4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Nyerod” ke Desa dan “Culture Shock” yang Menyenangkan || Catatan 2 Tahun Pernikahan

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
December 21, 2020
in Esai
“Nyerod” ke Desa dan “Culture Shock” yang Menyenangkan || Catatan 2 Tahun Pernikahan

Catatan Dua Tahun Pernikahan - Candra Puspita Dewi

Ini kisah suka-cinta dan suka-cita. Dua tahun lalu aku menjatuhkan pilihanku pada seorang lelaki baik. Dia berasal dari sebuah desa di tengah Pulau Bali, lebih tepatnya di sebuah desa di Kabupaten Tabanan. Aku sendiri, secara lahiriah, berasal dari keluarga urban yang tinggal di wilayah perkotaan.

Desa dengan letak yang tak terlalu tinggi, tapi udara dingin sudah bisa dirasa tiap kali aku datang ke sana waktu masih pacaran dulu. Sejak pacaran pun aku sudah mengalami semacam gegar budaya alias culture shock. Apalagi, aku (tentu bukan atas kemauan sendiri), lahir dari keluarga berkasta — sebuah istilah yang kerap membuat aku risih.

Tapi, gegar budaya itu, awalnya membauat saya cemas juga. Tapi setelah menikah, apa-apa yang saya cemaskan ternyata membuat suka-cita alias menyenangkan, meski kadang-kadang menciptakan perasaan aneh juga.

Menikah “Nyerod”

Tanah di desa tempat ia tinggal selalu lembab. Sehingga cocok dijadikan lahan pertanian. Maka tak heran sebagian orang di desa ini memanfaatkan lahan warisan mereka untuk bercocok tanam. Kalaupun ada keluarga yang anggotanya memilih jadi pegawai dan bekerja ke kota, setidaknya tanah warisan milik mereka ditanami pohon singkong dengan alasan agar tidak ruwet. Tak perlu ditengok setiap hari. Tak perlu disemprot penghilang hama. Setelah ditaman, pohon singkong boleh ditinggal dan  pasti akan tumbuh begitu saja dengan mandirinya.

“Biar tidak bet aja, Luh. Kalau bet, takutnya lahan warisan ini jadi sarang ular.” Begitu kata salah satu warga yang seluruh anggota keluarganya jadi pegawai negeri. Bet bisa diartikan sebagai semak-belukar.

Dulu waktu baru-baru menikah, orang-orang desa selalu menyapaku dengan sebutan halus, “Gek”, “Yugek.” Berbicara padaku juga dengan bahasa bali halus. Aku merasa kurang pantas dihalus-haluskan macam begitu. Padahal mereka lebih tua dariku. Dalam benak aku bertanya seperti ini, “Bukannya mereka lebih tua? Harusnya aku yang berbicara penuh santun pada mereka.”

Tapi memang begitu peraturan berbicara di desa ini. Aku memang lahir dari garis keturunan Gusti. Tapi aku menikah dengan lelaki tak satu kasta denganku. Jadi aku pergi menikah. Istilah Bali-nya “nyerod”, sebuah istilah yang membuatku selalu rishi dan geli jika mendengarnya.

Nah, padahal aku menikah nyerod. Artinya, setelah menikah, kini aku sudah setara dengan mereka bukan? Tapi mengapa aku masih dihalus-haluskan macam begitu, seperti saat sebelum menikah.

Suatu ketika kuberanikan diri melarang orang-orang memanggilku dengan sebutan halus. “Yeeeeeeeeh, ternyata Gek. Kukira siapa. Malah kupanggil-panggih Luh.” Kata salah satu warga desa.

Aku paham maksudnya, meminta maaf meskipun tak ada terucap kata maaf dari bibir salah satu warga desa itu.

“Panggil Luh juga tak apa, Buk. Saya kan memang seorang perempuan.”

