24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memeriksa Kembali Geliat Kreatif Seniman Muda Bali Utara

I Ketut Pany Ryandhi by I Ketut Pany Ryandhi
July 9, 2023
in Kritik Seni
Memeriksa Kembali Geliat Kreatif Seniman Muda Bali Utara

Tari Trunaya | Ilutrsasi foto: Dok: Pany

DI KALANGAN musisi Bali, Buleleng memang terkenal akan musik kebyarnya atau lebih jamak disebut gong kebyar. Pendapat semacam ini tentu tidak semata-mata dikarenakan stigma Buleleng sebagai tempat kelahiran gamelan gong kebyar [?].[1] Tidak juga disebabkan karena Buleleng memiliki sosok seniman besar seperti Wayan Paraupan, atau lebih dikenal dengan sapaan Pan Wandres, Gde Manik dan Ketut Merdana,—dimana mereka, sosok seniman besar itu, tentu tidak secara kebetulan menekuni musik kebyar.

Apa yang menjadi lebih penting untuk dipikirkan adalah berapa banyak sumbangan ide kreatif yang telah “ditelurkan” dalam substansi kekaryaan oleh pendahulu kita di Buleleng?

Dalam hubungannya dengan proses kreativitas, gong kebyar di awal kelahirannya telah menyediakan ruang perseptual yang tak terbatas pada satu substansi tertentu, dan secara semantik terus menerus membuka teba-horizon yang multi-tafsir.

Lebih dari objek fisik, kebyar adalah fenomena bunyi yang kehadiraanya tidak saja menimbulkan efek sensibilitas terhadap indra pendengaran, misalnya berupa keterkejutan atas respons terhadap bunyi, tapi lebih dari itu, kebyar telah dan sedang membawa spirit baru terhadap perkembangan musik kita, khususnya di Bali. Saat itu dan seharusnya hingga di masa mendatang, kebyar sebagai konsep musikal adalah avant-gardism nya Bali.

Terdapat hal yang lebih mendesak untuk didiskusikan ketimbang menenggelamkan diri pada cerita dan prestasi masa lalu pendahulu kita. Bukanya menjadi tidak penting dan diabaikan begitu saja, masa lampau adalah bahan refleksi sekaligus dasar pijakan kita untuk menapak masa depan.

Menyelami masa lampau tidak akan memberitahu kita tentang apa yang harus dipilih, tetapi paling tidak ia memberikan opsi-opsi yang lebih banyak dan tidak menyibukkan kita dengan meramal masa depan. Apa yang dapat kita selami dari pendahulu kita justru untuk membebaskan kita darinya dan segera membayangkan cita-cita alternatif.

Peringatan satu abad gong kebyar pada tahun 2015 menandai bahwa secara aklamatif gong kebyarsudah hadir dalam kurun waktu 100 tahun dan  senantiasa menyertai pendengaran seniman kita. Dalam waktu yang tidak singkat itu, apa yang pendahulu kita telah wariskan kepada kita? Secara kongkrit mungkin karya-karya monumentalnya dapat kita dengarkan kenyataan bunyinya hingga saat ini, namun disadari atau tidak, ada yang terlepas dari pandangan kita. Selama ini kita hanya berhasrat pada pemenuhan terhadap hal-hal yang bersifat teknis sebagai puncak capaian, sehingga secara konseptual kita sesungguhnya telah kehilangan akses secara langsung untuk memperoleh informasi seputar proses kreatif penciptaannya.

Bagaimana dapat mengakses informasi seputar penciptaan musik untuk Tari Trunajaya misalnya? Tentu kita tidak harus bertemu dengan Gede Manik yang sudah berkalang tanah itu bukan?

Di Buleleng Tari Trunajaya seolah menjadi materi wajib dalam setiap even-even tertentu, semua teman-teman seniman begitu fasih memainkan secara praktikal, namun saya pastikan 100% gagap mengenalnya “lahir-batin”, karena enggan “bersetubuh” dengan konstruksi musikalnya.

Jadi, saya sesungguhnya ingin memberikan penekanan bahwa daya kreatif kita baru dapat diukur ketika abstraksi pikiran “dipertengkarkan”. Untuk mengetahui bagaimana geliat seniman muda di Buleleng saat ini, tolak ukurnya adalah sejauh mana kita mampu memahami dan lekas mengejawantahkan cara kerja pendahulu kita, tentunya dengan perspektif yang lebih segar dan kekinian.

