3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer dari Kampung untuk Dunia

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
January 7, 2026
in Esai
Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer dari Kampung untuk Dunia

Putu Sutawijaya di Sangkring Art Space | Foto: Calun Subrata

DALAM tradisi para perantau Bali, megagapan merujuk pada kepulangan ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh yang melampaui benda. Ia adalah akumulasi pengalaman, pengetahuan, jejaring, serta nilai-nilai yang diperoleh di perantauan, lalu dipersembahkan kembali sebagai kekayaan bersama bagi komunitas asal.

Dalam kerangka inilah kepulangan Putu Sutawijaya menemukan maknanya yang paling dalam. Ia pulang bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai seniman yang membawa pulang sebuah visi kultural: menghadirkan ruang seni kontemporer sebagai megagapan intelektual bagi kampung, sekaligus sebagai kontribusi nyata bagi lanskap seni rupa Indonesia dan dunia.

Kampung yang dimaksud adalah Desa Angsri, sebuah desa yang terletak di jantung Pulau Bali. Secara historis, wilayah ini menyimpan jejak panjang peradaban dan hubungan lintas budaya yang telah berlangsung jauh sebelum wacana globalisasi modern dikenal. Desa Angsri bukanlah ruang kosong, melainkan lanskap budaya yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan berlapis.

Ngobrol bersama Putu Sutawijaya di Sangkring Art Space | Foto: Calun Subrata

Secara geografis, Desa Angsri berada di bawah naungan tiga gunung penting: Gunung Batukaru, Gunung Sanghyang, dan Gunung Adeng. Dalam kosmologi Bali, gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber energi spiritual, pusat orientasi kosmos, sekaligus ruang lahirnya kesadaran estetik dan kultural. Lanskap pegunungan ini membentuk iklim alam dan batin yang subur ruang kontemplasi, disiplin hidup, serta kepekaan artistik yang diwariskan lintas generasi.

Tidak mengherankan jika kawasan di bawah tiga gunung ini telah lama melahirkan sejumlah seniman besar Indonesia. Di sebelah timur Desa Angsri, di Kampung Apuan, lahir Made Wianta salah satu perupa terpenting Indonesia yang dikenal atas praktik seni konseptual dan eksperimentalnya di panggung internasional.

Sementara di sebelah barat kampung Putu Sutawijaya, tumbuh Nyoman Nuarta, pematung monumental yang membawa nama Indonesia ke kancah seni rupa dunia melalui karya-karya berskala global. Dalam konteks ini, Desa Angsri dan sekitarnya dapat dibaca sebagai lanskap kultural yang secara konsisten melahirkan daya cipta besar, menjadikan seni bukan anomali, melainkan bagian dari ekosistem hidup sehari-hari.

Lapisan geografis dan genealogis ini memberi konteks penting bagi kepulangan Putu Sutawijaya. Ia tidak hadir sebagai figur yang terlepas dari tradisi, melainkan sebagai bagian dari mata rantai panjang kesenimanan yang tumbuh dari lanskap alam, spiritualitas, dan budaya setempat.
Berbagai peninggalan benda kuno dan prasasti semakin menegaskan kedalaman sejarah Desa Angsri. Sebuah prasasti tembaga ditemukan di sebelah timur Pura Taman Purwa.

Sangkring Art Space masih dalam tahap pembangunan | Foto: Surya Darma

Berdasarkan pengamatan almarhum Drs. Putu Budiastra dan Dr. R. Goris—sarjana Belanda yang dikenal luas dalam kajian epigrafi Bali—prasasti tersebut, meski dalam kondisi rusak, terdiri atas beberapa lempeng tembaga yang berhasil dibaca dan diterjemahkan oleh Drs. Putu Budiastra pada 28 Desember 1977 di Pura Pucak Tinggah.

Selain prasasti, ditemukan pula berbagai artefak kuno seperti bajra atau genta dari kuningan, piring tembaga, guci porselen, serta piring porselen dari Tiongkok yang berasal dari Dinasti Ming, sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Temuan-temuan ini menjadi bukti material bahwa kampung-kampung di Bali termasuk Angsri sejak lama telah terhubung dengan jaringan perdagangan maritim dan pertukaran budaya internasional, khususnya dengan Tiongkok. Relasi ini turut membentuk estetika, ritual, dan kosmologi lokal Bali.

Dengan demikian, hubungan antara Bali dan dunia internasional bukanlah fenomena baru. Ia telah berakar selama berabad-abad melalui jalur perdagangan, pertukaran artefak, serta dialog simbolik yang tercermin dalam benda-benda ritual maupun keseharian. Dalam kerangka ini, kehadiran seni kontemporer di Angsri dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi keterbukaan tersebut bukan sebagai sesuatu yang terputus dari masa lalu, melainkan sebagai kesinambungan sikap kosmopolit yang telah lama mengakar.

