24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Aris Setiawan by Aris Setiawan
July 26, 2021
in Esai
Seni Tradisi, Terseok di Jagat Digital

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Dua tahun pandemi menjadi catatan suram bagi perkembangan seni tradisi. Upaya terakhir agar seni tradisi mampu lentur dan cair masuk gerbong baru bernama “panggung virtual” boleh dikata belum menemukan titik terang. Kodrat panggung virtual seolah bertolak belakang dengan gaya dan karakter seni tradisi kita.

Dunia virtual, anggaplah YouTube misalnya, selama ini mendamba pada sesuatu yang filmis, mengandalkan sisi visual yang glamour, bising, gaduh, konfliktual, bahkan tidak jarang banal. Sementara kodrat seni tradisi menuju keintiman yang kontemplatif, di mana cara menikmatinya justru bukan sekadar dilihat, tapi juga didengar, dirasakan, dan dibatin. Perbedaan inilah yang menyebabkan seni tradisi terseok-seok kala harus “hijrah” menjadi ujud anyar atas nama konten.

Berlawanan

Masuknya seni tradisi dalam dunia virtual tidak cukup dibaca; hanya sekadar “memindah” tubuh pertunjukan, tetapi juga mengalami lapis-lapis pemaknaan yang tidak tunggal. Dunia virtual memang sebuah keniscayaan, dan harus diakui bahwa, pelaku kesenian tradisi gagap dalam menyikapi hal itu. Baru tersadarkan saat pandemi datang, kala intimitas kerumunan menjadi hal tabu dan ditakuti.

Jauh sebelum pandemi mengoyak, kajian-kajian ilmiah tentang seni (tradisi) virtual jarang dilakukan, tidak menarik minat para peneliti dan akademisi. Kita masih beranggapan bahwa kesenian tradisi mampu tumbuh dan hidup dalam dunianya yang khas, di mana keramaian, persentuhan tubuh, bahkan tatapan mata para penonton secara langsung menjadi tolok ukur keberhasilan.

Oleh karena itu, di saat keharusan tampil di jagat virtual, kita tidak memiliki acuan dan peta jalan yang jelas, tentang bagaimana mekanisme ideal saat seni tradisi harus bermetamorfosis menjadi “tagar” dan “trending”.

Segala hal yang awalnya diagung-agungkan sebagai daya tarik kesenian tradisi, terutama atas nama “adi luhung”, di mana segala penikmatan terhadapnya tidak semata mengandalkan perangkat fisik (mata dan telinga), tetapi juga “rasa”, kini layak dipertanyakan kembali, karena episentrum jagat digital hanya mensyaratkan satu hal; bahasa sinema.

Sebagus dan seindah apapun kesenian tradisi jika tidak masuk dalam kategori itu maka dianggap gagal. Dan kegagalan itulah yang kini jamak kita lihat dan ratapi. Banyak persoalan yang belum tuntas untuk diulas, bahkan dicarikan jalan keluarnya.

Sebagai contoh, pertunjukan gamelan Jawa yang selama ini mengandalkan kesayuan bunyi, kelembutan suara, dan keheningan gending harus terdepak paling jauh dari jagat virtual. Pemain gamelan tabu untuk banyak tingkah, sebisa mungkin mereka tidak bergerak bebas, penuh konsentrasi pada pencapaian kualitas estetik musik yang dimainkan. Pemain-pemain itu laksana patung membisu.

Lalu, apa yang bisa dinikmati dari YouTube pada pertunjukan demikian. Apa yang bisa ditonton? Jangankan untuk menjadi viral, sekadar “diklik” saja sudah beruntung.

Tentu kita masih bisa mendebatnya lebih jauh bahwa, seharusnya menikmati gending gamelan di YouTube itu didengarkan, bukan dilihat, karena kodrat music itu untuk telinga, tidak untuk mata. Baiklah!

Namun pertanyaan yang tak kalah mendesak, bagaimana meramu sisi auditif (suara-bunyi) gamelan di jagat digital agar kualitasnya sama (atau paling tidak mendekati) dengan gending di pendopo yang agung itu?

Di pendopo, penataan gamelan dilakukan dengan memenuhi kaidah estetik, berdasar pertimbangan capaian gumpalan bunyi yang utuh, kata lain dari sempurna. Karena itu, gong-kempul selalu berada di tengah dan paling belakang bersanding dengan kenong, di depannya ada instrument balungan, berturut-turut semakin ke depan ada instrumen kendang, bonang yang sejajar dengan rebab, gender, dan sindhen.

Penataan itu sengaja dilakukan demi membentuk ambience atau gaung bunyi yang puncak. Apa yang terjadi saat bunyi-bunyi instrumen itu campur-aduk menjadi satu berupa getaran elektron, diambil lewat  perangkat bernama “microphone”, lalu diolah pada alat yang bernama “audio mixer”. Dan hasilnya bisa kita dengarkan di laman digital. Apakah masalah selesai? Belum!

