22 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 6, 2024
in Opini
Hindu Diserbu Hari Suci, Beban atau Keistimewaan?

Gambar Kalender Bali Bulan Februari dan Maret 2024

“Ratu Bhatara, sing suud-suud teka rahinane…”

Seperti itulah cuitan yang saya dengarkan beberapa hari lalu. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti cuitan berbahasa Bali tersebut adalah: “Ya Tuhan, tidak selesai-selesai datang Hari Sucinya.”

Tidak mau menyebutkan siapa dan bagaimana ciri-ciri orangnya, untaian kalimat itu cukup membuat saya terhenyak. Dalam pikiran saya yang lulusan berbau sedikit agama: “Bukannya memang lumrah ya, kita di Hindu memiliki banyak hari suci?” Bahkan jika menelisik kembali buku karya Gde Aryantha Soethama yang berjudul “Bali is Bali.” Pulau Bali oleh orang luar bahkan diakronimkan dengan nama alias Bali = ‘Banyak Libur’.

Jika meneropong ke belakang, kedatangan hari suci yang berjejer dimulai dari datangnya Tumpek Wariga di tanggal 3 Februari 2024 lalu. Sebagai awalan dari rangkaian hari suci Galungan, Tumpek Wariga tentu dimaknai sebagai hari suci memuliakan tumbuh-tumbuhan yang dirayakan secara khidmat oleh umat Hindu. Diharapkan dengan merayakan hari suci Tumpek Wariga, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan dapat tumbuh subur untuk dapat digunakan sebagai sarana Upakara dalam melaksanakan Yadnya.

Dapat istirahat sejenak, 3 minggu setelahnya umat Hindu menyambung merayakan hari suci penyucian Alam Semesta (Bhuana Agung) yang dikenal dengan istilah Sugihan Jawa, beserta penyucian manusia sebagai isinya (Bhuana Alit) yang dikenal dengan istilah Sugihan Bali. Hari suci ini secara berturut-turut tiba di hari Kamis dan Jumat, tanggal 22 dan 23 Februari 2024. Begitu istimewanya, karena keesokan harinya di Hari Sabtu, 24 Februari 2024, Purnama Sasih Kesanga juga turut nyempil di tengah persiapan Hari Suci Galungan.

Tibalah umat Hindu di Minggu Wuku Dungulan, dimana rangkaian agung hari suci Galungan dimulai dengan hadirnya hari suci Penyekeban dan Penyajaan di tanggal 25 dan 26 Februari 2024. Disambung kemudian datanglah hari suci Penampahan, hari suci Galungan, dan hari suci Umanis Galungan yang berturut-turut terlaksana dari hari Selasa sampai Kamis, 27 sampai 29 Februari 2024. Hal ini menandai sebagai puncaknya peringatan hari kemenangan Dharma melawan Adharma.

Lebih lanjut, umat Hindu bersiap-siap merayakan hari suci Pemaridan Guru, Ulihan, dan Pemacekan Agung yang hadir secara berturut-turut dari tanggal 2 sampai 4 Maret 2024. Disambung beberapa hari kemudian, beberapa umat Hindu juga perlu menyiapkan dan melaksanakan rangkaian hari suci Nyepi yaitu Melasti dengan pergi ke laut guna mengambil Tirta Amertha untuk menyucikan segala kotoran atau mala di dunia. Hari Jumat per tanggal 8 Maret 2024, umat Hindu melaksanakan hari suci Penampahan Kuningan. Tibalah puncak hari suci Kuningan yang terlaksana di keesokan harinya pada hari Sabtu, 9 Maret 2024.

Tidak berhenti sampai disana, umat Hindu juga perlu merayakan rangkaian hari suci Nyepi, tahun Baru Caka 1946 di minggu kedua bulan Maret. Hal ini diawali dengan adanya Tawur Agung Kesanga yang terlaksana tepat pada hari suci Tilem Sasih Kesanga, 10 Maret 2024. Pada hari tersebut, umat Hindu Nyomya atau mengarahkan energi Bhuta Kala agar mengisi tempat yang semestinya guna tidak mengganggu hidup manusia. Keesokan harinya, umat Hindu melaksanakan hening dan introspeksi diri dengan Catur Bratha Penyepian di Hari Suci Nyepi, tanggal 11 Maret 2024.

