25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu di Mata Nuryana Asmaudi SA

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
February 19, 2022
in Ulasan
Ibu di Mata Nuryana Asmaudi SA

Sampul buku Doa Bulan untuk Pungguk

Membaca kumpulan puisi Nuryana Asmaudi SA dalam kumpulan Doa Bulan untuk Pungguk diterbitkan oleh Akar Indonesia April 2016 menyiratkan beragam makna. Ada filosofi, sufi, anekdot, legenda, perdamaian, dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Keberagaman ini menyiratkan bahwa Mas Nur bisa menggeluti hidup dan kehidupan yang diwujudkan ke dalam lari-larik puisinya.

Mas Nur tidak hanya berdiam diri. Ia juga mengungkapkan kehadiran sosok seorang ibu. Ibu memiliki makna tersendiri bagi Mas Nur. Ibu membuka kehidupan. Membuka lembaran hidup bagi insan manusia. Tidak berlebihan kiranya kalau dikatakan bahwa Mas Nur memahami makna-makna ibu. Wajarlah kumpulan puisinya diawali dengan “Secangkir Kopi untuk Ibu.” Mengapa tidak secangkir kopi untuk ayah? Tentulah pertimbangan batin Mas Nur berbeda, ia melihat sosok ibu membuka kehidupan sama dengan kumpulan puisinya membuka kehidupan dalam puisi. Puisi lahir dari rahim kreativitas.

Beberapa puisinya yang menggambarkan dunia ibu antara lain Secangkir kopi untuk Ibu, Sembahyang untuk Bunda, Sembahyang Kepompong, Anak Rantau, dan juga Doa Sungkem.

Pandangan Mas Nur mengenai ibu bisa disimak dalam puisi Sejangkir Kopi untuk Ibu (hlm.1). Rasa hormat dan kasih sayangnya terhadap ibunya bisa disimak dalam larik-larik puisi di bawah ini. Kasih sayang seorang ibu sebagai pemberi kasih pada anak-anaknya: ingin kuhidangkan secangkir kopi/ dari ramuan rasa cinta di usiamu yang telah senja/ setelah memeram jiwa untuk anak-cucumu//

Keharmonisan keluarga tercipta jika kasih sayang anak dengan seorang ibu terlahir dari nurani. Rasa hormat seorang anak tidak cukup untuk membalas cinta seorang ibu: Ingin kusuguhkan pelepas dahaga/ pahit-manis kehangatan dalam cangkir takdir/ dan waktu yang mendidik/ suguhan sekadar yang tak sebanding zikir rahim/ dan kasih sayang yang kau dawamkan/sepanjang hidup//

Seorang ibu memiliki kasih sayang. Kasih itu memberi kebahagiaan kepada sang anak. Seorang ibu pemberi maaf kepada sang anak. Ini mengindikasikan betapa cinta dan kasih seorang ibu: Demi bunda yang jiwanya sungai cinta/ senantiasa mengalirkan manis surga/ demi bunda yang jiwanya lautan kasih/ tak pernah kering ampunannya/ tempat ananda berenang senang/ di antara terumbuterumbu kasih sayang/ mutiara hati di kerang-kerang berpernik kilatan/ kapal-kapal berlayar mengusungbongkar muatan/ dari segala ke segala tujuan//

 Dalam puisi Sembahyang untuk Bunda (14), ditemukan metafora-metafora yang memuliakan cinta dan kasih sayang seorang ibu. Metafora-metafora itu misalnya, jiwanya sungai cinta, mengalirkan manis surga, jiwanya lautan kasih, tak pernah kering ampunannya, terumbuterumbu kasih sayang, mutiara hati di kerang-kerang, laut jiwanya tak henti bergelora doa/…// Metafora-metafora pilihan ini menyiratkan kekaguman dan hormatnya Mas Nur kepada ibunya.

