15 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

I Wayan Westa by I Wayan Westa
March 15, 2026
in Esai
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

Wayan Westa | Foto: Akun Facebook Wayan Westa

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur tertib asali itu, supaya gugusan planet;  bulan, matahari,  dan jutaan bintang  tidak bertubrukan, senantiasa tertib di poros masing-masing? Ini sesuatu yang niskala, pertanyaan yang tak terjangkau pikiran.

Namun para sarjana India, para Rsi menyebut sang pengendali tunggal itu bernama Rta. Rta-lah yang paling bertanggung jawab pada seluruh rotasi, gerak edar benda-benda langit  di semesta ini. Rta pula yang menata supaya planet-planet itu ”bertanggung jawab” pada di titik edar sendiri. Siang-malam, gerhana bulan, gerhana matahari, hujan badai, dikondisikan  rta itu sendiri. Demikianlah Rta mengatur seluruh asfek kehidupan di semesta ini.

Di kemudian hari, dari sini kelak manusia berpikir membumikan ”tertib langit” itu ke tertib sosial. Kerajaan-kerajaan dibangun, undang-undang ditulis, birokrasinya dibangun berharap ”planet kerajaan” menyamai keadilan Rta”.  Regulasi-regulasi kerajaan diundangkan, aturan dan norma-norma yang  kemudian disebut sasana ditetapkan. Dalam tradisi Jawa raja kerap diposisikan sebagai Paku Bhuwana, sang angawa rat dalam tradisi Bali, artinya yang memegang, mengendalikan, mengatur ”planet-planet birokrasi” kerajaan. Kajian akademik soal ini bisa kita baca dalam karya klasik disertasi Soemarsid Moertono berjudul Negara dan Kekuasaan di Jawa Abad XVI-XIX [2017].

Warisan atas sejumlah teks etik di Bali, semisal Raja Niti Sasana, Mantri Sasana, dan teks-teks dengan titel ’agama’ adalah  teks bagaimana hukum keteraturan itu disepakati, berharap tidak ada lembaga  kerajaan saling bertubrukan, atau saling kuasa. Raja adalah Rta itu sendiri dalam kosmos pemerintahan.  Pranata dan norma pengatur negara [tata negara] dibuat. Norma pengatur masyarakat [tata krama] juga dibikin, sampai ke sub-sub norma lebih luas, lebih detail. Tata keagamaan, tata upacara, hingga pedoman  paling rinci  soal ”plelutuk upacara”, soal diksa, dan lain-lain  juga ditulis.

Siapa pun yang sempat membaca teks  Bhagawan Garga, Geguritan Ala-Ayuning Dewasa,  teks Wariga Krimping,  yang disebut pula Wariga Pangancangan  akan mengerti;  hidup keseharian kita  pun diharapkan menyesuaikan dengan Rta itu sendiri. Di situ tampak jelas manusia ingin hidup harmonis dengan alam — lepas dari kekeliruan-kekeliruan yang kerap fatal dilakukan manusia.

Sekadar contoh, kita tahu Wariga Krimping adalah teks yang memberi petunjuk bagi para petani, peternak, nelayan, dan pedagang. Lontar ini menjadi semacam pentunjuk praktis sehari-hari soal hari baik bercocok tanam, hari baik pernikahan, potong rambut, larangan untuk mengubur atau ngaben saat ”Semut Sadulur”, Kala Gotongan,  termasuk hari-hari pantangan bersebadan, ini sungguh sangat diperhatikan.

Yang memahami Rta, dianggap katam soal Rtu, yakni soal-soal  yang terhubung dengan ilmu perbintangan atau Joythisa. Tentu banyak hal yang perlu dipelajari bagi siapa saja     yang hendak  mendalami pengetahuan Weda lebih luas, seperti wyakarana[tata bahasa], nirukta[studi perihal asal-asul, sejarah dan arti kata, candasastra [ilmu puisi], dll.

Dari Rta hukum tertinggi itulah kebijakan kuna raja-raja India  meletakkan  momen pembaruan setelah letih, lelah dengan kemelut; peperangan dan pemberontakan. Kelak dalam satu titik perjalanan sejarah, tanggal 22 Maret 79 ditetapkan Raja Kaniskha I sebagai tahun penanggalan resmi kerajaan sekaligus momen penobatan sang raja. Hari itu  disebut sebagai era Saka-Kala,  memulai sebuah tarikh baru,  era  yang  menyudahi  tindak kekerasan.  Dan manusia ingin mencari damai, mencari hening.

