24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

I Gede Gita Purnama A.P by I Gede Gita Purnama A.P
July 12, 2019
in Esai
“Pamboekaning Toeas”, Lembar Kerja Siswa (LKS) Pertama dalam Pelajaran Bahasa Bali

I Made Pasek dan buku Pamboekaning Toeas, Woordvorming en Balineesche-Taaloefeningen

Siapa yang tidak kenal Lembar Kerja Siswa atau jamak disingkat LKS? Rasanya setiap siswa  yang tengah menjalani pendidikan atau pernah melewati pendidikan formal di Indonesia akan akrab dengan kata Lembar Kerja Siswa.

Hal ini karena Lembar Kerja Siswa selalu hadir dalam setiap bagian kegiatan belajar mengajar di kelas, bahkan kata “LKS” sering kali jadi penentu nasib siswa di sekolah. Misalnya guru mata pelajaran tidak dapat hadir mengisi kelas, maka biasanya ada tugas mengerjakan LKS. Murid rajin akan duduk tekun mengerjakan LKS, yang agak malas akan bermain sembari menunggu teman menyelesaikan soal LKS dan menyalin jawaban pada LKS miliknya, yang sangat malas akan ke kantin tidak mengerjakan LKS.

Lembar Kerja Siswa juga jadi senjata paling ampuh bagi guru-guru yang (kadang) malas mengajar, “Anak-anak buka LKS-nya, kerjakan soal nomor 25 sampai 80.” Nah tipe guru seperti ini ada di dunia nyata dan seringkali jadi idaman anak-anak malas di sekolah.

LKS juga seringkali jadi alat hukum yang digunakan guru untuk “memaksa” anak-anak belajar. Ketika anak-anak nakal melakukan pelanggaran/kesalahan, maka mengerjakan LKS di ruang guru menjadi salah satu alternatif hukuman yang menyakitkan, keringat dingin bercucuran karena ditonton puluhan pasang mata guru-guru, ini sakit banget tapi tak berdarah.

Demikian sedikit hiruk pikuk peristiwa yang barangkali sering muncul dalam pikiran kita ketika mendengar kata Lembar Kerja Siswa (LKS). Tapi selama menuntut pendidikan formal kita tidak pernah mengenal betul apa itu LKS, kita hanya mengisi dan mengerjakannya. Baiklah kita sedikit ulas apa itu LKS.

Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. LKS biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya (Depdiknas; 2004). Trianto (2008) mendefinisikan bahwa Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah.

Berdasarkan dua pengertian di atas maka LKS berwujud lembaran berisi tugas-tugas guru kepada siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dapat pula disebutkan bahwa LKS adalah panduan kerja siswa untuk mempermudah siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hadirnya LKS tentu saja atas dasar niat mulia menyukseskan kegiatan belajar mengajar di kelas dengan guru sebagai pemandu/penuntun/pengajar/pengayom para siswa.

Lalu sejak kapan ada LKS di Bali? Tepatnya sejak sekolah formal mulai didirikan pemerintah kolonial, dan sistem pendidikan formal diberlakukan di lingkungan masyarakat Bumiputra sebagai salah satu bentuk “pertanggung jawaban” pemerintah Hindia-Belanda kepada masyarakat pribumi. Sebagai salah satu bagian dari politik etis mereka juga sih,,,

LKS pertama di Bali hadir dengan bahasa dan aksara Bali, penuh dalam aksara dan bahasa Bali tanpa sisipan bahasa Melayu atau bahasa Belanda. Bahasa Belanda sebagai keterangan buku LKS hanya muncul pada bagian sampul luar dan sampul dalam buku LKS ini. Judul buku LKS-nya Pamboekaning Toeas, Woordvorming en Balineesche-Taaloefeningen, artinya kurang lebih Pamboekaning Toeas, Pembentukan Kata dan Latihan Bahasa.