Orang-orang sini biasa menyebut anak perempuan tak berkasta dengan sebutan “luh”. Kata “Luh” memiliki arti seorang anak perempuan. Dari larangan itu, aku berharap tak lagi ada warga desa yang takut memanggil aku “Luh”. Tapi jika kupikir-pikir, apa yang salah dengan sebutan “Luh” jika “Luh” bermakna perempuan? Jelas-jelas aku ini perempuan.

Pernah suatu pagi saat aku belanja bubur kuah ala-ala desa untuk sarapan. Salah seorang warga desa yang juga belanja bubur kuah bermaksud baik menyapaku. “Meli bubuh mase, Luh?” Artinya, “Membeli bubur juga, Luh?”

Lalu empat warga desa lainnya tak segan menegur warga desa yang punya niat baik menyapaku waktu itu. “Weeee, siapa yang kamu sebut Luh itu? Ngawur kamu. Mantu Mangku Dalem itu.”

Aku kadang tak enak hati. Karena aku, orang lain jadi kena marah. Dan jadi dianggap tak santun. Padahal aku sendiri tak merasa jadi rendah ketika orang lain memanggilku dengan sebutan Luh. Tapi begitulah, aturan tentang penyebutan nama memang dianggap serius di desa tempatku menikah ini.

Menyebut Nama-nama

Berkaca dari sana, aku jadi ikut berhati-hati menyapa orang yang datang ke rumah. Kadang aku sampai tak berani menyapa lebih dulu. Kutunggu sampai suami atau mertuaku menyapa terlebih dahulu orang yang datang ke rumah kami itu. Agar tak salah aku menyebut namanya. Panggilan nasional, semacam ibu dan bapak tak bisa kugunakan untuk menyetarakan semua orang di desa ini. Nama mereka harus kupanggil sesuai derajat. Seperti Tubiang, Tuaji, Tuniang, Tukakiang, Jero, Mekel. Jika sudah kuketahui sebutan orang yang datang ke rumah, barulah aku bisa memutuskan bahasa apa yang boleh kupergunakan untuk mengobrol dengan mereka.

Menantu baru sepertiku memang harus banyak belajar. Perkataan yang keluar dari mulutku benar-benar kujaga. Tak ada yang mengharuskanku untuk berprilaku sebaik-baiknya. Tapi status sosial keluarga tempatku menikah menyadarkanku dengan sendiriku bahwa nama keluarga yang sudah baik sejak zaman dulu ini tak boleh jadi rusak karena kedatangan perempuan dari luar macam aku.

Keluarga tempat kumenikah memang bukan kalangan orang kaya. Atau pejabat. Tapi dalam lingkup desa, berada pada garis keturunan pemangku Pura Dalem saja sudah bisa jadi tekenal. Sehingga menjaga prilaku dan perkataan menjadi PR buat kami yang merupakan keturunannya atau keluarganya.

Suatu hari kudapati orang-orang berkerumun di warung makan milik mertuaku. Mereka saling berbagi isu terbaru. “Kasian Pan Kobar. Mantu Pan Kobar bilang bahwa dia merasa tidak diberlakukan secara adil. Padahal, segitu baiknya Pan Kobar kepada menantunya, tetapi masih saja salah.”

Atau tentang hal lain, “Mantu Men Madya sing bise metakon.” Sing bise metakon dalam artian tak mau menyapa atau tak bisa sekadar basa-basi menawarkan makanan saat ada orang datang ke rumah.

Dan pernah suatu ketika aku sakit panas dalam. Mertuaku mencarikanku daun kepiduh atau daun piduh-piduh. Kalau dibahasaindonesiakan, aku tak tahu apa namanya. Lalu besok paginya ketika aku beli sayuran di warung utara rumah, orang-orang yang berbelanja di sana serentak menanyakan kondisiku. “Yeh, sudah sembuh Luh?”