Trunajaya Teralienasi di Rumahnya Sendiri

Ter-alienasi itu artinya tersingkir, terasingkan. Tentu pengertian itu terlalu diplomatis! Saya ingin mengatakan bahwa Trunajaya teralienasi (selanjutnya saya tulis tanpa italic) karena ia mulai kehilangan identitas di rumahnya sendiri; di Buleleng (mungkin juga di tempat lainnya). Sesuatu yang bisa diidentitaskan itu sudah paripurna, sudah bisa dikenali objeknya secara fisik. Musik memang “barang” abstrak, tetapi dengan kemampuan apresiatif yang kita miliki, kita selalu dapat mendengar[kan] kenyataan bunyinya.

Oleh sebab itu, musik sesungguhnya dapat diidentifikasi dengan mengurai unsur-unsur intra-musikalnya, karena itu kita hendak mencari identitasnya secara konstruksional. Tapi itu jarang dilakukan, kita tidak benar-benar mengenal musik yang menjadi tradisi kita. Tradisi kita dibuat seolah tidak mempunyai kemampuan memproteksi produk kebudayaannya sendiri. Kita semakin dibuat tersekat dengan budaya sendiri, begitu juga sebaliknya, kebudayaan semakin “teralienasi” dari kita.

Setiap musisi fasih memainkan musiknya, tapi tidak satupun dari mereka yang mampu mengenali bagaimana konstruksi musik Trunajaya terbangun. Trunajaya dibentuk oleh apa saja? Bagaimana setiap frase berhubungan secara sinkronik? Apa saja tekstur-tekstur yang membentuknya? Bagaimana setiap lapisan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya? Kita enggan untuk mau tahu, dan mungkin tidak ingin mengetahuinya, “musisi itu kan tugasnya pada ranah praktikal!”, pikir kita.

Trunajaya itu karya yang sangat terukur. Setiap segmennya dirancang secara organik, dan memiliki penekanan tonalitas yang konsisten. Kalau kita sadari dan mau sadar, Trunajaya itu dilahirkan dari satu gen tunggal pola melodi. Secara genetik, semua melodi yang terukur di dalam Trunajaya berasal dari melodi musik untuk bapang Goak Macok. Siapapun yang membuat Trunajaya, entah itu Wandres atau Manik, saya akui mereka betul-betul pandai “mencuri” budaya pendahulunya.

Sependek pengetahuan saya (tolong diluruskan jika keliru), bapang Goak Macok itu adalah produk musik gamelan Palegongan. Tetapi kreator musik Trunajaya membuat bapang itu tidak berbunyi musik palegongan lagi, ia dibuat terlepas dari budaya-nya. Pada Trunajaya itu banyak piranti garapnya, seperti; tonalitas, pola augmentasi, cross metter, transposisi, substitusi pola melodi, silent, dan sebagainya.

Apakah sang kreator menyadarinya? Saya yakinkan pasti sadar, mereka mengerjakan ini dengan cukup serius, semua serba terproyeksi dan terarah, hanya saja alat untuk membahasakan kerja mereka tidak secanggih dan serumit kita sekarang. Mereka pasti punya cara kerja, mereka mendeskripsikan musiknya dengan jujur dan apa adanya, tidak seperti kita saat ini yang mulai “menyeramkan” diri dengan istilah asing yang sayangnya tidak dipahami secara definitif, demi hanya mengejar legitimasi “akademis”.

Aspek tonalitas memperlihatkan nada-nada yang paling sering muncul dan terkompresi menempati ketukan yang paling kuat, not yang bernilai panjang, nada yang muncul pada akhir komposisi yang dianggap memberikan tekanan tonika pada sebuah nada.[2] Itu tadi pendekatan teknisnya. Trunajaya dibangun dengan sistem tonika yang konsisten, dimana nada dung (G#) dan ding (C#) selalu menempati tekanan berat dari seluruh konstruksi musik Trunajaya.[3]

Dalam tekstur kebyar murni, dimana tidak ada meter siklis dan tempo yang konstan, kemunculan nada-nada yang mendominir bisa ditangkap dari aktivitas ritmis nada yang secara simultan bersamaan dengan jatuhnya gong. Kebyar memang diawali oleh nada dang (A), tetapi nada dung (G#) yang secara simultan bersamaan dengan gong menghiasi hampir sebagaian besar aktivitas ritmis instrumen metalofoon sebelum kemudian kebyar berakhir pada nada dung (G#).

