23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepeda Motor, Kemacetan dan Polusi Udara

Satria Aditya by Satria Aditya
September 11, 2023
in Esai
Sepeda Motor, Kemacetan dan Polusi Udara

Ilustrasi tatkala.co

SEPEDA MOTOR adalah kendaraan umum yang sangat fleksibel, murah dan juga hemat biaya mulai dari service dan jenis BBM-nya. Maka dari itu, motor adalah pilihan alternatif berkendara jarak jauh dan dekat di beberapa negara.

Banyak orang menggunakan motor, bahkan negara yang paling banyak menggunakan motor bukanlah India atau Indonesia yang kita tahu sangat banyak bunyi-bunyian klakson seperti yang ada di media sosial.

Negara yang pling banyak menggunakan sepeda motor itu adalah Thailand dengan presentase 87%, disusul Vietnam dengan presentase 86% dan Indonesia selilih 1% dengan Vietnam yaitu 85%.

Bahkan, India berada pada peringkat 6 dengan presentase 47% penduduk menggunakan sepeda motor.

Sepeda motor dapat dibeli kapan saja dan dimana saja. Di dealer resmi, di showroom atau di makelar-makelar yang sering berjualan motor bekas di marketplace Facebook.

“Dijuwal vario 110cc minus STNK dan BPKB”. Begitu sering tertera di deskripsi penjualan.

Bapak-bapak, Ibu-ibu bahkan sampai anak-anak sekarang semua memakai sepeda motor. Bahkan saya sering melihat dalam 1 keluarga, bapak, ibu, kakek, nenek sampai 3 anaknya memakai sepeda motor.

Ini mungkin yang menyebabkan presentase sepeda motor di Indonesia mencapai 80% lebih.

Belum lagi, jika keluar untuk bekerja kita sering dihadapi dengan kemacetan di jalanan, entah itu pagi hari, siang hari, sore hari atau malam hari. Kita selalu dihadapi dengan kemacetan. Terlebih lagi di kota-kota besar seperti Jakarta dan tempat saya tinggal sekarang, Denpasar.

Beberapa waktu lalu, saya sempat ngobrol dengan salah satu kawan di Jembrana. Hari itu, tepat saya pulang kampung dan menyinggahi kakak Emboeng lalu mencicipi kopi yang sangat enak di rumahnya.

Kami ngobrol panjang lebar, tentang menjadi guru, teater sampai pada akhirnya sampai di obrolan bahwa pemotorlah yang membuat kemacetan di jalan.

Saya sempat bingung, kenapa pemotor? Padahal, menurut saya, yang membawa mobillah yang sering membuat kemacetan di jalan. Karena bentuk-bentuk mereka yang besar dan tidak bisa menyalip lincah seperti para pemotor lain. Padahal kami juga lebih sering berpergian menggunakan sepeda motor.

“Pemotor itu yang membuat kemacetan, De. Karena kenapa, pemotor itu jika sudah menyalip dan berhenti karena macet, mereka diamnya tak beraturan. Itu sebenarnya yang menyebabkan macet,” kata Kak Emboeng.

“Padahal kitab bisa nyalip di segala arah, Kak?” tanya saya.

“Coba lihat yang bawa mobil, mereka jalannya terarah. Jarang terlihat pengendara mobil yang berhenti sembarangan di jalanan yang macet,” sambungnya.

Setelah itu baru saya berpikir, memang benar. Kitalah sebenarnya yang paling menyebalkan di jalan. Belum lagi, ibu-ibu yang kadang ragu, entah menyalip atau tidak, entah ngebut atau tidak. Begitu pula bapak-bapak yang sudah tidak sepantasnya lagi membawa motor.

Kualitas Udara yang Semakin Buruk

Di Indonesia, kualitas udara semakin buruk. Langit-langit gelap bukan karena mendung sekarang, tetapi karena polusi udara dari kendaraan bermotor. Saking banyaknya pengendara motor yang ada di Indonesia membuat emisi karbon semakin meningkat pesat dari 2021 sampai hari ini.