Buku ini terdiri atas dua seri, seri pertama terbit tahun 1915/1916, untuk edisi ini sampul depan dicetak dengan aksara Belanda (Latin), namun isinya tetap penuh dengan aksara Bali dan bahasa Bali. Buku edisi pertama ini mengalami cetak ulang pada tahun 1922, namun pada edisi cetakan ulang ini, sampul depan buku telah dicetak dengan aksara Bali. Buku seri kedua terbit di tahun yang sama namun berbeda dengan seri pertama, buku seri kedua ini sampul depannya telah menggunakan aksara Bali.

Secara visual dan tata letak, memang LKS pertama bahasa Bali ini sangat sederhana dan tanpa gambar ilustrasi. Desain sampul sangat sederhana, hanya ada tulisan dengan variasi 2 sampai 3 font berbeda juga dengan ukuran yang berbeda. Pada seri pertama cetakan pertama, sampul depan terdapat iluminasi yang sangat sederhana, pada seri selanjutnya iluminasi ini dihilangkan.


Buku Pamboekaning Toeas, Woordvorming en Balineesche-Taaloefeningen

Barangkali percetakan tidak mau bersusah-suah menambahkan gambar pada sampul, juga barangkali sampul bergambar bukan hal yang lazim untuk buku-buku “resmi” yang dikeluarkan percetakan pemerintah kolonial. Buku ini dicetak oleh salah satu percetakan terbesar milik pemerintah kolonial, Landsdrukkkerij yang berkedudukan di Batavia. Percetakan ini pula yang banyak mencetak buku-buku keluaran pemerintah kolonial. 

Penulis buku ini adalah I Made Pasek, seorang mantri guru yang bertugas di Singaraja tepatnya di sekolah tingkat II Singaraja dan sekarang berubah menjadi SD 2 Singaraja. I Made Pasek terbilang sebagai salah satu orang Bali yang punya kesempatan bersekolah di sekolah pelatihan guru (Kweekschool) yang didirikan oleh pemerintah kolonial di Surakarta, Yogyakarta, Padang, Makassar, Ambon dan Bandung.

Namun belum diketahui di sekolah pendidikan guru manakah I Made Pasek menempuh pendidikan. Kemungkinannya adalah di Yogyakarta, sebab lokasi ini paling dekat dengan Bali, juga materi ajar bahasa Bali dan Bahasa Jawa relatif dekat dari sisi kultural dan sosial.

Melihat judul dari judul buku, buku ini bukanlah buku materi belajar bagi siswa namun buku yang berisi latihan-latihan berupa soal. Kumpulan soal-soal yang terangkum dalam buku ini terdiri dari berbagai tipe soal.  Yang dominan muncul adalah tipe soal menyebutkan jenis benda dengan menghadirkan kata kunci yang berkaitan dengan ciri-ciri, sesuatu yang dihasilkan, atau sesuatu yang umum melekat/digunakan pada objek yang ditanyakan. Contoh soal yang muncul di dalam buku diantaranya;

Indayang sambat apa-apa pada malelima, ané gobané:

Barak, selem, kuning, putih, gadang, klawu, poléng, plung, tangi, dadu, nasak gedang, blang, rangréng, gulaklapa, kuning nguda, gadang nguda.

Upami; ané magoba barak: gtih, kincu,…..

Contoh soal di atas meminta siswa untuk menyebutkan benda berdasarkan ciri fisik warna. Soal-soal pada buku ini disertai dengan contoh cara menjawab namun hanya pada contoh soal pertama saja, selanjutnya tidak disertai contoh menjawab. Beberapa kata yang berkaitan dengan warna di atas barangkali hari ini tidak dapat dipahami lagi oleh sebagian besar orang Bali terlebih anak mudanya.

Tipe soal lain yang muncul dalam buku ini adalah tipe soal melengkapi kalimat. Penulis menyiapkan kalimat yang tidak lengkap, dan peserta didik diharapkan mengisi titik-titik kosong guna melengkapi kalimat. Contoh tipe soal ini diantanya adalah:

Pragatang lengkaranéné:

Putih mletak buka…..

Ngrempayak buka…..

Sngitné amunan…..

Basangné kréyak kréyok buka….

