10 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembang Alas | Cerpen Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
March 8, 2026
in Cerpen
Kembang Alas | Cerpen Khairul A. El Maliky

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MALAM itu hujan jatuh seperti untaian doa yang kehilangan alamatnya. Dari jendela rumah kecil di tepi hutan jati, seorang ibu menatap jauh ke arah gelap, ke tempat di mana anak gadisnya entah di mana. Sejak suaminya meninggal ketika putrinya masih kecil, hanya dua napas yang saling berkejaran di rumah itu: napas ibu yang hidup dari sisa doa, dan napas anak yang tumbuh dari luka kehilangan. Rumah mereka sederhana, berdinding papan, beratap genteng tua yang setiap kali hujan turun meneteskan bunyi lirih seperti dzikir yang letih. Namun di situlah cinta berakar, di situlah kehidupan sederhana menjadi benteng dari segala badai dunia. Ibu selalu menasihati anaknya, bahwa dunia di luar sana tidak seindah yang disiarkan televisi, bahwa manusia tidak semua berhati putih, dan bahwa perempuan harus menjaga dirinya seperti menjaga rahasia Tuhan. Namun gadis itu, Velicia, tumbuh dengan darah muda yang tak mau diikat oleh kehati-hatian. Sejak kecil ia sudah menunjukkan sifat keras kepala; apa yang dilarang justru ia ingin lakukan, apa yang dinasihati justru ia tolak dengan tawa.

Ayahnya meninggal karena kecelakaan motor dalam perjalanan pulang dari sawah ketika Velicia duduk di kelas empat SD. Sejak itu, ibunya memanggul seluruh nasib sendirian. Ia menjahit pakaian tetangga, mencuci baju orang, dan menabung sedikit demi sedikit agar anaknya kelak bisa sekolah tinggi. Harapannya sederhana, hanya ingin anak gadisnya menjadi perempuan berpendidikan yang tahu menghargai hidup, bukan menjadi korban zaman. Tapi waktu seolah menjadi kayu bakar bagi api pembangkangan.

Ketika Velicia lulus SMA dan diterima kuliah di Malang, ibunya menangis bukan karena bangga, tapi karena takut. Ia tahu, kota itu akan merebut anaknya perlahan. Maka ia berkata pelan, “Nak, jangan jauh-jauh dari Ibu. Dunia di luar sana bukan tempat yang lembut untuk hati perempuan.”

Namun kalimat itu justru dianggap sebagai belenggu. Velicia menatap ibunya dengan mata yang berkilat oleh ambisi muda.

“Ibu tidak mau aku bahagia. Ibu hanya ingin aku tetap kecil, tetap takut pada dunia,” katanya. Ibu terdiam, bibirnya gemetar, tapi ia tahu tak ada gunanya menahan. Hati muda selalu mengira nasihat adalah penjara, padahal itu pagar agar tak jatuh ke jurang.

Malam sebelum keberangkatannya, ibu menanam bunga putih di halaman, lalu berkata, “Kalau suatu hari kau tersesat, ingatlah bunga ini. Namanya Kembang Alas. Ia tumbuh dari tanah keras, tapi harum karena sabar.”

Velicia hanya mengangguk tanpa makna. Ia berpikir ibunya hanya bicara tentang bunga, padahal yang ditanam malam itu adalah doa yang tak akan mati.

Malang menyambutnya dengan sejuk yang menggoda. Kota itu seperti taman surga yang menipu, penuh aroma kopi, lampu jalan yang berkelip lembut, dan wajah-wajah muda yang berlari mengejar mimpi. Di sanalah Velicia merasa dilahirkan kembali: bebas, cantik, dan tak terikat. Di kampus, ia dikenal cerdas dan ramah. Banyak lelaki menaruh hati, tapi hanya satu yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat—seorang kakak tingkat bernama Jonathan, atau yang biasa dipanggil Jo.

Ia pemain teater, penyanyi, dan penggoda ulung dengan mata yang selalu seperti menyimpan rahasia. Jo datang dengan gitar di tangan, dengan suara serak yang memikat, dan senyum yang seolah lahir dari kitab puisi. Velicia yang polos dan haus akan perhatian jatuh ke dalam orbit pesonanya.

Mereka sering duduk berdua di taman kampus, membicarakan puisi, teater, dan kehidupan.

“Kau tahu, Ve,” kata Jo suatu sore, “suara tawamu seperti nada mayor yang hilang di tengah minor. Cantik tapi sendu.”

Velicia tertawa malu. Ia tak tahu bahwa kata-kata itu hanyalah umpan bagi seorang lelaki yang pandai memainkan hati.

