6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tabu Project: Dialog Tentang Tabu yang Rancu

Satyawati by Satyawati
December 29, 2019
in Ulasan
Tabu Project: Dialog Tentang Tabu yang Rancu

Tabu Project mempertunjukan karyanya di Cush Cush Gallery

Tentang Tabu Project, Kelompok Kolaboratif Penerima Hibah Seni Kelola 2019

Penerima Hibah Seni Kelola 2019 kategori Karya Kolaborasi Inovatif, Tabu Project hadir dengan strategi yang saat ini sedang banyak dijunjung: kolaborasi lintas-bidang yang menghasilkan sebuah pertunjukan lintas-indra alias pertunjukan multi-media. Sesuai dengan namanya, Tabu Project mengangkat tabu sebagai inti dari karya yang dihasilkan. Dengan pengambilan topik yang cukup menarik serta titel “Karya Kolaborasi Inovatif” yang disandang, tidak berlebihan rasanya jika harapan cukup menjulang tinggi atas karya yang akan tercipta.

Film dipilih sebagai “rumah”, atau dengan kata lain unsur utama dalam karya Tabu Project, untuk menyatukan empat bidang lainnya (koreografi, musik, video mapping, dan desain kostum). Dalam Diskusi dan Lokakarya Parade Teater Canasta 2019, Tabu Project menjelaskan bagaimana proses di balik penciptaan karya film ini.

Secara singkat, film ini mengisahkan lingkaran kehidupan (mulai dari kelahiran hingga kematian) perempuan Bali di tengah situasi patriarkis yang masih diamini oleh masyarakat.

Beberapa simbol kehidupan tersebut dihadirkan dan kemudian dipertentangkan sebagai bentuk dari ketabuan itu sendiri. Misalnya, rambut yang digerai ketika mengenakan hiasan kepala. Dalam adat kebiasaan Bali, hiasan kepala digunakan ketika ada upacara adat dan para perempuan yang mengenakan hiasan kepala ini harus mengikat/menyanggul rambutnya sehingga tidak ada rambut yang menjuntai di pundak. Menstruasi, yang masih tabu untuk dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari, juga sengaja ditampilkan dalam bentuk cairan seperti darah yang dibalurkan ke tubuh aktor.

Bentuk-bentuk yang hadir dalam film merupakan hasil dari observasi, wawancara, dan dialog kepada generasi yang lebih tua. Ninus, yang berperan sebagai koreograf dalam karya ini, juga menekankan bahwa memang yang penting dari proses penciptaan karya ini adalah adanya dialog dan obrolan yang terbuka kembali mengenai tabu. Sebab, dirasa saat ini kemampuan bercakap-cakap dengan generasi di atas sudah mulai luntur.

Sebelum diskusi proses kreatif tersebut, Tabu Project juga telah melakukan “Pameran Sebelum Pentas”, menampilkan art pieces yang dikenakan si aktor dalam film. Beberapa art pieces tersebut antara lain, 1) hiasan kepala yang terinspirasi dari sangkar ayam, sebagai penanda kelahiran atau otonan, 2) peralatan makan yang mengimplementasikan cara makan zaman dulu, dan 3) hiasan kepala bunga sandat.

Kolaborasi yang Sendiri-Sendiri

Pada 6 dan 7 Desember lalu, Tabu Project mempertunjukan karyanya di Cush Cush Gallery. Kain-kain putih menjuntai dan terdapat layar bulat sebagai layar untuk film yang akan diputar. Pertunjukan kali ini memadukan film, musik, dan video mapping dengan aksi live choreography. Bukan sebuah terobosan inovatif rasanya, mengingat pengkombinasian antara teater dengan film, atau dengan musik, sudah banyak dilakukan. Namun, siapa tahu dalam pertunjukannya terdapat unsur lain yang tak terduga?

Pertunjukan pun dimulai. Film dan musik mengawali pertunjukan dan tidak lama kemudian para penari memasuki area pertunjukan.

Jika boleh jujur, harapan yang tadinya berada di atas langit tak bertemu asanya. Dan menjadi benar kiranya bahwa pertunjukan malam itu hanya sebagai pelengkap syarat penerima dana hibah.

Soal pencahayaan menjadi salah satu soal yang langsung terlintas ketika menonton pertunjukan ini. Dengan gerakan koreografi yang minimalis, alias bukan gerakan besar yang bisa langsung terlihat dari sebrang ruangan, tentu pencahayaan menjadi segi krusial yang harus dipikirkan.

Mungkin memang itu yang ingin dicapai dari pertunjukan ini, pikir saya. Sebab, terdapat video mapping dengan tata pencahayaannya sendiri yang juga “menari-nari”. Namun, sepertinya video mapping dengan segala tata pencahayaannya itu tidak memiliki hubungan ketersalingan dengan koreografi yang ditampilkan. Dan sejujurnya, inilah yang terjadi dalam keseluruhan pertunjukan.

