7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menumbuhkan Imagery, Self-Culture, Mulat Sarira dan Mindfulness dalam Perjalanan Diri

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 2, 2021
in Ulasan
Menumbuhkan Imagery, Self-Culture, Mulat Sarira dan Mindfulness dalam Perjalanan Diri

Bayangkanlah anda menonton film, dimana aktornya adalah diri anda sendiri, yang terjebak sebagai karakter dan tak mampu keluar dari perjalanan yang mendalam, yang mengejutkan, yang penuh guncangan, lalu tiba-tiba anda merasa, diri anda yang dulu bukan lagi diri anda yang kini, dan diri anda yang kini, belum juga jadi, sehingga dalam proses restorasi itu, barangkali, anda tidak percaya diri melihat diri anda yang dulu dan kini, apalagi membayangkan nanti. Barangkali begitulah proses terbentuknya imagery dalam konteks membaca buku ini.

Begitu membuka buku Deep Inner Journey ini saya membaca beberapa rentetan ‘puisi panjang’ yang dalam imajinasi saya adalah percakapan spiritual antara yang masih ada dan yang ‘sudah tiada’ seperti ini

Pa, ijaa ya jani Bapa ngayah apang mekenyem uli kedituan

Ba mebukti tresnan Bapane kin panak mantu cucu kumpi merupa ani sing meadan apang ning Bapa manunggal. Sing taen icing ngaenang Bapa teh kupi batek alebengan sambel sing taen Bapa ngidiin icing men kengken abet icange yen sing sekancan munyin Bapane isinin icing apang nuduk tutur dadi payuk prumpung misi berem…

Pembuka ini menurut dugaan saya diniatkan sebagai sebuah penanda alam masuk ke dunia Jero Jemiwi. Dunia yang mana, dunia yang berakar pada bahasa, pada sebuah rasa, pada sebuah pengalaman puitika.

Saya sangat terharu membaca puisi ini. Sebab saya teringat Bapak saya yang sudah tiada. Terbayang percakapan ini seperti mewakili perasaan saya, meskipun tidak utuh. Bahasa, selalu membawa kita pada konteks, pada sebuah imaji, kepada sebuah representasi visual dari perasaan-perasaan. Itulah mengapa dalam konteks puisi dikenal salah sebuah gaya ungkap bernama imagery.

Dalam buku Sound and Sense: An Introduction to Poetry karya Laurence Perrine disebutkan bahwa imagery adalah perwujudan pengalaman panca indera melalui bahasa. Rasa yang dialami, rasa yang dimaknai, rasa yang dituangkan dalam bahasa, itulah imagery. Rasa itu muncul bisa melalui pengalaman visual, pengalaman sentuhan, pengalaman mendengar, pengalaman membaui, dan atau pengalaman mencicipi. Bagaimana kita menuangkannya, dan pilihan apa bahasa yang kita gunakan, kadang melahirkan bentuk-bentuk puisi yang indah.

Buku Deep Inner Journey ini sesungguhnya bukan buku puisi. Bukan pula semata prosa. Di bagian cover tertera bahwa buku ini adalah sebentuk biomini-biografi singkat-yang tidak terlalu singkat juga. Tapi bagi saya, buku ini seperti puisi yang panjang. Puisi membawa metafora-metafora, memiliki makna yang mewakili makna lain, membentuk simbol-simbol yang melahirkan lagi interpretasi-interpretasi. Bagaimana, mengapa, apa.

Demikianlah itu terjadi. Yang menggenapkan pertanyaan kita adalah bahwa pertanyaan lain tak akan selesai.  Dan bahwa tidak ada kebenaran yang sesungguhnya adalah kebenaran, yang hanya bisa diverifikasi setelah ada kebenaran tandingannya. Setidaknya menurut verification theory dalam filsafat bahasa, bahwa sebuah pengetahuan hanya dapat dikatakan benar sementara sebelum kebenaran lain dapat diverifikasi sebagai ‘benar versi terbaru’.