Pada akhirnya, rangkaian hari suci yang berjejer di bulan Maret ditutup dengan terlaksananya Ngembak Gni di hari Selasa, 12 Maret 2024. Eitssss, ternyata belum benar-benar selesai. Menyempil di satu minggu kemudian tepatnya hari Selasa, 19 Maret 2024, datang pula hari suci Anggara Kasih Medangsia yang oleh beberapa desa adat, diperingati sebagai Piodalan di salah satu Pura Kahyangan Tiga Desa.

“Bukan maennnn, akhirnya paham mengapa orang tadi berkata demikian.” ujar Sang Citta sambil melihat Kalender Bali dan mengangguk.

Pada bulan Februari sampai pertengahan bulan Maret 2024, ternyata umat Hindu memang menyongsong banyak hari suci secara berjejer dan berturut-turut. Tidak bisa dipungkiri juga, menimbang hari suci memang akan selalu hadir secara terstruktur, sistematis, dan masif selaras dengan perhitungan waktu, yaitu Wariga.

Dalam ajaran agama Hindu, hari suci merupakan bagian yang lekat dengan salah satu kerangka dasar agama Hindu, yaitu Upacara dan ajaran luhur, yaitu Yadnya. Sehingga apabila ditelaah secara esensial, persiapan dan pelaksanaan Yadnya pada hari suci seyogyanya selalu diimbangi dengan adanya unsur mutlak, yaitu Karya (Perbuatan), Sreya (Ketulusan), Budhi (Kesadaran), dan Bhakti (Persembahan).

Kemudian dari sisi kuantitas, persembahan Yadnya dalam pelaksanaan hari suci juga bisa dihaturkan sesuai kemampuan. Dimana Yadnya berdasarkan kuantitasnya, bisa dibuat dan dihaturkan dari yang terkecil hingga terkecil (Nistaning Nista), sampai yang terbesar hingga terbesar (Utamaning Utama). Jelas sudah, bahwa agama Hindu tidak bersifat memaksa dan tidak memberatkan umatnya dari sisi finansial.

Lebih lanjut dari sisi keutamaan, pelaksanaan hari suci pada hakikatnya menjadi sebuah keistimewaan bagi yang merayakannya dengan penuh ketulusan dan kebahagiaan. Rangkaian hari suci yang berjejer, semakin membuat umat Hindu dapat mengingat Yang Maha Kuasa secara intens, serta bersyukur atas nikmat yang telah diberikan. Hal ini selaras dengan tujuan pelaksanaan hari suci dan Yadnya itu sendiri, yakni sebagai cetusan rasa terimakasih, meningkatkan kualitas diri, sebagai sarana penyucian, dan yang paling utama sebagai sarana berhubungan dengan Tuhan melalui cara kesejukan. 

Jadi, apakah berjejernya hari suci tersebut masih bisa disebut sebagai sebuah beban? Atau malah cuitan orang di awal merupakan refleksi dari sebuah keistimewaan? Jawabannya kembali lagi pada diri kawan-kawan umat sedharma yang merayakan. [T]

Sumber Referensi:

Sudarsana, I. B. Putu. 2003. Ajaran Agama Hindu Acara Agama (Edisi II). Denpasar: Yayasan Dharma Acarya.

Suratmini, Ni Wayan. 2016. Buku Penunjang Materi Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk Siswa SMA/SMK Kelas X – Semester Ganjil. Denpasar: Tri Agung.

Memaknai Mesayut Tipat di Tilem Kawulu dari Sisi Penganekaragaman Pangan
Naga Basuki, Besakih, dan Perayaan Sugihan
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Tags: hari raya galunganHari Raya Nyepihari suciHari Suci HinduhinduHindu BaliKuningan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bleganjur Kuno, Kini dan Nanti

Next Post

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails
Next Post
MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

MAJALANGU : Jelajahi Ruang Indah yang Tak Terbatas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
Esai

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

by Made Chandra
June 21, 2026
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total
Panggung

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi
Ulas Musik

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   
Esai

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!
Khas

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital
Esai

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

by Angga Wijaya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co