7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 24, 2021
in Cerpen
Si Ayam Betina Merah | Cerpen Florence W. Williams

Ilustrasi Florence W. Williams dari buku aslinya dan diolah oleh Juli Sastrawan

  • Cerpen Florence W. Williams
  • Diterjemahkan dari dari Old English Folk Tales oleh Juli Sastrawan
  • Ilustrasi oleh Florence W. Williams

____

Si Ayam Betina Merah tinggal di sebuah lumbung. Dia menghabiskan hampir seluruh waktunya berjalan-jalan di sekitar lumbung untuk mencari cacing. Dia sangat menyukai cacing yang gemuk dan lezat dan baginya, cacing sangat penting untuk kesehatan anak-anaknya. Seringkali ketika menemukan sebuah cacing dia akan berseru.

“Kok-kok-petok!” kepada anak-anaknya. Ketika sudah berkumpul, dia akan membagikan potongan makanan terenak itu dari paruhnya.

Si kucing biasanya tidur dan bermalas-malasan di pintu gudang, dia bahkan tidak repot-repot menakut-nakuti si tikus yang berlarian kesana kemari. Begitu pula si babi yang tinggal di dalam kandangnya—dia tidak peduli apa yang terjadi selama dia bisa makan dan menjadi gemuk.

Suatu hari si Ayam Betina Merah menemukan biji. Itu adalah Biji Gandum, tetapi si Ayam Betina Merah begitu terbiasa dengan serangga dan cacing sehingga dia mengira ini adalah jenis daging yang baru dan mungkin sangat lezat. Dia menggigitnya dengan lembut dan menemukan bahwa rasanya sama sekali tidak mirip cacing meskipun bentuknya panjang dan ramping, si Ayam Betina Merah mungkin mudah tertipu oleh penampilannya.

Dia membawa biji itu dan bertanya-tanya. Dia menemukan itu adalah Biji Gandum dan, jika ditanam, akan tumbuh dan ketika matang bisa dibuat menjadi tepung dan kemudian menjadi roti.

Saat dia menemukannya, dia tahu itu seharusnya untuk ditanam. Dia begitu sibuknya berburu makanan untuk diri dan keluarganya, tentu saja, dia pikir dia tidak seharusnya meluangkan waktu untuk menanamnya.

Jadi dia memikirkan si babi—yang suka bengong dan si kucing yang tidak punya pekerjaan, dan si tikus gendut dengan jam-jam kosongnya, dan dia berteriak:

“Siapa yang akan menanam benih ini?”

Tapi si babi berkata, “Bukan aku,”

dan si kucing berkata, “Bukan aku,”

dan si tikus berkata, “Bukan aku.”

“Baiklah,” kata si Ayam Betina Merah, “Aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Kemudian dia melanjutkan tugas hariannya melalui hari-hari musim panas yang panjang, sambil menggaruk-garuk mencari cacing dan memberi makan anak-anaknya.

Si babi menjadi gemuk,

dan si kucing menjadi gemuk,

dan si tikus menjadi gemuk,

dan gandumnya tumbuh tinggi dan siap untuk dipanen.

Suatu hari si Ayam Betina Merah kebetulan melihat gandumnya sudah besar dan ternyata bijinya juga sudah matang, jadi dia berlari ke sana kemari sambil berteriak dengan cepat: “Siapa yang akan memotong gandumnya?”

Si babi berkata, “Bukan aku,”

Si kucing berkata, “Bukan aku,”

dan si tikus berkata, “Bukan aku.”

“Baiklah,” kata si Ayam Betina Merah, “Aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Dia mengambil sabit dari peralatan-peralatan petani di gudang dan mulai memotong semua gandum yang besar. Di atas tanah tergeletak gandum yang telah dipotong dengan rapi, siap untuk dikumpulkan dan diirik, tetapi anak ayam yang paling baru, paling kecil dan paling berbulu halus “mengintip-intip” dengan bersemangat, menyerukan kepada dunia luas, terutama pada ibunya, bahwa ibunya mengabaikan mereka. Si Ayam Betina Merah yang malang! Dia merasa sangat bingung dan hampir tidak tahu ke mana harus berpaling.

Perhatiannya terpecah antara tugasnya untuk anak-anaknya dan tugasnya pada gandum, yang membuatnya merasa bertanggung jawab. Jadi, sekali lagi, dengan nada penuh harapan, dia berseru, “Siapa yang akan mengirik gandumnya?” Tapi si Babi, sambil mendengus, berkata, “Bukan aku,” dan si kucing, sambil mengeong, berkata, “Bukan aku,” dan si tikus, dengan mencicit, berkata, “Bukan aku”. Si Ayam Betina Merah, harus mengakui, sedikit putus asa, berkata, “Baiklah, aku saja, kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Tentu saja, dia harus memberi makan anak-anaknya dulu, dan ketika mereka semua sudah tertidur untuk tidur siang, dia pergi keluar dan mengirik gandum. Kemudian dia berseru: “Siapa yang akan membawa gandum ke penggilingan untuk digiling?”

