6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Peduli Lingkungan dari Tulamben: Bank Sampah & Komunitas Rare Segara

Julio Saputra by Julio Saputra
May 20, 2019
in Khas
Generasi Peduli Lingkungan dari Tulamben: Bank Sampah & Komunitas Rare Segara

Bersiap kumpulkan sampah di Desa Tulamben, Karangasem

Tiap kali saya diajak berbicara tentang sampah, membaca berita-berita yang mengulas sampah di media sosial, tau melihat langsung sampah di depan mata saya, terutama sampah plastik, maka ingatan saya akan terbang ke masa-masa saat saya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem, dua tahun lalu, yang kemudian menjadi masa-masa yang sangat terkenang dan melekat di salah satu sudut ingatan saya.

Awalnya, saya merasa sangat senang ketika tahu bahwa kami semua ditempatkan di Desa Tulamben untuk melaksanakan KKN selama 45 hari ke depan, dari bulan akhir Juni, hingga awal Agustus 2017. Pikir saya, menjalani KKN di sebuah desa pariwisata dengan titik diving dan snorkeling yang terkenal di mata dunia tentu akan sangat menyenangkan. Saya juga sempat mencari-cari informasi di internet tentang desa tersebut dan dari sana akhirnya saya tahu bahwa Desa Tulamben memiliki suasana pantai dengan batu-batu koral yang membuat pantai Tulamben menjadi berbeda dengan pantai-pantai yang menjadi destinasi pariwisata di Bali. Karena itulah, saya akhirnya berpikir bahwa desa tersebut pastilah bersih dan tertata rapi, bebas dari sampah atau polusi lainnya. Saya lumayan berekspektasi tinggi waktu itu.

Namun, ketika saya mulai oberservasi tempat bersama teman-teman sesama KKN, ekspektasi saya jatuh seketika. Pesisir Pantai Tulamben saya lihat terisolir oleh beberapa sampah, khususnya sampah plastik. Bahkan sampah-sampah tersebut terlihat jelas di sepanjang jalan protokol kawasan pariwisata Tulamben hingga daerah-daerah bibir pantai yang bertepatan dengan tempat para wisatawan mempersiapkan diri untuk diving dan snorkeling. Belakangan saya tahu hal tersebut dikarenakan oleh melonjaknya jumlah wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan laut Tulamben.

Akhirnya KKN pun dimulai. Di minggu pertama, saya dan teman-teman belum menjalankan satu pun program yang kami canangkan, karena masih harus mengobservasi dan melakukan berbagai pendekatan dengan perangkat dan warga desa di sana. Nah, saat observasi itulah, saya bertemu dengan I Nyoman Suastika S.Or (42) atau akrab disapa Pak Suastika, kepala dusun Tulamben yang juga menjadi Ketua Organisasi Pemandu Selam Tulamben. Beliau bercerita banyak tentang permasalahan sampah yang ada, yang menurut penuturannya lebih parah 10 kali lipat dari apa yang saya temui saat observasi.

Yang muda dan yang tua mengumpulkan sampah di Desa Tulamben

Desa Tulamben sendirinya dihuni oleh 2.613 kepala keluarga. Di sepanjang pantai Tulamben, terdapat 41 hotel yang mampu memperbaki masalah ekonomi sosial masyarakat di sana, seperti berkurangnya pengangguran. Namun, Desa Tulamben juga menghasilkan sampah yang cukup melimpah. Setiap keluarga di Desa Tulamben menghasilkan sampah sekitar 5 kg per hari. Sementara setiap hotel menghasilkan kira-kira 10 kg sampah per harinya. Jika dijumlahkan, Desa Tulamben mampu menghasilkan sampah sebanyak 13.615 kg per hari. Angka tersebut bisa dikatakan angka yang cukup besar. Jumlah sampah yang dihasilkan tidak sebanding dengan jumlah tempat sampah yang tersedia, ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Akibatnya, sampah dibuang begitu saja di sembarang tempat. Banyak terlihat sampah-sampah berserakan di pinggir jalan, ada juga beberapa titik tumpukan sampah tidak terurus. Selain di pinggir jalan raya, sering kali sampah-sampah tersebut juga terlihat tercecer di bibir pantai sehingga membuat keindahan pantai Tulamben berkurang, dan tak jarang sampah tersebut terseret ombak dan menyebabkan laut tercemar sampah. Hal tersebut dapat dilihat saat pembersihan pantai Tulamben pada tanggal 19 Februari 2017 dalam rangka memperingati Hari Sampah Nasional pada 21 Februari yang berhasil mengumpulkan 1,4 ton sampah anorganik seperti sampah plastik dan botol kaca.

