23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketemu Puisi di Jalan #catatanfiksidirumahsaja

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
May 23, 2020
in Cerpen
Ketemu Puisi di Jalan  #catatanfiksidirumahsaja

Ilustrasi foto: Mursal Buyung

Di masa pandemi ini, aku bertemu puisi yang paling muram ia tersungkur di trotoar Jalan Sudirman, Denpasar. Jalan besar yang biasa aku lewati jika berangkat atau pulang bekerja. Karena ia puisi, aku memutar balik motorku hendak menyapanya. Namun apa daya iya tidak mau berbicara sepatah katapun, ia hanya menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan.

“Aku tidak apa-apa, tenang saja, kamu tidak usah khawatir, sebentar lagi kata-kata akan mati kelaparan atau mati karena kesendirian,” katanya

Aku diam saja, tidak berusaha untuk mengganggu atau menanyakan kenapa ia sampai di trotoar ini.  waktu itu Jalan Sudirman cukup ramai, siang yang terik, orang-orang bergegas melaju kendaraannya, lengkap dengan masker anti virus, sebagai upaya utama pencegahan. Selain virus apakah manusia bisa tercegah dari kelaparan, dari rasa berkumpul, dari rasa rindu, bahkan dari rasa kesepian ? pertanyaan yang kadang memang tidak memerlukan jawaban.

Sudah terhitung dua bulan, aku tidak bertemu kawan-kawanku untuk mengobrol panjang perihal apapun. Aku suka mengobrol dan bertemu orang, dari orang-orang aku mempelajari banyak hal, mulai dari menanam cabai agar tumbuh dalam seminggu, mencampur rempah-rempah tertentu dalam menu di warung saat membuat nasi bakar cakalang, mencari jalan keluar saat aku tersesat di layar desktop laptopku, hingga mensiasati kesunyian di kamarku agar ia riang dan bermain HAGO bersamaku. Semua pengetahuan itu dari pembicaraan yang kadang hingga subuh, biasanya ditemani kopi atau arak Bali yang cukup membuat puyeng.

“Jul bagaimana kabar tangan kananmu, apakah ia masih produktif menulis cerpen-cerpen” aku mengontak seorang kawan penulis, Juli Sastrawan, kawan muda yang menelurkan kumpulan cerpen “Lelaki Kantong Sperma”. Hari ini pun sedang berupaya merampungkan manuskrip novel terbarunya.

Pada masa di rumah saja, ia memiliki program Bincang Sastra di Instagram Live, bahkan aku pernah ditodong untuk ngobrol soal ide-ide. Juga sering memoderatori bincang-bincang di dunia maya. Aku sendiri tidak terlalu suka mendengar percakapan di dunia maya, selain karena kantong ku yang cekak untuk membeli kuota internet,  ada yang hilang dari sebuah perbincangan, yakni pertemuan. Padahal manusia selalu mengistimewakan pertemuan, khususnya orang-orang kota sepertiku, yang tumbuh dari sel-sel hiruk pikuk kendaraan, yang berkembang dari derau mesin pembangunan, yang kenyang dari penuh sesak kegiatan-kegiatan di alun-alun kota.

Jul mengabari tidak hanya tangan kanan, seluruh organ tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Sebab mereka sama-sama sedang dalam keadaan kosong, hampa, bahkan lebih parahnya tidak merasa apa-apa. Ia perlu energi dan euforia  pertemuan. Hanya otaknya saja yang sedikit tidaknya mampu bertahan melawan kesepian. Karena itu ia seharian di kamar, menonton banyak film, dan membaca buku-buku yang belum sempat ia baca. Salah satu sutradara favoritnya Hirokazu Kore-eda sutradara film dari Jepang. Jika kawan-kawan melihat di story IG dia lagi ketawa-ketiwi, itu hanya pencitraaan, agar semua orang menganggap diri baik-baik saja.

“Setidaknya dari kelakukanku di dunia maya, ada yang senang, bahkan bisa mengobrol lewat WA, tapi ya begitu, kurang aja rasanya. Eh Jong, aku rasa film-film Kore-eda sangat cocok untuk ukuran orang sepertimu, puitis, melankolis, dan agak platonic,” katanya

Akhirnya aku pun menonton Maborosi salah satu fim Kore-eda. Film yang cukup membuatku berfikir tentang kehidupan menikah yang super ruwet. Bayangkan saja salah satu tokohnya menaiki sepeda di atas rel, lalu menabrakkan tubuhnya dengan sengaja ke kereta yang sedang berjalan. Padahal saat itu ia tengah membesarkan anak mungil yang lucu bersama istrinya.