Jagat virtual mensyaratkan hal lain yakni: perangkat (device, tools)! Dalam mendengarkan gamelan secara daring, perbedaan perangkat (handphone, headset, jaringan, kuota) akan menentukan capaian estetiknya. Keagungan gending gamelan itupun semakin terdistorsi. Kesenian tradisi lain tentu juga memiliki persoalan yang tak kalah pelik.

Tari misalnya, pada pertunjukan langsung penonton dapat menikmati “gerak tubuh” penari secara bebas, tapi di laman digital sepenuhnya ditentukan oleh “mata kamera”. Dengan kata lain, penonton tidak lagi memiliki kuasa atas pertunjukan tari yang dinikmatinya.

Layar Pintar

Masuknya tradisi dalam budaya layar berdalih konten tidak sepenuhnya menjadikan kesenian itu merdeka, namun sangat mungkin terintervensi dengan keharusan mengubah sajian, isi, bentuk, karakter, dan gaya. Budaya digital kini memang dirayakan secara masif, menjadikan semua sebagai artis (kata lain youtuber, vloger) namun miskin penikmat. Terlebih untuk kasus-kasus seni tradisi.

Keberhasilan sajian yang ditentukan oleh kalkulasi jumlah penonton (viewer) agar mampu mendatangkan iklan terhitung sangat rendah. Mayoritas penontonnya adalah seniman sealiran, teman, sahabat, dan keluarga, alih-alih menikmati sajian pertunjukan digital yang ada justru empati, rasa prihatin, memberi semangat, dan saling salam.

Rendahnya jumlah penonton itu berakibat pada semakin tak berdayanya tradisi di musim pandemi. Seniman-seniman mulai berpikir untuk terus bertahan hidup dengan menjual peralatan seni yang dimiliki seperti gamelan, wayang, dan lain sebagainya.

Tak terbacanya seni tradisi juga disebabkan karena pengaruh algoritma digital. Seni tradisi di panggung baru itu ibarat setetes air tawar di luasnya samudera virtual. Dunia virtual adalah dunia yang tak terbatas. Di YouTube misalnya, ada jutaan konten yang diproduksi setiap hari. Satu konten bersaing dengan konten lainnya, dan tradisi adalah salah satunya. Hanya konten-konten viral yang diburu oleh penonton. Hal itu akan menentukan mekanisme kerja algoritma.

Setidaknya, algoritma digital akan memberikan sugesti pada penonton, terkait konten apa yang bisa dinikmati setelah tontonan pertama usai diputar. Dan bisa ditebak, tontonan selanjutnya adalah serupa dengan tontonan sebelumnya, begitu seterusnya. Akibatnya, kesenian tradisi tak mendapat tempat, tak mampu  terbaca secara lebih terbuka, karena algoritma digital tak pernah merekomendasikannya pada publik.

Kekhusyukan dalam menikmati seni tradisi tidak didapatkan dalam panggung virtual, yang sekali lagi, menekankan kegaduhan dan kebisingan isu. Seniman-seniman tradisi memang mulai banyak beradu keuntungan di jagat digital, tapi ekstase yang didapat adalah berupa katarsis berpentas, bukan keuntungan finansial.

Artinya, pentas itu semata mengobati kerinduan untuk tampil, yang selama ini tubuh mereka terpenjara karena pandemi. Berpentas digital sebagai sarana detoksinasi dari jemunya menjalani hidup sebagai seniman tradisi yang tak lagi bisa merengkuh panggungnya.

Oleh karena itu, jangan terlalu banyak berharap bahwa jagat virtual mampu memberi akses berpentas yang lebih manusiawi di kala benturan-benturan kepentingan, karakter, dan formulasi bentuk sajian terjadi. Jika terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan seni tradisi akan berpendar menjadi narasi purbawi megalitik, tidak lagi dijumpai di kehidupan manusia kini dan nanti. Aduh!! [T]

  • Artikel ini adalah makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional bertajuk “Seni Virtual dan Masa Depan Seni Tradisi” yang diselenggarakan oleh Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu, 25 Juli 2021.
Tags: digitalISI DenpasarSeniseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

Next Post

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Seorang jurnalis yang rajin melakukan pencatatan peristiwa musik untuk dipublikasikan di media massa. Beberapa karya tulisnya rutin terbit di Harian Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jawa Pos, Detik.com, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Majalah Basis, Republika, Basa-basi.co, Koran Jakarta, Koran Kontan, Etnis.id. Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah seperti Dewa Ruci, Sorai, Gelar, Terob, Resital, Music Scholarship, Pelataran Seni, Harmonia, Abdi Seni. Aris Setiawan menjadi dosen di Jurusan Etnomusikologi dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Jegeg Bagus Karangasem Berbagi di Tianyar Barat | Bertambah Jegegnya, Bertambah Bagusnya

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co