23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Leukemia, Yang Belum Kalah

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
June 1, 2019
in Esai
Nyepi: Terapi Kesehatan, Terapi Kita, Bumi dan Peradaban

“Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian?” (Siddharta Gautama)


Leukemia, tak pernah memberi peringatan apapun. Gaya hidup, yang dapat kita kelola hingga pada batas-batas esensial bahkan tak pernah dikaitkan dengan penyakit mematikan ini. Atau kalaupun ada, dampaknya bisa dikatakan terlampau kecil.

Yang sering disebut-sebut misalnya pengaruh radiasi, virus tertentu, atau merokok. Ini akan mengingatkan kita pada kejadian kanker yang meningkat pasca peristiwa Hiroshima dan Nagasaki atau kebocoran reaktor nuklir di Chernobyl. Seakan-akan aspek genetik telah mengunci horor ini. Urusan genetik berarti persoalan bawaan, urusan bawaan punya arti takdir.

Bolehlah sementara ini kita sebut, berhadapan dengan leukemia adalah berhadapan dengan Tuhan, bukan dengan dokter dan obat-obatan. Hingga suatu saat nanti, peneliti-peneliti hebat yang telah mendekam puluhan tahun di dalam ruang-ruang laboratorium canggih menemukan satu terobosan revolusioner di bidang terapi kanker.

Tubuh kita terbangun dari koordinasi berbagai sistem organ. Sebutlah sistem saraf, sistem pernafasan, sistem sirkulasi (jantung dan pembuluh darah), sistem pembuangan (ginjal dan saluran kencing) dan seterusnya. Sistem organ tersusun dari struktur organ dan regulatornya, misalnya sistem pernafasan diatur oleh bagian otak yang disebut sebagai medulla oblongata. Ialah yang mengendalikan seberapa sering peparu harus menarik oksigen saat kita dikejar anjing misalnya.

Atau, sistem reproduksi pada wanita dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh indung telur seorang wanita. Inilah yang membuat payudara seorang wanita bergelantung kian subur saat ia hamil sebagai persiapan menyusui anaknya kelak.

Sedemikian terukurnya sistem dalam tubuh bekerja. Tepat dan berkesinambungan hingga spesies kita lestari bestari. Begitulah pada umumnya. Hingga sebagian besar dari kita sangat meyakini, telah ada yang mengatur segala peristiwa ini. Dari yang terendah di tingkat sel mikroskopik, yang kemudian menjalin suatu untaian jaringan sebagai pembentuk berbagai organ selanjutnya. Ialah sang pengatur yang kita sebut sebagai Tuhan. Yang keberadaannya disangsikan oleh ilmuwan masyur Stephen Hawking.

Baginya segala peristiwa di jagat raya ini, juga di alam kecil tubuh kita ini adalah natural, spontan, tiada campur tangan satu kekuatan maha tinggi. Mungkin saja ia benar. Hingga sekali dua kali, tubuh kita lalu kemudian membuat kesalahan dan kekeliruan. Kesalahan kecil yang tak tampak, kesalahan sedang yang meninggalkan kecatatan hingga kesalahan besar yang telah membunuh tubuhnya sendiri. Sains menyebutnya sebagai mutasi gen. Kenapa Tuhan membiarkannya?

Seperti pertanyaan lugu, kenapa Tuhan membiarkan meteor bertabrakan? Hingga konon menghangus punahkan spesies dinosaurus. Spesies reptil raksasa yang kini hanya bisa kita lihat di layar lebar sinema dalam rekaan sutradara-sutradara hebat. Untuk apa gunung dibiarkan meletus begitu saja atau tsunami melibas ciptaannya tanpa belas kasihan? Segalanya masih misteri, belum ada yang mampu menjawab dengan jernih. Seperti halnya leukemia yang misterius. Ia menyambangi kita dengan pesan yang sangat jelas. “Bersiap-siaplah untuk kalah dan pulang dalam keabadian”

Sistem hematologi atau darah pun sesungguhnya begitu mengagumkan. Darah yang terlihat homogen merah begitu saja oleh mata kita, sebetulnya terdiri dari butir darah dan plasma, tempat butir-butir darah terbawa. Dapat dibayangkan sebagai segelas cendol. Butir darah terdiri dari sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit) dan keping darah pembeku (trombosit).

Ketiganya telah memiliki fungsi yang begitu spesifik dan terukur. Sel darah putih akan bekerja sebagai pertahanan tubuh untuk melawan segala infiltrasi mikroorganisme perusuh sebagai penyebab penyakit. Contoh paling klasik dari kerja sel darah putih adalah timbulnya bisul. Kuman yang masuk hendak mengganggu tubuh, oleh sel darah putih dilokalisir dalam struktur patologi yang dikenal sebagai abses atau bisul. Ke sanalah sel-sel darah putih mengepung berbagai mikroba patogen (penyebab sakit) agar tak menembus sistem sirkulasi tubuh (sistemik).

Sedangkan sel darah merah akan bertugas mendistribusikan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh, sementara sel darah pembeku bertanggung jawab menutup luka dan menghentikan pendarahan. Demikian tertibnya mereka berbagi tugas sampai terjadi satu kekeliruan misterius yang sangat fatal.

 Satu kekeliruan, saat entah kenapa sel darah putih yang dibentuk sumsum tulang sedemikian banyak melampaui pakem normalnya. Leukosit yang telah diproduksi begitu banyak hingga jumlahnya bisa puluhan kali dari yang seharusnya, namun tampil dalam struktur dan fungsi yang tak layak. Itulah lalu dinamakan leukemia, meski ia berlimpah namun tak berfungsi dengan baik, ia seakan-akan tak ada.

Keadaan ini sedemikian liar tak bisa dijinakkan walau dengan kemoterapi paling baik saat ini. “Ketiadaan” sel darah putih alias tentara ini membuat tubuh manusia rentan dan penuh kompromi terhadap berbagai mikroorganisme patogen. Tubuh akan digerogoti virus, bakteri hingga jamur oportunistik yang dapat menyerang paru-paru, usus atau saluran kemih. Membawa tubuh jatuh pada keadaan infeksi berat dan syok.

Sel darah putih yang terlalu banyak, menghimpit keberadaan sel darah merah dan keping darah pembeku. Menyebabkan jumlah kedua jenis sel yang begitu penting untuk tubuh itu menjadi sangat minimal. Dampaknya sudah tentu, asupan oksigen dan nutrisi untuk sel yang kian menyusut dan di lain pihak tubuh mudah mengalami pendarahan. Komplikasi yang sedemikian kacau ini adalah keadaan yang layak untuk sebuah kematian.

“Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian?” pertanyaan Siddharta Gautama ini dapat kita jawab dengan menjadi pertapa di bawah pohon bodi sepertinya, atau bertapa di laboratorium untuk menemukan formula yang efektif mengalahkan leukemia.

Selamat jalan ibu Ani, ibu negara kami tercinta, semoga beristirahat dengan tenang. [T]

Tags: kehidupanpenyakit
Share239TweetSendShareSend
Previous Post

Ilmu Kehidupan dalam Matematika: (Mengurangi Hal-hal Negatif = Perbuatan Positif)

Next Post

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Puisi-puisi GM Sukawidana: Upacara Muara Teluk Benoa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co