23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
October 30, 2024
in Persona
Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie

Tan Lioe Ie saat menyajikan puisi-musik “Exorcism” di UWRF 2024. Foto: tatkala.co/Dede

SORE itu, Tan Lioe Ie tampak menjinjing gitarnya dari pintu masuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) menuju stage Taman Puisi, ia juga sempat menyapa beberapa kawan-kawannya saat melewati Rumah Kayu. Sesampainya di stage Taman Puisi, ia langsung menyiapkan segala piranti pertunjukannya.

Sayup-sayup suara musik slow blues mulai terdengar, saya pun segera menuju stage Taman Puisi, karena saya sudah berencana akan menyaksikan pertunjukan Tan Lioe hari itu. Saya sempat mengira show sudah dimulai, ternyata Tan Lioe baru melakukan sound check.

Kala itu, Tan Lioe tampil untuk kesekian kalinya di UWRF, ia sudah terlibat di festival itu sejak perhelatan pertama. Pertunjukannya di stage Taman Puisi petang itu bertajuk “What Fuels Your Anger?” atau sederhananya bertema tentang kemarahan. Acara tersebut diisi dengan gelar wicara, penampilan puisi-musik oleh Tan Lioe Ie, serta open mic dari beberapa kawan-kawan komunitas JKP (Jatijagat Kehidupan Puisi).

Tan Lioe Ie kerap disapa Yoki oleh kawan-kawannya, ia merupakan penyair Indonesia asal Bali yang lahir pada 1 Juni 1958. Wikipedia menulis, Tan Lioe Ie merupakan penyair pertama Indonesia yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa dalam puisi bahasa Indonesia. Walaupun bernuansa etnik kental, puisi-puisinya tetap mempunyai daya pikat bagi kalangan luas.

Pada mulanya, Tan Lioe Ie adalah seorang pemusik, namun kini ia lebih dikenal sebagai seorang penyair. Awal ia mulai menulis puisi adalah semenjak bertemu dengan sejumlah penyair di Sanggar Minum Kopi (SMK), saat itu ia berusia 31 tahun.

Kalau saya menjulukinya sebagai satria bergitar yang tidak bernyanyi, tetapi berpuisi. Musik dan puisi tampaknya tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Sampai saat ini ia dikenal sebagai penekun puisi-musik.

Tepat pukul 6 sore, acara yang dilaksanakan pada 26 Oktober 2024 di Taman Baca Ubud itu pun dimulai dengan sesi gelar wicara yang dipandu oleh Bagus Ari Saputra. Saat itu Bagus bertanya berbagai hal seputar kiprah Tan Lioe Ie di dunia seni puisi-musik, proses kreatif dalam berkarya, serta pandangan-pandangannya seputar seni puisi.

Tan Lioe Ie dan Bagus Ari Saputra saat sesi gelar wicara di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Kala itu, Bagus juga membawa buku terbaru dari Tan Lioe, yaitu Ekphrasis, ia juga membacakan sepucuk puisi yang terdapat dalam buku tersebut. Tan Lioe Ie mengatakan, “Ekphrasis ini adalah karya puisi yang berbasiskan karya rupa atau karya seni lain. Dalam buku ini, karya rupanya juga disertakan.”

Setelah gelar wicara berlangsung sekian menit, Bagus menjeda sejenak sesi gelar wicara tersebut, ia kemudian mempersilakan Tan Lioe untuk tampil. Pada penampilan pertamanya, Tan Lioe menampilkan puisi-musik yang berjudul “Abad yang Luka”. Tan Lioe menyebutkan, puisi-musik “Abad yang Luka” ini semacam kritik terhadap antroposentrisme dan hipokrisi kaum agama, puisi-musik ini juga pernah memenangkan nominasi di Taraju Award.

Tan Lioe berpuisi sembari bermain gitar, ia memainkan gitar klasik dengan begitu lihai, senar-senar gitarnya dipetik dan digenjreng secara dinamis, kemudian disahuti dengan syair-syair tajamnya. Cara berpuisi yang ditunjukkan oleh Tan Lioe ternyata ampuh memikat berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa bisa menikmati puisi yang disajikan dalam bentuk puisi-musik tersebut.

Penonton mengabadikan Tan Lioe Ie saat tampil di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Tan Lioe Ie saat menyajikan puisi-musik “Abad yang Luka” di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

Seusai Tan Lioe menampilkan puisi-musik “Abad yang Luka”, sesi gelar wicara pun dilanjutkan kembali. Kala itu hari mulai dirundung gelap, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 Wita. Semakin malam, pengunjung tampak semakin ramai menyaksikan show Tan Lioe di stage Taman Puisi.

