25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serunya Galungan Kita Dulu

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
September 17, 2020
in Esai
Serunya Galungan Kita Dulu

Penjor Galungan

Hari Raya Galungan kita dulu selalu jadi hari yang menggembirakan. Hari yang kita tunggu-tunggu. Bahkan hati kita sudah merasa berseri-seri sejak beberapa hari menjelang Galungan tiba.

Pada sore hari di waktu Penyajaan,  dengan senang hati kita membersihkan lingkungan, memotong rumput, membersihkan selokan, menyapu sampah dan kotoran sapi dari jalanan.

Dulu kita tumbuh bersama pohon-pohon besar di telajakan rumah. Ada bunut, cempaka, suar, mangga, kutuh, timbul, jaka, sukun, canging, nangka, sentul, juga semak-semak seperti beluntas, base-base, pucuk, pulet-pulet, panggal buaya, dan sebagainya. Di perempatan banjar ada pohon waru. Nah, sampah daun-daun kering dari pohon-pohon itulah kita sapu, kumpulkan, dan bakar. Bersih-bersih lingkungan adalah bagian dari kegembiraan kita menyambut Galungan.

Kita bergotong royong di sekitar rumah masing-masing. Saat itulah jalanan akan diselimuti asap pembakaran sampah. Asap mengepul dan melayang-layang memenuhi jalanan. Suasana senja jadi remang-remang oleh asap dan terlihat seperti lukisan pemandangan desa berkabut dengan bias-bias matahari senja menembus sela-sela pepohonan. Angin pun berbau asap.

Di tengah jalan berasap itu, terlihat samar-samar ayah-ayah kita, seperti Nang Retig, Nang Lama, Nang Ruja, Pekak Rangun, Kaki Kiyer lalu-lalang membawa bambu untuk penjor. Kemudian Nang Geri dari Puaya, datang egoh-egoh membawa blakas dan ambu menuju rumah Pak Suraja. Dari arah utara muncul Pak Pun naik motor mosquito, menerobos asap dan menikung di perempatan banjar terus ngibrit ke arah pasar, kemudian hanya suara sepeda motornya terdengar samar-samar menghilang di kejauhan terbawa angin, trett…tet..tet… ces…ces… treettt….

Habis bersih-bersih kita mandi ramai-ramai di sungai, pakai sabun taluh. Sebelumnya, kita potong rambut di rumah Kaki Lancah. Kaki Lancah punya alat cukur lengkap. Kita berterima kasih kepada Paktut Nuraga dan Sumitra yang mencukur kita. Rata-rata cukur perut. Tapi gunting dan bergasnya tumpul sehingga rambut rasanya seperti dicabut-cabut sewaktu dipotong.

Kita ikut bangun subuh di Hari Penampahan, melihat ayah-ayah kita menyembelih babi, kemudian membantu ngelawar di dapur dan diberi tugas memarut kelapa atau memotong nangka.

Pas Galungan, kita mengenakan baju baru dan memakai senteng. Ibu menemani kita sembahyang di sanggah, makan be balung dan tum. Suasana Galungan sangat terasa.  Rumah dan halaman dipenuhi banten dan canang. Udara pagi diliputi aroma sambuk terbakar dari api takep, juga miik-miikan, wangi dupa dan kemenyan.

Kita akan pergi ke balai banjar. Bertemu teman-teman dengan sepeda masing-masing.  Di garpu depan dan belakang sepeda, kita ikatkan balon dengan menyentuhkannya pada ruji. Saat sepeda dijalankan maka ruji-ruji yang beputar akan menggesek balon sehingga mengeluarkan bunyi berisik, seakan-akan suara sepeda motor.

Kita keliling desa naik sepeda dengan suara bising balon. Maji naik sepeda dengan rem kaki, sedangkan Dwipa, di bagian belakang sepedanya dia pasangi antena yang di ujungnya ada lampu kecil kenyit-kenyit. Tut Dala datang dengan sepeda balap. Gaya sekali dia.

Ada yang pakai sepeda muani atau onthel. Untuk mengendarainya, kita harus menyerongkan badan sambil makilad. Sedangkan yang perempuan, seperti Luh Sri, Demas, Man Gek dan lainnya naik sepede jengki yang ujung setangnya berhiaskan rumbai-rumbai dan boncengannya ada kasurnya.

Merk sepeda terkenal pada masa itu antara lain Releigh, Fongers, Gazelle, Hartog, juga Sim King. Sepeda saya merknya Arjuna, made in India. Rujinya karatan, seluruh catnya luntur sehingga terlihat seperti saang, remnya putus dan tak ada dongkraknya, rantainya berbunyi kriot-kriot. Karena sepedanya besar dan tinggi, saya harus ngelandok atau menggelantung di stang saat mengendarainya.

Mereka yang lebih tua, seperti Bli Lebih, Runding, Nangnik Nendra, Nangnik Sarna, Bli Rinda, Yan Karang, Bli Nganduh dan lainnya main domino di bale daja banjar. Meyan Taman jualan tahu dan sayur kangkung di samping bale kulkul.

Selesai maturan, ibu-ibu kita juga kumpul di balai banjar. Mereka maceki di bale delod. Ada empat-lima pacek cekian. Pemainnya di antaranya Dadong Bontok, Dongkoh, Mengah Sukari, Men Rindi, Dadong Klepon, Meyan Sempok, Dadong Saprig, Meman Musi, Meman Bunter, Metut Gatri, Wetu Baca. Bila sudah agak sore, main cekinya pindah ke pinggir jalan dengan menggelar tikar di bawah pohon.

