23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

𝗠𝗔𝗧𝗜 𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗗𝗨 (𝟮)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
September 20, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

  • Catatan Harian 19 Agustus 2024

Penganut Hindu di Bali, Jawa, India, dan dimanapun secara bersama-sama memiliki kepercayaan bahwa Yama adalah Dewa Kematian. Baik secara tertulis dan lisan, Yama disebutkan sebagai Penguasa Kematian. Umumnya seseorang yang mengaku beragama Hindu, apakah mereka berlatar belakang etnis India atau Bali, pernah mendengar kisah perjalanan ke alam kematian yang akan disambut oleh Yama.

Yama juga dikenal dengan banyak nama lain, termasuk Kala (‘waktu’), Pashi (‘yang membawa jerat’) dan Dharmaraja (‘penguasa Dharma ‘).

Mari kita mendengarkan sebuah dialog Dewa Yama dan Yudhishthira.

Dalam cerita Yaksha Prashna , Dharmadeva (Yama) muncul sebagai ‘yaksha’ (roh alam) dalam bentuk burung bangau untuk menanyai dan menguji Yudhishthira perihal kebenaran.

Yaksha [Yama] bertanya, “Musuh apa yang tak terkalahkan? Apa yang merupakan penyakit yang tak tersembuhkan? Manusia macam apa yang mulia dan manusia macam apa yang hina”?

Yudhishthira menjawab, “Kemarahan adalah musuh yang tak terkalahkan. Ketamakan merupakan penyakit yang tak tersembuhkan. Mulialah orang yang menginginkan kesejahteraan semua makhluk, dan hinalah orang yang tidak memiliki belas kasihan”.

Selanjutnya kita dengarkan dialog Yama dan Nachiketa.

Dalam Katha Upanishad, Yama sebagai guru menurunkan ajaran bagi Nachiketa seorang anak pendeta yang secara mendalam mempelajari hakikat keberadaan, pengetahuan, Atman (yaitu jiwa, diri) dan moksha (pembebasan).

Yama berkata: “Aku tahu ilmu yang menuntun ke surga. Aku akan menjelaskannya kepadamu sehingga kamu akan memahaminya. Wahai Nachiketa, ingatlah bahwa ilmu ini adalah jalan menuju dunia tanpa akhir; penopang semua dunia; dan bersemayam dalam bentuk halus di dalam pikiran orang-orang bijak”. [Katha Upanishad, Bab 1, Bagian 1, Ayat

Begitulah, Yama tidak hanya menjadi Dewa atau Malaikat Kematian, tapi sesekali turun sebagai penguji, sesekali turun sebagai guru suci. Katha Upanishad memberikan jalan yang diajarkan oleh Dewa Yama.

Lontar-lontar Bali yang utama, seperti Bhuwana Kośa, Wrhaspatitattwa, Tattwajñā, Mahājñāna, Ganapatitattwa, dllnya menjabarkan jalan ajaran Yama dan Niyama (pengendalian diri dan pikiran yang dilandasi disiplin moral). Inilah pedoman atau arah berjalan, bertindak, berkata dan berpikir seiring jawaban Yudhishthira ketika menjawab pertanyaan Yama: Bagaimana meminimalkan kemarahan (yang adalah musuh yang tak terkalahkan). Bagaimana mengurangi ketamakan (yang adalah penyakit yang tak tersembuhkan). Bagaimana terus berusaha menjadikan diri tidak jauh dari pikiran mulia (menginginkan kesejahteraan semua makhluk), dan tidak menjadi manusia hina (orang yang tidak memiliki belas kasihan”).

Jalannya adalah PANCA NIYAMA, untuk melengkapi PANCA YAMA [telah diulas dalam MATI CARA HINDU (1)].

DEWA YAMA akan melihat sebaik apa kita menjalani NIYAMA: Aturan perilaku dalam menjalani hidup, tetapi disiplin ini berfokus pada bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri. PANCA NIYAMA adalah:

“Saucha” — bahasa Sansekerta untuk “kemurnian”

“Santosha” — Bahasa Sansekerta untuk “kepuasan”

“Tapa” — Bahasa Sansekerta untuk “disiplin diri”

“Svadhyaya” — bahasa Sansekerta untuk “belajar mandiri”

“Ishvara pranidhana” — bahasa Sansekerta untuk “menyerah pada sumber-muasal yang lebih tinggi”

Saucha

Secara harfiah berarti “kemurnian”,  saucha adalah prinsip sucian. Ini mengacu pada usaha sadar menjaga kesucian yang baik, juga menjauhi hal-hal yang tidak murni atau beracun dalam pikiran, perkataan, atau perbuatan. Mempraktikkan kesucian internal berarti menghindari keegoisan, gosip, dan topik-topik yang menyakitkan. Saucha juga menyiratkan pola makan dan minum yang moderat, tidak makan berlebih dan minum yang aneh-aneh, seimbang, dan sehat.