Membalik punggung mereka dengan gembira, si babi berkata, “Bukan aku,” dan si kucing berkata, “Bukan aku,” dan si tikus itu berkata, “Bukan aku”.

Si Ayam Betina Merah yang baik tidak bisa berbuat apa-apa selain berkata, “Baiklah, aku saja kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Sambil membawa karung gandum, dia berjalan dengan susah payah ke pabrik yang jauh. Di sana dia memesan gandum yang digiling menjadi tepung putih yang indah. Ketika penggiling membawakan tepung untuknya, dia berjalan perlahan kembali ke lumbung miliknya sendiri.

Dia bahkan berhasil mengatur semuanya, lepas dari bebannya, menangkap cacing lezat dan menyisakan satu untuk anak-anaknya ketika dia bertemu mereka. Bola bulu kecil itu sangat senang melihat ibu mereka datang. Untuk pertama kalinya, mereka sangat menghargainya.

Setelah hari yang sangat berat ini, dia beristirahat lebih awal dari biasanya—bahkan sebelum warna-warni muncul di langit untuk menandai terbenamnya matahari, jam tidurnya yang biasa.

Dia ingin tidur larut di pagi hari, tapi anak-anaknya, bergabung dalam paduan suara pagi di kandang ayam, mengusir semua harapan akan kemewahan itu. Bahkan ketika dia mengantuk dengan setengah membuka satu matanya, di benaknya terpikir bahwa hari ini gandum harus, entah bagaimana caranya, dibuat menjadi roti.

Dia tidak terbiasa membuat roti, meskipun, tentu saja, siapa pun bisa membuatnya jika dia mengikuti resep dengan hati-hati, dan dia tahu betul bahwa dia bisa melakukannya jika perlu. Jadi setelah anak-anaknya diberi makan dan dibuat tampak manis dan segar untuk hari itu, dia menemui si babi, si kucing dan si tikus. Masih yakin bahwa mereka pasti akan membantunya suatu hari nanti dia bertanya, “Siapa yang akan membuat roti?”

Si Ayam Betina Merah yang malang. Sekali lagi harapannya pupus. Si babi berkata, “Bukan aku,” dan si kucing berkata, “Bukan aku,” dan si tikus itu berkata, “Bukan aku”.

Si ayam merah kecil berkata sekali lagi, “Baiklah, aku saja kalau begitu.” Dan dia melakukannya.

Merasa bahwa dia mungkin tahu sepanjang waktu bahwa dia harus melakukan semuanya sendiri, dia pergi dan memakai celemek baru dan topi juru masak yang bersih. Pertama-tama dia mengatur adonan, sebagaimana mestinya. Ketika tiba waktunya dia mengeluarkan papan cetakan dan loyang, membentuk roti, membaginya kecil-kecil, dan memasukkannya ke dalam oven untuk dipanggang. Si kucing duduk dengan malas, terkekeh dan cekikikan. Dan tak jauh dari sana, si tikus yang sia-sia membedaki hidungnya dan mengagumi dirinya sendiri di depan cermin. Di kejauhan terdengar dengkuran keras si babi yang sedang tidur.

Akhirnya saat yang luar biasa tiba. Aroma sedap berhembus di atas angin musim gugur. Di mana-mana warga lumbung mengendus udara kegirangan.

Si Ayam Betina Merah berjalan dengan cepat menuju sumber dari semua kegembiraan itu. Meskipun dia tampak sangat tenang, pada kenyataannya dia hanya bisa dengan susah payah menahan dorongan untuk menari dan bernyanyi, sedikit heran bahwa dia adalah orang yang paling bersemangat di lumbung ini! Dia tidak tahu apakah roti itu cocok untuk dimakan, tetapi—dia begitu gembira!—Ketika roti cokelat yang indah keluar dari oven, roti itu matang dengan sempurna.

Kemudian, mungkin karena dia telah terbiasa, si Ayam Betina Merah berseru:“Siapa yang akan makan Roti?”

Semua hewan di lumbung melihatnya dengan lapar dan liur mereka menetes.

Si babi berkata, “Aku mau,”Si kucing berkata, “Aku mau,”Si tikus berkata, “Saya mau.”

Tapi si Ayam Betina Merah berkata,“Tidak, kalian tidak mau. Aku saja.” dan dia melakukannya. [T]

Tags: CerpenCerpen Terjemahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kerajinan Logam Kotagede: Masa Lalu dan Masa Kini

Next Post

“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

“Jaja Sengait” dan Gula Pedawa | Dan Hal Lain yang Bertautan dengan Pohon Aren

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co