23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Countertransference” dan Kelemahan Dokter dalam Komunikasi Profesional

Krisna Aji by Krisna Aji
March 27, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

SEBAGAI dosen pendidik klinis, terdapat banyak hal menarik yang saya temui saat mendampingi residen psikiatri–dokter umum yang sedang menempuh pendidikan untuk menjadi psikiater–yang melakukan konsultasi dan psikoterapi pada pasien.  Residen seringkali mengalami masalah dalam menjalin komunikasi profesional–yang tidak disadari–dengan pasien yang memiliki ciri khas tertentu. Saya pun, sampai saat ini masih mengalaminya dan pernah lebih parah saat masih menjadi dokter umum dan residen. Jika diamati dengan seksama, kondisi ini tidak terbatas pada ranah psikiatri saja tetapi juga dialami oleh dokter di luar psikiatri. Semua dokter mengalaminya.

Misalkan saja–dari gestur yang ditampilkan–dokter yang sebenarnya sangat cerdas tiba-tiba merasa rendah diri saat menghadapi pasien lansia yang memiliki riwayat pendidikan atau jabatan yang tinggi; dokter yang biasanya tenang dan profesional tiba-tiba ikut merasa sedih berlebihan–simpati, dalam hal ini tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan bias saat proses terapi–yang mengganggu proses terapi saat bertemu dengan pasien laki-laki dewasa yang sedang berjuang keras untuk perekonomian keluarganya; atau dokter yang biasanya sabar menjadi marah dan berontak seperti anak kecil saat bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukkan gestur otoriter dan kaku.

Walaupun pertemuan antara dokter dan pasien berada dalam ranah profesional yang–sewajarnya–objektif, sisi subjektif dari pertemuan tersebut kadang tidak dapat dielakkan. Sisi subjektif ini melibatkan masa lalu yang membentuk keutuhan diri manusia dari masing-masing pihak.

Jika menjabarkan contoh kasus di atas, gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter yang sedang berhadapan dengan pasien lansia yang memiliki pendidikan dan jabatan tinggi disebabkan oleh masa lalu dokter yang selalu dituntut untuk berprestasi sejak kecil oleh orang tua yang juga memiliki pendidikan dan jabatan tinggi. Tetapi, alih-alih membanggakan, dokter tersebut selalu merasa tidak mampu untuk memenuhi ekspektasi orang tua. Dari sini, kebiasaan merasa rendah diri mulai terjadi dan muncul kembali setiap kali bertemu dengan seseorang dan situasi yang merepresentasikan masa lalu tersebut.

Hal yang serupa juga terjadi pada dua kasus berikutnya. Pada kasus dokter yang terlalu hanyut akibat mendengar cerita pasien laki-laki dewasa yang menopang perekonomian keluarga, ternyata saat kecil dokter tersebut memiliki ayah yang berperan tunggal dalam menopang kehidupan keluarga yang sangat berat. Terlebih lagi, perekonomian yang dialami dokter saat kecil tersebut benar-benar menimbulkan kesedihan yang teramat dalam.

Pada kasus dokter yang cepat merasa marah dan berontak setiap kali bertemu dengan pasien perempuan lansia yang menunjukan gestur kaku dan otoriter, saat kecil dokter tersebut mengalami hal yang sama: selalu mencoba untuk berontak dengan cara marah-marah akibat didikte oleh ibunya yang sangat otoriter.

Dari beberapa contoh di atas, countertransference tampak sebagai hal negatif yang dapat mengganggu proses terapi. Oleh karena itu, serta-merta kita dapat setuju bahwa countertransference perlu dihindari. Tetapi, apakah demikian?

Kembali kepada konsep bahwa segala sesuatu memiliki sifat saat seseorang menyikapinya, begitu juga dengan countertransference. Countertransference sejatinya juga memiliki sifat positif dalam proses terapi. Countertransference dapat membuat dokter yang menangani pasien lebih mengerti dirinya sendiri dan akhirnya juga dapat sedikit “meraba”–sebatas empati–apa yang terjadi pada alam bawah sadar pasien.

Pada kasus rendah diri yang muncul saat bertemu dengan pasien lansia, dokter yang terbiasa menganalisis countertransference akan dapat merasakan bahwa pasien yang dihadapi adalah orang yang cerdas dan menuntut penjelasan detail yang logis mengenai penyakitnya. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dokter untuk lebih bebas menggunakan bahasa kedokteran dalam menjelaskan alur penyakit dengan detail dan berbagai kemungkinan diagnosis serta terapi.  Ini merupakan kelebihan yang dapat dimanfaatkan, mengingat dokter sering terhalang dalam menerjemahkan hal-hal rumit dalam dunia kedokteran ke dalam bahasa sehari-hari.