Santosa

Santosha secara harfiah berarti “kepuasan.” [rasa syukur mengenal cukup]. Ini adalah praktik menerima hidup apa adanya, menemukan kegembiraan dalam hidup kita sendiri, tidak menghayal-hayal kejauhan mendambakan kehidupan yang tidak kita miliki. Namun, Santosha tidak merujuk pada rasa puas diri. Menyerah tidak ingin mewujudkan cita-cita yang positif atau membiarkan diri kita dalam kemelaratan bukanlah praktik santosha. Sebaliknya, prinsip ini merujuk pada penerimaan terhadap momen saat ini — jika terasa sulit maka kita perbesar kesabaran agar tetap bisa sentosa pikiran sekalipun ujian cukup besar. Dengan mengusahakan ketenangan dan kedamaian dalam keadaan apa pun, kita perlahan belajar bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang.

Tapa

Secara harfiah berarti “panas”,  tapa merujuk pada pengendalian diri atas energi diri, yang energi diri kini kita “membakar” kotoran dalam pikiran, ucapan dan perbuatan kita. Ini memerlukan pengendalian diri dan usaha keras. Ketika hal-hal buruk dalam pikiran hilang, atau meredup, energi sejati Anda dapat muncul. Duduk menenangkan diri dan menunggu diri tenang, dan menunggu munculnya energi diri Anda muncul adalah usaha tapa. Ketika Anda terinspirasi, mulai bisa fokus, dan ”bersemangat” dalam melihat hidup,  tapa Anda mulai bekerja membantu dalam hidup Anda.

Swadhyaya

Secara harfiah berarti “belajar mandiri”,  svadhyaya membutuhkan perenungan dan refleksi diri saat kita menyelidiki hakikat diri kita sendiri. Dengan mengarahkan kesadaran kita ke dalam, kita perlahan akan mulai menyadari makna yang lebih dalam dari hidup kita, tujuan kehidupan kita, dan jalan spiritual kita. Jika Anda masih berpikir negatif tentang diri sendiri, Anda sedang melawan prinsip Swadhyaya. Berpikir positif bahwa hidup bukan sekedar dunia material dan ketubuhan, tapi hidup lebih dari sekedar penampakan luar, hidup jauh lebih mendalam, kita adalah ruh suci dan menyadari bahwa diri kita adalah bagian dari semesta yang penuh kasih adalah swadhyaya.

Īśvarapranidhāna

Niyama terakhir , Īśvarapranidhāna adalah praktik penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi atau diri Anda yang lebih tinggi. Īśvarapranidhāna adalah pengakuan tulus dari hati yag paling dalam untukmenyerahkan diri meminta tuntunan dan bimbingan KEKUATAN SUCI ALAM SEMESTA yang akan membawa kedamaian dan pengertian ke dalamngakui adanya keberadaan kekuatan yang lebih besar di alam semesta. Tidak masalah apakah Anda menyebut kekuatan ini sebagai “Hyang Widhi”, “Brahman”, “Tuhan,” “Bhatara,” “Pencipta,” “Sumber Suci,” “roh tak terbatas,” “kekuatan hidup universal,” atau istilah lainnya. Īśvarapranidhāna adalah pengakuan tulus dari hati yag paling dalam untukmenyerahkan diri meminta tuntunan dan bimbingan KEKUATAN SUCI ALAM SEMESTA yang akan menuntun kita, mengasihi kita, dan akan menemukan kita memasuki pemahaman mendalam tentang diri kita. SEPENUH HATI MENYERAHKAN DIRI BAHWA KEKUATAN ALAM SEMESTA AKAN MENGANTAR KITA MENUJU KEDAMAIAN DIRI.

YAMA dan NIYAMA adalah peta jalan untuk kehidupan yang mengantar damai dalam hidup, dan modal untuk membukakan jalan surga ketika ketika berjumpa Bhatara Yama. Yama dan niyama merupakan asal kebajikan dan pengaturan pikiran akar tidak sesat dalam berpikir tentang diri sendiri. Yama dan Niyama adalah prinsip-prinsip yang mendatangkan kedamaian, kegembiraan, dan pengertian tentang hakikat diri kita kenapa ada di dunia ini.

Lontar-lontar Bali yang utama, seperti Bhuwana Kośa, Wrhaspatitattwa, Tattwajñā, Mahājñāna, Ganapatitattwa, dllnya menyebutkan bahwa hidup Anda akan berubah menjadi sangat positif dan berlimpah berkah batin ketika Anda menapaki jalan Panca Yama dan Panca Niyama.

Bisa disederhanakan petunjuk Dewa Yama seperti ini: “Jika engkau mulai menjalani yama dan niyama dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, bersiaplah untuk perubahan-perubahan positif akan terjadi pada dirimu!”

Cara hidup berdasarkan YAMA dan NIYAMA adalah cara hidup ideal bagi penganut Hindu: Selama hidup dijamin hati dan pikiran damai, ketika memasuki kematian dijamin mendapat tuntunan Dewa Yama untuk memasuki gerbang surga dan alam-alam yang lebih tinggi. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

MATI CARA HINDU (1)
SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’

MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA

MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA

Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?

Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?

I GUSTI BAGUS SUGRIWA MEMBACA DASA BAYU

I GUSTI BAGUS SUGRIWA MEMBACA DASA BAYU

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA

“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002

Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali

Perlindungan Pohon dalam Undang-Undang Bali Kuno – Renungan Pasca Bencana

Tags: filosofi balifilsafathindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tentang Ngampan, Lampan, dan Sekeh    

Next Post

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co