Hari-hari berikutnya mereka semakin dekat. Jo menjemputnya, mengajaknya latihan teater, membelikan makanan, lalu menatapnya dengan cara yang membuat waktu seolah berhenti. Hingga suatu malam di sebuah pesta kecil, Jo menawarinya segelas minuman.

“Sedikit saja, Ve. Ini bukan arak, cuma wine ringan,” katanya sambil tersenyum.

Velicia menolak pada awalnya, tapi karena ingin dianggap dewasa, ia menuruti. Satu teguk, dua teguk, hingga dunia berputar.

Malam itu berakhir dengan kabut di matanya dan tangan lelaki yang menuntunnya ke tempat yang seharusnya dijaga suci. Esok paginya, ia bangun dengan tubuh yang kehilangan sesuatu, dan di sampingnya hanya ada dingin dan sesal. Jo berubah sikap.

Ia menjadi dingin, mulai jarang menemuinya, dan ketika Velicia menanyakan apa salahnya, lelaki itu hanya berkata, “Jangan terlalu serius. Kita cuma dua orang muda yang kebablasan.” Kalimat itu seperti petir yang memecah langit keyakinannya.

***

Seminggu, dua minggu, hingga perutnya mulai terasa aneh. Ia membeli test pack di apotek dan menatap hasilnya dengan gemetar—dua garis merah. Dunia seolah berhenti berputar. Ia mencoba mencari Jo, memohon tanggung jawab, tapi Jo hanya tertawa hambar. “Aku diterima kerja di luar negeri, Ve. Aku tidak bisa apa-apa sekarang. Tolong pahami aku,” katanya, lalu pergi membawa kopernya. Ia tak menoleh lagi.

Velicia pulang ke rumah dengan langkah gontai. Langit di atas desa diselimuti mendung. Ibunya sedang menjahit ketika melihat anaknya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata sembab.

“Ve, kenapa?” tanya ibunya. Tapi air mata anak itu sudah menjawab segalanya. Dalam tangis yang panjang,

Velicia mengaku tentang segalanya—tentang cinta, tentang dosa, tentang janin yang kini hidup di rahimnya. Ibu terdiam lama. Air matanya jatuh, tapi bukan air mata benci. Itu air mata kehilangan.

“Ibu sudah bilang, Nak. Dunia di luar sana tidak seindah yang kau pikirkan,” katanya dengan suara yang nyaris berbisik. “Jadi Ibu menyalahkanku?” bentak Velicia, suara mudanya penuh luka. “Ibu tidak menyalahkan siapa-siapa. Tapi setiap pilihan punya bayangan, dan bayangan itu kini menuntutmu.” Kalimat itu terasa seperti hukuman.

Velicia menangis keras. “Kalau Ibu cuma bisa menyalahkan, aku akan pergi lagi! Aku tidak butuh siapa pun!” katanya, lalu berlari ke luar rumah dalam hujan. Ibu mengejar, tapi langkahnya berat, tubuhnya renta.

Di ambang pintu ia berseru, “Ya Allah, lindungi anakku, meski ia menolak lindungan-Mu.” Tapi hujan menelan suaranya.

Kota Malang kembali menerima Velicia, kali ini dengan wajah muram. Kampus mengeluarkannya setelah kabar kehamilannya tersebar. Ia kehilangan tempat kuliah, kehilangan teman, dan kehilangan arah. Untuk bertahan hidup, ia bekerja di sebuah toko buku kecil di Oro-oro Dowo, menyusun buku-buku yang tidak mampu lagi ia baca.

Di sanalah ia bertemu Lukman—lelaki tampan berusia akhir dua puluhan, pekerja proyek, dengan kemeja flanel dan aroma kayu di tubuhnya. Lukman sering membeli koran dan berbincang singkat. Kata-katanya hangat, senyumnya menenangkan, dan tatapannya seperti pelindung bagi hati yang remuk. “Kau perempuan kuat,” katanya suatu senja. “Tak semua orang bisa bertahan sendirian seperti kau.”

Kata-kata itu menjadi balsem bagi luka lama. Velicia mulai membuka hatinya lagi. Ketika Lukman menawarkan tempat tinggal di kosnya, ia menolak setengah hati tapi akhirnya setuju. Ia pikir mungkin inilah kesempatan untuk memperbaiki hidup.

Namun manusia, sebagaimana hujan, tak selalu meneteskan rahmat. Setelah beberapa bulan, Lukman menikahinya dengan sederhana, tapi kehangatan itu segera berubah menjadi neraka. Lukman mulai mabuk, kasar, dan cemburu pada bayangan masa lalu.

