23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Peduli Lingkungan dari Tulamben: Bank Sampah & Komunitas Rare Segara

Julio Saputra by Julio Saputra
May 20, 2019
in Khas
Generasi Peduli Lingkungan dari Tulamben: Bank Sampah & Komunitas Rare Segara

Bersiap kumpulkan sampah di Desa Tulamben, Karangasem

Tiap kali saya diajak berbicara tentang sampah, membaca berita-berita yang mengulas sampah di media sosial, tau melihat langsung sampah di depan mata saya, terutama sampah plastik, maka ingatan saya akan terbang ke masa-masa saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, dua tahun lalu, yang kemudian menjadi masa-masa yang sangat terkenang dan melekat di salah satu sudut ingatan saya.

Awalnya, saya merasa sangat senang ketika tahu bahwa kami semua ditempatkan di Desa Tulamben untuk melaksanakan KKN selama 45 hari ke depan, dari bulan akhir Juni, hingga awal Agustus 2017. Pikir saya, menjalani KKN di sebuah desa pariwisata dengan titik diving dan snorkeling yang terkenal di mata dunia tentu akan sangat menyenangkan. Saya juga sempat mencari-cari informasi di internet tentang desa tersebut dan dari sana akhirnya saya tahu bahwa Desa Tulamben memiliki suasana pantai dengan batu-batu koral yang membuat pantai Tulamben menjadi berbeda dengan pantai-pantai yang menjadi destinasi pariwisata di Bali. Karena itulah, saya akhirnya berpikir bahwa desa tersebut pastilah bersih dan tertata rapi, bebas dari sampah atau polusi lainnya. Saya lumayan berekspektasi tinggi waktu itu.

Namun, ketika saya mulai oberservasi tempat bersama teman-teman sesama KKN, ekspektasi saya jatuh seketika. Pesisir Pantai Tulamben saya lihat terisolir oleh beberapa sampah, khususnya sampah plastik. Bahkan sampah-sampah tersebut terlihat jelas di sepanjang jalan protokol kawasan pariwisata Tulamben hingga daerah-daerah bibir pantai yang bertepatan dengan tempat para wisatawan mempersiapkan diri untuk diving dan snorkeling. Belakangan saya tahu hal tersebut dikarenakan oleh melonjaknya jumlah wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan laut Tulamben.

Akhirnya KKN pun dimulai. Di minggu pertama, saya dan teman-teman belum menjalankan satu pun program yang kami canangkan, karena masih harus mengobservasi dan melakukan berbagai pendekatan dengan perangkat dan warga desa di sana. Nah, saat observasi itulah, saya bertemu dengan I Nyoman Suastika S.Or (42) atau akrab disapa Pak Suastika, kepala dusun Tulamben yang juga menjadi Ketua Organisasi Pemandu Selam Tulamben. Beliau bercerita banyak tentang permasalahan sampah yang ada, yang menurut penuturannya lebih parah 10 kali lipat dari apa yang saya temui saat observasi.

Yang muda dan yang tua mengumpulkan sampah di Desa Tulamben

Desa Tulamben sendirinya dihuni oleh 2.613 kepala keluarga. Di sepanjang pantai Tulamben, terdapat 41 hotel yang mampu memperbaki masalah ekonomi sosial masyarakat di sana, seperti berkurangnya pengangguran. Namun, Desa Tulamben juga menghasilkan sampah yang cukup melimpah. Setiap keluarga di Desa Tulamben menghasilkan sampah sekitar 5 kg per hari. Sementara setiap hotel menghasilkan kira-kira 10 kg sampah per harinya. Jika dijumlahkan, Desa Tulamben mampu menghasilkan sampah sebanyak 13.615 kg per hari. Angka tersebut bisa dikatakan angka yang cukup besar. Jumlah sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan jumlah tempat sampah yang tersedia, ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Akibatnya, sampah dibuang begitu saja di sembarang tempat. Banyak terlihat sampah-sampah berserakan di pinggir jalan, ada juga beberapa titik tumpukan sampah tidak terurus. Selain di pinggir jalan raya, sering kali sampah-sampah tersebut juga terlihat tercecer di bibir pantai sehingga membuat keindahan pantai Tulamben berkurang, dan tak jarang sampah tersebut terseret ombak dan menyebabkan laut tercemar sampah. Hal tersebut dapat dilihat saat pembersihan pantai Tulamben pada tanggal 19 Februari 2017 dalam rangka memperingati Hari Sampah Nasional pada 21 Februari yang berhasil mengumpulkan 1,4 ton sampah anorganik seperti sampah plastik dan botol kaca.

