14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku — Tentang Buku Tunggal Pertama Saya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 16, 2026
in Esai
Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku — Tentang Buku Tunggal Pertama Saya

Sampel untuk sampul buku Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku


SATU bulan lalu saya menulis naskah buku bergenre self-empowerment untuk sebuah penerbit alternatif di Yogyakarta. Awalnya saya hanya berniat mengirimkan naskah kumpulan esai dalam program penerbitan gratis yang mereka adakan. Tiap awal bulan penerbit itu mengumumkan daftar naskah yang lolos. Naskah saya tidak termasuk di sana.

Namun beberapa hari kemudian saya mendapat pesan dari editor. Ia menulis singkat, “Kami tertarik dengan cara Anda bercerita. Apakah Anda bersedia menulis buku pengembangan diri, berdasarkan pengalaman hidup Anda sebagai penyintas skizofrenia?”

Saya membaca pesan itu beberapa kali, antara percaya dan tidak. Lalu saya jawab, bersedia.

Fee penulis lepas yang ditawarkan tidak besar, tapi pantas dan bagi saya kesempatan ini jauh lebih berharga daripada nominal apa pun. Ini pengalaman pertama saya menulis buku tunggal nonfiksi berdasarkan kisah hidup pribadi setelah sekian tahun hanya menulis esai, puisi, atau artikel lepas. Judulnya, Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku.

Sejak hari itu saya mulai menulis. Saya rutin berkomunikasi dengan editor, mengirimkan bab per bab, menerima revisi saran dan umpan balik yang kadang tajam tapi hangat. Saya merasa seperti sedang menulis dengan seseorang yang paham bukan hanya tata Bahasa, tapi juga luka.

Menulis buku ini berbeda dengan menulis esai atau puisi. Kali ini saya menulis tentang diri sendiri, menelusuri ulang masa-masa yang lama saya kubur. Dan seperti yang pernah ditulis Dee Lestari dalam Supernova; Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh, proses semacam ini rasanya seperti “menyelam ke septic tank kotoran sendiri” kalimat yang dulu membuat saya meringis sekaligus mengangguk.

Ungkapan itu muncul dalam percakapan tokohnya Bodhi yang sedang berbicara tentang proses mengenali diri, bahwa untuk benar-benar memahami siapa kita, kadang kita harus masuk ke tempat paling busuk dalam diri sendiri, ke trauma, kebohongan dan luka-luka yang kita sembunyikan dari dunia. Menulis semacam itu bukan pekerjaan yang bersih. Ia kotor, melelahkan, tapi juga menyembuhkan.

Dan begitulah saya rasakan selama menulis buku ini.

Angga Wijaya menulis di Kubu Kopi



Saya membuka bab pertama dengan kisah kunjungan pertama saya ke psikiater dua puluh tahun lalu. Saat itu saya baru lulus SMA. Saya dibawa kakak ke Denpasar dengan alasan berlibur padahal untuk berobat. Saya ingat betul suasana ruang tunggu yang putih dingin dan steril. Ketika giliran saya masuk saya berkata kepada psikiater paruh baya itu, “Tuhan telah mati.”

Kalimat itu yang saya pinjam dari Nietzsche keluar begitu saja dan seketika ruang itu sunyi. Saya tidak tahu mengapa mengucapkannya. Mungkin karena pada masa itu saya merasa kehilangan makna apa pun. Saya tak tahu siapa saya anak siapa saya dan mengapa dunia terasa begitu asing.

Dalam buku Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku bagian ini menjadi semacam pintu masuk menuju perjalanan panjang memahami diri dan penyakit mental yang saya derita, skizofrenia paranoid.

Prolog dan bab pertama buku ini menampilkan kisah tentang keluarga keterasingan dan keyakinan yang runtuh. Kegemaran membaca sejak kecil membuat saya terbiasa menatap dunia melalui kata. Tapi di balik itu ada hal yang tak pernah saya ceritakan secara utuh sebelumnya, saya adalah anak angkat. Kebenaran itu saya ketahui bukan dari mulut orang tua melainkan dari ejekan teman sebaya.

Sejak itulah saya belajar bahwa luka tidak selalu terlihat. Ada luka yang hidup di bawah kulit yang hanya muncul lewat mimpi atau tulisan.

Menulis buku ini adalah semacam upaya menata luka-luka itu. Saya menuliskannya bukan sebagai catatan medis atau laporan perjalanan, tetapi sebagai bentuk kesaksian. Bahwa penyintas gangguan jiwa bukan hanya statistik, bukan sekadar ODGJ dalam berita-berita yang kering dan sensasional. Kami adalah manusia yang hidup dengan realitas yang rapuh tapi terus berusaha memahami arti waras dalam dunia yang sering kali justru tidak sehat.

