Teater Komunitas Mahima di Undiksha Singaraja

ORANG-orang di Auditorium Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja itu diteror suara sirine yang keluar dari mulut tujuh aktor Teater Komunitas...

Read moreDetails

Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

by Moch. Anil Syidqi
January 24, 2026
0
Menilik Drama Musikal Rempeg di Perayaan 254 Tahun Banyuwangi

Lebih baik aku jadi debu di tanah bayu. Asal ku menyatu dalam perlawanan. Begitulah monolog Sayu Wiwit dalam drama musikal...

Read moreDetails

Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

by I Putu Ardiyasa
January 23, 2026
0
Guru Seni Budaya yang Mencipta Karya —Catatan  Uji Komposisi dan Pameran Karya Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni di Bali Utara

PENDIDIKAN tinggi seni hari ini tidak lagi cukup hanya berkutat pada penguasaan teknik di dalam studio atau penghapalan teori di...

Read moreDetails

Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

by Agus Arta Wiguna
December 25, 2025
0
Bulan Kepangan: Ketika Bulan Kehilangan Cahayanya

MALAM, 19 Desember 2025, di halaman belakang gedung Desain Hub, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sebuah karya pertunjukan kolektif dipentaskan...

Read moreDetails
Next Post
Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Tutur  Sejarah Dari Museum Sejarah  Jakarta    

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co