Ia menuduh Velicia perempuan rusak, menamparnya, menendangnya bahkan ketika perutnya sudah besar.

“Perempuan seperti kau pantasnya disakiti!” teriaknya suatu malam. Velicia hanya bisa menangis. Ia ingin pulang, tapi malu menahannya. Ia ingin mati, tapi rahimnya berisi kehidupan yang membuatnya bertahan.

***

Malam-malam berikutnya ia bermimpi aneh. Ia melihat ibunya duduk di tepi hutan, menanam bunga putih di bawah cahaya bulan. “Apa itu, Bu?” tanya Velicia dalam mimpi. Ibunya tersenyum, “Kembang Alas. Bunganya harum di malam hari. Ia tumbuh dari luka tanah, tapi menenangkan hati yang patah.” Velicia terbangun dengan air mata. Ia tahu itu bukan sekadar bunga. Itu doa yang sedang menjemputnya pulang.

Suatu malam, Lukman tak pulang. Hujan turun deras. Perut Velicia mulai mulas. Darah menetes di lantai kos yang kotor. Ia sendirian. Tak ada yang mengetuk pintu, tak ada suara manusia, hanya hujan yang seperti mengetuk rahimnya agar segera melahirkan. Dalam kesakitan itu, ia menjerit memanggil ibunya.

“Bu… maafkan Ve…” katanya dengan napas tersengal. Di antara kabut kesakitan itu, pintu kos tiba-tiba terbuka. Dalam pandangan kabur, ia melihat sosok perempuan berkerudung lusuh berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh cahaya, tangannya gemetar menahan tangis.

“Ve…” suaranya lirih, “anakku…” Velicia menatapnya tak percaya. “Ibu?” Air mata jatuh dari kedua wajah itu bersamaan. Ibu berlari memeluk anaknya. Dalam pelukan itu, bayi kecil lahir, menangis pelan seperti azan dari langit gelap. Ibu menggendong bayi itu sambil berzikir.

“Namakan dia Alisa, Ve. Artinya: yang diberi cahaya.” Velicia tersenyum lemah.

“Bu, jangan menangis… Ve ingin tidur sebentar…” Ibu menggenggam tangannya.

“Jangan, Nak, bertahanlah…” Tapi malam terlalu pekat. Velicia memejamkan mata, napasnya pelan, tubuhnya dingin. Ia meninggal dalam dekapan ibunya, tersenyum seolah telah menemukan kedamaian yang selama ini dicarinya di luar rumah.

Hujan berhenti. Langit subuh mulai terang. Ibu menatap jasad anaknya yang telah dibungkus kain putih. Di sampingnya, bayi kecil itu tidur tenang. Ia mencium kening anaknya, lalu berbisik, “Kau pulang juga akhirnya, Ve. Bukan dengan tubuh, tapi dengan cahaya.”

Beberapa minggu kemudian, halaman rumah mereka kembali hidup. Di tempat ibu dulu menanam bunga itu, tumbuh sekuntum Kembang Alas berwarna putih pucat, kelopaknya harum setiap malam, seolah memanggil dari alam lain. Orang-orang desa heran karena bunga itu tak pernah layu meski hujan atau kemarau. Ibu sering duduk di bawahnya, menggendong Alisa, menatap langit sambil berbisik,

“Anakku telah kembali.” Dan setiap kali bulan purnama naik, angin membawa aroma bunga itu menyusup ke dalam rumah, membuat hati siapa pun yang menciumnya ingin menangis tanpa sebab. Di malam yang sunyi, kadang terdengar suara perempuan membaca ayat pendek, lembut dan penuh rindu. Ibu tahu, itu bukan angin. Itu jiwa anaknya yang datang menziarahi doa.

***

Bunga itu terus mekar, seolah menyerap air mata dari tanah. Ia menjadi lambang pengampunan, tanda bahwa cinta seorang ibu bisa menembus batas dunia. Dan setiap kali ibu menatap bunga itu, ia teringat kalimat terakhir anaknya: “Ve ingin tidur sebentar…” Maka setiap kali menatap langit, ia berbisik, “Tidurlah, Nak. Dunia sudah tak bisa menyakitimu lagi.”

Dan dari balik hutan jati, angin menjawab dengan lembut: “Ibu… terima kasih telah menanam doa bahkan untuk anak yang tak mendengarkanmu.”

