7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 27, 2022
in Khas
Prambanan Tidak Hanya Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso

Candi Prambanan merupakan Candi Hindu-Budha terbesar dan termegah di pertengahan abad ke-8 sebelum masuk ke Jawa Timur. Kira-kira kalimat itu diungkapkan oleh Prof. Dr. Agus Aris Munandar yang menjadi narasumber dalam acara Pemanfaatan Candi Prambanan sebagai Tempat Ibadah Hindu Nusantara dan Dunia yang diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Hindu RI di Hotel Dafam Enkadeli, Jakarta pada Senin, 26 Desember 2022.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka mencari titik temu terkait beberapa hal, seperti: waktu pelaksanaan ritual, branding, hingga rencana kolaborasi dengan berbagai pihak dalam rangka pengelolaan Candi Prambanan. Seperti diketahui bersama, Candi Prambanan sudah ditetapkan sebagai ibadah bagi umat Hindu di Indonesia dan dunia melalui nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Pemda DIY, Pemprov Jateng, Kementerian Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian BUMN, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada Jumat, 11 Februari 2022.

Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si selaku Dirjen Bimas Hindu RI mengungkapkan bahwa kolaborasi adalah jalan satu-satunya yang dapat ditempuh dalam proses pengembangan Candi Prambanan sebagai tempat peribadatan umat Hindu Indonesia dan dunia.

Selain waktu pelaksanaan, dalam kesempatan ini Prof. Duija juga menekankan soal penamaan ritual yang akan diselenggarakan dalam upaya umat Hindu memelihara ingatan terkait pembangunan Candi Prambanan di masa silam. Keresahan-keresahan tersebut kemudian menjadi dasar kegiatan ini dilangsungkan dan juga didatangkanlah dua pakar yang ahli di bidang ini. Mereka adalah Sugi Lanus (pembaca dan peneliti manuskrip Bali dan Kawi) dan Prof. Dr. Agus Aris Munandar (Guru Besar Departemen Arkeologi Universitas Indonesia).

Candi Prambanan Dari Sudut Pandang Efigrafi dan Filologi

Sugi Lanus membuka ruang diskusi pagi hari itu dengan ratusan slide shownya. Nama Sugi Lanus tidaklah asing bagi saya, saat masih mahasiswa namanya cukup familiar di telinga saya. Apalagi saat saya cukup sering nongkrong di Komunitas Mahima. Beberapa kali saya ikut nimbrung dalam diskusi yang secara alami menjadikannya sebagai narasumbernya.

Oke kembali ke laptop. Dalam pembahasannya, Sugi Lanus banyak memaparkan Candi Prambanan secara efigrafi dan filologi. Apa yang dimaksud dengan efigrafi dan filologi? Sederhananya, efigrafi adalah penelitian yang berdasar prasasti dan sejenisnya. Sedangkan filologi merupakan penelitian yang berdasarkan atas babad, lontar, dan sejenisnya.

Dalam presentasinya, Sugi Lanus mengungkapkan bahwa nilai-nilai yang masih diwarisi oleh umat Hindu di Bali adalah nilai-nilai yang ada pada Candi Prambanan. Ia juga menyebutkan bahwa nilai-nilai yang dibawa oleh Mpu Kuturan ke Bali berasal dari teks Medang Kemulan (Jawa Tengah sekarang). Nilai-nilai yang dimaksud misalnya: prosesi caru—bahwa di bawah Candi Prambanan ditemukan tulang, abu ayam dan kambing. Lewat penjelasannya pula saya mengetahui bahwa secara masehi Candi Prambanan dibangun pada 12 November 856 atau jika dikonversikan ke tahun saka menjadi 778 saka.

Berangkat dari pemaparan melalui sudut pandang efigrafi dan filologi, Sugi Lanus juga menyampaikan beberapa rekomendasi dalam forum diskusi ini, di antaranya: Candi Prambanan sebagai tempat ibadah harus memiliki tanah pelaba (berupa sawah atau kebun) yang berada di sekitaran candi) pengadaan ini bisa dilakukan dengan cara fundraising atau sejenisnya—hal ini penting mengingat dalam sebuah teks yang dibawa oleh Mpu Kuturan dari Medang Kemulan dikatakan bahwa apabila tidak terpenuhi, maka Hyang Widhi akan kembali ke Shivalaya/Himalaya.