Dalam bab-bab berikutnya, saya menceritakan peristiwa besar tahun 2009 ketika saya resmi didiagnosis mengidap skizofrenia paranoid setelah mengalami delusi berat. Suara-suara di kepala menyuruh saya berlari, bersembunyi, melarikan diri dari ancaman yang hanya saya dengar sendiri. Saya dirawat di RSJ selama dua minggu. Setelah keluar dunia saya berubah total, kuliah kandas hubungan keluarga renggang dan harga diri saya runtuh.

Lima tahun saya tinggal di kampung halaman di Negara, Jembrana. Saya disebut orang gagal, orang gila, mantan mahasiswa yang hilang akal. Dalam buku ini saya tidak menutupinya. Saya menulis dengan sadar bahwa stigma adalah bagian paling tajam dari penderitaan mental. Orang bisa pulih dari halusinasi, tapi tidak mudah pulih dari pandangan orang lain.

Namun saya juga menulis sisi lain dari cerita itu, bahwa saya akhirnya menemukan kedamaian dalam hal-hal kecil; mengantar cucian laundry, berbincang dengan ayah-ibu kandung sambil menyeruput kopi, membaca buku-buku lama di sore yang sepi. Dalam kesederhanaan itu, saya belajar bahwa pulih bukan berarti menjadi seperti dulu, tapi menerima diri yang baru.

Sebagai penulis saya tahu bahaya sentimentalitas. Tapi ketika menulis tentang gangguan jiwa sentimentalitas terkadang justru menjadi bentuk kejujuran. Buku ini bagi saya bukan sekadar catatan penyintas melainkan perjalanan eksistensial, bagaimana saya memaknai hidup setelah kehilangan arah iman dan rasionalitas.

Dalam Bab Enam saya menulis tentang keputusan kembali ke Denpasar setelah lima tahun pemulihan. Dari seorang gadis asal Jakarta yang saya kenal lewat Facebook, saya menemukan kembali semangat untuk hidup. Saya mendapat pekerjaan sebagai wartawan tabloid budaya lalu perlahan menata hidup. Dari situ pula saya terlibat dalam pendirian Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI)  simpul Bali bersama dr I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater yang banyak membantu saya.

Bagian ini adalah salah satu yang paling optimistis dalam buku, bagaimana seseorang bisa bangkit dari titik terendah dan menemukan kembali tempatnya di masyarakat. Tapi bahkan di tengah keberhasilan saya menulis tentang kejujuran bahwa stigma tidak pernah benar-benar hilang.

“Orang bisa menerima kita sebagai penulis,” tulis saya, “tapi begitu mereka tahu kita penyintas gangguan jiwa pandangan itu berubah.”

Jika saya diminta menilai buku ini secara jujur, saya akan menyebutnya bukan buku motivasi tapi buku kesadaran. Ia tidak menawarkan langkah-langkah praktis seperti tujuh cara menjadi bahagia atau formula sukses hidup sehat mental. Buku ini adalah perjalanan batin yang terbuka dan berani.

Secara struktur naskah ini disusun dengan kesadaran literer yang kuat. Ada kesinambungan antara bab-babnya, dari prolog yang puitik kisah masa remaja hingga fase pemulihan yang penuh refleksi. Bahasa yang digunakan cenderung tenang dan jernih tidak meledak-ledak meski membawa emosi yang dalam.

Daya tarik utama buku ini ada pada kejujuran dan kesederhanaannya. Ia tidak menggurui, tidak mendramatisasi. Sebagai pembaca, kita diajak mengikuti perjalanan seseorang yang menata hidupnya bukan dengan keajaibanm tapi dengan disiplin kecil; minum obat, menulis, dan belajar memaafkan.

Saya kira itu yang membuat buku ini melampaui sekadar kisah penyintas. Ia adalah catatan eksistensial tentang manusia yang belajar berdamai dengan pikirannya sendiri.

Ketika saya menulis bab berjudul Sunyi dan Stigma saya berhenti lama di depan laptop. Saya ingin menulis dengan kepala dingin tapi sulit. Saya menulis tentang mahasiswa Bali yang bunuh diri karena perundungan, tentang penulis muda Korea yang depresi lalu mengakhiri hidupnya. Saya menulis dengan marah tapi juga dengan sedih.

