13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Atat Yang Bijaksana #1

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
May 5, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Saya masih Cangak, tapi kadang-kadang dikira perkutut yang manggut-manggut dan manut-manut. Kadang-kadang dikira burung tadahasih yang penuh kasih. Tidak jarang dikira beo yang cuman bisa niru tapi loyo. Padahal saya ingin jadi burung Atat si tukang catat. Bukannya beo itu Atat?

Kenapa tukang catat? Karena sekarang sudah zamannya banyak yang bicara tanpa mencatat, nanti kalau mereka lupa, bagaimana? Makanya perlu ada yang mencatat, mengambil tugas jadi burung peniru segala kata-kata yang dikatakan tuannya. Kalau tuannya sudah mati, catatan bisa dijual nanti.

Ada dua burung Atat dalam cerita Tantri. Soal tekhnik bercerita, jangan lawan Tantri. Ceritanya bisa meluluhkan hati Aiswaryadala yang memang menargetkannya untuk jadi permaisuri. Raja itu tinggal pura-pura jadi bejat, lalu Tantri datang membawa cerita ini dan itu. Raja manggut-manggut, menahan tawa sambil terkentut-kentut.

Tantri merasa jadi wanita paling cerdas, karena sang Raja yang batil itu berhasil disadarkannya hanya dengan cerita. Itu sisi lain yang barangkali jarang dilihat makhluk lain-lain. Melihat dari sisi berbeda selalu ada kurang lebihnya. Jika berhasil, dipuja bagai dewa. Jika gagal, akan dijegal. Seperti ngubuh bebek muani! Selain dapat munyi, juga dapat tai.

Dua burung Atat dalam cerita Dyah Tantri dirawat oleh dua keluarga berbeda. Yang satunya pada keluarga pemburu, yang satunya keluarga pendeta. Beda keluarga, beda suasana. Konon, keluarga pemburu kerjanya hanya membunuh para binatang. Binatang-binatang itu dibunuh untuk dimakan. Pemburu ini bukan vegetarian. Karena mereka tahu, mereka masih punya amarah. Pemarah, masih boleh makan daging. Kalau pemakan tumbuhan, sudah tidak boleh lagi ada dendam, amarah, dengki, iri, ego. Seperti sapi dicambuk terus-terusan, tetap sabar menarik bajak. Kalau belum begitu, makan saja, tapi aharalagawa. Tahu kan aharalagawa? Kalau belum, coba cari tahu sendiri tanpa baca buku panduan.

Karena tiap hari kerjanya membunuh, keluarga pemburu hanya kenal kata potong, bunuh, makan, minum darahnya! Itu terus yang didengar Atat, itu juga yang ditirunya. Tiap ketemu makhluk lain, bicaranya selalu keras ingin bunuh, ingin cincang, ingin makan. Bukan salah Atat, bukan salah keluarga pemburu. Bukan salah dewi kata-kata. Bukankah tiap kata ada betaranya? Jadi siapa yang salah? Kalau pertanyaannya begitu, selamat datang di bumi manusia. Karena hanya manusia yang bertanya tentang kesalahan atau mencari-carinya.

Atat di keluarga pendeta, tiap hari mendengar mantra. Selain mantra, ia juga sering mendengar isi sastra-sastra. Dari sastra tentang kehidupan, sampai sastra tentang kematian. Mantra-mantra itu didapat turun temurun oleh keluarga pendeta. Siapa pembuatnya, tidak bisa dilacak. Menurut keluarga itu, mantra-mantra akan didapat oleh orang-orang yang berhasil mengendalikan indriyanya. Apa saja indriya itu? Jumlahnya ada sepuluh, dikendalikan oleh Raja bernama pikiran. Agar sepuluh indriya bisa dikendalikan, maka harus saling kenal dengan rajanya.

Begitulah tradisi dipegang oleh keluarga pendeta. Tradisi itu pula yang secara tidak sengaja dipelajari oleh si burung Atat. Kemana-mana tradisi itu juga yang diputar-putar olehnya. Dibolak-balik sampai lelah. Makhluk lain yang melihat si Atat, ketawa terbahak bahak sampai keluar dahak.

‘Kamu itu bukan turunan Pendeta, Atat bodoh! Kamu itu burung. Burung yang hinggap di jendela, ngintip gigi ompong kakek yang sudah tua. Jadi, kamu jangan mimpi jadi Pendeta!’. Begitu pakrimik para makhluk yang heran melihat si Atat.

‘Ya, aku ini Atat yang hanya bisa meniru. Tapi aku tidak ingin jadi Pendeta! Jadi Pendeta itu susah. Banyak ujiannya’.

Barangkali Atat tahu kalau tidak mudah jadi Pendeta. Harus ada keistimewaan yang dimiliki sebagai Pendeta yang mumpuni. Kalau disuruh nebak isi telur, harus tahu isinya telur apa. Itu telur ayam, bebek, angsa, atau buaya? Kalau disuruh nebak isi lubang buatan di tanah, harus tahu juga isinya. Jangan-jangan yang bertanya bermaksud menguji. Lubang di tanah diisi Angsa, Pendeta menjawab Naga!

Para penguji yang budiman, pastilah menyediakan jebakan pada tiap pertanyaan. Kalau salah jawab, diketawai para pujangga yang suci, juga para manusia yang mengira dirinya dewa. Itu susahnya. Kecuali mau jadi Pendeta abal-abal. Terus melakukan Sewana, sambil memeriksa isi kantung celana. Jadi Pendeta itu susah. Harus bijaksana. Bagaimana caranya bijaksana?

Entahlah. Otak Cangak saya ini, belum kepikiran. Makanya saya mau jadi Atat si tukang catat. Tugasnya, nyatat-nyatat apa saja yang sudah didapat. Catatan itu nanti jadikan kitab. Pada masa akhir, catatan si Atat akan terus dicari. Oleh mereka yang kepingin sakti, juga mereka yang kepingin mati.

Lihat! Ada jejak burung di langit biru! Itu jejak burung betul, atau hanya ngibul? [T]

Tags: filsafatsastra
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Penyanyi Ope Menggemakan Indonesia Kuat

Next Post

Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

Kelak Pandemi Usai, Kenapa Tidak Solo Traveling?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co