Memang sehari sebelumn penobatan Raja Kaniskha I, tepat di tanggal 21 Maret 79 terjadi peristiwa alam penting : Gerhana Matahari Total. Gerhana, baik itu gerhana matahari [surya graha] maupun gerhana bulan [candra graha] posisi matahari – bulan – dan bumi berada dalam satu garis lurus. Karenanya gerhana matahari akan jatuh pada bulan mati [tilem]  dan gerhana bulan jatuh pada purnama penuh.

Menurut catatan IBG. Agastia [2005: 13], karena pada saat itu terjadi gerhana matahari, maka dapatlah dipastikan bahwa pada hari itu adalah tilem [bulan mati]. Jadi perhitungan penetapan tahun Saka tidak hanya memperhatikan poisisi matahari[surya pramana] tetapi juga memperhatikan posisi bulan [candra pramana] oleh karena itu disebut surya-candra-pramana.

Diterangkan IBG. Agastia, perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.Oleh karena itu, tanggal 1 bulan 1 Saka senantiasa jatuh pada tanggal 1[pananggal  ping pisan] bulan[Sasih]  Waisaka, sehari setelah Tilem Caitra. Akibatnya tanggal 1 bulan 1 Saka tidak senantiasa tepat jatuh pada tanggal 22  Maret [karena masih memperhatikan poisisi bulan lurus dengan bumi dan matahari].

Bila diperhatikan lebih seksama, dalam kalendar Saka Bali berlaku penggabungan tiga sistem kalender. Tiga sistem kalender itu meliputi; sistem tahun surya,[1], sistem tahun candra[2], dan sitem tahun Wuku [3]. Sistem tahun surya berpedoman pada jangka waktu peredaran bumi mengitari matahari. Jangka waktu ini disebut satu tahun surya. Umurnya 365,22 hari. Tepatnya 365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik.

Sistem tahun candra berpedoman dengan jangka waktu peredaran bulan mengelilingi bumi  disebut satu bulan. Umurnya 29,5 hari. Tepatnya 29 hari, 12 jam, 44 menit, 3 detik. Sehingga umur satu tahun 12 Sasih, terhitung mulai dari bulan Caitra sampai Palguna masa. Umur tahun Candra 354 hari, 8 jam, 45 menit, 36 detik. Sementara sistem tahun wuku dalam satu lingkaran nemugelang berjumlah 210 hari. Lazim disebut enam bulan Bali.

Penetapan Nyepi sebagai awal pergantian tahun baru saka, setidaknya menurut catatan tiga cendekiawan Bali; I Gusti Bagus Sugriwa [1955], Nyoman S. Pendit [2001], IBG. Agastia[2005] merujuk momen penetapan tahun Saka, sebagai era baru  tarikh Saka-Kala yang kebetulan saat itu Tilem Caitra – walau dalam tradisi Bali yang  lebih kuna Nyepi tidak selalu terhubung dengan pergantian tahun. Belum ditemukan dinasti raja-raja Bali Kuna menetapkan tersendiri momen tahun barunya.

Maka sekali lagi sebagaimana dinyatakan IBG. Agastia, ”Perhitungan penetapan tahun Saka yang pada awalnya memperhatikan posisi matahari bulan dan bumi tetap diteruskan di Bali.” Walau di India sendiri, perayaan tahun baru Saka itu tidak disertai dengan Penyepian.

Sampai di titik ini,  Nyepi adalah tindakan  penjernihan  dari adab batin manusia Bali itu sendiri. Mengingat selain Nyepi yang diawali upacara palelastian dan tawur kesanga serta dirangkai dengan pergantian tahun baru Saka, di Bali sendiri, dalam tradisi lokal masih ada berjenis-jenis ”perayaan” Nyepi.

Misalnya Nyepi Segara, Nyepi Carik, Nyepi Abian, dan lain-lain. Sekali lagi ini adalah bentuk-bentuk tindakan penjernihan dan pengheningan – memberi ruang  pada alam  dengan segala isinya yang telah menyangga hidup ini keheningan —   dan berharap  ”sarwa prani” sumber prana yang tak terlihat mata itu menyempurna dengan baik.

Ada beberapa tahapan retret yang harus dilewati manusia Bali sebelum sampai ke puncak hening, nyepi, sipeng. Pertama adalah melasti.  Lasti artinya tepi air, juga berarti pebersihan, penyucian. Ini adalah perjalanan meditatif menuju pusat-pusat air. Semua simbol-simbol kedewataan[pratima]  disucikan menuju tepi air,  laut, danau, campuhan, patirtan,  dan kelebutan. Air adalah simbol penjernihan sekaligus amreta pemberi hidup. Orang Yunani menyebutnya sebagai abrosia, yang artinya tak pernah mati.