Permasalahan sampah di Desa Tulamben sudah tentu menjadi permasalahan yang serius. Itulah yang kemudian mendorong Pak Suastika untuk mencari solusi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat bank sampah sekaligus tempat penampungan sampah terpadu di tanah miliknya sendiri di Desa Tulamben. Bank sampah tersebut ia beri nama Bank Sampah Tulamben Bersehati. Beliau mengajak saya dan teman-teman KKN yang lain untuk melihat secara langsung bank sampah yang ia maksud. Saya dan teman-teman langsung mengiyakan.

Bank Sampah Tulamben Bersehati

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.30 WITA, dengan menggunakan baju lapangan KKN dan training dan sepatu olahraga, saya dan teman-teman langsung menuju lokasi bank sampah yang ternyata terletak tidak jauh dari posko KKN. Di sana, saya dan teman-teman disambut hangat oleh Pak Suastika dan istrinya, Bu Luh Sumartini (42). Mereka berdua mengelola bank sampah tersebut sambil dibantu oleh beberapa warga. Setelah bertegur sapa sebentar, Pak Suastika kemudian mengajak saya dan teman-teman melihat sekeliling sambil menjelaskan segala maksud, tujuan, dan fungsi di bank sampah tersebut.

Gigih mengumpulkan sampah

Menurut penuturannya, Bank sampah yang ia bangun merupakan sistem pengolahan sampah organik dan anorganik dan diharapkan mendorong masyarakat di Desa Tulamben untuk turut serta berperan aktif di dalamnya karena mereka juga merupakan salah satu produsen sampah yang ada di sana. Sistem bank sampah di Desa Tulamben secara umum memiliki 3 tahapan, yaitu menampung, memilah, dan menyalurkan sampah tersebut kepada pengepul.

Masyarakat menampung sampah mereka di bank sampah secara berkala. Ada yang menabung sampah dengan menggunakan kantong plastik besar, ada juga yang menggunakan karung plastik. Tahap menampung ini juga dapat disebut sebagai tahap menabung. Sama halnya seperti bank komersil pada umumnya, masyarakat dapat membuka rekening di bank sampah. Sampah yang ditabung akan ditimbang terlebih dahulu, kemudian dicatat di dalam buku tabungan atau rekening yang juga diisi dengan nilai finansial sesuai dengan berat sampah yang ditabung. Nilai finasial yang diisi tentu saja disesuaikan terlebih dahulu dengan harga yang ditetapkan oleh pengepul sampah. Nilai finansial tersebut nantinya dapat ditarik dalam jangka waktu 6 bulan sekali, biasanya saat menjelang hari raya Galungan dan Kuningan. Sehingga nantinya masyarakat memiliki uang untuk persiapan hari raya. Lumayan, sekadar untuk beli daging babi ataupun sarana prasarana upakara, atau juga sebagai tunjangan hari raya alias THR.

Sampah yang sudah ditampung atau ditabung kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dikumpukan langsung di satu tempat, sedangkan sampah anorganik dipilah lagi berdasarkan jenis yang berbeda, yaitu plastik, kaca, karet, logam dan kertas. Sampah yang sudah dipilah dan dikumpulkan selanjutnya disalurkan atau dibawa ke pengepul sampah. Pengepul sampah inilah yang nantinya akan membayar sampah masyarakat tersebut. Antusias masyarakat untuk mengikuti program Bank Sampah sangat besar, terlihat dari pagi hingga sore saya dan teman-teman di sana, masyarakat selalu aktif berdatangan dengan membawa sampah yang akan ditabung. Selain itu, anak-anak juga ikut menabung sampah.