Di lanskap historis dan geografis inilah Putu Sutawijaya membangun Sangkring Art Space Bali, ruang seni Sangkring yang ketiga, setelah dua ruang sebelumnya berdiri di Yogyakarta selama kurang lebih 18 tahun. Ruang ketiga ini kini tengah memasuki tahap pembangunan, berdiri di atas lahan milik kakeknya, Pekak Sangkring, yang namanya kemudian diabadikan sebagai identitas ruang. Pilihan lokasi ini menegaskan dimensi personal sekaligus kultural dari proyek tersebut: sebuah ruang seni kontemporer yang tumbuh dari tanah leluhur.

Sangkring Art Space masih dalam tahap pembangunan | Foto: Surya Darma

Kepulangan Putu Sutawijaya dengan membawa Sangkring Art Space menandai bab penting dalam peta seni kontemporer Indonesia. Ia tidak sekadar kembali ke akar, tetapi menghadirkan sebuah infrastruktur kultural: ruang seni yang dirancang sebagai medan dialog antara praktik seni kontemporer, tradisi lokal, dan dinamika global.

Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, dengan bangunan dua lantai. Kompleks ini memuat 17 ruang pamer berukuran besar yang secara sadar disiapkan untuk merespons kecenderungan seni kontemporer hari ini. Seni tidak lagi dibatasi oleh medium tunggal, melainkan bergerak lintas bentuk lukisan, patung, instalasi berskala ruang, performance art, hingga praktik interdisipliner. Skala ruang yang lapang memungkinkan karya tidak hanya dilihat, tetapi dialami, membangun relasi antara tubuh, ruang, dan waktu.

Di pusat kawasan, sebuah pendopo berukuran luas berfungsi sebagai ruang peralihan antara pameran dan kehidupan sosial. Pendopo ini dirancang sebagai arena diskursus: tempat diskusi seni, pemutaran film, pertunjukan, lokakarya, hingga residensi seniman. Secara simbolik, pendopo menghadirkan nilai keterbukaan dan musyawarah dari arsitektur tradisional Nusantara, yang diberi tafsir baru dalam kerangka seni kontemporer global.

Lebih jauh, ruang ini tidak hanya diposisikan sebagai tempat pamer, tetapi juga sebagai pusat riset dan produksi pengetahuan. Ke depan, kompleks ini akan dilengkapi dengan perpustakaan seni yang memuat arsip, buku, katalog, serta publikasi seni rupa kontemporer baik lokal maupun internasional.

Perpustakaan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi seniman, kurator, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Melalui program riset, residensi, dan pertukaran pengetahuan, Sangkring Art Space Bali diarahkan menjadi medium pertukaran budaya yang aktif. Ia membuka jalur dialog antara praktik seni di kampung dengan jaringan seni internasional, mempertemukan perspektif lokal dan wacana global secara setara dan berkesadaran.

Pemandangan dari Sangkring Art Space | Foto: Surya Darma

Yang signifikan, ruang seni ini tumbuh di luar pusat urban dan destinasi wisata utama. Pilihan ini merupakan pernyataan kritis terhadap pemusatan ekosistem seni dan pariwisata di kota-kota besar atau kawasan komersial. Dalam konteks Bali, kehadiran ruang seni kontemporer di kampung membuka kemungkinan baru bagi pariwisata berbasis pengetahuan, pengalaman, dan refleksi, bukan semata konsumsi visual.

Alih-alih menjadi objek wisata instan, ruang ini mengundang pengunjung untuk melambat: memahami proses artistik, menyelami konteks sejarah dan lokalitas, serta berinteraksi langsung dengan komunitas.

Pariwisata, dalam pengertian ini, bergerak dari ekonomi tontonan menuju ekonomi perjumpaan di mana seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari warga saling bersilangan secara setara.

Pulang kampung yang dilakukan Putu Sutawijaya, dengan demikian, dapat dibaca sebagai sebuah strategi kultural. Ia menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat berakar kuat di lokalitas tanpa kehilangan daya jelajah global. Dari kampung, di bawah tiga gunung yang sejak lama melahirkan para perupa besar, ruang ini berbicara kepada dunia menawarkan model alternatif tentang bagaimana seni, riset, sejarah, dan hubungan internasional dapat tumbuh berdampingan secara berkelanjutan, bermartabat, dan berkesadaran.

Inilah sebuah megagapan seni kontemporer: pulang kampung bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk merumuskan masa depan dengan kesadaran bahwa masa depan hanya mungkin dibangun melalui dialog yang hidup antara sejarah, lokalitas, dan dunia.[T]

Senganan, 6 Januari 2026

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Jaswanto

Tags: baliDesa AngsrimegagapanPutu SutawijayaSangkring Art Space BaliSenitabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

Next Post

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co