19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri

A. Zulfa Muntafa by A. Zulfa Muntafa
June 22, 2021
in Tualang
Gunung Argo Lasem dan Daun Pisang yang Bergerak Sendiri

Saat matahari mulai terik, kami kembali ke tenda untuk membuat sarapan.

Kami berdua sudah siap berangkat. Persiapan tenda, kompor, matras, dan lain-lain telah kami kemas di tas carrier milik Arifin; hanya tinggal menunggu satu teman kami, Irul. Rencananya kami bertiga akan menaiki Gunung Argo Lasem yang kebetulan juga berada di kota kami sendiri, di Jawa Tengah. Ketinggiannya sekitar 806 mdpl yang mana memang tidak terlalu tinggi, tapi lumayan untuk berlibur barang sebentar dari hiruk-pikuk aktivitas yang melelahkan.

Setelah Irul datang, kami segera bergegas dengan mengendarai dua motor, Irul solo rider dengan motor gede-nya sementara aku dibonceng Arifin menggunakan matic. Di antara kami bertiga, hanya Irul yang belum pernah naik gunung sama sekali sedangkan aku dan Arifin sudah beberapa kali bahkan sempat satu rombongan waktu di Gunung Prau. Sekarang hampir pukul tujuh malam.

Dari rumah Arifin, sebenarnya hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam hingga sampai di basecamp—karena memang tidak terlalu jauh—tapi saat di jalan kami mampir mencari beberapa barang pritilan dan sempat kebingungan menentukan jalur. Jadilah kami baru tiba di sana sekitar jam sembilan malam. Sampainya di basecamp, kami segera memarkirkan motor dan petugas di situ tiba-tiba saja berujar,

“Jam segini kok baru sampai, Mas?” tanyanya entah sekadar basa-basi atau memberi semacam ‘peringatan’.

“Iya, Mas, tadi sibuk,” jawab Irul sekenanya sambil memasang senyuman nanar.

Mas-mas petugas itu membalas dengan senyum tipis lalu menyodorkan kertas lalu berkata, “Ini karcis parkirnya, Mas.”

Sesudah membayar parkir, kami mampir di masjid desa itu yang kebetulan searah dengan jalur puncak untuk melaksanakan salat Isya’ sembari mengisi air di beberapa botol kosong yang sudah kami bawa sejak awal untuk persediaan di atas nanti.

Kira-kira pukul setengah sepuluh malam, pendakian pun dimulai. Kami berjalan santai dan tidak terlalu ngoyo sambil mengobrolkan hal-hal yang sebetulnya tidak penting—lagi pula hanya untuk mengisi kekosongan. Beruntungnya di sini masih ada sinyal walaupun sedikit sehingga kami sempatkan mendengarkan beberapa lagu agar tidak bosan. Sesekali kami berhenti sejenak beristirahat dan mengisap sebatang-dua batang rokok. Baru setelah dirasa cukup, kami melanjutkan pendakian.

Setelah menempuh kira-kira setengah perjalanan, kami kemudian melihat dua buah makam di tepi jalur pendakian. Kedua makam itu bersebelahan. Kenapa tiba-tiba ada kuburan? pikirku. Dari sini perasaanku mulai tidak enak. Rasanya aku sangat ingin mengeluh dan protes kenapa tidak diberitahu sejak awal kalau ada makam di sini.

Ditambah lagi tampak ayunan lusuh yang menggantung di pohon besar tepat di samping makam itu—yang tentu saja menambah suasananya jadi makin tidak mengenakkan. Namun aku berusaha berpikir positif dan berharap semoga tetap aman-aman saja; tidak terjadi sesuatu yang ‘mengerikan’.

Berpose di Gunung Argo

Kami lantas meneruskan pendakian hingga tidak terasa ternyata sudah sekitar jam dua belas malam dan jalur pendakian mulai curam, pertanda puncak sudah dekat. Jadi kami memutuskan untuk beristirahat agak lama, sekitar 15-20 menit, sembari ngudud dan bersenda-gurau kecil. Sesudahnya, kami kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya kami sampai di puncak sekitar pukul setengah satu dini hari. Dihitung-hitung, perjalanan dari basecamp hingga sampai di puncak menghabiskan waktu 3 jam.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kami pun segera mengambil beberapa gambar menggunakan ponsel kami masing-masing dibantu dengan senter milik Irul yang dibawanya. Maklum saja, malam-malam begini di puncak gunung tentu sangat minim cahaya. Selesai berfoto-foto, kami pun mendirikan tenda.

Kami hanya membawa satu tenda single layer yang sebenarnya untuk kapasitas dua orang tapi kami tempati bertiga. Tak apalah, lagi pula suhunya juga tidak terlalu dingin. Sesudah tendanya jadi, aku bertanya pada dua temanku itu,

“Mau pada buat kopi dulu apa langsung tidur?”