Itulah satu-satunya waktu bebas bagi ibu-ibu kita setelah sebelumnya sepanjang hari, sepanjang bulan, tenggelam dengan pekerjaan rumah tangga atau berjualan di pasar. Maceki di Hari Raya Galungan adalah kegembiraan bagi mereka. Itu hari sepenuhnya milik ibu. Para suami dan anak-anak tidak akan memasalahkan mereka maceki karena di rumah sudah tersedia makanan. Kalau anak-anak lapar mereka tinggal ambil di dapur tanpa perlu mengganggu ibu yang maceki. Tapi belakangan maceki di Hari Raya Galungan dilarang pemerintah karena alasan moral dan agama.

Dulu, maceki adalah bagian hiburan berhari raya. Ibu-ibu dapat merasakan sedikit kegembiraan. Taruhannya juga kecil-kecilan karena tujuannya memang bukan judi tapi sekadar bersenang-senang. Kalau dirasakan dengan hati agaknya kita bisa menilai maceki di Galungan itu adalah kegiatan yang indah, bukan sesuatu yang buruk. Bahkan mungkin itu bersifat spiritual. Sesuatu yang dilakukan dengan suka cita, enjoi, asyik, sambil makedekan, tanpa dorongan nafsu atau emosi berlebih, serta dapat melegakan kesumpekan, tentu dapat membuat pikiran jadi indah dan mencerahkan secara spiritual, hehe.

Namun, sepertinya tidak akan pernah ada lagi cekian di Hari Raya Galungan untuk ibu-ibu. Orang Bali sekarang sangat-sangat tinggi pengetahuan agamanya, tidak sesederhana dulu. Sekarang banyak yang membaca kitab suci dan lontar, rajin bertrisandya, tekun sembahyang dan ngunggahang daksina, hafal nama-nama dewa dan betara, gemar berdebat tentang Tuhan atau Krishna, sangat mencintai gelang benang tridatu atau nasi wong-wongan. Mereka tentu menolak cekian karena tidak sesuai buku suci, dan maceki adalah judi. Mereka akan mengatakan cekian dapat menodai spirit Galungan yang suci.

Semakin siang, jalan di depan balai banjar kian ramai oleh orang lewat. Semua pakai baju baru. Banyak yang tidak kita kenal. Mereka datang jalan kaki dari desa maupun banjar lain, menuju jaba gria. Di jaba gria adalah pusat keramaian saat Galungan, yang berlangsung selama tiga hari, sampai Pahing Galungan. Di sini ada wahana ayunan jantera atau ayunan tradisional sebagai hiburan utama.

Ayunan ini menggunakan kayu besar sebagai gandar yang bisa berputar, dan masing-masing ujungnya disangga tiang kokoh. Gandar ini memikul sejumlah lengan tempat menggantungkan kursi ayunan. Ada delapan kursi banyaknya. Setiap kursi bisa menampung dua sampai tiga orang.

Perlu petugas bertenaga besar dengan ketangkasan tinggi untuk memutar ayunan. Satu tim pemutar ayunan berjumlah empat orang. Mereka akan secara bergantian memutar ayunan ke depan dan kemudian ke belakang. Sewaktu bekerja, satu tangan mereka akan berpegangan pada tiang, lalu dengan posisi tubuh menyerong, mereka menekan kuat-kuat lengan ayunan secara bergantian dengan kaki. Sedangkan tangan satunya menarik lengan ayunan di depannya. Proses itu dilakukan dalam irama yang tepat dan serempak sampai ayunan berputar seperti jantera dengan kecepatan sesuai yang diinginkan. Ketika sedang beraksi, para pemutar ayunan itu terlihat seperti berjalan di udara, dan tentu saja membuat mereka peluh pidit.

Mereka yang mau naik ayunan harus bayar. Durasi setiap putaran diukur dengan timer dari batok kelapa yang dilubangi bagian bawahnya dan ditaruh di dalam paso berisi air. Kalau batoknya sudah penuh air dan tenggelam berarti waktu putaran ayunan sudah habis.

Setiap Galungan, suasana di jaba gria pasti ramai sekali. Selain ayunan, di sini banyak dagang mainan menjual ngongek-ngongekan, kembang api, tikusan, kemplongan, pistol air, mobil-mobilan kayu, dan bermacam mainan jenis baru. Ada banyak dagang makanan, juga permainan jenis kocokan, plingseran, cabeki dan kobokan. Keramaian di sini berlangsung sampai sore.

Ada Barong Nongkling ngelawang. Mereka masuk ke rumah-rumah dan memukul-mukul pohon-pohon di rumah kita dengan tongkat sebagai doa agar pohon tersebut tetap subur dan berbuah banyak. Kemudian tokoh Tualen bertugas meminta uang pada tuan rumah dengan gaya bertembang “titiang nunasss…” Ada juga Barong Bangkal ngelawang dengan atraksi mengejar anak-anak.

Balai banjar merupakan tempat kumpul kita semua, mulai dari anak-anak hingga orang tua, dengan permainan masing-masing yang asyik di tengah hari raya. Setiap Galungan suasana di balai banjar pasti ramai dan seru. Di sini kita mengumpulkan banyak kenangan indah yang akan terus hidup dalam hati. Galungan sepenuhnya jadi milik kita dan kita merayakannya dengan gembira.

Pada malam hari kita menggantungkan lampu sentir atau lampu templek di setiap penjor. Lampu-lampu yang berjejer di depan rumah di sepanjang jalan jadi atraksi mengesankan kala itu selain dapat memberi penerangan yang cukup bagi mereka yang bepergian merayakan Galungan di malam hari, seperti pergi nonton joged, wayang kulit atau hiburan lain di beberapa tempat. Lampu-lampu di penjor itu nantinya akan mati dengan sendirinya ketika minyaknya habis. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Next Post

Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails
Next Post
Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Magnet - [Cerpen Putri Handayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co