Permasalahan sampah di Desa Tulamben sudah tentu menjadi permasalahan yang serius. Itulah yang kemudian mendorong Pak Suastika untuk mencari solusi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat bank sampah sekaligus tempat penampungan sampah terpadu di tanah miliknya sendiri di Desa Tulamben. Bank sampah tersebut ia beri nama Bank Sampah Tulamben Bersehati. Beliau mengajak saya dan teman-teman KKN yang lain untuk melihat secara langsung bank sampah yang ia maksud. Saya dan teman-teman langsung mengiyakan.

Bank Sampah Tulamben Bersehati

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.30 WITA, dengan menggunakan baju lapangan KKN dan training dan sepatu olahraga, saya dan teman-teman langsung menuju lokasi bank sampah yang ternyata terletak tidak jauh dari posko KKN. Di sana, saya dan teman-teman disambut hangat oleh Pak Suastika dan istrinya, Bu Luh Sumartini (42). Mereka berdua mengelola bank sampah tersebut sambil dibantu oleh beberapa warga. Setelah bertegur sapa sebentar, Pak Suastika kemudian mengajak saya dan teman-teman melihat sekeliling sambil menjelaskan segala maksud, tujuan, dan fungsi di bank sampah tersebut.

Gigih mengumpulkan sampah

Menurut penuturannya, Bank sampah yang ia bangun merupakan sistem pengolahan sampah organik dan anorganik dan diharapkan mendorong masyarakat di Desa Tulamben untuk turut serta berperan aktif di dalamnya karena mereka juga merupakan salah satu produsen sampah yang ada di sana. Sistem bank sampah di Desa Tulamben secara umum memiliki 3 tahapan, yaitu menampung, memilah, dan menyalurkan sampah tersebut kepada pengepul.

Masyarakat menampung sampah mereka di bank sampah secara berkala. Ada yang menabung sampah dengan menggunakan kantong plastik besar, ada juga yang menggunakan karung plastik. Tahap menampung ini juga dapat disebut sebagai tahap menabung. Sama halnya seperti bank komersil pada umumnya, masyarakat dapat membuka rekening di bank sampah. Sampah yang ditabung akan ditimbang terlebih dahulu, kemudian dicatat di dalam buku tabungan atau rekening yang juga diisi dengan nilai finansial sesuai dengan berat sampah yang ditabung. Nilai finasial yang diisi tentu saja disesuaikan terlebih dahulu dengan harga yang ditetapkan oleh pengepul sampah. Nilai finansial tersebut nantinya dapat ditarik dalam jangka waktu 6 bulan sekali, biasanya saat menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. Sehingga nantinya masyarakat memiliki uang untuk persiapan hari raya. Lumayan, sekadar untuk beli daging babi ataupun sarana prasarana upakara, atau juga sebagai tunjangan hari raya alias THR.

Sampah yang sudah ditampung atau ditabung kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dikumpukan langsung di satu tempat, sedangkan sampah anorganik dipilah lagi berdasarkan jenis yang berbeda, yaitu plastik, kaca, karet, logam dan kertas. Sampah yang sudah dipilah dan dikumpulkan selanjutnya disalurkan atau dibawa ke pengepul sampah. Pengepul sampah inilah yang nantinya akan membayar sampah masyarakat tersebut. Antusias masyarakat untuk mengikuti program Bank Sampah sangat besar, terlihat dari pagi hingga sore saya dan teman-teman di sana, masyarakat selalu aktif berdatangan dengan membawa sampah yang akan ditabung. Selain itu, anak-anak juga ikut menabung sampah.