Saat countertransference disadari, maka pemahaman terhadap latar belakang pasien yang tersirat juga dapat muncul dan hal tersebut dapat menjadi gerbang informasi mengenai cara berdiplomasi dengan pasien. Lebih jauh lagi, kebijaksanaan akan respons dokter terhadap pasien dapat muncul agar hubungan terapi yang lebih baik dapat terjadi.

Apa lagi, countertransference bukanlah respons searah. Respons ini sejatinya adalah timbal balik antara pasien dan dokter. Dengan kata lain, pasien pun mengeluarkan respons serupa yang disebut dengan transference. Respons timbal balik ini sudah berpotensi sejak awal dan akan menguat seiring dengan respons dari masing-masing pihak. Penguatan tersebut dapat mengarah ke negatif atau positif.

Misalkan saja, pada kasus pertama, secara kebetulan pasien lansia yang memiliki riwayat jabatan dan pendidikan tinggi memang sudah memiliki potensi untuk tidak mudah percaya terhadap kemampuan orang lain. Seperti kepada orang lain, pasien tersebut juga menguji kemampuan dokter di depannya dengan objektif. Ketidakpercayaan pasien yang awalnya hanya akan disebabkan murni dari kompetensi dokter, menjadi bergeser dan tetap muncul akibat gestur rendah diri yang ditampilkan oleh dokter di depannya.

Cerita ini akan menjadi lebih menarik jika kita melanjutkan skenario dari alasan pasien lansia mencari dokter untuk mendapat pandangan profesional mengenai penyakitnya.

Ternyata, pasien lansia tersebut memiliki dua orang anak yang juga menjadi dokter. Saat mengeluhkan tentang penyakitnya di rumah, kedua anak pasien sudah menganalisis keluhan, membuat skema diagnosis, dan rencana terapi. Walaupun kompetensi sebagai dokter dari kedua anak pasien lansia tidak dapat diragukan lagi, pasien tersebut tetap tidak mempercayainya. Hal tersebut disebabkan pasien yang tetap memandang anaknya sebagai anak kecil yang selalu dapat diragukan kemampuannya.

Akibat keraguannya, pasien lansia bergegas ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang bahkan lebih muda dari kedua anaknya. Tetapi, karena ia berada di rumah sakit dan berhadapan dengan dokter yang tidak dikenal secara personal, pasien tersebut lebih memercayai apapun perkataan dari dokter di hadapannya dari pada anaknya sendiri. Kepercayaan tersebut ternyata ditunjukan dari berbagai pertanyaan logis yang dikemukakan. Hal yang tidak dilakukan saat di rumah di mana pasien selalu menolak diagnosa dari kedua anaknya tanpa membuka ruang diskusi yang terbuka.

Kepercayaan yang terjadi di awal pertemuan pasien lansia dengan dokter di rumah sakit itu bukan tanpa alasan. Kondisi itu–transference–terjadi karena sejak kecil pasien lansia tersebut dididik oleh norma sosial yang menempatkan dokter pada posisi yang disegani. Dengan tidak disadari, didikan norma sosial ini masih berlangsung hingga saat ini. Contohnya, kata-kata dari orang tua kepada anaknya yang nakal dengan: ”Jangan nakal, nanti disuntik Pak Dokter!” Atau, sebutan “dokter” yang tetap disematkan saat seorang dokter sedang berada di pasar, di lingkungan rumah, atau di tempat-tempat lain yang sudah bukan lagi area profesionalnya.

Kepercayaan pasien lansia diperkuat dengan keberadaannya di rumah sakit. Ia seperti berada pada sebuah tempat asing yang ada di bawah kendali dokter di depannya. Pada titik ini, sebenarnya dokter semakin dapat meningkatkan kepercayaan diri dan komunikasi yang lebih baik terhadap pasien lansia. Langkah awal yang perlu dilakukan dokter adalah memahami countertransference yang terjadi kemudian memanfaatkan aspek psikologis dari pasien di depannya dengan meraba transference yang muncul dari sisi pasien. Tetapi, hal ini sering kali tidak dilakukan karena dokter tidak paham dari mana harus memulai sehingga berakhir dengan komunikasi terapetik yang buruk. [T]

  • BACA ESAI-ESAI KRISNA AJI
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Id, Superego, dan Ego: Semua Orang Memainkan Peran
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Keberadaan Diri dalam Psikoanalisa dan Mindfulness
Tags: dokterkesehatankomunikasikomunikasi formal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Next Post

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Suka-Duka-Lara-Pati, Mengenal 4 Serangkai Bekal Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co