23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Bahasa Bali di Bulan Maret

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
March 5, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Setelah hampir sebulan penuh pada Februari lalu Bali marak menggelar aneka macam kegiatan dalam rangka Perayaan Bulan Bahasa Bali, tibalah kita pada bulan Maret. Bulan usai perayaan. Bulan yang barangkali akan kita lewati dengan biasa-biasa saja. Seperti melewati ulang tahun, esoknya kita jalani dengan rutinitas biasanya. Seperti perayaan pada hari ibu yang kita siapkan sungguh-sungguh, atau upacara kemerdekaan RI yang kita jalani penuh seluruh lalunsetelahnya, kembali kita lewati hari dengan perasaan yang pula bisa-biasa saja. Maka apalagikah yang harus diluarbiasakan di bulan Maret ini, apabila hal-hal di luar kebiasaan kita, semacam Perayaan Bulan Bahasa Bali misalnya, telah purna, usai kita lakukan?

Mungkin karena hakikat perayaan, pesta, festival dan sebangsanya, biasa digelar hanya untuk kepentingan euphoria dalam rangka. Hal-hal yang sebenarnya biasa dilakukan sehari-hari menjadi tampak luar biasa. Yang biasa menggunakan bahasa Bali, menjadi luar biasa memakainya saat perayaan. Yang biasa bekerja pada bidang keaksaraan Bali jadi merasa berdaya guna. Kebiasaan yang diluarbiasakan ini, hadir juga dalam seni teater, contohnya pada proses membangun pemeranan. Sederet watak manusia yang biasa hadir dalam realitas sehari-hari, diobservasi, disadari, lalu direspon oleh para aktor sebagai sesuatu yang luar biasa untuk kemudian dihayati dalam latihan menuju pentas. Sampai titik ini, penyelenggaraan perayaan dan penyelenggarakan teater memiliki kualitas yang sama.Yakni sama-sama membuat hal-hal yang biasa jadi luar biasa. Mewujudkan realitas sehari-hari biasanya, jadi luar biasa di atas panggung pertunjukan dan panggung perayaan.

Menjadi berbeda ketika permainan peran watak manusia yang luar biasa ini mampu hadir sebagai ruang refleksi dalam kehidupan biasa sehari-hari para penontonnya. Dalam teater, ada daya gugah yang terbangun untuk membandingkan watak manusia di atas pentas dengan watak diri sendiri. Ada pertanyaan yang berkecamuk atas situasi yang diperlihatkan dalam panggung pertunjukan dengan situasi nyata sehari-hari. Refleksi menjadi penting kehadirannya karena mampu membuka ruang renung penonton akan realitas hidup yang tengah mereka hadapi. Lalu bagaimana dengan penyelenggaraan Perayaan Bulan Bahasa Bali? Sudahkah segala kegiatan, segala kerja yang dilakukan mampu berperan menjadi ruang refleksi atas realitas yang tengah dihadapi masyarakat dalam konteks bahasa Bali? Sebagai bahasa lokal yang tiap tahun kian berjarak dipakai oleh penggunanya. Hal-hal apa saja yang sudah tercapai? Hal-hal apa yang mesti diperbaiki?

Beberapa pertunjukan teater yang telah digelar sepanjang Februari di Ksirarnawa, Art Centre lalu, boleh jadi merupakan bahan refleksi penting untuk mengidentifikasi kemungkinan potensi, masalah, kelebihan dan kelemahanatas kerja Perayaan Bulan Bahasa Bali tahun ini. Pada pentas kelompok teater SMA misalnya, kita cukup dikejutkan dengan usaha kawan-kawan pelajar menghadirkan teater di luar kebiasaan mereka dengan menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa utama pertunjukan. Beberapa kelompok yang tampil diantaranya adalah Teater Angin SMA N 1 Denpasar yang membawakan naskah Ketemu ring Tampak Siring, Teater Topenk SMA N 2 Denpasar yang membawakan naskah Togog, Teater Tiga SMA N 3 Denpasar dengan naskah Kilang, dan Teater Antariksa SMA N 7 Denpasar memainkan naskah Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang.