Pada bapang transisi, penyacah memainkan lapisan tercepat dengan not seperempat ketukan sebagaimana dilakukan oleh instrumen petuk. Nada pilihan pada melodi ini adalah ding (C#) dan dung (G#). Dung (G#) menempati posisi istimewa karena pada bagian ini jatuh berbarengan dengan gong pada hitungan ke-8, sedangkan ding (C#) sebagai aksis (poros tengah) terletak pada ketukan ke-4. Pada pengadeng longoran pertama, dung (G#) masih tetap bertahan di gong, sementara ding (C#) tetap bertahan pada posisi aksis. Ukuran melodi pada bagian ini adalah 16 ketukan not seperempat untuk satu siklus gongan.

Instrumen petuk memainkan pola ketukan not setengah dan terkadang meningkatkan densitasnya menjadi seperempat ketukan ketika mengalami akselerasi pada aksen ocak-ocakan. Pusat tonal dung (G#) dan ding (C#) sebagai aksis masih tetap dipertahankan hingga bagian bapang transisi, bapang ngocak, dan pengadeng lelongoran kedua.

Augmentasi dapat diamati pada pengadeng pertama, kedua dan ketiga. Pengadeng pertama masih mempertahankan identitas tonal secara utuh pada nada dung (G#) sebagaimana juga pengadeng kedua. Hubungan terbalik diawali pada segmen kebyar transisi setelah pengipuk pertama dengan mengembalikan pusat tonal pada nada ding (C#). Pengadeng ketiga berdurasi 32 ketukan dengan nada  dung (G#) menempati posisi aksis pada hitungan ke-16 dan ding (C#) sebagai akhir dari identitas komposisi ini.

Aspek-aspek lainnya, seperti transposisi sudah secara terintegrasi menjadi bagaian dalam komposisi ini, hal ini bisa diamati pada bapang malpal dalam komposisi ini. Selanjutnya silent adalah dihasilkan dari beberapa siklus bapang ngocak setelah akhirnya berakhir secara revolusioner satu ketukan sebelum gong (ketukan ke-7 di nada ding). Substitusi pola melodi bisa dilihat dari pemilihan nada-nada ostinato dan skema augmentasi nya pada bagian dengan durasi 16 atau 32 ketukan.

Paragrap di atas adalah uraian secara garis besar, tentu memerlukan ruang analisis yang lebih detail di tempat lain. Namun demikian, setidaknya kita mulai sadar bahwa konstruksi musik untuk Trunajaya  memiliki cara kerja, sistem kerja, yang seharusnya bisa dijadikan sebagai tolak ukur proses kreatif kita saat ini.  Kita lebih mementingkan kemasan daripada isi.

Saya meyakini pendahulu kita tidak benar-benar secara konseptual mengidentitaskan komposisi musiknya sebagaimana yang kita sekarang. Saya ingin memberikan batasan bahwa intepretasi intra dan ekstra musikal adalah dua hal yang berbeda. Deskripsi intra musikal yang menjadi “barang” langka saat ini membuat orang-orang lebih nyaman mendeskripsikan musik diluar konteksnya sebagai kompilasi bunyi, sebagaimana tari dengan substansi geraknya.

Bagian ekstra-musikal dalam konteks musik pada tradisi kita adalah bagian integral yang senyatanya tidak dapat dipisahkan dari budaya kolektif. Tapi untuk mengetahui proses kreatif, diskursus yang serius tentang objek materiil musik menjadi lebih penting untuk dilakukan. Musik adalah bunyi itu sendiri, bunyi abstrak karena tidak berwujud secara kasat mata, namun kehadirannya selalu dapat dirasakan.

Oleh karena itu untuk membuatnya menjadi kongkrit Ia harus diuraikan di atas kertas. Ketika ditranskripsi pada notasi, Ia menjadi nyata, diatasnya tergores geliat kreatif senimannya, itupun jika kita mampu mengitepretasinya secara lebih serius.

Apa Yang Hilang Dari Proses Kreatif Kita; Menapak Harapan Baru

Buleleng itu kaya akan karya seni musik kebyar nya, senimannya kritis-kritis, tapi sayang, mereka krisis berpikir (walaupun tidak semua demikian). Selama ini kita disibukan dengan urusan “cocokologi”, kalau dulu itu, Saya dengar cerita tetua, ketika Gde Manik mencipta Trunajaya, Ketut Merdana juga ikut mencipta Wiranjaya, di Barat mencipta Palawakya, di Timur juga membuat yang sama, begitu seterusnya.

Betapa kreatifnya pendahulu kita! Kita juga selalu bangga karena dikatakan Buleleng sebagai tempat kelahiran Gong Kebyar, Saya juga merasa seperti itu! Musik-musiknya “eksotik”, seperti lelongoran dan sekatian. Kita disediakan begitu banyak pilihan, tetapi kita mengesampingkan pilihan-pilihan itu, dan lebih bersemangat meributkan urusan sentimentil.