Saya tahu stigma adalah monster yang tidak bisa dibunuh hanya dengan satu buku. Tapi saya percaya setiap tulisan adalah bentuk perlawanan kecil terhadap ketidaktahuan. Dalam konteks masyarakat kita, membicarakan gangguan jiwa masih dianggap tabu. Bahkan di kampus, di ruang redaksi, di keluarga, kita masih takut membicarakan yang sakit.

Padahal sebagaimana saya tulis di buku ini, yang disebut gila sering kali berawal dari hati yang tidak diurus.

Saya ingin buku ini menjadi ruang aman bagi siapa pun yang merasa sendirian dengan pikirannya. Bahwa tidak apa-apa untuk lemah, untuk minum obat, untuk bicara pada psikiater. Tidak ada yang salah dengan mencari pertolongan.

Menulis Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku membuat saya memahami satu hal, menulis bisa menjadi terapi tapi juga ujian. Saya menulis bukan untuk menunjukkan saya telah sembuh, melainkan karena saya tahu menulis adalah satu-satunya cara agar saya tidak tenggelam lagi.

Setiap kali saya mengetik satu paragraph, saya seperti memindahkan sebagian beban dari kepala ke kertas. Seperti kata psikiater saya dulu, saya bukan kehilangan akal, saya hanya kehilangan tempat untuk menaruh kesedihan.

Kini saya punya tempat itu, tulisan.

Tulisan-tulisan yang dulu saya anggap sebagai pelarian ternyata adalah cara jiwa berbicara. Setiap puisi, setiap catatan, setiap bab dalam buku ini adalah bentuk percakapan dengan diri sendiri. Menulis membuat saya tidak lagi takut melihat masa lalu. Bahkan ketika saya harus menyelam ke septic tank kotoran sendiri, saya tahu di dasar yang paling busuk pun ada cahaya kecil yang membuat saya tetap hidup.

Sebagai refleksi ,saya menyadari bahwa proses menulis buku ini bukan hanya tentang menata kenangan tapi juga menata makna. Saya kembali membaca Nietzsche tapi kali ini dengan pemahaman berbeda. Dulu saya mengutipnya dengan kebingungan dan kegelisahan, Tuhan telah mati. Kini saya tahu kalimat itu bukan tentang ketiadaan Tuhan melainkan tentang manusia yang kehilangan makna karena berhenti mendengarkan dirinya sendiri.

Dalam ruang psikiatri, dua puluh tahun lalu, saya mencari Tuhan dengan cara yang aneh melalui diagnosis pil dan air mata. Tapi kini saya menemukannya dalam hal-hal sederhana, dalam wajah para sahabat dalam komunitas kecil, yang saling mendukung dalam keberanian untuk pulih.

Menulis membuat saya percaya bahwa Tuhan tidak pernah mati. Ia hanya bersembunyi di balik luka-luka yang belum selesai kita rawat.

Kalau saya harus merangkum seluruh pengalaman ini dalam satu kalimat mungkin begini, hidup saya adalah perjalanan panjang dari malu menuju penerimaan. Dari sembunyi menuju berbagi. Dari diagnosis menuju keberanian.

Saya tidak tahu apakah buku ini akan menjadi bacaan popular, tapi saya tahu buku ini penting. Penting bukan karena nama saya tercetak di sampulnya tapi karena di dalamnya ada ratusan suara yang tidak terdengar, suara mereka yang hidup dengan gangguan jiwa yang terus berjuang agar tetap dianggap manusia.

Saya menulis buku ini untuk mereka, untuk kita semua yang pernah merasa kehilangan arah tapi masih ingin hidup satu hari lagi.

Kini naskah buku itu hampir rampung. Saya menatap file di layar laptop dengan perasaan campur, lega takut sekaligus haru. Di rak buku kamar saya enam belas buku karya saya terdahulu berdiri rapi. Tapi buku ini berbeda. Ia bukan sekadar karya, ia adalah cermin.

Mungkin karena itu saya menulis judulnya demikian, Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku. Sebab di setiap buku yang saya tulis selalu ada bagian diri saya yang tertinggal di sana, sebuah luka yang tidak ingin saya sembunyikan lagi.

Dan ketika saya menutup laptop, saya tahu menulis telah menyelamatkan hidup saya sekali lagi. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: BukumenulisODGJself-empowermentskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BALI SEKALA-NISKALA, BUKAN BALI NISKALA-SEKALA

Next Post

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Hal-Hal Kecil yang Menyebut Namamu

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Hal-Hal Kecil yang Menyebut Namamu

Puisi-puisi Alfiansyah Bayu Wardhana | Hal-Hal Kecil yang Menyebut Namamu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co