Kembang Alas tetap tumbuh, putih dan wangi di antara rerumputan liar. Tak ada yang berani memetiknya. Orang-orang percaya, bunga itu milik seorang ibu yang kehilangan, tapi juga milik seorang anak yang akhirnya pulang.[T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Made Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Komang Sujana | Peluru Terakhir

Next Post

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
March 8, 2026
0
Manual Menghapus Manusia | Cerpen Aksara Caramellia

NAMAKU Galang. Usiaku tiga puluh lima tahun. Dulu, aku seorang aktivis. Sekarang, aku hanya mantan sesuatu yang tak sempat selesai....

Read moreDetails

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails
Next Post
Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Enam Perupa Asal Yogyakarta Pamerkan ‘Togetherness’: Berbeda Arah, Warna, Bentuk dan Latar Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng
Pemerintahan

Pemutakhiran Data Kemiskinan Penting sebagai Basis untuk Mengambil Kebijakan yang Adil bagi Warga Buleleng

DEWAN Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Buleleng mengelar pertemuan penting guna membahas arah pembangunan daerah ke depan serta validasi data sosial....

by tatkala
March 9, 2026
‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026
Panggung

‘Gangga Maya’ Antar Garas Prahmantara Juara 1 Lomba Sketsa Ogoh-Ogoh Kasanga Festival 2026

DI antara deretan karya dalam Lomba Sketsa Ogoh-ogoh pada Kasanga Festival 2026, sebuah gambar berjudul “Gangga Maya” menarik perhatian dewan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta  —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan
Opini

Menanggalkan Mental ‘Parekan’: Reorientasi Strategi Bali di Rimba Raya Jakarta —Tanggapan untuk Esai ‘Lakon Lobi Pedidian’ I Gede Joni Suhartawan

TULISAN I Gede Joni Suhartawan mengenai Lakon Lobi Pedidian Bali di Pusat di tatkala.co membuka kotak pandora yang selama ini...

by Jro Gde Sudibya
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SIAPA BHATARA GURU DI KEMULAN (?) — MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal — [Bagian 2]

Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Ogoh-ogoh “Ulian Manuse” di Kubutambahan, Tentang Ulah Manusia, Dibuat dari Limbah Plastik
Esai

Perlukah Kita Marah Ketika Karya Seni Tidak Seperti yang Biasa Kita Lihat? –Membaca Ogoh-Ogoh di Bali Hari Ini

SETIAP menjelang hari raya nyepi, masyarakat bali dan para pelancong yang sengaja datang ke bali menantinkan satu peristiwa yang meriah...

by Satria Aditya
March 9, 2026
Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah
Panggung

Di Balik Meriahnya Kasanga Festival 2026, Ada Sampah yang Dipilah

DI tengah riuh pengunjung dan hiruk-pikuk festival, sekelompok pemuda-pemudi justru sibuk memilah sampah. Di Kasanga Festival 2026, pengelolaan sampah bukan...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

MEMAHAMI KAWITAN DAN PITARA: Antara Atma yang Universal dan Jiwa yang Personal  — [Bagian 1]

DALAM tradisi spiritual di Bali, seringkali terjadi penyempitan makna mengenai pemujaan "Kawitan". Banyak yang mengidentikkan Kawitan hanya sebatas tokoh sejarah...

by Sugi Lanus
March 9, 2026
Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini
Opini

Lakon “Lobi Pedidian” Bali di Pusat —Catatan Tentang Lobi Bali Terkini

ADA nada genting yang terselip dalam pernyataan Gubernur Bali Wayan Koster belakangan ini. Saat ia meminta para wakil Bali di...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026
Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026
Panggung

Ketika Para Bocah Mengarak Ogoh-Ogoh di Kasanga Festival 2026

HARI itu, Minggu pagi, 8 Maret 2026, langkah-langkah kecil berbaris rapi. Lapangan Puputan Badung, Denpasar berubah menjadi arena budaya yang...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026
Panggung

Dari Sketsa, Tapel, hingga Ogoh-Ogoh Mini: Ketika Generasi Muda Denpasar Adu Kreativitas di Kasanga Festival 2026

PULUHAN sketsa, tapel, dan ogoh-ogoh mini berjajar di dalam tenda pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar. Di...

by Dede Putra Wiguna
March 9, 2026
Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’
Esai

Umbu Landu Paranggi Datang dalam Mimpi: ‘Kembali ke Huma’

SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti...

by Angga Wijaya
March 9, 2026
Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia
Esai

Donny Fattah, Arsitek Ritme dan Denyut Nadi Rock Indonesia

DALAM bentang sejarah musik rock di tanah air, sulit membayangkan struktur megah genre ini berdiri kokoh tanpa menyebut satu nama...

by I Gede Joni Suhartawan
March 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co