“Tidur aku, Zul. Lempok,” jawab Arifin.

“Kalau mau langsung tidur nggak apa-apa, Rif, aku tak ngopi dulu. Perutku juga lapar. Mau goreng-goreng nugget juga kayaknya seru,” sahut Irul.

Karena belum terlalu capek, aku pun ikut si Irul menyeduh kopi dan menggoreng beberapa potong nugget. Baru setelah kopi dan nugget selesai kami nikmati, segeralah kami tidur dengan niat bangun pagi untuk melihat sunrise.

Sekitar pukul lima pagi, kami bertiga sudah terjaga kemudian bersiap sembahyang Subuh lebih dulu. Baru setelah itu, kami mencari beberapa titik yang kami anggap bagus untuk berfoto-foto lagi. Tampak juga ada beberapa monyet yang bersembunyi di balik pohon-pohon. Dapatlah kami jepretan-jepretan yang lumayan.

Menuju puncak

Saat matahari mulai terik, kami kembali ke tenda untuk membuat sarapan. Sesudah jadi, kami nikmati hasil masakan kami sendiri sambil berbincang-bincang mengobrol ke sana ke mari; tidak jelas juntrungannya. Tapi suasana seperti inilah yang membuat kami betah di gunung. Tenang, damai, dan nyaman. Waktu tiba-tiba menunjukkan sekitar pukul setengah sembilan dan ternyata makanan kami masih tersisa namun tidak ada dari kami yang bersedia menghabiskan. Jadi kami berikan saja pada gerombolan monyet yang sepertinya memang menunggu sisa makanan kami.

Sebenarnya aku juga cukup kaget kalau di sini masih banyak monyet yang berkeliaran. Tapi tidak apa-apa juga. Mereka tidak mengganggu. Kami lalu mengemasi tenda dan membersihkan sampah-sampah. Seperti semboyan petualang, jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak, jangan mengambil apa pun kecuali gambar, jangan membunuh apa pun kecuali waktu. Akhirnya kami pun turun.

Seperti saat naik, kami turun sambil mengobrolkan sesuatu yang receh dan mendengarkan lagu-lagu. Sesekali kami bertemu beberapa warga sana yang sedang mencari pakan untuk ternak mereka.

“Mari, Pak,” kataku ketika berpapasan.

“Iya, Mas, monggo,” jawab mereka dengan senyuman hangat dan khas.

Namun ketika sudah dekat dengan basecamp, Arifin tiba-tiba menegurku,

“Zul!” panggilnya dengan raut wajah serius.

Ada apa si Arifin kok tiba-tiba begitu? tanyaku dalam hati. Belum sempat aku menjawabnya, dia langsung menyodorkan pertanyaan,

“Kamu ingat saat kita terakhir istirahat di jalur yang hampir sampai puncak itu, Zul?”

“Iya. Kenapa, Rif?”

“Semalam itu ada pohon pisang di belakangmu. Daunnya itu bergerak-gerak sendiri lho, Zul, padahal tidak ada angin,” kata Arifin sambil mencontohkan gerakan daun itu dengan tangannya. “Pohon-pohon di sekitarnya juga diam semua,” sambungnya.

“Ah, serius kamu?” sanggahku agak tidak percaya.

“Iya, Zul. Aku semalam juga melihatnya,” sahut Irul menyela.

Seketika kami terdiam dan percakapan kami akhiri sampai situ saja sambil tetap berjalan turun. Berarti benar kata Arifin, gumamku dalam hati. Kata orang-orang, pohon pisang memang salah satu tempat yang disukai pocong. Kalau saja semalam si Arifin langsung memberitahu kami, pasti pendakiannya jadi berantakan. Untung saja dia baru bercerita ketika sudah hampir tiba di bawah. Alhamdulillah. [T]

Rembang,  April 2021.

Tags: Gunung ArgoJawa TengahMendaki Gunungpecinta alamperjalananpetualangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggung Seni Tradisi | Okokan Nangluk Merana di Tanah Lot

Next Post

Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

A. Zulfa Muntafa

A. Zulfa Muntafa

Lahir pada 29 April tahun 2000 di Kemadu—Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Beberapa karyanya sudah pernah dimuat di Kompas, tatkala.co, blog Ismaro Tuban, situs Cerpenmu.com, dan beberapa media digital lainnya. Saat ini, penulis berstatus sebagai mahasiswa di program studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Walisongo Semarang.

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

Misteri “Tapa Mentas” di Nusa Penida | Mitos atau Fakta?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya mengucapkan selamat kepada IGA Darma Putra yang telah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Prancis. Selamat...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co