6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyisihkan Diri Barang Sesaat, Mungkin Ada yang Terlupakan #Catatan Guyub Kalangan

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
July 19, 2019
in Ulasan
Menyisihkan Diri Barang Sesaat, Mungkin Ada yang Terlupakan #Catatan Guyub Kalangan

Pentas dalam acara Bali yang Binal di Depasar

Sejauh mana sebenarnya kerja seorang aktor pada sebuah pementasan atau individunya sendiri. Karena bagi saya terkadang ada selingan pola berpikir bahwa kerja keaktoran itu ternyata tidak berujung tombak pada pementasan semata. Tapi ketika saya berpikir lebih luas lagi ternyata ada hal lain yang tersentuh saat berproses menuju latihan atau sederhananya latihan menuju pentas.

Pada latihan bersama “Guyub Kalangan”, 9 Juni-14 Juli 2019 di sejumlah ruang public di Denpasar, banyak sekali temuan saya dan teman-teman yang mengikuti guyub, dari hasil latihan yang bisa dikatakan intens kami lakukan selama sebulan. Dengan runtutan acara yang kami susun perminggunya.

Setiap hari Senin dan Rabu kami menonton film atau menonton dokumentasi pementasan teater. Hari Selasa, Kamis dan Jum’at kami menggelar latihan olah tubuh dengan metode yang kami sepakati, latihan kami gelar di Lapangan Puputan Badung.

Kemudian setiap hari Sabtu kami menggelar acara bedah buku teater, dan hari Minggu kami menggelar latihan di pagi hari biasanya kami melakukanya di pantai terdekat sekitaran Denpasar. Tidak lupa juga setiap acara yang kami lakukan selalu disertai dengan diskusi dan sharing hasil interpretasi kami tiap latihan.

Seperti yang saya dikatakan diawal bahwa sebuah proses pembentukan aktor itu sebenarnya tidak berujung tombak pada laku saat pentas saja, karena dari hasil kami latihan dan berdiskusi ada banyak hal yang kami dapatkan dari saling sharing.

Misal contoh kecilnya, saya mendapatkan apa yang mungkin tidak ditemukan oleh teman-teman yang lain dan begitu sebaliknya. Dari hasil temuan kami yang selalu berbeda kadang menimbulkan suatu keinginan untuk mencoba mencari apa yang di dapatkan oleh teman yang lain pada hari selanjutnya.

Sebenarnya juga bisa dikatakan bahwa kami bukan murni hanya belajar menjadi aktor saja, kami lebih disadarkan untuk latihan mengobrol. Walaupun ya ngobrolnya tentang teater dan apa yang kami lakukan, karena dari obrolan itu saya pribadi menyadari pula untuk mempunyai kesadaran untuk selalu mencari dan mencipta apa saja sebenarnya yang bisa di hasilkan dari satu metode tersebut.

Kemudian kesadaran tersebut tidak hanya berhenti saat kami melakukan latihan saja, tapi saat diluar lingkaran latihan itu terkadang ada juga sebuah pikiran yang melintas begitu saja untuk mengingatkan saya. Bahwa kalau tidak ada obrolan-obrolan tersebut saat proses tentunya sutradara itu sendiripun tidak akan bisa menentukan apa tahap selanjutnya yang akan di lakukan.

Mungkin itu juga yang mempengaruhi pikiran saya untuk mencoba intens mengikuti guyub kali ini, walaupun di awal sutradara kami I Wayan Sumahardika sudah membekali kami janji bahwa tujuan guyub kali ini bukan bertujuan pada pentas yang benar-benar serius di atas panggung. Hasil latihan kami hanya akan dijadikan persentasi saja nantinya, tidak bertujuan pentas untuk membawakan naskah atau wacana apapun.

Tapi entah kenapa saya sendiri merasakan hal yang lebih dari latihan biasa yang saya lakukan jika bertujuan untuk pentas, mungkin masalahnya karena latihan teater untuk sebuah pementasan maka kerjanya akan bisa saja sewaktu-waktu mendadak atau kadang tidak sesuai dengan rencana. Biasanya juga saya kalau latihan untuk pentas sering kali merasa di interpretasi oleh waktu yang kian mendekati hari pementasan. Kadang tidak ada hal lain yang saya cari selain bentuk saja.

Tapi pada guyub kali ini saya baru menyadari itu, dari apa yang kami lakukan sebulan penuh memang benar titik terangnya berada pada pencarian dan penciptaan tiap aktor. Dan entah kenapa belakangan ini saya sangat merasa senang menjadi aktor yang sangat kedap suara yang jauh dari interpretasi penonton, saya merasakan bahwa sebenarnya di ruang-ruang seperti ini kami saling mengejar ketertinggalan dan memperbaiki komunikasi kami sesama kelompok, selain itu di ruang seperti ini juga saya merasakan benar-benar tumbuh menjadi aktor. Tidak ada beban pikiran untuk mencari suatu bentuk apapun dan hanya berpegang teguh pada pencarian saja.