Satu hal yang menarik di sini adalah adanya pegolahan akhir berupa pemanfaatan limbah sampah organik dan anorganik yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK Desa Tulamben. Pemanfaatan limbah organik tersebut berupa dedaunan, ranting-ranting pohon, serta buah dan sayuran yang sudah menjadi limbah rumah tangga akan diolah menjadi pupuk organik. Sedangkan sampah non-organik seperti gelas plastik, koran bekas dan kaleng yang tidak disalurkan kepada pengepul, akan dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti tas dan miniatur. Kerajinan tersebut nantinya akan dijual di pos Organisasi Pemandu Selam Tulamben yang ada di desa.

Keberadaan bank sampah inilah yang kemudian meminimalisir jumlah sampah yang ada di Desa Tulamben, terutama di sekitaran titik utama pariwisatanya. Pak Suastika menuturkan, adanya bank sampah di Desa Tulamben memberikan pengaruh postif terhadap sampah-sampah di sekitar desa tersebut. Masyarakat secara sadar memungut sampah-sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan raya kawasan pariwisata Desa Tulamben untuk kemudian ditabung di bank sampah. Harapan ke depan tentu adanya Bank Sampah Tulamben Bersehati mampu mengurangi volume sampah secara maksimal dan mampu menambah penghasilan masyarakat.

Komunitas Rare Segara Tulamben

Sesudah melihat-lihat bank sampah, bertegur sapa dengan beberapa warga yang membantu di sana, juga mendengar penjelasan yang cukup detail dari Pak Suastika, saya dan teman-teman kemudian diajak untuk melakukan pembersihan di sepanjang jalan menuju titik utama pariwisata Desa Tulamben. Katanya, pembersihan akan dilakukan di hari Minggu sekitar pukul 07.00 WITA. Saya dan teman-teman lagi-lagi langsung mengiyakan. Kebetulan, saya dan teman-teman memang berencana mengisi hari Minggu pertama di masa KKN dengan melakukan pembersihan.

Hari Minggu pertama di masa KKN pun tiba, pagi-pagi saya dan teman-teman sudah mandi dan sudah rapi. Dengan menggunakan baju kaos dan celana training, sambil masing-masing membawa polybag besar berwarna hitam, saya dan teman-teman langsung menuju ke titik utama pariwisata Desa Tulamben. Pak Suastika sebelumnya meminta kami menunggu di sana. Namun, meski waktu sudah menunjukan pukul 07.10 WITA, tidak ada tanda-tanda Pak Suastika sudah berada di lokasi. Sampai akhirnya dari balik gang depan titik utama pariwisata Desa Tulamben, Pak Suastika muncul bersama rombongan anak-anak yang membawa polybag hitam besar sama seperti yang saya dan teman-teman saya bawa. Anak-anak tersebut juga akan melakukan pembersihan dengan dipandu oleh Pak Suastika sendiri.

Pembersihan yang saya dan teman-teman lakukan, juga Pak Suastika dan rombongan anak-anak yang ia pandu, baru selesai sekitar pukul 09.00 WITA. Tak terasa sekitar 2 jam waktu sudah berlalu. Mungkin karena pembersihan yang dilakukan dibarengi dengan bercandaan dan guyonan anak muda jaman sekarang. Tak sedikit juga dari rombongan anak-anak yang tertawa terpingkal-pingkal. Dari 2 jam pembersihan itu juga, setiap polybag hitam besar yang dibawa sudah penuh dengan sampah anorganik. Kami semua berkumpul di kantor desa untuk beristirahat sejenak sambil memperkenalkan diri masing-masing. yang pertama memperkenalkan diri adalah saya dan teman-teman saya sendiri. Anak-anak tersebut memilih untuk menjadi yang kedua dengan alasan masih malu. Tidak masalah bagi saya entah menjadi yang pertama atau yang kedua.

Setelah saya dan teman-teman memperkenalkan diri, tibalah giliran mereka. Nah, saat mereka memperkenalkan diri, barulah di sana saya tahu, rombongan anak-anak tersebut adalah rombongan Komunitas Rare Segara Tulamben. Komunitas Rare Segara Tulamben, kata mereka, dibentuk dengan tujuan untuk menyelamatkan keindahan potensi pariwisata Desa Tulamben dari timbunan sampah pariwisata, terutama sampah anorganik. Kemunitas mereka ternyata belum lama terbentuk, baru sekitar 3 bulan sebelum saya dan teman-teman memulai KKN di Desa Tulamben, meski begitu komunitas mereka ternyata sudah terkenal sampai ke luar desa karena komunitas mereka berkontribusi nyata untuk mengubah kawasan pariwisata Tulamben menjadi bersih dan indah.