Karena itu devosi paling tinggi saat palelastian adalah, berharap segala kekotoran diri dan dunia disucikan,  alam  dengan segala isinya mendapat sari hidup kembali – angamet sarining amrta. Di samping itu malasti juga merupakan tindakan kontrol lingkungan ke sumber-sumber air, supaya setiap orang senantiasa terpanggil merawat air dan lingkungan — dan menjadilah ia doa dalam tindakan.

Selanjutnya, usai palelastian, tepat pada tilem caitra, saat matahari tepat di atas kepala, bayangan kita tak terlihat,  manakala  matahari  ”melintas” di garis tengah khatulistiwa,  ”perjalanan”  menuju utarayana,  upacara tawur bhumi suddha dilakukan. Tawur berarti kembali, doa-nya berharap unsur-unsur yang membangun dunia ini, panca maha bhuta disempurnakan, langgeng senantiasa menghidupi semesta makhluk hidup.

Kenapa Tawur digelar  saat bajeg surya atau saat matahari tepat di atas kepala kita? Pertama,  ketika bulan mati  [tilem], saat bajeg surya adalah waktu tepat memuja matahari sebagai Siwa Raditya — Siwa yang berbadankan Surya. Karena matahari adalah raja semesta, ia sumber maha energi, seluruh kehidupan ini tergantung pada sang maha energi itu.

Bukankah tanpa sadar kita sesungguhnya  ”pemakan” matahari. Sayur, buah, daging, nasi yang kita santap itu, hidup dan bertumbuh karena matahari. Dari situlah kita ”memakan”  matahari. Dari situ pula kita hidup karena matahari. Ini pula alasan  kenapa saban pagi para pendeta Bali melakukan surya sewana, intinya mendoakan supaya matahari tetap memberi hidup bagi semua, menjadi cahaya bagi semua.

Lalu tawur digelar di titik-titik sentrum pertemuan langit dan bumi. Di Pura  Agung Besakih, upacara digelar di sebuah areal tengah bernama ”bencingah agung” di kaki Gunung Agung, tepat di muka lingga acala [lingga abadi] Gunung Agung. Orang-orang Bali terpelajar memaknai tempat ini sebagai ”madyaning bhuwana”, tengahnya dunia – di mana langit dan bumi disatukan dalam upacara tawur yang amat tantrik.

Di pusat-pusat kota, tawur digelar di pusat perputaran energi mistis ”pempatan agung” atau ”catus pata.” Sementara di rumah-rumah penduduk,  caru digelar di  natah  [halaman  tengah] di titik pertemuan ibu-bapa langit, atau di lebuh gerbang masuk pekarangan. Dan menjelang sandya-kala dilakukanlah upacara pangrupukan atau maobor-obor – berharap buta-buti, energi ”penggangu” dijauhkan dari hidup.

Maka esok hari, setelah menjalani retret berlapis itu   perjalanan menuju titik NOL dimulai. Inilah drama kolosal dari  ramya menuju sunya. Dari hal-hal gaduh menuju hening. Nyepi di  luar dan Nyepi di dalam dilakukan.

Nyepi di luar dilaksanakan dengan menjalankan brata penyepian secara fisik, yakni menjalankan catur brata panyepian, meliputi; amati gni [tidak menyalakan api] amati karya [tidak bekerja], amati lelungan [tidak bepergian], dan amati lelanguan [tidak bersenang-senang].

Sementara Nyepi di dalam dilakukan dengan brata puasa, penjernihan pikiran, penenangan jiwa, mawas diri, pengendalian nafsu, serta laku meditatif [tapa brata, samadhi] guna merengkuh kesadaran Sunya.

Menurut teks-teks Jawa Kuna, kesadaran  Sunya  adalah kesadaran Paramasiwa –  kesadaran yang layaknya kaadaan  dorman atau ”tidak aktif” –  seperti status rekening bank yang fasif atau tidak aktif karena tidak adanya transaksi debit maupun kredit.

Bagi kehidupan dunia kondisi ini tentu tidak menguntungkan.   Namun bagi jiwa  yang memerlukan nutrisi jiwa [amrtajiwa], kondisi  kesadaran seperti ini sungguh dibutuhkan. Inilah yang disebut heneng atau hening. Ini pula yang disebut Sepi —  perjalanan dari NOL menuju NOL.

Sampai di sini Nyepi lalu menjadi titik jeda, kebutuhan kita bersama; seluruh kekerasan pada bumi berserta isinya dihentikan. Nyepi memberi ruang bagi bumi  serta seluruh isinya  ”beristirahat”, bebas sebebas-bebasnya-nya. Perang, perseteruan, dihentikan demi  penghormatan dan memuliakan pada planet bumi. Karena setiap entitas hidup memiliki hak untuk bahagia, bebas dari kekerasan, perusakan, dan penderitaan.  Inilah kenapa kemudian Bali secara fisik menjalanan catur  brata penyepian, berharap semua entitas semesta mendapat keheningan. Keheningan adalah obat paling mujarab bagi dunia yang sedang berseteru.