Dan masalah memperbaiki komunikasi antar anggota itu maksudnya adalah belajar terbuka sesama anggota agar nantinya kami saling mengerti dan memahami satu sama lain, karena dari latihan guyub ini juga ada kesadaran kami untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan teman-teman kami yang lain. Untuk masalah mengejar ketertinggalan itu sebenarnya titik terangnya berada pada menyamakan frekuensi atau pemikiran dari apa yang kami lakukan beersama selama sebulan.

Dan itu akhirnya yang bisa menjadikan kami mempunyai kesamaan, sama-sama mengikuti guyub. Akhirnya karena kami intens dan selalu melakukanya bersama jadi tidak ada istilah ketertinggalan atau senioritas pada proses ini. Karena pada guyub kali ini kami hanya berlima, bersama ; De Gus seorang mahasiswa pertanian UNUD dan anggota Teater Orok, Dedek Surya salah satu mahasiswa arsitektur anggota Teater Warmadewa.

Iin Valentine entah apa statusnya sepertinya mahasiswa yang akan tamat salah satu anggota di Teater Kalangan, dan Jacko ini pacarnya Iin Valentine yang juga mahasiswa serabutan anggota di Teater Kalangan. Tentunnya juga saya sendiri yang bukan seorang mahasiswa tapi kebetulan salah satu anggota di Teater Kalangan.

Tapi tujuan saya memperkenalkan mereka adalah dari latar belakang kami yang berbeda dan jenjang waktu kami menekuni tetaer itu berbeda-beda juga. Pasti selalu ada pikiran bahwa salah satu dari kami lebih tau-menau soal teater dan keaktoran. Tapi pada guyub kali ini malah status jenjang waktu itu menjadi sedikit nilai tambahan dari masing-masing diri saja, bukan menjadi sebuah pembeda lalu kemudian di pentingkan. Tidak itu sebenarnya yang dibutuhkan pada sebuah kelompok.

Tapi akhirnya kelebihan itu menjadi suatu proses berbagi yang secara kebetulan bila pembicaraanya memang berkaitan pada konteks, kemudian biasanya terjadi saling cerita lintas antar pengalaman saja.

Akhirnya setelah guyub selasai dan hasil latihan kami selama sebulan dipersentasikan pada acara Bali Yang Binal ke-8, karena kebetulan saja tanggal selesai guyub kami memang berbarengan dengan acara tersebut. Kebetulan juga kami atas nama Teater Kalangan diundang berkolaborasi atau merespown music dari Band Cassadaga, kami tidak membawa wacana apapun dan murni hanya merespown music dengan tari yang bisa di katakan jatuhnya seperti Perform Art.

Tidak ada perasaan yang tegang terlalu berlebihan pada pementasan kali ini, mungkin karena saya pribadi misalnya sudah merasa matang soal apa yang saya lakukan jika sewaktu-waktu di pertanyakan setelah persentasi. Syukurnya tidak ada yang mempertanyakan apa yang saya lakukan, jikapun tipertanyakan mungkin saya akan menjawab bahwa ini hasil latihan saya selama sebulan.

Mungkin akan saya ceritakan sedikit soal apa saja yang terjadi selama sebulan terhdap saya. Seperti misal tulisan ini, saya mendedikasikan tulisan ini untuk gambaran proses saya selama sebulan. Karena mungkin bagi saya jika tidak diceritakan sedikit saja, saya jangan-jangan malah akan tidak mengingatnya sama sekali dikemudian waktu.

Sebenarnya banyak sekali yang terjadi pada proses itu, tetapi yang saya ceritakan kali ini hanya hal yang saya anggap penting untuk diperhatikan lebih lanjut, karena jujur saya sangat merasa berbeda ketika menulis ini. Sebelum menulis, saya sudah banyak sekali pikiran dan ide tentang apa saja yang akan saya ceritakan pada tulisan saya, tapi saat menulisnya malah saya kebingungan ingin menulis apalagi dan ada perasaan berhati-hati jika sewaktu-waktu malah tulisan atau cerita saya ngelantur kesana kemari.

Akhirnya saya memilih untuk tidak memaksakan untuk terlalu berlebihan, karena saya mengingat kembali kejadian saat latihan guyub kemarin. Saya biarkan saja pengalaman yang sudah pernah terjadi akan muncul kembali dikemudian hari tergantung pada keintensitasan saya melakukan dan menekuni keaktoran. Dan juga tidak lupa penyoalan penghayatan, jika intens saja mengikuti latihan tetapi tidak disertai dengan penghayatan itu mungkin akan menjadi sia-sia juga nantinya.

Karena intensitas dan penghayatan itu saya rasa juga menjadi modal utama untuk menjadi bekal utama saat proses penciptaan keaktoran. Semakin intens dan seringnya melakukan hal dan berulang, tentu saja akan banyak hal yang hadir pada moment tersebut. Mari membiasakan diri melakukan hal dengan sepenuh hati. Jangan lupa juga hati-hati agar pengalaman-pengalaman itu tidak jatuh disembarang tempat. [T]

Tags: denpasarPendidikanTeaterTeater Kalangan
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Statistik Gender

Next Post

Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co