12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aksara Bali 350 Tahun Lampau & Koleksi Lontar Kuno Rsi Bhujangga

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 14, 2023
in Esai
Aksara Bali 350 Tahun Lampau & Koleksi Lontar Kuno Rsi Bhujangga

— Catatan Harian Sugi Lanus, 13 Agustus 2023

SEJARAH perkembangan bentuk aksara Bali — berdasarkan pengalaman saya semasa saya belajar secara formal di Jurusan Bahasa Bali, Universitas Udayana — hanya dijelaskan secara umum belaka.

Prof Semadi Astra adalah tokoh yang saya kagumi ketekunannya mengulik duduk perkara perkembangan aksara Bali yag dipakai dalam piagam raja-raja Bali kuno dari era tahun 1000an sampai tahun 1200san masehi atau abad 11 sampai abad 12. Namun setelah itu seakan terputus; bagaimana perkembangan aksara dari Bali kuno ke Bali setelah Majapahit menguasai Bali?

Muncul beberapa pertanyaan:

— Apa yang terjadi dengan perkembangan aksara setelah masuknya kekuasaan Majapahit? Bagaimana perkembangan atau perubahan rupa aksara Bali era itu?

— Apakah aksara Bali dalam piagam-piagam raja Bali kuno yang ditulis di atas lembar tembaga tetap dipakai di atas lontar era Majapahit? Ataukah aksara dan lontar-lontar Majapahit yang dipakai atau menjadi tren penulisan lontar selanjutnya?

— Apakah rupa aksara Bali kuno dalam prasasti sama dengan rupa aksara untuk penulisan lontar era itu? Apakah yang di piagam atau prasasti tegak lurus dan ketika itu lontar kursif atau bulat seperti lontar-lontar era Gelgel?

Karena pertanyaan ini mengemuka di dalam kepala saya, maka kemanapun saya diundang merawat atau memeriksa lontar-lontar selalu semangat dengan minat untuk melihat dan berjumpa dengan rupa aksara dalam lontar-lontar era kerajaan Gelgel — atau lontar-lontar dari abad 15 sampai abad 17.

.

.

Salah satu yang cukup menarik adalah lontar yang ditulis 315 tahun lalu ini. Jelas dituliskan dalam lontar ini bahwa lontar ditulis tahun Śaka 1630 atau 1708 Masehi. 

Lontar bertahun ini Śaka 1630 adalah lontar Ślokantara. Koleksi Griya Batan Cempaka, Liligundi, Buleleng, milik Ida Pedanda Gede Ngenjung yang berpulang tahun 1955, kini disimpan oleh pewarisnya. Ida Pedanda Gede Ngenjung tercatat juga lontar-lontarnya disimpan di Gedong Kirtya. Mungkin disumbangkan atau diibahkan.

Dari lontar ini saya bisa membayangkan rupa aksara Bali tiga setengah abad (350 tahun).

Sebelum 350 tahun lampau bagaimana rupa aksara?

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu saya harus terus rajin “membongkar-bongkar” koleksi tua di rumah-rumah penduduk di Bali.

Sebenarnya ada beberapa koleksi lain yang bertahun seputaran tahun lontar ini, seperti lontar-lontar Puja yang dikoleksi Rsi Bhujangga Pagan, Denpasar, yang kini dipegang oleh keluarga besar Guru Putu Suasta. Ada beberapa yang berusia 300 tahunan.

.

.

Koleksi keluarga lain adalah koleksi keluarga Rsi Bhujangga Banyuatis, Buleleng, yang konon leluhurnya bersama-sama dengan Mpu Wiraga Sandhi, putra dari Danghyang Nirartha, kesah/hijrah dari Gelgel.

Saya berhipotesis dari beberapa lontar di sana kemungkinan bisa menjadi contoh rupa aksara yang dipakai era akhir kerajaan Gelgel sebelum dipindahkan ke sekitar pusat kota Smarapura sekarang.

Koleksi lontar keluarga yang sangat luar biasa menarik adalah koleksi Rsi Bhujangga Banyuning (Bejuning), Buleleng, yang saya perkirakan sejaman dengan berdirinya kerajaan Buleleng, yaitu tahun 1660 Masehi. Koleksi keluarga Rsi Bhujangga Temukus, Buleleng, tidak kalah tuanya. Keluarga Rsi Bhujangga di Tabanan juga demikian.

Menjadi pertanyaan khusus: Ada apa dengan keluarga Rsi Bhujangga yang semuanya mengaku “kesah” (terpental secara politik dan hijrah) keluar dari pusat kerajaan Gelgel?

Ada informasi salah satu lontar menyebutkan bahwa keluarga Rsi Bhujangga terlibat dengan “pemberontakan” pada pusat kekuasaan. Selanjutnya mereka dieleminasi dari pusat kekuasaan dan dibuatkan “kisah penjatuhan” bahwa keluarga ini tidak lagi brahmana lingkar kerajaan (?).

Untuk pencarian bentuk asara era kerajaan Gelgel, informasi tentang keluarga Rsi Bhujangga terus saya telusuri karena semuanya memiliki sejarah lisan yang sama bahwa leluhur mereka dulunya berada di pusat pemerintahan dan disingkirkan.

.

.

Lontar-lontar tua sekitar era akhir Gelgel yang diwarisi keluarga ini mengkonfirmasi bahwa mereka memang dahulunya adalah para pandita di pusat kerajaan. Puja Bwat Sora dan Arga Patra, dan puja lainnya, yang dikoleksi keluarga Rsi Bhujangga ini tidak main-main, menunjukkan bahwa puja dan pengetahuannya adalah kelas purohita (pandita penasehat kerajaan).

Perjalanan saya menjawab dan membuat kronologi perkembangan aksara Bali belum selesai di sini. Sekalipun data lapangan dan foto-foto lontar-lontar tua yang saya miliki telah bisa dikatakan lebih dari mencukupi, catatan pendek ini bisa dikatakan hanyalah langkah permulaan, pemanasan belaka. [T]

  • BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya
Makian Tertinggi Bahasa Bali: Pirata Tendas Teli/Keleng
BERKABUNG DI BALI
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL
Tags: aksara baliHindu BaliRsi BujanggaSugi Lanus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Salam “MERDEKA”, Kita Memaknai Kemerdekaan

Next Post

Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali

Showcase: Ini Ujaran Musikal, Klimaks dari Kolaborasi Panjang Regenerasi Bernyali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co