Apa ukuran kreativitas? Apakah produktivitas berkarya setiap bulan? Presentase aspek kekinian dalam karya seni? Atau yang lainnya? Kalau yang dijadikan tolak ukur adalah intensitas berkarya, maka teman-teman seniman Buleleng tidak jauh kalah produktif dalam berkarya dengan teman-teman seniman lainnya di daerah Bali. Kalau yang dijadikan indikator selanjutnya adalah intensitas aspek kekinian, parameternya apa?

Kreativitas hanya terlihat kongkrit jika Ia tidak berhenti pada tahap karya saja. Kreativitas bagi saya sulit untuk ditemukan paramaternya, Ia tidak akan bisa terumuskan sejauh tidak ada niat untuk membicarakannya dalam tahap diskursus. Ini yang hilang dari kita, keengganan untuk membicarakan karya, berdiskusi seputar proses kreatif yang luarannya diharapkan mampu membawa inspirasi penciptaan terhadap generasi muda.

Saat ini generasi muda kita seolah alergi untuk diajak membicarakan yang serius-serius, padahal membicarakan musik tidak perlu seserius membicarakan teman! Ia hanya cukup deskripsi secara jujur dan apa adanya.

Suatu saat, saya diajak berdiskusi kecil-kecilan dengan salah seorang teman. Dia adik kelas saya di ISI Denpasar, Saya menyukai diskusi seperti ini, santai tidak terlalu serius, tapi terarah! Tiba-tiba dia nyeletuk bertanya tentang komposisi musik tabuh kutus milik saya.

Saya berikan dia untuk memberikan apresiasi dan pendapatnya tentang komposisi yang saya rampungkan dua tahun lalu, tepatnya tahun 2021. Komposisi ini adalah komposisi musik untuk lelambatan (salah satu genre musik dalam karawitan Bali), tapi teman saya tidak sedikitpun mendengarnya sebagai lelambatan; tidak ada keteraturan—terkesan bebas,

“Saya mendengarnya seperti tabuh kreasi pepanggulan” imbuhnya lagi.

Saya tanya balik, kamu tahu apa itu lelambatan? Apa bedanya dengan tabuh kreasi pepanggulan? Apa yang dimaksud tabuh kreasi pepanggulan? Sebelum menjawab, saya pastikan dia gagap untuk menjelaskan pertanyaan saya, yang saya ingat dia mengatakan bahwa komposisi saya itu bebas dan liar, tidak ada formulasi yang mengikat, sebagaimana dia temukan pada komposisi tabuh pepanggulan kreasi.

Terus tersang saja, saya juga dibuat bingung dengan istilah-istilah labeling ini. Saya jawab pertanyaannya dengan santai, “Apa yang kamu tahu dari komposisi saya?”

Tentu teman saya ini gagap untuk yang kedua kalinya! Saya jelaskan padanya, bahwa setiap jengkal komposisi musik saya sangat diperhitungkan sebelumnya di atas kertas, sebelum kemudian dituangkan menjadi wujudnya yang lebih kongkrit sebagai musik yang didengarkan. Saya patuhi semua formulasi lelambatan.

Lelambatan itu komposisi yang mengikat, seram, angker, karena formulasi serba konvensional. Pendapat itu benar. Tapi keliru. Bagi saya yang terpenting dalam komposisi lelambatan adalah adanya konsistensi formulasi garap yang di dalamnya mengandung tekstur-tekstur komposisional khas, aksen khas, pembagian struktur kolotomik yang konsisten dan disiplin, dan menjelaskan ketertautan aspek temporal. Sudah, itu saja, tidak kurang tidak lebih.

Komposisi saya itu konsisten, semua diperhitungkan dengan baik, lantas di mana letak ketidakteraturannya? Saya tidak mungkin mereintepretasi tabuh Kutus Dandang Gendis dan membuatnya menjadi sama dengan wujud aslinya (mudah dikenali), tentu tidak sesederhana itu. Saya sengaja membuatnya menjadi berbeda; agar komposisi ini tidak dikenali sebagai Dandang Gendis! Teman saya diam, Saya tidak tau apakah dia mengerti maksud saya.

Jujur saja, saya menginginkan iklim diskusi seperti ini di Buleleng, ini yang hilang dari proses kreatif kita. Bukan hilang, tapi nihil tidak ada. Bagi saya inilah spirit kebyar yang sesungguhnya. Eksistensi bunyinya hadir secara mengejutkan (mengejutkan dalam artian tak terduga). Apakah musik saya ini baru? Saat itu iya. Karena tidak ada yang merumuskan komposisi lelambatan seperti itu sebelumnya. Musik baru menolak dan berbeda dari segala bentuk dan solusi sebelumnya.