Film, video mapping, pencahayaan merah-hijau, musik, dan live choreography tidak hadir sebagai satu-kesatuan, melainkan sebagai potongan yang berdiri sendiri-sendiri.

Apabila malam itu live choreography tidak ditampilkan, rasanya tidak akan ada masalah; pertunjukan akan tetap berjalan. Jika malam itu hanya film yang ditampilkan, pun situasi akan sama: pertunjukan tetap berjalan tanpa adanya rasa kurang.

Rangkuman Diskusi Pertunjukan Tabu

Untunglah, terdapat diskusi sehabis pentas yang dilakukan sehingga beberapa hal yang menjadi pertanyaan di benak saya bisa terkonfirmasi.

Begitu diskusi dibuka, tanggapan yang diungkapkan salah satu penonton menyoal tentang tabu itu sendiri; bahwa dalam pertunjukan ini tidak ada keadaan tabu yang ditampilkan.

Itu jugalah yang menjadi pertanyaan saya bahkan dari ketika diskusi di pada Parade Teater Canasta berlangsung. Malam itu, saya juga kembali mempertanyakan: tabu seperti apa yang ingin ditampilkan?

Sebab, tabu dalam karya ini, yang seharusnya berlaku sebagai batasan karya, justru buram. Misalnya, scene kelahiran yang berada di bagian awal film yang kemudian disimbolkan kembali dengan hiasan kepala terinspirasi dari sangkar ayam, simbol otonan. Apakah kemudian kelahiran ini dianggap sebagai keadaan tabu? Lalu, simbol-simbol peralatan makan yang sengaja dibuat menyerupai tangan (mengarah tentang kebiasaan saat ini ketika manusia terlalu merasa high class dan harus makan menggunakan sendok/garpu) rasanya tidak masuk dalam ranah-ranah keadaan tabu.

Perlu disinggung bahwa tabumemiliki makna yang cukup luas dan dalam, tetapi biasanya selalu berhubungan dengan larangan atau pantangan terhadap sesuatu. Sesederhana pertanyaan, “Kamu bawa pembalut nggak?” yang sering ditanyakan secara bisik-bisik di ruang publik.  

Mungkin karya ini belum memasuki ranah tabu melainkan hanya berupa antitesis terhadap norma-norma yang diamini masyarakat. Rasanya akan lebih sesuai jika karya ini ditempatkan sebagai karya perlawanan terhadap budaya patriarki (dalam ranah feminisme). Apalagi, karya ini mengangkat isu perempuan; isu seksi yang sedang digemari.

Tentang kolaborasi yang berdiri sendiri-sendiri, saya berhasil mengungkapkan pendapat saya bahwa live choreography yang dilakukan dalam karya ini tidak terintegrasi dengan aspek-aspek lainnya. Dan jawaban dari teman-teman Tabu Project adalah memang live choreography ini sebatas sebagai pelengkap film, unsur utama dalam karya ini. Selain sebagai pelengkap, live choreography juga bertugas sebagai jembatan agar film dalam karya ini dapat dipertunjukan alias agar bisa menjadi art performance yang dapat ditonton publik.

Dengan kata lain, pertunjukan hari itu dibuat untuk memenuhi syarat sebagai penerima hibah.

Belum berhenti sampai di situ, pada awalnya saya berpikir bahwa art pieces yang ditampilkan dalam film akan dibawa dalam pertunjukan malam itu; dikenakan oleh para penari. Nyatanya tidak. Para penari dalam pertunjukan malam itu justru mengenakan busana minimalis hitam-hitam.

Ketika disinggung mengenai hal itu dalam diskusi seusai pertunjukan, teman-teman Tabu Project mengatakan bahwa memang fokus utama (lagi-lagi) dalam karya ini adalah film. Jadi, segala simbol yang rumit, termasuk art pieces yang diciptakan berdasarkan hasil observasi, hanya ditampilkan dalam film.

Jika saja diskusi proses kreatif Tabu Project di Parade Canasta Teater 2019 tidak diadakan, mungkin pemikiran-pemikiran dalam tulisan ini tidak akan muncul. Sebab, narasi-narasi yang diceritakan teman-teman Tabu Project sebagai dasar terciptanya karya ini seperti hanya hadir dalam lisan saja.

Dan jika demikian, tulisan ini tentu tidak akan ada.

Tags: Teater
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Keanehan dan Mitos di Bidang Medis

Next Post

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Satyawati

Satyawati

Biasa dipanggil Tya. Mahasiswa linguistik Unud yang cukup aktif menulis di blog pribadinya: lihat-dengar.blogspot.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Omong Kutang Kutang

Refleksi Tahun Baru: Jangan Sampai Hilang Arah dan Buta Arah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co