DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal sebagai bocah ceria yang selalu penasaran terhadap segala sesuatu. Matanya selalu berbinar setiap kali melihat hal baru, dan langkah kakinya tak pernah pelan karena rasa ingin tahu membuatnya terus berlari dari satu tempat ke tempat lain. Bagi Adik, dunia adalah panggung ajaib yang menunggu untuk dijelajahi.
Suatu pagi, matahari baru naik dan sinarnya memantul dari permukaan air sungai. Adik berjalan sambil membawa ember kecil karena ia ingin mencari batu sungai yang berwarna indah untuk koleksinya. Ia sudah punya banyak batu berwarna cokelat, abu-abu, bahkan putih susu, tetapi ia selalu berharap menemukan batu yang lebih istimewa. Setibanya di tepi sungai, ia menyingkirkan rumput liar dengan hati hati agar tidak menginjak serangga yang berkeliaran.
Ia berjongkok dan mulai meraba air. Sungai itu tidak terlalu dalam dan arusnya lembut. Suaranya menenangkan seolah mengajak Adik untuk duduk dan mendengarkan. Namun ia tetap sibuk mencari batu. Ia memungut satu batu kehitaman, lalu satu batu kecokelatan, dan beberapa batu lain yang tampak menarik. Ketika ia hendak mengambil batu berwarna hijau lumut, terdengar suara kecil dari dekat kakinya.
Krook.
Adik menoleh ke arah suara itu. Di ujung air yang dangkal, ada seekor katak kecil berwarna hijau terang dengan bercak keemasan di punggungnya. Katak itu menatap Adik tanpa takut. Matanya yang bundar tampak bersinar seperti sedang mengamati manusia untuk pertama kalinya.
“Halo kecil, kamu sendirian di sini?” kata Adik dengan suara pelan.
Katak itu tidak menjawab. Tentu saja, binatang tidak bisa berbicara. Namun Adik merasa seolah katak itu ingin menyampaikan sesuatu. Katak itu melompat mendekatinya lalu berhenti tepat di depan kaki Adik. Seolah ia ingin mengajak anak itu mengikuti suatu permainan yang hanya diketahui oleh hewan kecil di tepi sungai.
“Kamu lucu sekali. Mau jadi temanku?”ucap Adik tersenyum.
Katak itu mengedipkan mata. Adik menganggap itu sebagai persetujuan. Ia duduk di atas batu besar sementara katak kecil itu berada di depannya. Untuk sesaat mereka hanya saling memandangi, seolah sedang mencoba mengenali satu sama lain.
Tak lama kemudian, angin bertiup membawa aroma rumput basah dan suara dedaunan yang saling bersentuhan. Adik tiba-tiba mendapat ide. Ia ingin mengajak katak itu berpetualang. Namun sebelum ia mengulurkan tangan, katak itu melompat ke arah Semak-semak. Adik segera bangkit dan mengikutinya.
“Tunggu aku, jangan lari terlalu cepat.”
Katak itu tidak berlari. Lompatannya ringan dan teratur, seperti memandu Adik mengikuti jalur tertentu. Jalur itu masuk lebih dalam ke area yang belum pernah Adik jelajahi. Rumput liar semakin tinggi, pohon-pohon semakin rapat, dan suara sungai semakin jauh. Adik sempat ragu apakah ia harus terus mengikuti katak itu. Namun rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takutnya.
Akhirnya mereka tiba di sebuah kolam kecil yang tersembunyi di balik rumpun bambu. Airnya sangat jernih dan tenang. Sinar matahari turun seperti cahaya keemasan yang menari di permukaannya. Adik terpesona. Ia tak pernah tahu tempat seindah itu ada begitu dekat dengan desanya.
“Wah, tempat ini luar biasa. Kamu sering ke sini ya?” tanya Adik.
Katak itu mengangguk pelan. Itulah momen ketika sesuatu yang ajaib mulai terjadi. Katak tersebut tiba-tiba melompat ke sebuah batu besar yang berada di tengah kolam. Begitu kakinya menyentuh batu, batu tersebut mengeluarkan cahaya putih yang lembut. Adik terperanjat dan matanya membesar.
“Apa itu. Apa kamu penyihir katak?” tanya Adik kebingungan.
Katak itu tidak berubah bentuk. Ia tetap katak kecil biasa. Namun cahaya yang muncul dari batu itu semakin terang dan menyebar ke seluruh permukaan kolam. Air kolam berkilau seperti lembar kaca yang dipenuhi bintang-bintang kecil. Adik melangkah mendekat dengan hati-hati. Ia merasa hangat dan tenang, seolah cahaya itu menghapus semua ketakutannya.
Perlahan dari dalam air muncul sosok bayangan seperti pelangi. Bayangan itu membentuk wujud burung besar yang terbuat dari cahaya. Burung itu mengepakkan sayapnya meskipun tidak benar-benar terbang. Cahaya yang terpancar dari sayapnya membuat seluruh tempat itu tampak seperti dunia lain.
Burung itu menatap Adik dan berbicara dengan suara yang dalam namun lembut.