Dilihat dari lakon yang dimainkan, bagi para pembaca Sastra Bali Modern tentu sudah tak asing lagi kedengaran. Sebab lakon-lakon ini adalah hasil adaptasi dari karya sastra para penulis Sastra Bali Modern. Naskah Ketemu ring Tampak Siring adalah cerpen karya Made Sanggra, Togog adalah cerpen karya Nyoman Manda, Kilang adalah adaptasi novel Malancaran ka Sasak karya Gde Srawana dan Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang adalah novel karya Djelantik Santha. Pada pentas yang terselenggara, penonton dapat menyaksikan beragam hasil adapatasi yang dipentaskan, mulai dari teater dengan bentuk realis, surealis dan operet.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang menyertai, pentas kawan-kawan teater SMA ini menjadi hal yang luar biasa untuk diapresiasi, karena mampu merespon Sastra Bali Modern menjadi pertunjukan teater berbahasa Bali. Cara kerja adaptasi semacam ini, selain mampu meningkatkan minat baca anak-anak terhadap karya Sastra Bali Modern, juga memungkinkan terjadinya praktik belajar bahasa Bali secara langsung. Bahasa Bali tak hanya dihayati sebagai bagian mata pelajaran yang hadir dalam pembelajaran di kelas, yang cenderung kaku dan membosankan, melainkan menjelma menjadi kebutuhan menggunakan bahasa Bali sebagai media komunikasi antarpemainnya. Pun demikian dengan para penonton yang mau tidak mau mesti terbiasa atau sedikit tidaknya belajar bahasa Bali jika ingin mengerti tentang cerita pentas yang disajikan.

Sayangnya, format pentas yang begitu apik ini tak disertai dengan kerja diskusi karya sastra lebih lanjut. Pentas hanya usai sebagai pentas. Padahal jika ingin dikembangkan, acara bisa dilengkapi dengan diskusi sastra. Mengkaji karya sastra yang telah dimainkan oleh kawan-kawan teater, sembari menghubungkannya dalam konteks pertunjukan. Apalagi beberapa pengembangan naskah dari kelompok teater SMA ini mengalami penyesuaian di sana-sini atas cerita karya sastra yang dimainkan. Hal ini bisa jadi bahan pemantik diskusi. Dalam diskusi ini pula, terbuka pontensi lahirnya kritikus-kritikus Sastra Bali Modern untuk diperkenalkan dan dipersilakan hadir sebagai narasumber di hadapan publik.

Keluarbiasaan pentas dari kawan-kawan teater SMA juga tak diimbangi dengan pentas kawan-kawan teater kampus yang justru hanya pentas sekadarnya alias biasa-biasa saja. Kampus yang seharusnya memiliki penalaran dan pemahaman lebih kritis dan matang daripada kelompok teater SMA, malah terjebak pada bentuk-bentuk pentas improvisasi semacam bondres, arja, sendratari, dan lain sebagainya. Pilihan bentuk semacam ini sah-sah saja jika ingin digunakan apabila diimbangi dengan adanya upaya merespon karya sastra. Alih-alih mengadaptasi karya sastra, kebanyakan dari teater kampus ini justru memainkan cerita-cerita semacam Jaratkaru, Swarga Rohana Parwa, dan Atma Prasangsa.

Yang tak kalah lucu, saat menautkan cerita-cerita yang dimainkan oleh kawan-kawan teater kampus pada halaman google. Muncul berita Bali Post (http://www.balipost.com/news/2019/07/11/80576/Atma-Kertih-Penyucian-Jiwa-Paripurna,…html) yang mengatakan bahwa cerita Jaratkaru, Swarga Rohana Parwa, dan Atma Prasangsa adalah contoh-contoh cerita yang berpotensi untuk digarap dalam acara PKB tahun ini yang notabene mengusung tema Atma Kertih. Apakah pentas memang dimaksudkan untuk acara PKB mendatang? Atau hanya kebetulan belaka? Saya pribadi berharap bahwa semoga saja hanya kebetulan. Alangkah tak eloknya, menjadikan Perayaan Bulan Bahasa Bali hanya sebagai batu loncatan untuk pentas di PKB. Sudah sama-sama acara disbud provinsi, membawakan pentas bondres, sendratari, dan sebangsanya dengan judul cerita yang sama pula. Betapa biasa. Betapa tak punya visi meluarbiasakan pentas.

Kemandulan kreativitas ini adalah salah satu indikator penting yang semestinya dijadikan bahan evaluasi lebih lanjut. Mengingat acara Perayaan Bulan Bahasa Bali baru menginjak tahun kedua penyelenggaraan. Begitu jomplangnya jika mau dibandingkan dengan Festival Bahasa Sunda se-Jawa Barat yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1990 oleh kawan-kawan Teater Sunda Kiwari. Festival yang diniatkan dalam rangka memelihara rasa memiliki masyarakat terhadap Bahasa Sunda ini mampu bertahan setiap tahun lantaran konsep dan format kerja yang terus menerus berusaha untuk dievaluasi, diperbakai dan dikembangkan lebih lanjut.

