31 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sosok di Utara Pemrajan Agung Ubud

Cokorda Gde Bayu Putra by Cokorda Gde Bayu Putra
July 4, 2020
in Khas
Sosok di Utara Pemrajan Agung Ubud

Foto dok penulis

Ubud sore itu terlihat cukup cerah. Tampak Penglingsir Puri, Ida Pedanda, Tetua Desa, dan beberapa penggiat sastra mendatangi Puri Anyar Ubud yang terletak disebelah utara Pemrajan Agung Ubud. Jam menunjukkan tepat Pukul 15:30 WITA, tampak semua yang hadir bersiap-siap untuk memulai suatu acara. Ya,,,,Hari itu, Kamis 2 Juli 2020 dilangsungkan acara “Rembug Sastra” membedah Lontar Catur Yuga yang diselenggarakan atas kerjasama Ubud Royal Weekend dengan Puri Anyar Heritage. Situasi Pandemi Covid-19 memang memaksa penyelenggaraan acara rembug tersebut tidak bisa dihadiri oleh banyak orang sesuai dengan aturan Pemerintah. Oleh karenanya, acara tersebut dikemas live oleh beberapa akun media sosial, agar khalayak luas dapat turut berpartisipasi menyaksikan jalannya acara dari rumah masing-masing. Narasumber pada acara tersebut adalah Ida Pedanda Gde Putra Bun dari Griya Keniten Dukuh Agung, Jukutpaku, Singakerta dan Tjokorda Raka Kerthyasa selaku Bandesa Desa Adat Ubud sekaligus pemegang naskah Lontar Catur Yuga tersebut. Acara dibuka langsung oleh Penglingsir Puri Agung Ubud (Tjokorda Gde Putra Sukawati) dan dipandu langsung oleh moderator rembug yaitu Ida Bagus Oka Manobhawa dari Griya Peling Padangtegal Tengah.

Dari beberapa peserta yang hadir terlihat cukup antusias dengan jalannya acara rembug sastra yang bertempat di Puri Anyar Ubud tersebut. Berbicara mengenai Puri Anyar Ubud sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sastra di masa lalu. Berawal dari sosok yang dikenal dengan nama “Tjokorda Gde Rai Rengu”, putra dari Ida Tjokorda Gde Oka (penasehat Punggawa Besar Ubud dahulu dibidang sastra dan kemasyarakatan dari Puri Saren Kauh Ubud) yang merupakan cikal bakal adanya generasi di Puri Anyar Ubud sampai sekarang. Saya tidak mendapatkan informasi pasti kapan tanggal kelahiran Beliau, namun diprediksi Beliau telah cukup dewasa sejak meletusnya “Perang Negara” (kisaran Tahun 1885-1890an). Sejak kecil Tjokorda Gde Rai Rengu cukup bertalenta dibidang sastra, seni dan kemasyarakatan, sebuah bakat yang diwarisi oleh ayahanda di Puri Saren Kauh. Menginjak remaja, Tjokorda Gde Rai Rengu kadharmaputra atau “diangkat anak” oleh paman Beliau (Ida Tjokorda Gde Raka) yang mendiami Puri di Desa Sayan sekaligus merupakan dinasti pertama Puri Agung Sayan.

Semenjak Kerajaan Gianyar mulai menguasai sedikit demi sedikit wilayah barat yang berbatasan dengan kekuasaan Mengwi, maka secara perlahan Ubud mulai memainkan perannya dengan menempatkan beberapa perpanjangan tangan didaerah tersebut. Terlebih setelah berhasil memukul  mundur pasukan Negara, Ubud secara pasti membangun satelitnya di Desa Sayan dan Ida Tjokorda Gde Raka yang disebutkan sebelumnya berasal dari Ubud (paman Tjokorda Gde Rai Rengu) ditugaskan mendiami “Sayan”. Membangun sebuah dinasti dan mengatur tata kemasyarakatan  di sebuah wilayah yang baru tentu diyakini sangat berat dilakoni oleh Ida Tjokorda Gde Raka. Terlebih “Sayan” sebagai sebuah wilayah perbatasan dipinggiran Sungai Ayung ditempati oleh berbagai eksodus masyarakat saat itu, seperti perpindahan penduduk dari batubulan, dari mas, dari Taro, dari Peliatan, dan beberapa dari daerah Buleleng. Maka ditengah kemajemukan tersebut, peran Tjokorda Gde Rai Rengu sangatlah vital mendampingi Ayah Angkat Beliau di Puri Sayan. Oleh banyak masyarakat, nama Ida Tjokorda Gde Rai Rengu disebut pula dengan Tjokorda Gde Rai Sajan.