Ibu tidak hanya ibu yang melahirkan. Bagi Mas Nur, Tuhan adalah seorang ibu. Tuhan memberikan kasih sayang kepada umatnya. Tuhan bisa dirasakan dalam doa-doa. Sembahyang Kepompong (hlm. 24) menyiratkan usaha Mas Nur agar bisa merasakan kasih sayang dan karunia Tuhan: …// dalam semedi kubayangkan engkau/ datang membawa sayap untukku/tapi jasadku terlalu lemah/ untuk mengangkat sayap itu/ kudengar di luar hidup begitu kejam/ bagaimana aku bisa menyelematkan diri?// Rasa melankolis Mas Nur tampak dalam larik: kalau aku nanti tak jadi jadi kupu-kupu/ tunggu di alam mimpi, Ibu/ mungkin ruhku bisa menziarahi rinduku!// Dalam larik ini, Mas Nur mengharapkan ada perubahan dalam perjalanan batinnya.

Sebagai anak rantau, Mas Nur bisa merasakan suka-duka kehidupan. Ia sempat merasakan, melihat hingga tumbuh kasih sayangnya terhadap derita seorang anak. Penggambaran kemiskinan yang amat sangat ditemukan dalamAnak  Rantau  (50), Mas Nur menulis seperti ini: Karena bubur habis anak itu menangis/ Emak memasak pasir untuk menghibur/ tapi jagoan kecil itu telah kabur/ ke pantai nun menumpang kapal ke seberang//…//

Kemiskinan yang amat sangat diungkapkan dengan larik: Emak memasak pasir untuk menghibur. Ungkapan emak memasak pasir, menyiratkan betapa kemiskinan diderita oleh seorang ibu. Dengan memasak paling tidak bisa menghibur sang anak hingga bisa menidurkan. Penggalan kehidupan sosial seperti ini masih terjadi dalam kenyataan. Artinya masih ada anak-anak bangsa yang belum bisa merasakan sedikit kesejahteraan dalam hidup.

Sebagai anak meskipun orang tua sudah meninggalkan kita, seharusnya tetap ingat dan mendoakan agar bisa mendapatkan kedamaian di alam Tuhan. Bersiarah ke makam orang tua diharapkan oleh Mas Nur. Puisi Doa Sungkem (hlm.108) menyiratkan hal itu: Mak, kamboja di atas makammu mungkin/ sudah setinggi pengalah matahari/ rekahnya mengharum istirahmu/ seperti doaku untukmu/ seperti doaku untukmu//

Sebagai anak kata maaf amat diharapkan bisa keluar dari hati seorang ibu. Jika ibu memaafkan kesejukan batin bisa dirasakan: hari ini lebaran ke tujuh/ aku tak sempat ziarah ke makammu/ sebab jauh merentang waktu/ tapi kita tak pernah berjarak, Mak/ karena cinta yang dalam// semoga doaku jadi ruang lapang/ cahaya terang bagi mihrabmu/ di haribaan kalbu/ maafkan anakmu!//

Nuryana Asmaudi SA mengungkapkan kasih sayang, derita, cinta suci dari seorang ibu. Ibu memberikan kedamaian, kesejukan, dan kelembutan dalam kehidupan. Cinta anak kepada ibu, cinta ibu kepada anak  akan tumbuh jika tali kasih terus merekat dan menebarkan cinta sepanjang hidup dan kehidupan. Cinta ibu tak ada batasnya. Mas Nur mampu memaparkan cinta dan kasih sayang seorang ibu. [T]

Tags: kumpulan puisiPuisiresensi bukusastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satriani | Cerpen Kadek Desi Nurani

Next Post

“Bukan Kupu-Kupu Malam”, Film Mahasiswa ISI Denpasar, Tak Sekadar Tugas Akhir

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Bukan Kupu-Kupu Malam”, Film Mahasiswa ISI Denpasar, Tak Sekadar Tugas Akhir

“Bukan Kupu-Kupu Malam”, Film Mahasiswa ISI Denpasar, Tak Sekadar Tugas Akhir

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co