Musik bagi saya adalah bagian dari proses sejarah, dan musik yang hebat bukan hanya mempertanyakan, mempermasalahkan dan memicu persoalan mengenai material seninya, tetapi berfungsi secara kritis membawa kebenaran. Untuk memajukan manusia dan masyarakat, harus ada bentuk musik yang serius yang melawan bahasa musik konvensional dan industrial, harus ada musik yang mampu menyentak kesadaran palsu, melawan kemudahan dan kedangkalan musik-musik industri yang menina-bobokan dan membius bagai candu. Lihatlah pendahulu kita. Salam! [T]


[1]       Sebuah pertanyaan dari Wayan Gde Yudane, “seperti apa bahasa kebyar di awal kelahirannya?”. Saya kira Yudane tidak sedang menguji Saya dengan pertanyaan ini saat itu. Definisi kelahiran mesti jelas, asumsi dasarnya adalah kebyar sebagai fenomena bunyi jelas lebih dahulu dilahirkan ketimbang gamelan Gong Kebyar.

[2]       Baca Bruno Nettl (2012)

[3]       Yudane (wawancara, 28 Juni 2023) berpendapat bahwa Trunajaya itu memiliki pusat tonal pada nada C#, karena G# dan C# dalam konsepsi harmoni Bali adalah sama dan dipertemukan oleh sistem ngempyung. Namun Saya ingin membedakan keduanya, tujuannya untuk merunut konsistensi penempatan tonika pada karya ini.

[][][]

Hujan Air, Hujan Pujian, Hujan Cacian, Gianyar Harusnya Juara | Dari Lomba Baleganjur PKB 2022
Tags: bali utarabulelenggong kebyarkesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Legong “Bapang Durga” Pernah Ditarikan Ni Polok

Next Post

Surat Minggu untuk Penyair Nanoq da Kansas

I Ketut Pany Ryandhi

I Ketut Pany Ryandhi

Komposer, tinggal di Singaraja

Related Posts

Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

by Agus Arta Wiguna
July 19, 2025
0
Masihkah Ada Ruang untuk Wayang? — Catatan Menonton Utsawa Wayang Kulit di Pesta Kesenian Bali 2025

MALAM itu, Jumat, 18 Juli 2025, saya menyaksikan utsawa (parade) wayang kulit yang menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali (PKB)...

Read moreDetails

Jangan Sampai Kompetisi Seni Menjadi Komplotisi Seni

by I Gusti Made Darma Putra
July 19, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

DALAM dunia seni, sebuah kompetisi sejatinya lebih dari sekadar ajang unjuk bakat. Ia adalah wadah pengembangan, ruang pembinaan, dan panggung...

Read moreDetails

Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

by Made Chandra
April 26, 2025
0
Pakem: Miskonsepsi yang Berujung pada Stagnasi Seni Tradisi

KETIKA menyoal seni tradisi, tentu kita akan berkelindan dengan istilah ”pakem”. Sebuah istilah yang sering kali mengalami miskonsepsi oleh masyarakat...

Read moreDetails

Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

by I Gusti Made Darma Putra
April 24, 2025
0
Ketiadaan Wayang Legendaris di Pesta Kesenian Bali: Sebuah Kekosongan dalam Pelestarian Budaya

PESTA Kesenian Bali (PKB) adalah sebuah ajang penting yang menjadi representasi kebudayaan Bali, di mana setiap elemen seni disajikan dalam...

Read moreDetails

“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

by I Ketut Pany Ryandhi
June 25, 2024
0
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB

BEBERAPA hari ini, perbincangan antar seniman di Buleleng diramaikan dengan penampilan tari Wiranjaya yang dibawakan oleh Sekaa Gong Darma Pradangga,...

Read moreDetails

“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

by Dewa Purwita Sukahet
February 18, 2023
0
“Girang Kaajakin”: Paradoks Identitas Diri, Kelatahan, dan Masyarakat (Seni) Bali dalam Gejala Post-tradisi

MENGHUBUNGKAN TUMPEK KRUWLUT dengan kata ‘lulut’ yang dalam Jawa Kuna berarti kasih sayang, cinta, asmara, rindu, hasrat cinta kasih, mabuk...

Read moreDetails
Next Post
Telenovela

Surat Minggu untuk Penyair Nanoq da Kansas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co