Kejadian politik di Mengwi yang selanjutnya berakhir pada penyerangan yang dilakukan Pasukan Badung dan Tabanan kepada Mengwi, menyebabkan banyaknya eksodus (perpindahan) masyarakat dari barat (Mengwi) menjuju ke arah timur. Bahkan menurut beberapa catatan dinyatakan Punggawa Ubud menampung hampir enam ribu masyarakat Mengwi baik di seputaran Kedatuan atau ditempatkan pada daerah daerah di luaran kawasan Jero Kuta Ubud. Padatnya mobilisasi masyarakat pada zaman tersebut di Ubud juga berdampak pada semakin sibuknya aktivitas di pusat Kedatuan di Ubud. Bertambahnya masyarakat dari Mengwi menjadi satu dengan masyarakat yang sudah menetap sebelumnya di Ubud menjadi sebuah kekuatan dalam memajukan Ubud secara bersama-sama.

Dalam upaya membantu beban tugas yang cukup berat diemban Kepunggawaan Ubud di era 1892-1897 utamanya dibidang pencatatan, maka dititahkanlah agar Tjokorda Gde Rai Rengu yang sebelumnya kedharmaputra dan berdiam di Puri Sayan untuk kembali pulang ke Ubud serta menempati sebuah areal kosong persis disebelah utara Pamerajan Agung Ubud yang sampai saat ini dikenal dengan nama “Puri Anyar Ubud”. Perhatian Ida Tjokorda Gde Sukawati (Punggawa Besar Ubud) kepada Tjokorda Gde Rai Rengu tidak saja dalam posisi kedudukan strategis yang diberikan kepadanya selepas meninggalkan Puri Sayan, namun juga perhatian Beliau terhadap bakat dan minat yang Tjokorda Gde Rai Rengu miliki. Mungkin karena memang Tjokorda Gde Rai Rengu berbakat pada dunia sastra, maka beberapa koleksi Lontar yang dimiliki oleh Ida Tjokorda Gde Sukawati diserahkan kepada keponakan beliau (Tjokorda Gde Rai Rengu). Tidak saja itu, Ida Tjokorda Gde Sukawati juga sempat menyekolahkan Tjokorda Gde Rai Rengu di Singaraja. Saya tidak mendapatkan informasi pasti nama Sekolah di Singaraja tersebut. Namun dari penuturan beberapa informan diperkirakan yang dimaksud adalah “Sekolah Kelas Dua” yang khusus diperuntukkan sebagai Calon Juru Tulis zaman itu. Maka oleh beberapa kalangan dahulu, Tjokorda Gde Rai Rengu juga disebut dengan nama Tjokorda Gde Rai Boeleleng.  Sekitar awal Tahun 1931, Tjokorda Gde Rai Rengu juga sempat menjadi Kepala Distrik (Head of District Oeboed) sesuai yang terkutip pada artikel “Reminiscences of A Balinese Prince-Tjokorda Gde Agung Soekawati (1979).

Kori Agung Puri Anyar Ubud

Di bidang seni tari, Tjokorda Gde Rai Rengu juga dikenal cukup piawai. Semenjak mendirikan Puri Anyar Ubud, Beliau sangat aktif dalam pembinaan tari dan tabuh masyarakat di Ubud. Dalam sebuah misi kebudayaan Paris Colonial Exposition Tahun 1931, Tjokorda Gde Rai Rengu atau yang dikenal dengan Tjokorda Gde Rai Sayan juga turut mengisi acara sebagai anggota delegasi kebudayaan pimpinan Tjokorda Gde Raka Soekawati bersama seniman-seniman lainnya seperti: Anak Agung Gde Mandera, I Ketut Rindha, Tjokorda Oka Tublen, Dewa Gede Raka, Tjokorda Anom, Jero Tjandra, dan Ni Rimpeg. Dari beberapa informasi penglingsir, di masanya Tjokorda Gde Rai Rengu cukup piawai menarikan Tarian Sakral “Rangda” saat pertunjukan Calonarang. Memasuki usia senja, kehidupan Tjokorda Gde Rai Rengu dihabiskan pada urusan adat dan keagamaan. Dari penuturan beberapa informan, beberapa Upacara besar (Karya Ageng) di seputaran Sayan dan Kedisan kisaran Tahun 1950-1960 melibatkan peran serta Beliau sebagai Pengrajeg Karya. Pengabdian Beliau kepada masyarakat juga dijalankan melalui keterampilan di Bidang “Usadha”, Itu sebabnya, beberapa naskah lontar Usadha masih tersimpan dengan baik di Puri Anyar Ubud hingga saat ini. Tjokorda Gde Rai Rengu wafat Tahun 1969, berselang setahun kepulangan Kakanda tercintanya yang juga dikenal sebagai “Sastrawan” masa itu bernama “Ida Tjokorda Gde Ngoerah” (Puri Saren Kauh Ubud).

–LER NING PENGASTRIAN AGENG UBUD–

Tags: GianyarPuri UbudtokohUbud
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Setara: Monumen Pandemi Dialog Dini Hari

Next Post

Galung Wiratmaja, Dari Rumah Tetap Berkarya

Cokorda Gde Bayu Putra

Cokorda Gde Bayu Putra

Dosen FEBP Universitas Hindu Indonesia dan mengabdi pada Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud.

Related Posts

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails
Next Post
Galung Wiratmaja, Dari Rumah Tetap Berkarya

Galung Wiratmaja, Dari Rumah Tetap Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Di Ruang Tunggu Kehidupan

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak
Khas

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co