3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Maha Saraswati, Karya Monumental Abad ke-20 – [Refleksi Masa Lalu dan Sumber Inspirasi Menuju Masa Depan]

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
August 5, 2020
in Khas
“I Panti dan I Nganti” – Catatan Tumpek Landep

Cokorda Gde Bayu Putra || Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Dalam beberapa hari ini, berbagai media cukup gencar membahas tentang perkembangan perlawanan beberapa elemen masyarakat Hindu Bali terhadap pergerakan paham Hare Krishna yang masuk ke Bali. Beberapa dalil dan pendapat tidak setuju makin bergeliat melawan paham –paham aliran kepercayaan dari India. Saya tidak masuk dalam ranah mengulas perbedaan Hindu Bali dan Hindu India, namun mendengar Kata “India”, sejenak Saya teringat akan kejadian kedatangan Presiden India pertama (Rajendra Prasad) ke Desa Saya di Ubud pada Tahun 1958 sesuai yang tersirat pada naskah “Geguritan Rajendra Prasad”.

Sebelumnya, Saya perlu mengucapkan terima kasih kepada Saudara Putu Eka Guna Yasa, salah satu Dosen Sastra Bali Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana yang memberitahu dan memperkenalkan Saya dengan “Geguritan Rajendra Prasad”pada saat acara Rembug Sastra Ubud Royal Weekend (URW) dan Puri Anyar Heritage di Musuem Puri Lukisan Ubud pada hari Tumpek Landep tanggal 18 Juli 2020 dengan topik “menggali makna WISATA dalam naskah kuno dan peluang praktis menuju wisata berbasis ketenangan jiwa”. Dan Saya pun ditugaskan oleh Chairman URW untuk memandu jalannya diskusi.

Acara rembug pada sore itu berlangsung cukup santai dengan menghadirkan tiga narasumber, yaitu: Putu Eka Guna Yasa, Tjokorda Gde Bayuputra Sukawati, dan Ida Bagus Purwadita serta dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Bali (Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si). Putu Eka Guna Yasa dalam paparannya mengulas beberapa makna kata Wisata seperti yang tertera pada Tantri Kamandaka, Kakawin Sumanasantaka dan Kakawin Ramayana. Lebih lanjut disampaikannya bahwa spirit Wisata yang mengarah pada ketenangan jiwa sesuai Tantri Kamandaka didapatkan salah satunya pada Telaga (kolam) dengan air yang jernih dan menyejukkan.

Maka, tak heran keberadaan telaga tersebut telah ditangkap oleh insan pengarang Ubud di masa lalu salah satunya melalui Geguritan Rajendra Prasad yang dikarang oleh Tjokorde Gde Ngoerah. Merasa asing mendengar penjelasan Saudara Guna tersebut, langsung saja setelah selesai jalannya diskusi Saya meminta fotokopian Naskah Geguritan tersebut. Terlebih, Saya merasa para Penglingsir di Puri jarang sekali menceritakan tentang adanya Geguritan dengan nama yang sama dengan nama Presiden India di masa lalu tersebut.

Dalam Geguritan Rajendra Prasad tersebut, Tjokorde Gde Ngoerah mengisahkan kedatangan Presiden India (Rajendra Prasad) bersama Presiden Soekarno ke Pura Maha Saraswati (sesuai naskah geguritan Rajendra Prasad) yang lebih dikenal kemudian oleh masyarakat Ubud dengan nama Pura Taman Kumuda Saraswati. Sungguh menjadi terasa sangat spesial lagi, karena Saudara Guna mengutarakan penjelasan Geguritan Rajendra Prasad tersebut tepat pada saat hari Raya Tumpek Landep, yang juga bersamaan dengan hari piodalan di Pura Taman Kumuda Saraswati Ubud.  

Jaba Sisi Pura Maha Saraswati

Pura Maha Saraswati mungkin tidak asing lagi bagi wisatawan mancanegara karena merupakan salah satu tujuan wisata bagi pelancong yang datang ke Ubud selain Monkey forest, Pasar Seni dan Puri Ubud. Oleh beberapa tamu asing, Pura ini sering disebut dengan Lotus Garden atau Kebun Lotus. Ya,,,,!!! mungkin karena areal jaba sisi Pura ini merupakan hamparan telaga (kolam) yang cukup luas dipadati oleh tanaman ‘Lotus”.

Karena indahnya pemandangan kolam dan Candi Pura Maha Saraswati tersebut acapkali wisatawan mengabadikan moment indahnya di Ubud dengan berfoto ria di areal jaba sisi Pura Maha Saraswati. Pura ini terletak di utara jalan, kurang lebih 100 meter kearah Barat dari Catuspata Ubud. Saya belum bisa memastikan kapan Pura ini dibangun, namun dari beberapa analisa dan pandangan para informan, Pura ini diperkirakan selesai sebelum Tahun 1951 oleh Tjokorda Gde Ngoerah bersama para seniman dan undagi Ubud kala itu.