“Jul mengapa luka selalu kita pendam, kemudian menumpuk, lalu jadi kemarahan, tidak pernah kita ungkapan jadi sesuatu yang indah. jangan-jangan luka itu ingin diterjemahkan dengan cara lain,”

“Buik, sing be ngidang aku nyawab to terlalu filsuf, tanyakan ke Suma saja, dia paham soal begituan, Ngomong-ngomong kau ditanyakan sama mbah Gabo, dia menunggu mu Jong di bab ke tiga, ada yang ingin ia bicarakan kone, soal orang-orang yang tidak kelihatan di rumahmu. Aku lanjut dulu ya, terimakasih sudah menanyakan kabarku, sekarang kumis dan jenggotku lagi berselisih paham, soal siapa yang lebih tua, aku mau menyelesaikan permasalahan mereka dulu,”

Dasar mbah Gabo, bukunya belum sempat kuselesaikan. Itu pun dirokumendasikan oleh Jul, saat aku menjelaskan bahwa selain aku, ternyata ada orang-orang tidak kelihatan yang tinggal di rumah. Saban petang menjaga tidurku, bahkan mereka seringkali mencuri rokok. Kita tidak pernah bertemu dan duduk bersama, sebab aku terlalu takut  untuk mengetahui hal-hal di luar kuasa. Tapi memang sesekali dia duduk disebelahku, namun aku selalu memunggunginya dan menyodorkan rokok, kopi, momogi, wafer atau makanan apapun yang sedang ku bawa.

Oh ya, aku sudah di warung saat ngontak Jul tadi, sekarang lagi menumis sambel serai resep dari mamaku yang diturunkan secara semena-mena. Atau lebih tepatnya aku yang mencuri resep mamaku. Saat ia tengah memasak aku selalu menguntit di belakangnya kemudian mengingat apa yang ia lakukan. Mamaku bukan tipe guru yang baik, kalau mengajariku memasak. Karena ia tidak suka aku yang selalu berimprovisasi terhadap bumbu, aku terlalu lancang soal menambah ini-itu di masakan katanya.

“Ik apakah puisi mampu membuat orang hidup, saat pendemi begini,” tanyaku ke Iin Valentine kawanku satu kelompok teater yang tengah membangun satu program Puisi Awal Minggu melalui kanal Instagram.

“Malah orang-orang hari ini jadi puisi, Jong, mereka jadi kata-katanya sendiri, saling beradu membangun kalimat paling purba yang pernah kita kenal selama ini.”

“Kita tidak bisa bergantung pada puisi, Ik, puisi tidak mampu mengenyangkan, selalu menggelisahkan, tidak ada senangnya, tadi aku ketemu puisi yang sedang terkapar di trotoar.”

“Kenapa kamu seputusasa itu, eh aku juga ketemu dengan puisi terkapar itu, di Sudirman kan, katanya ia sedang membuat orang-orang iba, itu hanya acting.”

“Bajingan… aku ditipu puisi.”

“Eh tahu nggak, yang nanti baca puisi orang-orangnya semakin banyak, ada DPR, ada jurnalis, ada tukang sayur, ada montir, bahkan yang paling lucu ada pilot yang mau baca puisi, daaaaan yang paling keren ada Chairil yang mau baca juga.”

“Gilaa absurd juga, kau udah ketemu Chairil, Ik?”

“Belum sih, tapi dari suaranya memang kayaknya dia keren ci, kemarin dia sengaja menelponku agar namanya bisa dimasukkan dalam program puisi. Senang bukan kepalang aku ini, penyair besar lo itu, maen instagram juga dia yah.”

“Mungkin lagi pansos di skena puisi Bali dia, Ik, agar namanya semakin membumi dan ada di hati orang Bali.”

“Jangan berprasangka buruk, bukankah puisi juga sedang mengkhianati kita, eh aku lanjut siaran dulu yah. Mau ngobrol-ngobrol soal PKM  ni di udara, tertumben Jerink mau ngobrol di radio, tamu special.”

Kami selesai bercakap, aku menghidupkan laptop mencari streaming radio tempat ia bekerja. Sambil meneruskan urusan masak-memasak. Kali ini aku memasak puisi kesedihan agar gurih dan enak dikunyah. [T]

Tags: Cerpen
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Politik Terjemahan dan Kritik Joss Wibisono pada Ben Anderson

Next Post

Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Dari “Metajuk”, Mengenal Lebih Dekat Kultur Agraris Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co