Kembali ke buku ini, saya merasakan pengaruh puisi yang sangat kuat, terutama unsur imagery yang dalam. Image bisa berupa visual, tapi bukan sekadar itu, visual yang punya jiwa. Seperti daya ungkap puisi pembuka di atas, bahasa yang dipakai membawa imajinasi kita pada sebuah tempat yang sangat spesifik, yang sangat unik, yang melahirkan bahasa itu sendiri. Bahasa sendiri tidak serta merta lahir, namun ada sebuah kesepakatan budaya yang melahirkannya. Di dalam buku ini, bahasa sangatlah spesifik, sangatlah otentik. Meskipun secara umum dapat dipahami bahwa ungkapan yang digunakan adalah bahasa Bali, tapi bahasa Bali daerah apa, itulah yang menyeret kita pada dunia Jero Jemiwi, dunia Batur dan ke’Batur’annya.

Kehadiran pembuka ini tanpa disertai terjemahan, yang memang jika diterjemahkan, akan hilang rasa bahasanya. Jangankan menerjemahkan ke bahasa asing seperti bahasa Inggris, ke bahasa Indonesia saja sulit. Barangkali itu mengapa tidak disediakan terjemahannya. Karena rasanya tak akan pernah sama.

Pembuka puitis ini telah menjembatani dunia kita dengan dunia Jero Jemiwi. Lalu tibalah kita pada jendela lain, yaitu pengantar dari Coach Alkha soal restorasi diri. Bahwa lebih dari semua, perjalanan diri harus dimulai ketika kita mulai berdamai dengan semua kegelapan diri. Bahwa disanalah terbit restorasi diri. Disanalah terbit kesejatian diri. Sedangkan pembuka dari Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., mengatakan bahwa Jero Jemiwi telah berhasil mengatasi krisis ilmu pengetahuan abad dua puluh yang mengedepankan kemudahan materi namun merapuhkan jiwa. Sedang Jero Jemiwi telah mampu menarik energi semesta dan energi diri untuk menciptakan kasih. Bagaimana perjalanan diri itu terjadi?

 Masuklah kita kemudian pada flashback kisah perjalanan Jero Jemiwi. Flashback itu dimulai di tahun 2007, di Bandara Ngurah Rai. Ketika Jero Jemiwi pulang ke Bali, setelah lama terbang dengan kekosongan hati. Imagery pun dimulai. Rasa yang dibawa muncul satu persatu dibawa oleh serpihan-serpihan visual. Lalu kisah dimulai perlahan. Kisah Jero Jemiwi sejak dilahirkan, tumbuh dalam budaya tata krama peradaban kuna di Batur. Ia lahir sebagai Luh Kamini, namun ia sering sakit-sakitan hingga suatu saat diperkirakan akan meninggal dunia, lalu Ibunya, Me Luh berkaul (berjanji) akan menjadi warga Desa Kawuh, desa suaminya. Lalu berangsur Kamini sadar dari tidur yang ganjil itu.

Untuk mencegah sakit-sakit yang terus beruntun, namanya juga diubah menjadi Jemiwi, lengkapnya Ni Wayan Jemiwi.  Di usia 8 tahun, Jemiwi kecil telah terpilih menjadi Jero Mangku Istri melalui prosesi nyanjan di Pura Alas Arum. Nyanjan adalah prosesi sakral yang melibatkan para Perwalen atau Daratan, mereka yang terpilih untuk menerima pesan dan menyampaikan pesan suci dari kahyangan kepada manusia.  Para Perwalen ini melakukan tugas penunjukan Jero Mangku secara spiritual. Jero Jemiwi pun terpilih. Dan hidupnya berubah sejak itu. Ia harus mengikuti serangkaian upacara-upacara, mulai dari pemadegan dimana rambutnya harus digundul habis hingga upawasa atau pengasingan diri selama 1 bulan 7 hari. Kesehatannya membaik dan ekonomi keluarga membaik.

Namun satu hal yang sangat memilukan terjadi ketika Jero Jemiwi berusia kira-kira 10 tahun, sebuah kenyataan bahwa ia menyaksikan ayahnya meninggal di depan matanya sendiri karena dikeroyok segerombolan orang yang belakangan diketahui masih hitungan keluarga. Ia tak mampu memahami benar mengapa semua itu terjadi. Trauma itu membekas dalam ingatannya. Sehingga ia bertekad ingin menjadi mandiri secara ekonomi, hingga bisa kuat dan memiliki pengaruh. Iapun bekerja dan menimba pengalaman sebagai pramugari, sebagai hotelier, sebagai pembaca acara, sebagai pengusaha properti dan sebagainya, namun ia merasa kosong. Ternyata ada hal-hal yang tak dapat digenapkan hanya dengan uang, melainkan oleh jiwa.