Sangat bisa dibedakan kualitas udara saat pandemic dulu. Langit cerah, kebisingan hampir tak terdengar dan orang-orang yang sadar akan kesehatannya. 2021, semua itu semakin tak terurus. Polusi kian merebak, jalanan kian ramai dan macet.

Apakah itu musibah? Mungkin menurut saya tidak. Karena berdiam diri pula tak terlalu menguntungkan bagi kita. Namun, yang saya sayangkan saja, orang-orang yang dulunya ikut menanam, berbagi dan menyadarkan diri mereka seperti sudah melupakan itu semua.

Dari data IQAir kualitas udara di Indonesia sudah mencapai 138 AQI US. Dari data itu, pengukuran dibedakan menjadi beberapa jenis warna. Warna-warna tersebut juga sebagai pembeda bagi kualitas udara yang ada di beberapa negara yang memang polusi udaranya sudah sangat parah. Berikut adalah pembagian warna dan nominal AQI untuk kualitas udara dari baik hingga berbahaya;

Sekarang, Indonesia sedang ada dalam status tidak sehat bagi kelompok sensitif

Lalu, bagaimana dengan kualitas udara yang ada di berbagai provinsi yang ada di Indonesia? Saya mengira Jakarta adalah yang paling parah, ternyata Sampit, Kalimantan Tengah menjadi kota paling berpolusi di Indonesia. Kualitas udara di sana sudah mencapai 186 AQI US, pada legenda AQI di atas sudah mencapai taraf tidak sehat. Disusul kota Depok, Cileungsir, Jakarta dan Tanggerang Selatan.

Solusi untuk Masyarakat

Mungkin ada beberapa solusi yang paling tepat untuk mengurangi dampak polusi udara, karena jika berharap dari pemerintah saja, hal-hal ngawur dan tidak masuk akal akan terjadi lagi. Seperti penyiraman jalan yang tak berguna apa-apa selain menghilangkan panas di jalanan dan membuat ban motor dan mobil cepat kempes.

Menambah transportasi publik adalah salah satu hal yang sering digaungkan beberapa komunitas dan orang-orang di sosial media. Mungkin ini masih awam bagi masyarakat kita, tapi transportasi publik seperti bus dan kereta mungkin dapat ditambah jalur pemberhentiannya dan juga armada-armadanya. Agar, masyarakat tak perlu sesak-sesak untuk menaiki bus kota yang kadang over capacity.

Lantas untuk mengurangi jumlah kematian karena kelebihan berat badan dan tubuh yang kurang fit di zaman sekarang, jalan kaki adalah solusi bagi orang-orang yang bekerja dengan duduk selama berjam-jam. Ini menjadi salah satu pencegah penyakit yang dapat kita lakukan dengan sangat simple.

Apalagi, jika berjalan pagi, kita mendapatkan sinar matahari yang cukup untuk memulai bekerja pada ruangan ber-AC selama berjam-jam itu.

Lantas, jika semua itu tak dapat dilakukan, maka solusi terpenting adalah selalu berpergian memakai masker kemanapun. Karena polusi udara di Indonesia dapat membuat kita cepat terserang penyakit pernafasan.

Bahkan dari data pada IQAIR 7 juta orang meninggal karena polusi udara yang kian buruk. Begitu pula setalah keluar rumah atau setelah bekerja, usahakan selalu mencuci badan atau hanya mencuci kaki dan tangan agar debu-debu dari luar tak juga menjadi penyakit di dalam rumah. [T]

Manusia, Predator Puncak yang (Mencoba) Bertahan Hidup
Air, Tirtha (Patirtan), Toya (Patoyan), & Beji dalam Tradisi Jawa Kuna
Jika Hendak Melihat Masa Lalu Kota Singaraja, Kayuhlah Sepeda, Pelan Saja…
Tags: polusisepeda motortransportasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etnopedagogi Langit: Melihat Arah Pendidikan Anak lewat Astrologi Jyotisa

Next Post

Pasar Bertingkat dan Perubahan Gaya Hidup Masyarakat

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pasar Bertingkat dan Perubahan Gaya Hidup Masyarakat

Pasar Bertingkat dan Perubahan Gaya Hidup Masyarakat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co