Perbincangan dalam gelar wicara itu, menjadi semakin intim saat Tan Lioe menyatakan tidak sepakat dengan istilah musikalisasi puisi. Baginya, puisi itu sudah musikal, jadi tidak perlu dimusikalkan lagi.

“Saya tidak pernah menemukan satu rumusan yang mengatakan puisi itu tidak musikal. Puisi pada dasarnya sudah musikal, bahkan Newton yang ahli fisika mengatakan puisi itu adalah nada yang teratur. Jadi saya lebih setuju istilah puisi-musik atau musik-puisi, dua kata yang dihubungkan menjadi satu, mencerminkan sinergi, tidak yang satu subkoordinat yang lain. Kalau toh akan melakukan musikalisasi, itu adalah transformasi dari puisi berubah menjadi musik total,” jelasnya dengan nada jengkel.

Tan Lioe mampu mengemas show selama 1 jam itu menjadi acara yang mengesankan, tak hanya sekadar pertunjukkan puisi semata, tetapi juga membuka pikiran terhadap cara kita memandang puisi. Acara semakin seru saat kawan-kawan dari komunitas JKP turut menyajikan puisinya masing-masing. Tetapi sebelum mereka tampil, sesi gelar wicara ditutup terlebih dahulu dengan penampilan Tan Lioe Ie yang menyajikan puisi-musik berjudul “Exorcism”.

Tan Lioe Ie saat menyajikan puisi-musik “Exorcism” di UWRF 2024 | Foto: tatkala.co/Dede

“Ini agak sarkastik sebenarnya. Saya menyindir penguasa yang suka menindas orang lemah,” ujar Tan Lioe sebelum memulai penampilan pamungkasnya. Kemudian, musik slow blues yang saya dengar di awal ketika Tan Lioe sedang sound check, mulai diputarkan kembali. Kali ini ia tampil tanpa gitar, Tan Lioe hanya berpuisi, diiringi musik blues, dan disertai dengan berbagai gerakan-gerakan uniknya.

Barang kali, ini adalah kesempatan pertama saya bisa menyaksikan langsung Tan Lioe Ie tampil dengan gayanya yang berkarakter, caranya menyampaikan puisi berbeda dengan cara penyair-penyair lain yang cenderung konvensional.

Tan Lioe Ie mengajak semua audience untuk bergerak bersama saat show-nya berakhir | Foto: tatkala.co/Dede

Para pengunjung dari depan sampai belakang berjoget sembari mengikuti instruksi dari Tan Lioe Ie | Foto: tatkala.co/Dede

Setelah semua rangkaian pertunjukan berakhir, saya menghampiri Tan Lioe Ie dan sedikit berbincang-bincang. Saat itu, di depan stage Taman Puisi, tepatnya di Alang-Alang stage sedang berlangsung pemutaran film. Jadi, perbincangan kami diiringi musik dari film itu. Obrolan yang ringan jadi terkesan dramatis.

Sembari menggendong gitar di bahu kanannya, Tan Lioe Ie waktu itu bercerita tentang banyak hal. Mulai dari pengalamannya dalam berkarya, proses kreatif dalam berpuisi, pandangannya terhadap dunia, hingga berbagai teori konspirasi yang juga saya percayai. Ia juga memberikan saya satu trik sederhana dalam meramu puisi.

“Begini De, ada sebuah ungkapan dari Rilke (penyair Jerman), ‘ketika anda mengalami kesulitan bayangkan keluguan anda ketika kanak-kanak, tetapi tuliskan dengan anda masa kini’. Dengan menerapkan prinsip sederhana itu, karya kita akan menjadi sesuatu yang lain dan personal, sekaligus memberikan ciri dalam karya kita. Ingatlah masa-masa itu dan bahasakan dengan kekinian,” tandas Tan Lioe mengakhiri perbincangan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Pentas Intim Maestro Kentrung Pati Mbah Djaswadi: Fase Rawat Pekan Kebudayaan Nasional
Bali Jani Nugraha 2022 | Tan Lioe Ie Pada Pusaran Puisi dan Musik
Tags: Bali Puisi Musikmusikmusikalisasi puisiPuisipuisi musikTan Lioe IeUbudUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyemai Harmoni Gambelan Tradisi di Jantung Budaya Bali: Pembinaan dan Pementasan Iringan Batel Wayang Wong di Banjar Pesalakan, Gianyar

Next Post

Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
0
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

Read moreDetails

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
0
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

Read moreDetails

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails
Next Post
Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    

Bincang Buku Karya Siswa Toska : Menulis Untuk Keabadian    

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co