I Cening dkah tur makohkohan, simbuha baan……

Tipe soal lain yang muncul adalah soal mencari sinonim atau nama lain sebuh objek, misalnya adalah:

Alih patunggalan kruna arané ané betén ténénan:

Pulo patunggalan…..

Kadutan patunggalan…

Tlabah soroh…..

Bubu soroh…..

Semua contoh soal-soal di atas sejatinya ditulis dengan aksara Bali, namun saya coba alih aksara menjadi aksara Belanda (Latin). Sehingga terbaca dengan mudah oleh pembaca tatkala yang budiman..


Lembar soal dalam buku LKS berjudul Pamboekaning Toeas, Woordvorming en Balineesche-Taaloefeningen

Buku LKS setebal 32 halaman untuk seri pertama, dan 34 halaman untuk seri kedua, memberikan gambaran yang cukup terang tentang pola pengajaran bahasa Bali pada masa kolonial.  LKS ini tentu saja membantu mengaktifkan siswa dalam proses kegiatan pembelajaran serta membantu siswa mengembang konsep-konsep yang sangat dekat dengan kesehariannya.

Hal lain adalah melatih siswa untuk menemukan dan mengembangkan ketrampilan melalui proses pembelajaran. Terpenting adalah, siswa menemukan dan belajar tentang sesuatu/konsep yang sangat dekat dengan keseharian mereka, bukan konsep yang jauh atau sama sekali tidak terjamah oleh keseharian mereka, yah,,,,seperti kebanyakan LKS bahasa Bali hari ini. Informasi tentang konsep yang dipelajari oleh siswa melalui LKS bahasa Bali hari ini begitu jauh dari keseharian peserta didik.

Tipe soal yang ditampilkan dalam buku LKS Pamboekaning Toeas ini juga sangat sederhana dan mudah dimengerti. Petunjuk serta soal dibuat dengan singkat dan jelas, namun dengan pola seperti ini siswa akan lebih mudah menangkap maksud soal serta mudah menemukan dan mengembangkan konsep.

Penyusunan LKS ini barangkali mengikuti pola-pola penulisan buku yang telah menjadi standar pada sekolah-sekolah formal milik kolonial, istilah sekarang adalah kompetensi inti, indikator, atau standar proses. Sebab apapun itu, kebutuhan pemerintah kolonial adalah menjaga daerah koloninya tetap berada dalam standar yang mereka miliki. Mendidik masyarakat Bumiputra dengan pendidikan formal semata untuk kebutuhan mereka sendiri dan sangat bersifat pragmatis, hal ini disampaikan J. A Wilkens, seorang pegawai pemerintah kolonial yang ahli di bidang pendidikan bahasa Jawa.

“Pendidikan untuk penduduk Bumiputra semata-mata harus bertujuan praktis. Tujuannya bukan untuk melatih penduduk Bumiputra memperoleh pengetahuan yang dalam mengenai bahasa mereka. Tujuannya tidak lebih mengajarkan mereka membaca dan menulis dalam bahasa mereka sendiri dan bahasa Melayu, sehingga cukup dapat digunakan untuk tugas-tugas kepegawaian”

Penjajah tetaplah penjajah, kebutuhan mereka adalah mempertahankan jajahan dan dominasi atas wilayah jajahan mereka. Pendidikan untuk tujuan pragmatis semata, memenuhi kebutuhan penguasa dan pengusaha, dan ini berlanjut hingga hari ini [T]

Tags: aksaraBahasa BaliBukuPendidikan
Share343TweetSendShareSend
Previous Post

Parade Lagu Daerah Bali di PKB, Sebatas Panggung dan Properti?

Next Post

Luh Menek, Made Sidia dan Ayu Laksmi, Gelar Karya di Bentara Budaya Bali

I Gede Gita Purnama A.P

I Gede Gita Purnama A.P

Terkenal dengan panggilan Bayu. Hobi membaca dan minum kopi. Sehari-hari mondar-mandir di Fakultas Ilmu Budaya Unud.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Luh Menek, Made Sidia dan Ayu Laksmi, Gelar Karya di Bentara Budaya Bali

Luh Menek, Made Sidia dan Ayu Laksmi, Gelar Karya di Bentara Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co