Jero Jemiwi pun mencoba belajar filsafat agama hingga jenjang doctoral. Namun itupun tak dapat menenangkan dirinya. Ia merasa semakin dalam semakin tak memahami diri sekaligus bertanya mengapa agama menjadi asing. Disanalah ia memutuskan kembali pulang, kembali pada dirinya.

Apa yang ada di dalam diri seorang Jero Jemiwi?

Ternyata yang tersisa dalam diri ketika semua pergi adalah ingatan rasa. Pada satu titik ketika ia menjadi pramugari di Dubai, Jero Jemiwi sempat mengalami pingsan yang aneh, ambang hidup dan mati. Ibunya di Batur seperti mendapat firasat, lalu naluri Ibu menuntunnya untuk memohon pengampunan di Pura Tirta Taman. Secara ajaib doa seorang Ibu didengar, Jero terkoneksi membayangkan tirta atau air suci yang bersumber dari Pura Tirta Taman hingga ia bisa sadar kembali, dapat selamat dari maut.

Kejadian berikutnya beberapa bulan kemudian, pesawatnya mengalami engine failure sesaat sebelum take-off, dimana pesawat hanya punya dua pilihan, tetap terbang meledak atau menabrakkan diri ke landasan, saat itu seisi pesawat telah pasrah, dan Jero Jemiwi mengingat lagi Pura Tirta Taman, lalu berjanji dalam hati jika selamat, akan pulang. Ajaib lagi, pesawat bisa terkendali dengan aman. Ia pun memutuskan kembali ke rumah. Kembali ke diri. Sejauh-jauhnya diri pergi, ia harus kembali pada diri yang sejati. Apakah diri yang sejati itu? Kita akan menyimak konsep self-culture secara bertahap.

Menurut John Cowper Powys, dalam tulisan Marian Popova (themarginalian.org) kebudayaan adalah sesuatu yang tertinggal ketika semua pengetahuan yang pernah dipelajari terpinggirkan. Ternyata dalam konteks self-culture, budaya yang tumbuh dalam diri, atau diri yang berbudaya, kita semua terbentuk dari rangkaian rasa atau budaya yang pernah  terjadi dalam diri kita. Tubuh dan jiwa kita merespon budaya yang melahirkan kita, membuat ingatan rasa, dan menyimpannya lalu memproduksi respon balikan. Diri terbentuk dari ingatan soal semua rasa itu. Yang menjadi self-culture adalah penyikapan kita terhadap semua rasa itu. Disinilah kemudian tumbuh self-culture dalam imagery tradisi Batur kuna yang kental dalam tubuh dan jiwa Jero Jemiwi.

Dalam konsepsi Powys, disebutkan bahwa pada kenyatannya, pendidikan sejati adalah ketika dia mampu menjangkau sesuatu yang lebih luas dari pendidikan itu sendiri, sedangkan budaya disebut sebagai budaya nyata ketika ia telah menyatu dengan akarnya dan menjadi sebuah cara untuk bertahan hidup. Maka diri sebagai budaya atau self-culture adalah sebuah cara diri bertahan dengan akarnya, sebuah budaya yang membentuk diri sebagai insan rasional sekaligus spiritual. Diri adalah sebuah rumah budaya, yang dilengkapi rasa dan intuisi, rasio dan spirit.

Dalam buku ini, kita diajak menyelami Jero Jemiwi self-culture yang kental sebagai anak yang berakar pada peradaban kuna Batur, dan tak dapat lepas dari sana. Imagery Batur yang kental yang disentuh dengan panca indera dan digenapkan dengan rasio juga pengalaman akademis menumbuhkan Jero Jemiwi sebagai pelayan umat yang memiliki kelembutan hati.

Di tahap akhir, muncullah sebuah sikap mulat sarira, yang menjadi kekuatan dasar untuk mencintai diri sendiri tanpa batas untuk kemudian menumbuhkan empati dan mencintai orang lain tanpa syarat. Akhirnya dengan mulat sarira, kita kembali pada diri yang paling sejati, menemukan kekuatan diri yang paling matang, dan tak takut lagi pada apapun, karena bersumber pada kelembutan hati.

