24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Son Lomri by Son Lomri
July 29, 2024
in Ulas Film
Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

TOKOH utama film Maria Ado’e (2020), Maria, membuka cerita dengan wajah letih sepulang dari sekolah. Sementara seorang perempuan, tetangga kamar Maria, baru saja keluar dari kamar mandi yang bersebalahan dengan kamar tidur Maria itu, menatapnya sangat sinis sambil berjalan pergi dengan menutup hidungnya.

Maria berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sedangkan tetangga kamarnya dari daerah lain. Tetapi mereka tinggal satu kontrakkan, dan kamarnya saling berhadapan, pula sangat dekat. Tatapan dan wajah sinis tak berhenti saat mereka berpapasan di depan pintu tadi.

Tetangga kamar Maria menyemprotkan pewangi ruangan ke jejak Maria terakhir berdiri. Suara semprotan yang nyaring terdengar sampai ke dalam kamar Maria. Srooot..srooot..srooot….

Maria bau. Begitulah kira-kira adegan itu ingin menyampaikan sesuatu secara vulgar. Tingkah laku yang frontal tersebut tentunya tak mengenakan perasaan Maria. Karena itu Maria membeli segala macam pewangi badan dan ruangan, pengusir kecoa, juga body lotion agar dirinya tak bau saat diendus si tetangga.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ya, tetangganya sering mengendus, memastikan bau Maria tidak ada di segala sudut rumah itu: tetangganya seperti anjing—atau memang anjing? Sedang benda-benda yang mengeluarkan bau wangi itu terkumpul lebih banyak di meja belajar Maria daripada buku bacaan. Maria memiliki ketakutan tersendiri sebagai minoritas.

Bahkan, walaupun Maria sudah memakainya berulang kali itu parfum, sepertinya stereotip buruk terhadap “ras” kepada orang timur, lebih menyengat daripada bau yang menguar dari kulit Maria yang alamiah. Dari sanalah wacana rasisme itu dapat dilihat dari film Maria Ado’e yang disutradarai oleh Gleinda Stefany tahun 2020.

Setidaknya, pesan yang saya tangkap dari film tersebut—hendak menyampaikan pesan “genting”—bahwa fenomena rasisme masih belum selesai di tubuh bangsa ini, terutama rasisme terhadap masyarakat Indonesia bagian Timur, dalam hal ini NTT—yang kerap menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa dirinya superior, merasa diri lebih modern hanya karena toiletnya duduk.

Film Maria Ado’e diputar bersama empat film pendek lainnya—“Mana Handphoneku”, “Tergila-gila”, “Coblosan”, dan “Pengen Hape”—oleh Komunitas Singaraja Menonton di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam rangka Minikino Monthly Screening & Discussion Jully, Sabtu (26/6/2024) lalu. Film tersebut membuka diskusi terkait bagaimana isu rasisme yang sampai hari ini belum juga selesai.

Setahun sebelum film itu digarap, tepatnya di tahun 2019, fenomena rasisme telah terjadi di Surabaya, menimpa anak Papua, dan itu cukup membuat geger satu negara, terutama di daerah Papua sendiri kasus tersebut sangat menyala.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Film yang digarap oleh Gleida masih ada menariknya walaupun isu rasisme masih terkesan klise sebenarnya, tapi apa boleh buat, selagi rasisme ada di dunia ini, khusunya Indonesia Raya ini, film seperti Maria Ado’e harus tetap dibuat, diputar—dan disebar luaskan ke anak cucu.

Di samping isu rasial yang diwacanakan oleh Gleida melalui filmnya, ada sisi lain yang terangkat, yaitu perjuangan dan pemberontakan bagaimana Maria—sebagai seorang anak NTT— yang melancong ke Jawa untuk merubah nasib melalui pendidikan, berusaha keras untuk dirinya bisa diterima dilingkungan tempatnya tinggal.

Perjuangan itu termanifestasikan ketika adegan Maria menggosok tangannya dengan beklin—pemutih untuk pakaian—di sela-sela mencuci bajunya kemudian mengguyur badannya dengan air beklin bekas cuciannya itu agar kulit hitamnya menjadi putih. Agar tetangga kamarnya tidak mengatai dia si hitam lagi.

Adegan yang lebih ironis, Maria selalu berjuang untuk tidak meninggalkan jejak (sampah), bahkan bau dirinya sekalipun yang selalu diendus tetangga kamarnya itu di segala sudut. Ia semprotkan juga alat-alat pewangi ruangan, salah satunya di dapur bekasnya masak. Maria, menjadi sesosok yang sangat sial di republik ini barangkali, terutama hidup di Pulau Jawa?

Namun yang disayangkan, sekadar mengutip pendapat Made Adnyana Ole saat sesi diskusi, secara teknis jalan cerita film tersebut terdapat adegan tidak selaras dengan wacana rasisme yang sedang dimainkan atau masih bocor secara pengemasannya.

Suasana diskusi setelah menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ialah adegan di akhir cerita, ketika Maria memasak babi yang ia ambil dari kulkas bersama ketika kontrakan sedang sepi—adegan atau simbolik itu justru lebih tendesi pada ranah atau isu agama (mayoritas) di sana.

Sehingga adegan itu tidak ngena secara wacana, yang ingin menyenggol isu warna kulit atau bentuk tubuh yang berbeda. Ketika Maria ditanya “Bau apa di kulkas situ?” oleh tetangga kamarnya berkulitnya putih—khas perawatan—dia menjawab, “Babi!”

“Hal demikian masih terasa rancu—walaupun secara teknis pengambilan gambar nyaris sempurna,” kata Ole, panggilan akrab sastrawan dan wartawan senior itu. “Untuk film dengan muatan rasisme terkait warna kulit, tapi ditutup dengan adegan yang lebih mengarah isu agama seperti “babi” tadi, sepertinya kurang masuk atau masih cacat secara logika,” sambungnya.

Namun, walaupun begitu, adegan tersebut, menurut hemat saya, masih sangat mengejutkan penonton, walaupun endingnya memang kurang masuk akal. Dan, secara tontonan, film ini asyik untuk dinikmati, dipandang sebagai pemberontakan sederhana sosok Maria setelah tak dihargai setiap usahanya untuk menjadi wangi dan memutihkan warna kulitnya.

Menjelang akhir cerita, sekali lagi, dan ini adegan yang paling saya suka, Maria menyebut tetangganya yang intoleran tersebut dengan sebuatan “BABI”—sambil angkat jari tengah, fuck you! Bagi saya, ini sebuah pemberontakan.[T]

Percayalah, Semua Doa Itu Baik: Catatan Kecil Film “Berdoa, Mulai”
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
Tags: Film Maria Ado'efilm pendekKomunitas MahimaSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Next Post

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co