KETERATURAN adalah hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur tertib asali itu, supaya gugusan planet; bulan, matahari, dan jutaan bintang tidak bertubrukan, senantiasa tertib di poros masing-masing? Ini sesuatu yang niskala, pertanyaan yang tak terjangkau pikiran.
Namun para sarjana India, para Rsi menyebut sang pengendali tunggal itu bernama Rta. Rta-lah yang paling bertanggung jawab pada seluruh rotasi, gerak edar benda-benda langit di semesta ini. Rta pula yang menata supaya planet-planet itu ”bertanggung jawab” pada di titik edar sendiri. Siang-malam, gerhana bulan, gerhana matahari, hujan badai, dikondisikan rta itu sendiri. Demikianlah Rta mengatur seluruh asfek kehidupan di semesta ini.
Di kemudian hari, dari sini kelak manusia berpikir membumikan ”tertib langit” itu ke tertib sosial. Kerajaan-kerajaan dibangun, undang-undang ditulis, birokrasinya dibangun berharap ”planet kerajaan” menyamai keadilan Rta”. Regulasi-regulasi kerajaan diundangkan, aturan dan norma-norma yang kemudian disebut sasana ditetapkan. Dalam tradisi Jawa raja kerap diposisikan sebagai Paku Bhuwana, sang angawa rat dalam tradisi Bali, artinya yang memegang, mengendalikan, mengatur ”planet-planet birokrasi” kerajaan. Kajian akademik soal ini bisa kita baca dalam karya klasik disertasi Soemarsid Moertono berjudul Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI-XIX [2017].
Warisan atas sejumlah teks etik di Bali, semisal Raja Niti Sasana, Mantri Sasana, dan teks-teks dengan titel ’agama’ adalah teks bagaimana hukum keteraturan itu disepakati, berharap tidak ada lembaga kerajaan saling bertubrukan, atau saling kuasa. Raja adalah Rta itu sendiri dalam kosmos pemerintahan. Pranata dan norma pengatur negara [tata negara] dibuat. Norma pengatur masyarakat [tata krama] juga dibikin, sampai ke sub-sub norma lebih luas, lebih detail. Tata keagamaan, tata upacara, hingga pedoman paling rinci soal ”plelutuk upacara”, soal diksa, dan lain-lain juga ditulis.
Siapa pun yang sempat membaca teks Bhagawan Garga, Geguritan Ala-Ayuning Dewasa, teks Wariga Krimping, yang disebut pula Wariga Pangancangan akan mengerti; hidup keseharian kita pun diharapkan menyesuaikan dengan Rta itu sendiri. Di situ tampak jelas manusia ingin hidup harmonis dengan alam — lepas dari kekeliruan-kekeliruan yang kerap fatal dilakukan manusia.
Sekadar contoh, kita tahu Wariga Krimping adalah teks yang memberi petunjuk bagi para petani, peternak, nelayan, dan pedagang. Lontar ini menjadi semacam pentunjuk praktis sehari-hari soal hari baik bercocok tanam, hari baik pernikahan, potong rambut, larangan untuk mengubur atau ngaben saat ”Semut Sadulur”, Kala Gotongan, termasuk hari-hari pantangan bersebadan, ini sungguh sangat diperhatikan.
Yang memahami Rta, dianggap katam soal Rtu, yakni soal-soal yang terhubung dengan ilmu perbintangan atau Joythisa. Tentu banyak hal yang perlu dipelajari bagi siapa saja yang hendak mendalami pengetahuan Weda lebih luas, seperti wyakarana[tata bahasa], nirukta[studi perihal asal-asul, sejarah dan arti kata, candasastra [ilmu puisi], dll.
Dari Rta hukum tertinggi itulah kebijakan kuna raja-raja India meletakkan momen pembaruan setelah letih, lelah dengan kemelut; peperangan dan pemberontakan. Kelak dalam satu titik perjalanan sejarah, tanggal 22 Maret 79 ditetapkan Raja Kaniskha I sebagai tahun penanggalan resmi kerajaan sekaligus momen penobatan sang raja. Hari itu disebut sebagai era Saka-Kala, memulai sebuah tarikh baru, era yang menyudahi tindak kekerasan. Dan manusia ingin mencari damai, mencari hening.
Memang sehari sebelumn penobatan Raja Kaniskha I, tepat di tanggal 21 Maret 79 terjadi peristiwa alam penting : Gerhana Matahari Total. Gerhana, baik itu gerhana matahari [surya graha] maupun gerhana bulan [candra graha] posisi matahari – bulan – dan bumi berada dalam satu garis lurus. Karenanya gerhana matahari akan jatuh pada bulan mati [tilem] dan gerhana bulan jatuh pada purnama penuh.