Satu hal yang menarik di sini adalah adanya pegolahan akhir berupa pemanfaatan limbah sampah organik dan anorganik yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK Desa Tulamben. Pemanfaatan limbah organik tersebut berupa dedaunan, ranting-ranting pohon, serta buah dan sayuran yang sudah menjadi limbah rumah tangga akan diolah menjadi pupuk organik. Sedangkan sampah non-organik seperti gelas plastik, koran bekas dan kaleng yang tidak disalurkan kepada pengepul, akan dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti tas dan miniatur. Kerajinan tersebut nantinya akan dijual di pos Organisasi Pemandu Selam Tulamben yang ada di desa.

Keberadaan bank sampah inilah yang kemudian meminimalisir jumlah sampah yang ada di Desa Tulamben, terutama di sekitaran titik utama pariwisatanya. Pak Suastika menuturkan, adanya bank sampah di Desa Tulamben memberikan pengaruh postif terhadap sampah-sampah di sekitar desa tersebut. Masyarakat secara sadar memungut sampah-sampah yang berserakan di sekitar pantai dan jalan raya kawasan pariwisata Desa Tulamben untuk kemudian ditabung di bank sampah. Harapan ke depan tentu adanya Bank Sampah Tulamben Bersehati mampu mengurangi volume sampah secara maksimal dan mampu menambah penghasilan masyarakat.

Komunitas Rare Segara Tulamben

Sesudah melihat-lihat bank sampah, bertegur sapa dengan beberapa warga yang membantu di sana, juga mendengar penjelasan yang cukup detail dari Pak Suastika, saya dan teman-teman kemudian diajak untuk melakukan pembersihan di sepanjang jalan menuju titik utama pariwisata Desa Tulamben. Katanya, pembersihan akan dilakukan di hari Minggu sekitar pukul 07.00 WITA. Saya dan teman-teman lagi-lagi langsung mengiyakan. Kebetulan, saya dan teman-teman memang berencana mengisi hari Minggu pertama di masa KKN dengan melakukan pembersihan.

Hari Minggu pertama di masa KKN pun tiba, pagi-pagi saya dan teman-teman sudah mandi dan sudah rapi. Dengan menggunakan baju kaos dan celana training, sambil masing-masing membawa polybag besar berwarna hitam, saya dan teman-teman langsung menuju ke titik utama pariwisata Desa Tulamben. Pak Suastika sebelumnya meminta kami menunggu di sana. Namun, meski waktu sudah menunjukan pukul 07.10 WITA, tidak ada tanda-tanda Pak Suastika sudah berada di lokasi. Sampai akhirnya dari balik gang depan titik utama pariwisata Desa Tulamben, Pak Suastika muncul bersama rombongan anak-anak yang membawa polybag hitam besar sama seperti yang saya dan teman-teman saya bawa. Anak-anak tersebut juga akan melakukan pembersihan dengan dipandu oleh Pak Suastika sendiri.

Pembersihan yang saya dan teman-teman lakukan, juga Pak Suastika dan rombongan anak-anak yang ia pandu, baru selesai sekitar pukul 09.00 WITA. Tak terasa sekitar 2 jam waktu sudah berlalu. Mungkin karena pembersihan yang dilakukan dibarengi dengan bercandaan dan guyonan anak muda jaman sekarang. Tak sedikit juga dari rombongan anak-anak yang tertawa terpingkal-pingkal. Dari 2 jam pembersihan itu juga, setiap polybag hitam besar yang dibawa sudah penuh dengan sampah anorganik. Kami semua berkumpul di kantor desa untuk beristirahat sejenak sambil memperkenalkan diri masing-masing. yang pertama memperkenalkan diri adalah saya dan teman-teman saya sendiri. Anak-anak tersebut memilih untuk menjadi yang kedua dengan alasan masih malu. Tidak masalah bagi saya entah menjadi yang pertama atau yang kedua.