Dalam kunjungannya dihari ketiga tanggal 16 Desember 1958, Presiden India (Rajendra Prasad) diceritakan disambut dengan gegap gempita di Ubud. Jalanan protokol di Ubud dihiasi penjor di kanan kirinya. Memasuki areal jaba pura, Presiden Rajendra Prasad dan Presiden Soekarno disapa dengan pagar betis para yowana dari Ubud, Gianyar, Payangan, Blahbatuh disertai dengan lemparan bunga yang harum menuju tempat “banten byakaon”. Banten byakaon yang berada dihadapan kedua Maha Mulya tersebut digunakan untuk memohon kekuatan Sang Hyang Agni agar segala perilaku terhindar dari hal-hal yang tidak baik atau yang membahayakan. Suara pancoran air telaga begitu ramai bersuara seakan turut menyambut para tamu yang hadir.

Di Utama Mandala Pura Maha Saraswati, Pendeta Siwa dan Budha menghaturkan puja kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta memimpin jalannya persembahyangan para tamu dan masyarakat yang hadir. Presiden Soekarno dan Presiden Rajendra Prasad sangat terkesan dengan penyambutan dan keindahan Pura Maha Saraswati. Keduanya dipercikan tirtha dan diberikan kenang-kenangan dua buah emas berbentuk teratai.  Selanjutnya, setelah selesai upacara penyambutan di Pura Maha Saraswati, pimpinan kedua negara beserta rombongan menuju Museum Puri Lukisan Ubud dan selanjutnya disambut oleh Tjokorda Gde Agung Soekawati.

Utama Mandala Pura Maha Saraswati

Tjokorde Gde Ngoerah (wafat 1 Januari 1967 di Puri Agung Pesaren Kauh Ubud) terlahir sebagai seorang  yang mulititalenta. Beliau turut merasakan perjuangan membesarkan Ubud melalui beberapa kali peperangan bersama-sama dengan keluarga dan masyarakat pada era 1880-1900. Dalam situasi sulit setelah Gempa 1917 yang melululantahkan Ubud, Beliau dipercayai oleh Punggawa Tjokorda Gde Soekawati menjadi arsitek Pembangunan Kembali Kori Agung Puri Ubud bersama Gusti Ketut Sedahan, Gusti Njoman Lempad, dan Nang Kranjit. Pura Maha Saraswati yang disebutkan sebelumnya juga salah satu Karya arsitektur terbaik Beliau yang mencerminkan wujud bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Dewi Saraswati yang telah menuntun dalam berkesenian dan berkehidupan. Arca Dewi Saraswati di utama mandala Pura Maha Saraswati menyiratkan pesan bahwa Tjokorda Gde Ngoerah merupakan pemuja Saraswati yang taat.

Geguritan Rajendra Prasad hasil karya Tjokorda Gde Ngoerah dengan sangat detail menjelaskan masing-masing Palinggih yang terdapat di Utama Mandala Pura Maha Saraswati. Jajar sebelah timur terdapat Padma Agung Merong Tiga yang menjulang tinggi, stana memuja kebesaran “Sang Hyang Tiga Pasupati”. Palinggih “Padma Agung” tersebut diapit “Meru Tumpang Tiga” penyawangan “Ida Hyang Bhatara Goa Lawah” dan “Ida Hyang Bhatara Uluwatu”. Sebelah Kaja Kangin berdiri Bale Pesamuhan Ida Bhatara pada saat pujawali atau piodalan berlangsung. Di Sisi Utara terdapat dua palinggih Ratu Sedahan Nglurah mengapit “Gedong Ageng”. Ratu Sedahan Nglurah tersebut sebagai penjaga areal wewidangan Pura. Uniknya lagi, terdapat pula satu buah patung berukuran besar berwajah seram di utama mandala beratapkan dari Kayu Kemoning stana “Jero Gde Nusa-Bhuta Raja Nusa Pati”.

Pura Maha Saraswati yang dikenal juga dengan sebutan “Pura Langon” ini diempon oleh keluarga Puri Ubud serta merupakan sungsungan masyarakat Ubud sesuai yang termuat dalam awig-awig Desa Adat Ubud. Dalam perjalanannya, selain sebagai saksi sejarah penyambutan Presiden Soekarno dan Presiden Rajendra Prasad pada 16 Desember 1958, tercatat juga beberapa kali Upacara Besar pernah dilaksanakan di Pura Maha Saraswati tersebut seperti: Karya Maligia pada tanggal 25 Juli 1951, Karya Mamungkah 11 April 1953, Karya Piodalan Mapedudusan 1 Oktober 1960, dan yang terakhir Karya Agung Dirgayusa Bumi Mamungkah Ngenteg Linggih Tawur Agung Pedanan pada tanggal 21 September 2002. 

Aling-Aling utama mandala

Tags: kebudayaanPura Maha Saraswati UbudUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dalem Melanting di Pulaki, Dewi Melanting di Pasar-Sawah-Kebun: Apa Bedanya?

Next Post

Kegilaan Bersepeda dan Sampah yang Semakin Berserakan

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Kegilaan Bersepeda dan Sampah yang Semakin Berserakan

Kegilaan Bersepeda dan Sampah yang Semakin Berserakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co