23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Banten-mebanten” Urusan Mutlak, Kapan Liburnya Ibu Kita?

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

Istimewa

“Ma, melali yuk, ke Yogja, nyingakin Malioboro, bek ade hiburan ditu, sesekali refresinglah,” ajak seorang anak muda Bali kepada ibunya

“Nyen men orin mebanten yen Mama liburan, dadong di Solo?” sahut mamanya ketus sambil melanjutkan pekerjaannya.

***

PERCAKAPAN di atas merupakan satu di antara ketakutan sejumlah orang Hindu-Bali jika meninggalkan rumah terlalu lama, khususnya kaum ibu-ibu. Ida Sang Hyang Widhi Wasa, leluhur di merajan beserta dewa-dewa yang setiap hari dihaturkan banten akan marah kalau rutinitas mebanten tidak dilaksanakan.

Karena orang Bali percaya jika sampai leluhur marah apapun jalan yang dikehendaki akan selalu menemui kesusahan. Mau tidak mau, bagaimanapun keadaannya, mebanten kegiatan multak, tidak ada tawar-menawar. Harus.

Di Bali, ada satu tipe ibu-ibu menarik dan patut dipertahankan keberlangsungan hakikat hidupnya, yaitu ibu-ibu yang bekerja di perusahaan swasta atau memilih membuka perusahaannya sendiri. Kendati mengejar karir dan omzet penjualan, mereka tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Bisa dibayangkan akumulasi pekerjaanya, mulai dari urusan banten (dari pra sampai pasca), mengurus anak sekolah, melayani suami minimal membuatkan kopi di pagi hari, hingga remeh temeh menyama braya, belum lagi pekerjaan di kantor yang menuntut kredibilitas dan profesionalitas  kerja.

Setiap hari tipe ibu-ibu ini bangun lebih pagi dari anak dan suaminya. Ia seolah menjelma tentara untuk menyisir pasar mencari keperluan keluarga. Semisal bumbu masak, sayur, daging, janur, jaje banten, jaje Bali untuk kudapan, sarapan pagi dan lain sebagainya.  Cepat, tepat dan efisien waktu, bila perlu menghunus bayonet jika ada yang menghalang. Sesekali mereka saling adu mulut dengan sesama kaumnya, meminta pedagang agar melayaninya terlebih dahulu.

“Selag je tiang sik neh, sampun tengai niki, durung ngudiang-ngudiang.” Itu kalimat yang sering saya dengar, jika mereka ingin didahulukan. Apa boleh buat, pasrah saja, daripada kena tusuk bayonet, atau kena semprot gas air mata. Bahaya melawan ibu-ibu tipe ini di pagi hari. Ibarat membangunkan singa yang sedang tidur  pulas di atas kasur King Koil.

Sesampai di rumah ia menjadi seorang multitasking, memasak, nanding banten, mebanten, membersihkan rumah, hingga sarang bertanya sang anak atau suami jika barang yang ingin dicari tidak ditemukan. Syukur anggota lain berinisiatif membantu pekerjaan di pagi hari tersebut.

Saya jadi ingat ketika SD saat bertugas mebanten keliling, di lingkungan rumah, serta sejumlah pura. Sering kali saat itu saya hanya menaruh banten saiban  lalu ngayabin sekadarnya, karena takut, suasana masih gelap jam 05.00 wita, Broo. Sing ade nak bangun jam monto, kalau saya diterkam sesuatu gimana, atau melihat yang tidak sepantasnya dilihat? Sereeem…

Kembali lagi ke topik. Jika semuanya telah selesai, barulah ibu tipe ini mempersiapkan dirinya. kadang kala berias pun dilakukan terburu-buru, sebab waktu kian menghimpit. Belum lagi ada berkas kerjaan yang harus dibawa ke kantor.

Sepulang kerja, pekerjaan rumah tangga tak hentinya menghantui, mebanten sore hari, mengurus baju kotor, masak untuk makan malam, mengajarkan anak, dan lain lain. Itu baru rutinitas sehari-hari, belum jika ada rahinan namun kantor melarang mengambil libur. Tentu pekerjaan akan berlipat ganda, berkali lipat.

Pantas saja dadong di solo selalu menjadi kambing hitam, jika ibu-ibu ini mengambil pekerjaan tambahan di luar rutinitasnya. Contohnya berlibur.  Apalagi jika berkaitan dengan yang “diatas”, jangan dipalas. Oh ya kiasan dadong di Solo semacam kelakar yang berarti kemustahilan, ketidakmungkinan.