Setelah saya dan teman-teman memperkenalkan diri, tibalah giliran mereka. Nah, saat mereka memperkenalkan diri, barulah di sana saya tahu, rombongan anak-anak tersebut adalah rombongan Komunitas Rare Segara Tulamben. Komunitas Rare Segara Tulamben, kata mereka, dibentuk dengan tujuan untuk menyelamatkan keindahan potensi pariwisata Desa Tulamben dari timbunan sampah pariwisata, terutama sampah anorganik. Kemunitas mereka ternyata belum lama terbentuk, baru sekitar 3 bulan sebelum saya dan teman-teman memulai KKN di Desa Tulamben, meski begitu komunitas mereka ternyata sudah terkenal sampai ke luar desa karena komunitas mereka berkontribusi nyata untuk mengubah kawasan pariwisata Tulamben menjadi bersih dan indah.

Pembentukan Komunitas Rare Segara Tulamben ini ternyata diprakasai oleh Pak Suastika dengan harapan anak-anak di Desa Tulamben memiliki kesadaran secara penuh bahwa sampah dapat mencemari lingkungan tempat tinggal mereka. Tentu akan sangat merugikan jika sampah tersebut menumpuk di desa mereka sendiri, meningat desa mereka adalah tujuan wisata yang membawa penghidupan bagi sebagian besar masyarakat. Di samping itu, sampah juga berpotensi untuk mencemari laut mereka, merusak kekayaan alam yang ada dan tentu saja potensi laut mereka tidak akan diminati lagi. Maka dari itu, ia mengajak anak-anak untuk membersihkan lingkungan sekitar mereka, terutama lingkungan pantai.

Rare Segara Tulamben beranggotakan anak-anak yang berusia 7 sampai dengan 13 tahun, mereka terbiasa bangun pagi di hari minggu, selanjutnya menyisir pantai di sekitar daerah mereka. Pak Suastika menuturkan, alasan mengapa anak-anak menjadi fokus pergerakan adalah dikarenakan anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, oleh sebab itu anak-anak harus dilatihkan sejak dini untuk mencintai lingkungan. Sehingga kelak dewasa nanti akan menjadi motor pergerakan-pergerakan untuk kepentingan berbangsa dan bernegara. Lewat pergerakan itu akan tercapai tujuan yang dirumuskan dalam SDGs nomor 14 dan 15 yaitu mengenai kehidupan bawah laut dan kehidupan darat yang nantinya akan berimbas kepada tujuan nomor 1 yaitu pemberantasan kemiskinan. Mantap sekali, Pak.

Nama komunitas mereka sendiri sudah menandakan hal yang harus dilakukan. Rare berarti anak, sementara Segara berarti laut. Rare Segara memiliki arti Anak-Anak Laut. Di tangan merekalah laut di Desa Tulamben akan dititipkan untuk senantiasa dijaga dari limbah sampah yang mengancam keasriannya. Sampah-sampah yang mereka kumpulkan akan dibawa ke Bank Sampah Tulamben Bersehati untuk ditabung. Mereka semua memiliki rekening mereka masing-masing. Ada juga yang rekeningnya jadi satu dengan orang tuanya.

Saya dan teman-teman tentu saja mendukung apa yang mereka lakukan. Saya memberikan beberapa motivasi dan bercerita sedikit tentang dampak sampah terhadap lingkungan mereka, tentu saja dengan pendekatan yang asik dan lucu. Setelah itu polybag hitam besar yang sudah penuh dengan sampah dibawa ke Bank Sampah Tulamben Bersehati yang jaraknya sangat dekat dengan kantor desa dekat kami berkumpul. Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing. Saya dan teman-teman kembali ke posko KKN. Sebelumnya kami sudah berjanji untuk kembali melakukan pembersihan di hari Minggu selanjutnya.