“Anak kecil. Engkau datang bersama sang Penuntun Hijau. Jarang ada manusia yang cukup peka untuk mengikuti panggilannya,” ucap sang Burung Cahaya.
Adik terdiam. Ia tidak percaya sedang berbicara dengan makhluk bercahaya.
“Penuntun Hijau?” sahut Adik sembari menoleh katak kecil itu.
“Benar. Ia adalah penjaga kolam ini. Ia mencari jiwa-jiwa berbudi baik yang mampu melihat lebih dari sekadar permukaan. Dan engkau telah membuktikan hatimu cukup bersih untuk mengikuti langkahnya tanpa rasa tamak maupun takut,” kata Burung Cahaya.
Adik tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya mengangguk sambil mencoba menelan rasa takjubnya.
Burung Cahaya melanjutkan, “Setiap beberapa musim, kolam ini harus dipulihkan. Alam membutuhkan penolong yang mau membantu dengan tulus. Bila engkau bersedia, aku akan memintamu melakukan satu tugas.”
Adik terkejut. Tapi ia merasa ini kesempatan istimewa. “Apa yang harus kulakukan?”
Burung Cahaya mengangkat kepalanya ke arah pohon bambu.
“Di balik pohon itu ada sebuah sumur tua. Di dalamnya terdapat batu bening yang dulunya mengalirkan cahaya bagi kolam ini. Namun batu itu hilang sinarnya setelah manusia yang serakah mengambil sebagian kecil permukaannya. Engkau harus menyentuh batu itu dan memberikan niat baikmu. Niat baik manusia yang murni bisa membangkitkan kembali cahaya alam yang hilang,” jelasnya.
“Aku akan melakukannya,” sahut Adik sembari mengangguk.
Katak kecil itu melompat ke arah jalan setapak di samping kolam. Adik mengikutinya. Mereka berjalan melewati rumpun bambu hingga menemukan sumur tua yang hampir tertutup lumut. Di dalamnya, sebuah batu bening tergeletak dalam kegelapan.
Adik menunduk dan berbisik, “Apa aku harus turun?”
Katak itu mengangguk. Adik memanjat hati-hati masuk ke dalam sumur. Lantai sumur lembap, namun tidak berbahaya. Batu bening itu tampak kusam seperti kaca buram yang kehilangan kilau. Adik mengulurkan tangannya dan menyentuh batu itu.
Ia memejamkan mata dan mengingat hal-hal baik yang pernah ia lakukan. Ia mengingat saat menolong ibunya membawa air, saat mengantar nenek-nenek menyeberang jalan, dan saat membagi roti kepada teman-temannya yang tidak membawa bekal. Hatinya terasa hangat. Perlahan batu itu bergetar lembut dan mulai memancarkan cahaya.
Cahaya itu mengisi seluruh sumur, lalu mengalir keluar menuju kolam. Adik segera memanjat keluar. Sesampainya di tepi, ia tertegun melihat kolam itu kini bersinar lebih terang daripada sebelumnya. Burung Cahaya mengepakkan sayapnya dengan penuh rasa syukur.
“Engkau telah mengembalikan keseimbangan di tempat ini. Kolam ini akan terus memberikan kesegaran bagi alam di sekitarnya. Terima kasih, Adik,” kata Burung Cahaya dengan suara lembut.
Katak kecil itu melompat ke bahu Adik dan menggesekkan kepalanya dengan manja. Adik tertawa pelan.
“Terima kasih juga karena sudah mengajakku,” kata Adik sambil mengelus kepala katak itu.
Burung Cahaya itu perlahan memudar, kembali menjadi bayang-bayang yang tenggelam dalam air. Cahaya kolam meredup menjadi warna lembut seperti sinar sore yang hangat. Suasana kembali tenang.
Adik menatap katak kecil itu. “Jadi kamu Penuntun Hijau? Kamu hebat sekali.”
Katak kecil itu menatap Adik dengan mata bulatnya, seolah berkata bahwa mereka kini terikat oleh persahabatan yang tidak biasa. Setelah itu, katak itu melompat kembali ke kolam dan menghilang di antara teratai.
Adik berdiri di sana beberapa saat, menikmati keindahan tempat itu sebelum akhirnya kembali ke desa. Ia tahu bahwa hari itu ia telah mengalami sesuatu yang tidak dapat diceritakan sembarangan. Tetapi di hatinya, ia merasa lebih berani, lebih bijak, dan lebih bersyukur kepada alam.
Sejak hari itu, Adik sering kembali ke sungai dengan ember kecilnya. Namun bukan untuk mencari batu indah lagi. Ia datang untuk menjaga tempat itu tetap bersih. Kadang kadang ia melihat katak kecil itu muncul sebentar, seolah memastikan sang anak masih menjadi penjaga kecil yang baik.
Dan setiap kali melihat katak itu, Adik selalu tersenyum. Karena ia tahu, persahabatan sejati tidak membutuhkan kata-kata. Cukup hati yang tulus, dan alam akan membalas dengan keajaiban. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