Candi Prambanan juga harus memiliki Beji sebagai sumber air yang akan dipergunakan untuk kebutuhan upacara. Candi Prambanan juga menurutnya harus dilakukan sebuah proses penyucian, baik itu pemelaspasan atau prayascita—mengingat begitu banyak wisatawan yang telah hilir mudik di area candi.

Dalam kesempatan itu, Sugi Lanus juga merekomendasikan untuk dibentuknya sebuah pusat studi yang fokus mempelajari hal-hal terkait Candi Prambanan—buat saya ini penting untuk memelihara ingatan dan juga memperkuat pondasi umat dalam melakukan pengelolaan terhadap Candi Prambanan. Tanpa adanya pengetahuan, alih-alih memperkuat dan melestarikan—nihilnya pengetahuan umat tentang Candi Prambanan justru menggiring umat ke dalam jurang kehancuran.

Pengaruh Budha Ditemukan di Candi Prambanan

Makan siang sudah selesai. Forum dilanjutkan dengan pemaparan dari Prof. Dr. Agus Aris Munandar yang merupakan Guru Besar di Departemen Arkeologi Universitas Indonesia. Pemaparannya mengambil tema “Mengenal Lebih Lanjut Percandian Sivagraha (Prambanan)”. Prof. Agus memulai pemaparannya dengan menyampaikan arkeologi dapat dibagi menjadi dua konteks, yakni: dua konteks dan tiga konteks.

Foto bersama dalam acara Pemanfaatan Candi Prambanan sebagai Tempat Ibadah Hindu Nusantara dan Dunia yang diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Hindu RI di Hotel Dafam Enkadeli, Jakarta pada Senin, 26 Desember 2022.

Dua konteks yang dimaksud adalah bangunan, prasasti, arca, atau apapun itu yang dibuat pada masa silam dan hingga hari ini masih dimanfaatkan atau digunakan untuk kepentingan umum. Sedangkan tiga konteks adalah bangunan, prasasti, arca, atau apapun itu yang dibuat pada masa silam, sempat terkubur atau dilupakan, dan masa kini kembali dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Contoh dari dua konteks itu misalnya Pura Besakih dan Masjid Agung Demak yang sejak masa silam sampai hari ini masih berfungsi, sedangkan tiga konteks yang dimaksud seperti Candi Prambanan.

Prof. Agus juga menyebutkan bahwa ruang geografi menjadi hal menarik dalam candi sebagai setting kegiatan budaya. Ruang-ruang geografi yang biasanya ditemukan di lokasi candi dibangun adalah ruang-ruang geografi yang memiliki batasan alami seperti: lembah, ngarai, dataran, lereng, tepian sungai, kawasan danau dan juga lingkungan flora (hutan, tanaman palawija, persawahan) dan lainnya. Hal ini juga ditemukan pada Candi Prambanan, dimana sisi utaranya merupakan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu dan di sisi baratnya terbentang Sungai Opak.

Prof. Agus juga menyampaikan bahwa lahan tempat berdirinya percandian merupakan area suci yang telah diuji sebelumnya oleh Pendeta dengan upacara Bhupariksa. Upacara Bhupariksa dilakukan untuk menguji kelayakan tanah yang akan dijadikan tempat pembangunan candi. Apabila lolos dari pengujian tersebut, maka area tersebut pantas untuk didirikan candi karena kekuatan dewata akan mudah turun dan bersemayam dalam candi.

Candi Prambanan sendiri dibangun pada tahun saka 778 atau 856 masehi. Candi Prambanan dibangun dan kemudian terbagi menjadi tiga halaman. Pembagian ini bukanlah tanpa alasan. Terdapat dua aspek mengapa area Candi Prambanan dibagi menjadi tiga halaman, yakni aspek religius dan pragmatis. Jika dilihat dari aspek religius, pembagian tiga halaman ini menyimbolkan tiga dunia (Tri Loka), yakni Bhur Loka, Bwah Loka, dan Swah Loka. Sedangkan dari aspek pragmatis, pembagian tiga halaman ini untuk menghindari Candi Prambanan tergenang air ketika hujan—mengingat Candi Prambanan sendiri dibangun di atas area yang datar.