Menurut catatan IBG. Agastia [2005: 13], karena pada saat itu terjadi gerhana matahari, maka dapatlah dipastikan bahwa pada hari itu adalah tilem [bulan mati]. Jadi perhitungan penetapan tahun Saka tidak hanya memperhatikan poisisi matahari[surya pramana] tetapi juga memperhatikan posisi bulan [candra pramana] oleh karena itu disebut surya-candra-pramana.
Diterangkan IBG. Agastia, perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.Oleh karena itu, tanggal 1 bulan 1 Saka senantiasa jatuh pada tanggal 1[pananggal ping pisan] bulan[Sasih] Waisaka, sehari setelah Tilem Caitra. Akibatnya tanggal 1 bulan 1 Saka tidak senantiasa tepat jatuh pada tanggal 22 Maret [karena masih memperhatikan poisisi bulan lurus dengan bumi dan matahari].
Bila diperhatikan lebih seksama, dalam kalendar Saka Bali berlaku penggabungan tiga sistem kalender. Tiga sistem kalender itu meliputi; sistem tahun surya,[1], sistem tahun candra[2], dan sitem tahun Wuku [3]. Sistem tahun surya berpedoman pada jangka waktu peredaran bumi mengitari matahari. Jangka waktu ini disebut satu tahun surya. Umurnya 365,22 hari. Tepatnya 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik.
Sistem tahun candra berpedoman dengan jangka waktu peredaran bulan mengelilingi bumi disebut satu bulan. Umurnya 29,5 hari. Tepatnya 29 hari, 12 jam, 44 menit, 3 detik. Sehingga umur satu tahun 12 Sasih, terhitung mulai dari bulan Caitra sampai Palguna masa. Umur tahun Candra 354 hari, 8 jam, 45 menit, 36 detik. Sementara sistem tahun wuku dalam satu lingkaran nemugelang berjumlah 210 hari. Lazim disebut enam bulan Bali.
Penetapan Nyepi sebagai awal pergantian tahun baru saka, setidaknya menurut catatan tiga cendekiawan Bali; I Gusti Bagus Sugriwa [1955], Nyoman S. Pendit [2001], IBG. Agastia[2005] merujuk momen penetapan tahun Saka, sebagai era baru tarikh Saka-Kala yang kebetulan saat itu Tilem Caitra – walau dalam tradisi Bali yang lebih kuna Nyepi tidak selalu terhubung dengan pergantian tahun. Belum ditemukan dinasti raja-raja Bali Kuna menetapkan tersendiri momen tahun barunya.
Maka sekali lagi sebagaimana dinyatakan IBG. Agastia, ”Perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.” Walau di India sendiri, perayaan tahun baru Saka itu tidak disertai dengan Penyepian.
Sampai di titik ini, Nyepi adalah tindakan penjernihan dari adab batin manusia Bali itu sendiri. Mengingat selain Nyepi yang diawali upacara palelastian dan tawur kesanga serta dirangkai dengan pergantian tahun baru Saka, di Bali sendiri, dalam tradisi lokal masih ada berjenis-jenis ”perayaan” Nyepi.
Misalnya Nyepi Segara, Nyepi Carik, Nyepi Abian, dan lain-lain. Sekali lagi ini adalah bentuk-bentuk tindakan penjernihan dan pengheningan – memberi ruang pada alam dengan segala isinya yang telah menyangga hidup ini keheningan — dan berharap ”sarwa prani” sumber prana yang tak terlihat mata itu menyempurna dengan baik.
Ada beberapa tahapan retret yang harus dilewati manusia Bali sebelum sampai ke puncak hening, nyepi, sipeng. Pertama adalah melasti. Lasti artinya tepi air, juga berarti pebersihan, penyucian. Ini adalah perjalanan meditatif menuju pusat-pusat air. Semua simbol-simbol kedewataan[pratima] disucikan menuju tepi air, laut, danau, campuhan, patirtan, dan kelebutan. Air adalah simbol penjernihan sekaligus amreta pemberi hidup. Orang Yunani menyebutnya sebagai abrosia, yang artinya tak pernah mati.
Karena itu devosi paling tinggi saat palelastian adalah, berharap segala kekotoran diri dan dunia disucikan, alam dengan segala isinya mendapat sari hidup kembali – angamet sarining amrta. Di samping itu malasti juga merupakan tindakan kontrol lingkungan ke sumber-sumber air, supaya setiap orang senantiasa terpanggil merawat air dan lingkungan — dan menjadilah ia doa dalam tindakan.