Aku kaget dari mana mereka bisa tahu aku kemarin sakit. Memang, di desa ini, warung jadi semacam tempat untuk menyebarluaskan isu. Baik isu positif ataupun negatif. Semua hal akan dikuliti. Tak ada yang berkulit di tempat ini. Keterbukaaan jadi semacam karakteristik dari desa ini. Tak ada rahasia di sini. Dari sana aku belajar, sebagai menantu aku harus baik-baik berlaku.

Jadi bagiku, ke warung bukan sekadar tempat untuk belanja saja. Tapi warung juga kujadikan tempat untuk memperkenalkan diri. Sering belanja ke warung membuatku jadi cepat kenal dengan banyak orang. Orang lain juga jadi hapal aku ini siapa dan kami jadi biasa. Aku tak ingin jadi orang asing sendiri, di desa tempatku menikah ini.

Anak-anak Desa yang Bebas Merdeka

Rumah tempatku menikah selayaknya rumah-rumah desa di Bali pada umumnya. Rumah tempatku menikah ini memiliki gerbang tapi gerbangnya tak pernah ditutup apalagi dikunci. Jadi aku tak tahu apa fungsi gerbang ini. Mungkin untuk pajangan saja. Orang desa sepertinya tak takut pada maling. Sehingga siapa saja, terutama  anak-anak tetangga berumur lima hingga delapan tahun datang pulang untuk bermain. Ayah ibu mereka sibuk bekerja memetik bunga pacar dan gemitir.

Anak-anak ini dibiarkan bebas layaknya ayam kampung. Bermain sendirian. Bapak ibu mereka tak takut anaknya tak makan. Sebab nanti pasti akan ada saja tetangga yang suka rela menyuguhkan makanan. Tentu dengan sungguh-sungguh dan bukan sekadar basa basi. Di desa ini anak-anak bermain dengan sangat mandiri.

Sore hari, selepas bekerja, orang tua mereka akan mengunjungi satu per satu rumah warga desa. Dengan tujuan menjemput anaknya pulang karena hari sudah hampir petang, lalu menanyakan apakah anak mereka ada di sana atau tidak. “Putu ada di/ke sini tidak?” Jika tak ada, orang tua mereka tak cemas dan mencari lagi anaknya di rumah warga desa yang lain. Sampai akhirnya ketemu. Dan tahu-tahu mereka mendapati anak mereka sudah mandi dan pulang dengan perut kenyang. “Yuk pulang mandi makan dulu.” Kata salah seorang bapak kepada anaknya. “Sudah mintak nasi di sini Pak. Sama mandi sudah. Dikasik minjem baju di sini,” sahut salah seorang anak kepada bapaknya.

Wajar mereka percaya. Sebab tetangga di desa tidaklah murni tetangga. Meskipun dikatakan tetangga, tapi masih ada hubungan darah meskipun sedikit-sedikit. Tetangga tapi berasa keluarga. Itu lebih baik ketimbang punya kelurga tapi berasa tetangga. Saya jadi membayang masa depan anak saya pasti akan seperti ini juga. Saya yang tak terbiasa pasti akan ditenangkan oleh suami saya.

Menu yang Mengejutkan

Di rumah ini aku tak hanya tinggal bertiga bersama suami dan mertuaku. Ada Nenek suamiku. Aku menyebutnya dadong. Dadong adalah perempuan tua yang meskipun tubuhnya kini renta dan bungkuk, tapi masih kuat memasak. Tiap subuh, dadong akan bangun lalu menuju dapur yang letaknya di teba. Menumbuk berkilo-kilo rempah untuk dijadikan bumbu masakan. Dadong adalah penjual ayam betutu tersohor di desa. Bukan hanya di desa tempatku menikah. Namanya juga dikenal hingga di desa-desa sebelah. Jika hari besar umat Hindu tiba, ratusan potong ayam betutu dipesan pembeli. Agar tak terlalu lelah, Dadong mengajak bibi-bibi yang masih satu keluarga dengan kami untuk bekerja pada dadong.