Mulat sarira adalah menengok ke dalam jiwa yang terdalam, agar segala yang gelap menjadi terang dengan keikhlasan menerima segala kelemahan diri, bersahabat dengannya dan bertumbuh darinya. Lalu pertanyaannya kemudian, dimana saya, diri saya dalam proses pembacaan buku ini? Kehadiran saya dan diri saya, sebagai diri-budaya adalah ketika saya menemukan tautan kehadiran secara emosional pada beberapa peristiwa yang dialami atau dihadapi Jero Jemiwi.

Diri saya hadir sebagai diri yang penuh empati karena mampu merasakan apa yang tertulis dan hadir di buku ini. Barangkali pula karena saya juga kehilangan Bapak, sama dengan Jero Jemiwi, meskipun cara kehilangan kami berbeda, cara berdamai dengan kehilangan juga berbeda tetapi benang merah kami sama. Momen kehilangan itu membawa saya menelisik diri lebih dalam, mulat sarira, dan akhirnya tiba pada jejak-jejak mindfulness, sebuah jejak rasio dan spiritual yang secara natural tumbuh berbarengan dengan kerangka pikir akademis saya.

Mindfulness  adalah sebuah jalan menuju diri yang belajar, dan terus tumbuh. Ada empat jejak mindfulness menurut Langer (2016) yang bertumbuh dalam diri saya, pertama melihat sesuatu dari perspektif berbeda, kedua menemukan hal yang baru, ketiga mengakar pada konteks, dan terakhir membentuk sebuah pengetahuan baru. Mindfulness adalah sebuah cara tunduk pada hal baru dengan menumbuhkan empati dari dalam.

Mulat sarira dan mindfulness dalam buku ini hadir sebagai bentuk empati pada kisah seseorang yang akhirnya dari empati itu akan muncul kasih, kelembutan hati yang dapat menaklukkan segala bentuk kekerasan. Dengan merasakan empati, jiwa kita berkomunikasi, sekaligus menumbuhkan kepercayaan pada sebuah hubungan baru, komunikasi baru, impian baru, dan harapan baru.

Hal-hal menarik yang juga saya catat dari buku ini adalah perspektif perempuan yang bertutur secara teratur. Buku ini ditulis dengan hati-hati oleh Cok Sawitri, yang kita sadari kehadirannya bukan sekedar meminjam cerita namun mengambil sudut omniscient point of view, sebagai perspektif yang ‘maha tahu’ sebagai representasi karakter yang nyaris utuh sebagai ‘dalam’ dan ‘luar’. Tokoh lain yang sangat kuat adalah Me Ayan, atau Me Iluh, atau Me Kadan, yang berevolusi baik secara nama maupun secara psikologis dan spiritual, seorang Ibu dari Jero Jemiwi yang membersamai langkah Jero Jemiwi sejak lahir.

Lalu hal lain yang ingin disuarakan adalah pendekatan agama tradisi Batur kuna, yang sangat bernuansa eko-feminis, dimana air yang mengalir di Batur adalah manifestasi Btari Danu, yang menjaga semua spirit   alam dan keseimbangan di Batur. Dan bukan secara kebetulan pula bahwa air yang mengalir adalah imagery simbol diri yang mengalir, menumbuhkan, melahirkan, dan memelihara sekaligus melepaskan pada saat yang tepat. Bahwa keseluruhan penceritaan dirangkai dari perspektif eko-feminisme dimana alam adalah kekuatan ibu yang mengasuh dan menumbuhkan sikap kelembutan dan kecerdasan spiritual.

Akhirnya dalam buku ini yang barangkali patut digenapi adalah catatan pada kehadiran banyaknya foto-foto dokumentasi peristiwa, dokumentasi upacara, dokumentasi rasa, dan dokumentasi ingatan, yang barangkali melahirkan pengetahuan baru lagi sebab semua foto idealnya mengandung penjelasan rinci secara bahasa dan rasa, juga penanda waktu.[T]

Tags: Bukuresensi bukuUlasan Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Layar Terkembang Indonesian Dance Festival Kembali Mengarung!

Next Post

Megargitan | Ritual Makan Bersama Pada Piodalan di Pura Panataran Keloncing Padangtegal

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Megargitan | Ritual Makan Bersama Pada Piodalan di Pura Panataran Keloncing Padangtegal

Megargitan | Ritual Makan Bersama Pada Piodalan di Pura Panataran Keloncing Padangtegal

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co