Catatan:

Tulisan ini adalah rangkuman ceramah Lingkar Studi Seri #009, Jumat 13 Maret 2026. Disponsori Danatara Indonesia, CDS[Center for Dharmic Studies] Binroh Hindu Telkom Group, Telkom Indonesia, dan Majalah Çraddha.

Tags: Hari Raya Nyepirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

Next Post

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

by Angga Wijaya
March 15, 2026
0
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

Read moreDetails

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
0
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman...

Read moreDetails

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

by I Wayan Yudana
March 14, 2026
0
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu...

Read moreDetails

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

by Agung Sudarsa
March 14, 2026
0
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Kita Bukan Kebetulan SERING kali kita merasa hidup ini kacau. Politik gaduh. Ekonomi tidak pasti. Hubungan manusia penuh konflik. Kita...

Read moreDetails

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

by Angga Wijaya
March 13, 2026
0
Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Di Bali, ada fenomena yang lucu tapi sekaligus menyedihkan. Sebagian intelektual generasi tua yang dulunya produktif menulis, kini hanya aktif...

Read moreDetails

Diobati Perempuan Penyembuh

by Angga Wijaya
March 12, 2026
0
Diobati Perempuan Penyembuh

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental....

Read moreDetails

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
0
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar...

Read moreDetails

Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

by Putu Ayu Arundhati Gitanjali
March 12, 2026
0
Harimu Terasa Kacau? Mungkin Karena Lagi ‘Mercury in Retrograde’

MALAM itu, muncul notifikasi di layar ponsel saya. Pesan WhatsApp dari seorang teman. “Kok masalah datang keroyokan ya?” Beberapa detik...

Read moreDetails

Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

by Agung Sudarsa
March 11, 2026
0
Pariwisata, Ritual, dan Tanah Bali

Ritual Lama, Tradisi Baru Malam menjelang Hari Raya Nyepi, yang dikenal sebagai Pengerupukan, pada mulanya merupakan ritual yang sangat sederhana....

Read moreDetails

Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

by I Gede Joni Suhartawan
March 11, 2026
0
Antara Sunyi Nyepi dan Gema Takbir: Menakar Kejujuran dalam Beragama

PANCASILA seringkali kita bicarakan seolah-olah ia adalah mantra ajaib yang otomatis menyatukan, padahal ia adalah sebuah "kesepakatan sunyi" yang menuntut...

Read moreDetails
Next Post
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali
Esai

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

by Angga Wijaya
March 15, 2026
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul
Kuliner

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan
Esai

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur...

by I Wayan Westa
March 15, 2026
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar
Panggung

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton...

by Satria Aditya
March 14, 2026
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma
Esai

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman...

by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran
Esai

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu...

by I Wayan Yudana
March 14, 2026
Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir
Khas

Hari Perempuan Sedunia dan Merayakan Suara Perempuan Pesisir

SAYA tengah mencoba banyak merenung ketika tulisan ini dibuat, tepat sehari setelah Hari Perempuan Sedunia (International Women’s Day)--yang diperingati pada...

by Komang Ari
March 14, 2026
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa
Esai

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Kita Bukan Kebetulan SERING kali kita merasa hidup ini kacau. Politik gaduh. Ekonomi tidak pasti. Hubungan manusia penuh konflik. Kita...

by Agung Sudarsa
March 14, 2026
Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser
Cerpen

Sekolah Tinggi | Cerpen Syafri Arifuddin Masser

SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di...

by Syafri Arifuddin Masser
March 14, 2026
Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita
Puisi

Puisi-puisi A Jefrino-Fahik | Bonito, Kemerdekaan, Kamar Kita

Bonito kau, laki-laki duniapergi dengan kuas sendirimelukis apa puntak pernah dikenal duniadan hatimu ialah kabut tenanglah di dalam langkahmutak ada...

by A. Jefrino-Fahik
March 14, 2026
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar
Ulas Buku

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

by Dian Suryantini
March 13, 2026
Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya
Khas

Semarak Buka dan Sahur Gratis di “Gubukan” Masjid Bukit Palma Surabaya

MENJELANG magrib selama bulan Ramadan, pelataran Masjid Bukit Palma, Surabaya, berubah menjadi ruang perjumpaan. Orang-orang berdatangan dari berbagai arah: sebagian...

by Jaswanto
March 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co