Salah satu caranya, yakni menyajikan naskah yang berbeda setiap tahunnya. Penyajian naskah bisa berangkat dari hasil adaptasi karya sastra Sunda, karya sastra Indonesia bahkan karya sastra dunia yang diterjemahkan dalam bahasa Sunda. Strategi semacam ini secara tidak langsung mampu membuka ruang ulang alik kerja penerjemahan antarbahasa ke dalam bahasa lokal yang dalam konteks ini jarang dilakukan oleh kebanyakan pegiat bahasa Bali. Lebih jauh, pentas juga memproduksi naskah-naskah teater yang dibuat khusus berbahasa Sunda. Ditambah dengan menggunakan pendekatan modern dalam pertunjukannya, walhasil pentas dalam festival menyajikan bentuk dan konteks yang lebih cair dengan masyarakat dan zamannya. Luar daripada itu, Festival Bahasa Sunda juga membuka kemungkinan bagi kelompok teater Jawa Barat yang di daerahnya tak memakai bahasa Sunda untuk mementaskan pertunjukan dengan ragam bahasa asalnya masing-masing, bahasa Indramayu, misalnya. Yang meski sama-sama dari Jawa Barat, namun punya varian bahasa yang berbeda.

Hal ini jadi penting jika dikaitkan dengan tulisan Eriadi (jro Penyarikan Duuran Batur) dalam http://www.tatkala.co/2020/02/01/bahasa-bali-berkibar-oke-bee-dapatkah-bertahan-catatan-bulan-bahasa-bali/ yang mempersoalkan tentang terhimpitnya kosakata bahasa Bali Aga karena lebih berkembangnya anggah-ungguhing bahasa Bali dalam masyarakat. Bagaimanakah pihak panitia dan tim kreatif merespon fenomena ini? Sementara jika diperhatikan seksama, teater-teater yang pentas dalam Perayaan Bulan Bahasa hampir semua berasal dari wilayah Denpasar. Jika pun ada pentas yang memakai dialek Buleleng, Negara, dan sebagainya, kebanyakan hanya disikapi sebagai bahan banyolan semata. Alih-alih membuka peluang jelajah bahasa, strategi semacam ini justru jadi bumerang tersendiri meneguhkan varian bahasa satu, mengesampingkan varian bahasa lainnya.

Kehadiran teater dalam Perayaan Bulan Bahasa Bali semestinya bukan hanya disikapi sebagai pengisi acara saja. Melainkan diniatkan sebagai gerakan membangun politik bahasa agar segala varian bahasa Bali, dari bahasa Bali Aga sampai Majapahitan, dari bahasa gunung sampai pesisir, dari bahasa asli sampai pendatang, dari segala lini di Bali, mampu tampil percaya diri di hadapan publik. Visi dan gagasan pertunjukannya jelas, yaitu mengeksplorasi bahasa Bali dengan segala macam varian yang hadir dalam realitas sehari-hari masyarakatnya.

Alhasil, pentas teater bahasa Bali tak hanya diwarnai dengan ragam bahasa sor singgih, kidung atau kekawin yang sudah biasa dihadirkan di pura-pura. Apalagi menghubungkannya dengan cerita Prabu Aji Saka, hanya gara-gara ceritanya berkaitan dengan aksara Bali. Kalau gagasan dan interpretasinya sebatas itu, baca komik anak dancow saja sebenarnya sudah cukup. Tak perlulah susah-susah menampilkan teater, apalagi menyajikan slide aksara hanacaraka sebagai artistik pertunjukan. Sajian yang mengingatkan kita pada rupa aksara Bali yang ditulis di papan kelas. Di bulan Maret ini, usai Perayaan Bulan Bahasa Bali, anak-anak SD di kelas-kelas mungkin tengah kembali pada rutinitas belajar bahasa Bali biasanya. Mengantuk menyaksikan guru bahasa Balinya menerangkan aksara Bali. Ala kadarnya, dengan pola biasa, dengan semangat yang biasa-biasa saja. [T]

Denpasar, 2020

Tags: BahasaBahasa BaliBulan Bahasa BaliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dunia Alam yang Hanya Terlihat di Layar Kaca

Next Post

Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [4] – Pentas Terakhir Sebelum Pulang

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [4] – Pentas Terakhir Sebelum Pulang

Laporan Pentas “The Seen and Unseen” dari Australia [4] – Pentas Terakhir Sebelum Pulang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co