Pembentukan Komunitas Rare Segara Tulamben ini ternyata diprakasai oleh Pak Suastika dengan harapan anak-anak di Desa Tulamben memiliki kesadaran secara penuh bahwa sampah dapat mencemari lingkungan tempat tinggal mereka. Tentu akan sangat merugikan jika sampah tersebut menumpuk di desa mereka sendiri, meningat desa mereka adalah tujuan wisata yang membawa penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Di samping itu, sampah juga berpotensi untuk mencemari laut mereka, merusak kekayaan alam yang ada dan tentu saja potensi laut mereka tidak akan diminati lagi. Maka dari itu, ia mengajak anak-anak untuk membersihkan lingkungan sekitar mereka, terutama lingkungan pantai.

Rare Segara Tulamben beranggotakan anak-anak yang berusia 7 sampai dengan 13 tahun, mereka terbiasa bangun pagi di hari minggu, selanjutnya menyisir pantai di sekitar daerah mereka. Pak Suastika menuturkan, alasan mengapa anak-anak menjadi fokus pergerakan adalah dikarenakan anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, oleh sebab itu anak-anak harus dilatihkan sejak dini untuk mencintai lingkungan. Sehingga kelak dewasa nanti akan menjadi motor pergerakan-pergerakan untuk kepentingan berbangsa dan bernegara. Lewat pergerakan itu akan tercapai tujuan yang dirumuskan dalam SDGs nomor 14 dan 15 yaitu mengenai kehidupan bawah laut dan kehidupan darat yang nantinya akan berimbas kepada tujuan nomor 1 yaitu pemberantasan kemiskinan. Mantap sekali, Pak.

Nama komunitas mereka sendiri sudah menandakan hal yang harus dilakukan. Rare berarti anak, sementara Segara berarti laut. Rare Segara memiliki arti Anak-Anak Laut. Di tangan merekalah laut di Desa Tulamben akan dititipkan untuk senantiasa dijaga dari limbah sampah yang mengancam keasriannya. Sampah-sampah yang mereka kumpulkan akan dibawa ke Bank Sampah Tulamben Bersehati untuk ditabung. Mereka semua memiliki rekening mereka masing-masing. Ada juga yang rekeningnya jadi satu dengan orang tuanya.

Saya dan teman-teman tentu saja mendukung apa yang mereka lakukan. Saya memberikan beberapa motivasi dan bercerita sedikit tentang dampak sampah terhadap lingkungan mereka, tentu saja dengan pendekatan yang asik dan lucu. Setelah itu polybag hitam besar yang sudah penuh dengan sampah dibawa ke Bank Sampah Tulamben Bersehati yang jaraknya sangat dekat dengan kantor desa dekat kami berkumpul. Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Saya dan teman-teman kembali ke posko KKN. Sebelumnya kami sudah berjanji untuk kembali melakukan pembersihan di hari Minggu selanjutnya.

Akhirnya di masa KKN, saya sadar bahwa melaksanakan KKN bukanlah perkara tempat, tapi perkara apa yang bisa kita petik dan apa yang bisa kita pelajari di sana. Komunitas Rare Segara Tulamben dan Bank Sampah Tulamben Bersehati adalah satu paket inovasi yang diprakasai oleh Pak Suastika dan terbukti mampu meminimalisir produksi sampah di Desa Tulamben. Keduanya punya ruang lingkupnya masing-masing. Komunitas Rare Segara Tulamben melakukan pembersihan dengan cara turun ke jalan, sementara Bank Sampah Tulamben Bersehati mengolah sampah yang diproduksi oleh rumah tangga, hotel, villa, dan restoran yang ada di kawasan pariwisata Desa Tulamben. Mengingat sampah merupakan permasalahan global yang perlu untuk segera ditindaklanjuti, solusi-solusi yang menyasar masyarakat sebagai roda penggerak adalah solusi yang sangat positif. Seperti Komunitas Rare Segara Tulamben dan Bank Sampah Tulamben Bersehati di atas. [T]

Tags: Generasi Zaman NowkarangasemSampahsampah plastik
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan

Next Post

Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co