Candi Prambanan terdiri dari beberapa bangunan candi, seperti: Candi Siwa (candi terbesar di area Candi Prambanan), Candi Wisnu (sebelah utara Candi Siwa), Candi Brahma (sebelah selatan Candi Siwa), Candi Nandi (di depan Candi Siwa), Candi Surya (di depan Candi Wisnu), Candi Candra (di depan Candi Brahma), Candi Apit (dua), Candi Astadikpalaka (delapan), dan Candi Prawara (224). Sehingga jumlah candi di areal Candi Prambanan sebanyak 240 candi.

Prambanan sendiri merupakan bangunan percandian terluas di Indonesia yang di halaman utama dibangun tiga candi Tri Murti, Nandi, Surya, Candra, dua Candi Apit, delapan Candi Astadikpalaka dan di halaman kedua terdapat sebanyak 224 Candi Prawara. Candi Tri Murti merupakan candi dengat atap prasadha yang memiliki kemiripan dengan atap bangunan kuil-kuil di Khmer Kuno.

Berbeda dengan candi Siwa-Budha di era Singasari-Majapahit (13-15 M) yang akulturasi antara Hindu Siwa dan Budha Mahayana sangat kental, tidak demikian dengan Candi Prambanan. Namun di Candi Prambanan ditemukan pengaruh Budha di dalamnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa cara, yakni: ditemukannya relief hiasan pohon Kalpataru (hiasan ini mengacu pada konsep pohon Boddhi)—relief ini kerap ditemukan di candi-candi Budha. Kemudian ditemukannya ragam hias arsitektural yang mirip stupa yang dinamakan dengan Amalaka, dan Candi-candi Prawara (berjumlah 224) yang mengelilingi candi-candi utama merupakan penataan khas percandian Budha (hal ini dapat dibandingkan dengan percandian Budha lainnya seperti Candi Lumbung, Sewu, dan Plaosan Lor).

Telah menjadi tugas kita untuk menggali lebih dalam nilai-nilai adiluhung yang masih tersimpan dalam Candi Prambanan. Hal ini menjadi penting agar berbagai ritual yang telah dilakukan di masa kini memiliki nilai—ritual tanpa memahami esensi sama saja dengan menabur garam di lautan, tidak ada gunanya. Membangun branding juga menjadi hal penting dalam proses pengembangan dan pemanfaatan Candi Prambanan sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu di Indonesia dan dunia.

Selain untuk mengimbangi cerita rakyat yang telah berkembang, ini juga penting untuk membuka cerita dan makna sesungguhnya dari Candi Prambanan. Hadirnya Candi Prambanan sebagai tempat peribadatan umat juga harus disambut dengan edukasi kepada umat Hindu. Harus disadari bahwa Candi Prambanan berbeda dengan Pura pada umumnya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Candi Prambanan merupakan tempat yang berada di bawah otoritas banyak pihak. Mulai dari Pemda DIY, Pemprov Jateng, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian BUMN, dan Kementerian Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif. Kompleksitas semacam ini harus disadari dan disikapi secara dewasa oleh umat Hindu yang ingin beribadah di Candi Prambanan.

Selamat untuk kita semua karena Candi Prambanan menjadi tempat ibadah bagi umat Hindu di Indonesia dan Dunia. Selamat juga karena kekayaan Hindu-Budha semakin dirasakan oleh banyak orang. Lalu, sudahkah kita ikut berkontribusi dalam kemajuan Hindu Nusantara? Atau justru malah memperkeruh suasana saja? [T]

Hindu dan Keberagaman Seni Budaya | Catatan Tawur Agung dari Candi Prambanan
Kalender Pawukon Bali & Jawa Sama — Peninggalan Medang Kamulan
Menapak Jejak Konsep Purusa-Pradana di Lereng Gunung Rawung
Tags: BudhaCandi PrambananhinduHindu NusantaraJawa Tengah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Keluarga Dalam Kumpulan Cerpen “Politik Kasur, Dengkur dan Kubur” Karya I Made Suarbawa

Next Post

Melewati Hamparan Pasir Menuju Pura Luhur Poten di Kawasan Bromo

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Melewati Hamparan Pasir Menuju Pura Luhur Poten di Kawasan Bromo

Melewati Hamparan Pasir Menuju Pura Luhur Poten di Kawasan Bromo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co