Memang benar kepanjangan Bali, BAnyak LIbur. tapi libur orang Bali bukan libur ala orang Eropa, yang mengalokasikan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Libur orang Bali tidak jauh-jauh dari urusan adat, agama dan menyama braya.

Tapi bagi orang Bali hal tersebut juga berlibur ketemu sanak keluarga dari segala penjuru, kemudian maceki, minum tuak hingga teler. Esensinya sama kan, bersenang-senang.

Kaum ibu pekerja memang tidak pula ikut teler minum tuak, tapi mereka sibuk mengurus segala kebutuhan sesaji, jangan dianggap remeh hal tersebut. Sebab di Bali ibu-ibu harus menghafal banyak bentuk banten, sampian, serta detail-detailnya.

Mama saya saja membawa sejumlah catatan dari mertuanya untuk membuat sejumlah banten. Tapi ketika saya tanya, apa maknanya. Jawabnya pasti pendek, “mule keto catatanne”. Jawaban pamungkas, tidak boleh ditanya lagi, hasilnya akan sama.

***

Jika ditelisik lebih jauh, apakah benar Tuhan, leluhur, serta dewa-dewa yang kita puja setiap hari itu memberatkan. Apakah mungkin mereka (sugra pakulun) menebar ketakutan kepada umatnya, sehingga rutinitas mebanten setiap hari  dilaksanakan. Jadi, mebanten bukan lagi korban suci tulus ikhlas yang dilakukan dengan kidmat, tapi karena alasan ketakutan, takut kena musibah, takut tidak direstui, takut rezeki tidak lancar, dan alasan takut lainnya.

Tidak adakah pengecualian bagi kaum ibu-ibu pekerja untuk meliburkan diri dalam urusan mebanten tersebut. sehingga mereka bisa liburan ke Gunung Bromo misalnya melihat kehidupan Suku Tengger yang beragama Hindu dengan tata cara adat yang lebih sederhana. Sekalian studi bandinglah bedik.

Ada seorang kawan pernah bercerita  tentang tetangganya yang tidak lagi mebanten saiban ke sejumlah tempat yang seharusnya. Tetangganya itu hanya mebanten di merajan dan di dapur, sejumlah tempat yang diangap penting.

Yang terjadi adalah istrinya sakit, dan keluarganya banyak masalah, serta bisnisnya tidak lancar karena sang istri jatuh sakit. Hal tersebut dikaitkan sedemikian rupa hingga menjadi masuk akal, bahwa kalau tidak mebanten musibah akan datang.

Ratu Bethara, kok ada manusia berfikir sesempit itu. Tidak semua hal mesti dikaitkan ke dunia irasional. Bukankah sakit masalah medis, dan dapat ditelaah penyebabnya. Sementara urusan mebanten keyakinan masing-masing setiap individu, jadi tak perlu disoalkan dan digosipkan di ranah publik.

***

Kalau ada ibu-ibu pekerja yang keluar kota, pastilah urusan kantor, atau urusan bisnis. Ia menitipkan urusan mebanten kepada suami atau anak-anaknya. Yang penting kegiatan banten-mebanten berlangsung tanpa dirinya. Tidak jarang sang ibu akan menelepon suaminya untuk menanyakan “sudah ngatur rarapan, sudah mebanten, sudah ngatur kopi di tugunkarang”. Bukan menanyakan hal yang lebih kontekstual misalnya sekolah anaknya, perkembangan anaknya di sekolah hari itu, makanan suaminya, atau apapun-lah.

Beberapa ibu yang memiliki usaha sendiri menjelaskan kepada saya, ia sedikit memikirkan kualitas pendidikan anaknya, sibuk untuk bekerja agar bisa maturan, mebanten setiap hari, membuat prani (gebogan) saat Galungan, singkatnya urusan agama dan adat nomor satu. Jadi urusan lainnya tidak menjadi prioritas, apalagi liburan.

Untuk itu dalam rangka menyambut Hari Ibu ini, saya sarankan bagi para suami, siswa, mahasiswa, kaum pekerja atau siapapunlah yang masih memiliki ibu di rumah, khususnya tipe ibu-ibu yang saya jelaskan di atas. Akuisisi semua pekerjaannya lalu ajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bila perlu keluar kota. Sampaikan jika ia khawatir, pekerjaan rumah sudah di-handle seseorang termasuk urusan mebanten.

Kalaupun Anda berbohong, saya yakin Tuhan, leluhur dan dewa-dewa tak akan marah. Mereka pasti memakluminya. Cepok gen, sing engken kok. Hehehehehe.

Selamat Hari Ibu. (T)

Tags: baliibuorang baliPerempuan
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Hari Ibu: Memutar Kembali Film “Lemantun” di Kepala Kita

Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co