Akhirnya di masa KKN, saya sadar bahwa melaksanakan KKN bukanlah perkara tempat, tapi perkara apa yang bisa kita petik dan apa yang bisa kita pelajari di sana. Komunitas Rare Segara Tulamben dan Bank Sampah Tulamben Bersehati adalah satu paket inovasi yang diprakasai oleh Pak Suastika dan terbukti mampu meminimalisir produksi sampah di Desa Tulamben. Keduanya punya ruang lingkupnya masing-masing. Komunitas Rare Segara Tulamben melakukan pembersihan dengan cara turun ke jalan, sementara Bank Sampah Tulamben Bersehati mengolah sampah yang diproduksi oleh rumah tangga, hotel, villa, dan restoran yang ada di kawasan pariwisata Desa Tulamben. Mengingat sampah merupakan permasalahan global yang perlu untuk segera ditindaklanjuti, solusi-solusi yang menyasar masyarakat sebagai roda penggerak adalah solusi yang sangat positif. Seperti Komunitas Rare Segara Tulamben dan Bank Sampah Tulamben Bersehati di atas. [T]

Tags: Generasi Zaman NowkarangasemSampahsampah plastik
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Pelajaran Daur Ulang Sampah dari Rumah Plastik di Desa Petandakan

Next Post

Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

by Agung Sudarsa
March 2, 2026
0
Bakti Sosial Anand Ashram Youth di Yayasan Pendidikan Anak Tuna Netra Denpasar —Merayakan Kemanusiaan dalam Nada dan Kebersamaan

“Jiwa muda adalah jiwa penuh energi, penuh semangat. Maka, dengan sendirinya penuh gejolak pula. Ia bisa membangkang, bisa memberontak, bisa...

Read moreDetails

Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

by Putu Ayu Ariani
February 27, 2026
0
Leo Saputra, Perajin Perak Singapadu yang Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk...

Read moreDetails

‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

by Dede Putra Wiguna
February 23, 2026
0
‘Abhikkama’ – Maju Terus: Komitmen Pemuda Theravāda Indonesia (Patria) Senantiasa Bergerak dan Menumbuhkan Kebajikan

TIGA dasawarsa bukanlah perjalanan yang singkat. Bagi Pemuda Theravāda Indonesia (Patria), 30 tahun adalah rentang pengabdian, pembelajaran, dan konsistensi dalam...

Read moreDetails

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

by Jaswanto
February 22, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

“SAYA menangis saat survei sekolah setelah lolos seleksi P3K,” ujar Samsul Rizal bercerita kepada saya pada malam yang gerah di...

Read moreDetails

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
February 22, 2026
0
Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

SABTU pagi itu datang dengan suara burung dan kokok ayam yang bersahutan. Di sela suasana yang masih lengang, telepon genggam...

Read moreDetails

Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

by Made Chandra
February 21, 2026
0
Tiba-tiba Konservasi : Melihat Pentingnya Kesadaran Konservasi yang Justru Hadir dari Inisiatif Kolektif

CATATAN ini berawal dari ajakan Bli Vincent Chandra—seorang pemuda yang berapi-api ketika bercumbu dengan kebudayaan, untuk mengajakku untuk menyambangi Museum...

Read moreDetails

Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 19, 2026
0
Menulis Opini Bahasa Bali Jangan Seperti Orang “Ngigelang Tapel”! — Dari Lomba Opini Bulan Bahasa Bali 2026

WIMBAKARA (Lomba) Opini Berbahasa Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali mirip sebuah ujian sekripsi atau tesis. Peserta tidak hanya menyelesaikan sebuah...

Read moreDetails

Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 18, 2026
0
Menjadi Penolong Pertama di Usia Belia: Ketika Para Dokter Kecil Beradu Cerdas di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan...

Read moreDetails

Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

by I Nyoman Darma Putra
February 15, 2026
0
Buku ‘Gaya Patung Pendet di Mata Tiga Profesor’ Diluncurkan pada Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet

Perayaan HUT ke-23 Museum Pendet di Nyuhkuning, Ubud, Gianyar, Minggu, 15 Februari 2026, ditandai dengan peluncuran dan bedah empat buku...

Read moreDetails

Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

by Son Lomri
February 15, 2026
0
Mang Adi, Si Penyadap Tuak, Menghadapi Musim yang Tak Pasti —Cerita Kecil dari Desa Sambirenteng

MANG ADI memegang sebilah paku dengan gaya seperti layaknya memegang pena. Dengan ujung paku yang runcing itu, ia menggurat garis...

Read moreDetails
Next Post
Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Pedawa: Desa Tua, Rumah Tua, dan Anak-anak Muda yang Bergairah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co