25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Son Lomri by Son Lomri
July 29, 2024
in Ulas Film
Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

TOKOH utama film Maria Ado’e (2020), Maria, membuka cerita dengan wajah letih sepulang dari sekolah. Sementara seorang perempuan, tetangga kamar Maria, baru saja keluar dari kamar mandi yang bersebalahan dengan kamar tidur Maria itu, menatapnya sangat sinis sambil berjalan pergi dengan menutup hidungnya.

Maria berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sedangkan tetangga kamarnya dari daerah lain. Tetapi mereka tinggal satu kontrakkan, dan kamarnya saling berhadapan, pula sangat dekat. Tatapan dan wajah sinis tak berhenti saat mereka berpapasan di depan pintu tadi.

Tetangga kamar Maria menyemprotkan pewangi ruangan ke jejak Maria terakhir berdiri. Suara semprotan yang nyaring terdengar sampai ke dalam kamar Maria. Srooot..srooot..srooot….

Maria bau. Begitulah kira-kira adegan itu ingin menyampaikan sesuatu secara vulgar. Tingkah laku yang frontal tersebut tentunya tak mengenakan perasaan Maria. Karena itu Maria membeli segala macam pewangi badan dan ruangan, pengusir kecoa, juga body lotion agar dirinya tak bau saat diendus si tetangga.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ya, tetangganya sering mengendus, memastikan bau Maria tidak ada di segala sudut rumah itu: tetangganya seperti anjing—atau memang anjing? Sedang benda-benda yang mengeluarkan bau wangi itu terkumpul lebih banyak di meja belajar Maria daripada buku bacaan. Maria memiliki ketakutan tersendiri sebagai minoritas.

Bahkan, walaupun Maria sudah memakainya berulang kali itu parfum, sepertinya stereotip buruk terhadap “ras” kepada orang timur, lebih menyengat daripada bau yang menguar dari kulit Maria yang alamiah. Dari sanalah wacana rasisme itu dapat dilihat dari film Maria Ado’e yang disutradarai oleh Gleinda Stefany tahun 2020.

Setidaknya, pesan yang saya tangkap dari film tersebut—hendak menyampaikan pesan “genting”—bahwa fenomena rasisme masih belum selesai di tubuh bangsa ini, terutama rasisme terhadap masyarakat Indonesia bagian Timur, dalam hal ini NTT—yang kerap menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa dirinya superior, merasa diri lebih modern hanya karena toiletnya duduk.

Film Maria Ado’e diputar bersama empat film pendek lainnya—“Mana Handphoneku”, “Tergila-gila”, “Coblosan”, dan “Pengen Hape”—oleh Komunitas Singaraja Menonton di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam rangka Minikino Monthly Screening & Discussion Jully, Sabtu (26/6/2024) lalu. Film tersebut membuka diskusi terkait bagaimana isu rasisme yang sampai hari ini belum juga selesai.

Setahun sebelum film itu digarap, tepatnya di tahun 2019, fenomena rasisme telah terjadi di Surabaya, menimpa anak Papua, dan itu cukup membuat geger satu negara, terutama di daerah Papua sendiri kasus tersebut sangat menyala.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Film yang digarap oleh Gleida masih ada menariknya walaupun isu rasisme masih terkesan klise sebenarnya, tapi apa boleh buat, selagi rasisme ada di dunia ini, khusunya Indonesia Raya ini, film seperti Maria Ado’e harus tetap dibuat, diputar—dan disebar luaskan ke anak cucu.

Di samping isu rasial yang diwacanakan oleh Gleida melalui filmnya, ada sisi lain yang terangkat, yaitu perjuangan dan pemberontakan bagaimana Maria—sebagai seorang anak NTT— yang melancong ke Jawa untuk merubah nasib melalui pendidikan, berusaha keras untuk dirinya bisa diterima dilingkungan tempatnya tinggal.

Perjuangan itu termanifestasikan ketika adegan Maria menggosok tangannya dengan beklin—pemutih untuk pakaian—di sela-sela mencuci bajunya kemudian mengguyur badannya dengan air beklin bekas cuciannya itu agar kulit hitamnya menjadi putih. Agar tetangga kamarnya tidak mengatai dia si hitam lagi.

Adegan yang lebih ironis, Maria selalu berjuang untuk tidak meninggalkan jejak (sampah), bahkan bau dirinya sekalipun yang selalu diendus tetangga kamarnya itu di segala sudut. Ia semprotkan juga alat-alat pewangi ruangan, salah satunya di dapur bekasnya masak. Maria, menjadi sesosok yang sangat sial di republik ini barangkali, terutama hidup di Pulau Jawa?

Namun yang disayangkan, sekadar mengutip pendapat Made Adnyana Ole saat sesi diskusi, secara teknis jalan cerita film tersebut terdapat adegan tidak selaras dengan wacana rasisme yang sedang dimainkan atau masih bocor secara pengemasannya.

Suasana diskusi setelah menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ialah adegan di akhir cerita, ketika Maria memasak babi yang ia ambil dari kulkas bersama ketika kontrakan sedang sepi—adegan atau simbolik itu justru lebih tendesi pada ranah atau isu agama (mayoritas) di sana.

Sehingga adegan itu tidak ngena secara wacana, yang ingin menyenggol isu warna kulit atau bentuk tubuh yang berbeda. Ketika Maria ditanya “Bau apa di kulkas situ?” oleh tetangga kamarnya berkulitnya putih—khas perawatan—dia menjawab, “Babi!”

“Hal demikian masih terasa rancu—walaupun secara teknis pengambilan gambar nyaris sempurna,” kata Ole, panggilan akrab sastrawan dan wartawan senior itu. “Untuk film dengan muatan rasisme terkait warna kulit, tapi ditutup dengan adegan yang lebih mengarah isu agama seperti “babi” tadi, sepertinya kurang masuk atau masih cacat secara logika,” sambungnya.

Namun, walaupun begitu, adegan tersebut, menurut hemat saya, masih sangat mengejutkan penonton, walaupun endingnya memang kurang masuk akal. Dan, secara tontonan, film ini asyik untuk dinikmati, dipandang sebagai pemberontakan sederhana sosok Maria setelah tak dihargai setiap usahanya untuk menjadi wangi dan memutihkan warna kulitnya.

Menjelang akhir cerita, sekali lagi, dan ini adegan yang paling saya suka, Maria menyebut tetangganya yang intoleran tersebut dengan sebuatan “BABI”—sambil angkat jari tengah, fuck you! Bagi saya, ini sebuah pemberontakan.[T]

Percayalah, Semua Doa Itu Baik: Catatan Kecil Film “Berdoa, Mulai”
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
Tags: Film Maria Ado'efilm pendekKomunitas MahimaSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Next Post

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co