Dadong tak mencari orang lain untuk dijadikan pegawai. Dia lebih memilih mempekerjakan para perempuan yang masih memiliki tali persaudaraan dengan kami agar tak ada perempuan menganggur di keluarga ini. Dari ide dadong itu, mereka jadi bisa menabung atau sekadar membeli beras dengan jerih payah mereka sendiri. Ada yang bertugas memotong ayam, ada yang bertugas menumbuk bumbu rempah, ada yang khusus menggoreng, ada yang khusus berjualan. Dari teba, perempuan-perempuan yang bekerja bersama dadong ini kepalanya akan memikul berbaku-bakul nasi dan lauk pauk yang baru saja matang dan tentu masih panas untuk di bawa ke warung yang ada di rumah kami.

Jika musim pemilu tiba, ribuan nasi kotak dipesan oleh petugas-petugas TPS yang ada di desa ini dan desa-desa sebalah. Alhasil, perempuan-perempuan di keluarga besar ini sibuk menuntaskan order beribu-ribu nasi kotak itu. Kami tak berani menyebut ini perusahaan ketering sebab cara yang dipakai dadong untuk memasak serta cara berpikir dadong dalam menyajikan makanan masih sangat-sangat tradisional. Tak begitu memikirkan banyak untung. Dadong hanya ingin pembeli senang dan puas saat makan nasi yang dipesan di warungnya. Bahkan tak jarang dadong mengatakan bahwa ia malu kalau-kalau dia terlalu sedikit memberi lauk kepada pemesan-pemesan nasi itu. Jika ada yang order nasi seharga sepuluh ribu, dadong tak mau menerima. Lebih baik ia tak berjualan, katanya. Daripada ia memberikan atau menjual lauk pauk sedikit. Ia malu jika tak bisa memberi lebih. Tapi kalau diberi lebih, dadong yang rugi. Jadi mending dadong tidak usah berjualan sama sekali.

Sepulang aku bekerja dari kota, dadong sangat paham bahwa aku sedang lelah. Dadong pun menghadiahiku dengan pepes katak. “Pesan (pepes) katak di paon.” Dia menunjukkan pepes katak buatannya yang ia simpan dalam rak makanan di dapur. Aku terkejut dengan olahan katak itu. Tapi aku menahan rasa terkejutku agar tak terlalu kentara. Aku tak ingin hati dadong kecewa.

Meski terkejut, dengan antusias aku pun memakannya. Kujumput pesan katak lalu kucampukan di tiap-tiap suapan nasiku. Sambil aku makan, ia akan menceritakan riwayat bagaimana katak itu bisa sampai di tangannya dan dimasak. Sambil mengunyah makanan, aku akan mendengarkan dan manggut-manggut. Kata dadong, ia tak sengaja bertemu dengan Pan Pendra di jalan. Kemudian, Pan Pendra membagi katak yang baru saja ia tangkap di beji beten kangin rumah kami.

Lokasi dan Arah Mata Angin

Awal-awal menikah di desa ini, aku tak tahu di mana itu beten kangin. Rupanya, arah mata angin bukan hanya kaja (utara), kelod (selatan), kangin (timur), dan kauh (barat). Di sini arah mata angin jadi banyak. Bergantung letak kita berada. Ada beten kangin (lokasi lebih rendah di bagian timur), duur kauh (lokasi lebih tinggi di bagian barat), menek kaja (lokasi lebih tingi di utara), beten kelod (lokasi lebih rendah di selatan).

Banyak istilah yang baru kupahami. Aku memang menikah ke desa. Tapi menikah ke desa tak membuatku hidup dengan kemunduran dan terbelakang. Justru aku merasa otakku berkali-kali terisi hal-hal anyar bagiku. Aku sangat khusyuk menikmati riuhnya cara hidup orang desa, tempat aku menikah ini. Berulang kali, jika aku tahu hal baru, aku merasa terlahir kembali. Menikah membuatku lahir berkali-kali. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Next Post

Lontar Keris

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Lontar Keris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co