Selanjutnya, usai palelastian, tepat pada tilem caitra, saat matahari tepat di atas kepala, bayangan kita tak terlihat, manakala matahari ”melintas” di garis tengah khatulistiwa, ”perjalanan” menuju utarayana, upacara tawur bhumi suddha dilakukan. Tawur berarti kembali, doa-nya berharap unsur-unsur yang membangun dunia ini, panca maha bhuta disempurnakan, langgeng senantiasa menghidupi semesta makhluk hidup.
Kenapa Tawur digelar saat bajeg surya atau saat matahari tepat di atas kepala kita? Pertama, ketika bulan mati [tilem], saat bajeg surya adalah waktu tepat memuja matahari sebagai Siwa Raditya — Siwa yang berbadankan Surya. Karena matahari adalah raja semesta, ia sumber maha energi, seluruh kehidupan ini tergantung pada sang maha energi itu.
Bukankah tanpa sadar kita sesungguhnya ”pemakan” matahari. Sayur, buah, daging, nasi yang kita santap itu, hidup dan bertumbuh karena matahari. Dari situlah kita ”memakan” matahari. Dari situ pula kita hidup karena matahari. Ini pula alasan kenapa saban pagi para pendeta Bali melakukan surya sewana, intinya mendoakan supaya matahari tetap memberi hidup bagi semua, menjadi cahaya bagi semua.
Lalu tawur digelar di titik-titik sentrum pertemuan langit dan bumi. Di Pura Agung Besakih, upacara digelar di sebuah areal tengah bernama ”bencingah agung” di kaki Gunung Agung, tepat di muka lingga acala [lingga abadi] Gunung Agung. Orang-orang Bali terpelajar memaknai tempat ini sebagai ”madyaning bhuwana”, tengahnya dunia – di mana langit dan bumi disatukan dalam upacara tawur yang amat tantrik.
Di pusat-pusat kota, tawur digelar di pusat perputaran energi mistis ”pempatan agung” atau ”catus pata.” Sementara di rumah-rumah penduduk, caru digelar di natah [halaman tengah] di titik pertemuan ibu-bapa langit, atau di lebuh gerbang masuk pekarangan. Dan menjelang sandya-kala dilakukanlah upacara pangrupukan atau maobor-obor – berharap buta-buti, energi ”penggangu” dijauhkan dari hidup.
Maka esok hari, setelah menjalani retret berlapis itu perjalanan menuju titik NOL dimulai. Inilah drama kolosal dari ramya menuju sunya. Dari hal-hal gaduh menuju hening. Nyepi di luar dan Nyepi di dalam dilakukan.
Nyepi di luar dilaksanakan dengan menjalankan brata penyepian secara fisik, yakni menjalankan catur brata panyepian, meliputi; amati gni [tidak menyalakan api] amati karya [tidak bekerja], amati lelungan [tidak bepergian], dan amati lelanguan [tidak bersenang-senang].
Sementara Nyepi di dalam dilakukan dengan brata puasa, penjernihan pikiran, penenangan jiwa, mawas diri, pengendalian nafsu, serta laku meditatif [tapa brata, samadhi] guna merengkuh kesadaran Sunya.
Menurut teks-teks Jawa Kuna, kesadaran Sunya adalah kesadaran Paramasiwa – kesadaran yang layaknya kaadaan dorman atau ”tidak aktif” – seperti status rekening bank yang fasif atau tidak aktif karena tidak adanya transaksi debit maupun kredit.
Bagi kehidupan dunia kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Namun bagi jiwa yang memerlukan nutrisi jiwa [amrtajiwa], kondisi kesadaran seperti ini sungguh dibutuhkan. Inilah yang disebut heneng atau hening. Ini pula yang disebut Sepi — perjalanan dari NOL menuju NOL.
Sampai di sini Nyepi lalu menjadi titik jeda, kebutuhan kita bersama; seluruh kekerasan pada bumi berserta isinya dihentikan. Nyepi memberi ruang bagi bumi serta seluruh isinya ”beristirahat”, bebas sebebas-bebasnya-nya. Perang, perseteruan, dihentikan demi penghormatan dan memuliakan pada planet bumi. Karena setiap entitas hidup memiliki hak untuk bahagia, bebas dari kekerasan, perusakan, dan penderitaan. Inilah kenapa kemudian Bali secara fisik menjalanan catur brata penyepian, berharap semua entitas semesta mendapat keheningan. Keheningan adalah obat paling mujarab bagi dunia yang sedang berseteru.
Catatan:
Tulisan ini adalah rangkuman ceramah Lingkar Studi Seri #009, Jumat 13 Maret 2026. Disponsori Danatara Indonesia, CDS[Center for Dharmic Studies] Binroh Hindu Telkom Group, Telkom Indonesia, dan Majalah Çraddha.




























