2 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer dari Kampung untuk Dunia

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
January 7, 2026
in Esai
Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer dari Kampung untuk Dunia

Putu Sutawijaya di Sangkring Art Space | Foto: Calun Subrata

DALAM tradisi para perantau Bali, megagapan merujuk pada kepulangan ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh yang melampaui benda. Ia adalah akumulasi pengalaman, pengetahuan, jejaring, serta nilai-nilai yang diperoleh di perantauan, lalu dipersembahkan kembali sebagai kekayaan bersama bagi komunitas asal.

Dalam kerangka inilah kepulangan Putu Sutawijaya menemukan maknanya yang paling dalam. Ia pulang bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai seniman yang membawa pulang sebuah visi kultural: menghadirkan ruang seni kontemporer sebagai megagapan intelektual bagi kampung, sekaligus sebagai kontribusi nyata bagi lanskap seni rupa Indonesia dan dunia.

Kampung yang dimaksud adalah Desa Angsri, sebuah desa yang terletak di jantung Pulau Bali. Secara historis, wilayah ini menyimpan jejak panjang peradaban dan hubungan lintas budaya yang telah berlangsung jauh sebelum wacana globalisasi modern dikenal. Desa Angsri bukanlah ruang kosong, melainkan lanskap budaya yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan berlapis.

Ngobrol bersama Putu Sutawijaya di Sangkring Art Space | Foto: Calun Subrata

Secara geografis, Desa Angsri berada di bawah naungan tiga gunung penting: Gunung Batukaru, Gunung Sanghyang, dan Gunung Adeng. Dalam kosmologi Bali, gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber energi spiritual, pusat orientasi kosmos, sekaligus ruang lahirnya kesadaran estetik dan kultural. Lanskap pegunungan ini membentuk iklim alam dan batin yang subur ruang kontemplasi, disiplin hidup, serta kepekaan artistik yang diwariskan lintas generasi.

Tidak mengherankan jika kawasan di bawah tiga gunung ini telah lama melahirkan sejumlah seniman besar Indonesia. Di sebelah timur Desa Angsri, di Kampung Apuan, lahir Made Wianta salah satu perupa terpenting Indonesia yang dikenal atas praktik seni konseptual dan eksperimentalnya di panggung internasional.

Sementara di sebelah barat kampung Putu Sutawijaya, tumbuh Nyoman Nuarta, pematung monumental yang membawa nama Indonesia ke kancah seni rupa dunia melalui karya-karya berskala global. Dalam konteks ini, Desa Angsri dan sekitarnya dapat dibaca sebagai lanskap kultural yang secara konsisten melahirkan daya cipta besar, menjadikan seni bukan anomali, melainkan bagian dari ekosistem hidup sehari-hari.

Lapisan geografis dan genealogis ini memberi konteks penting bagi kepulangan Putu Sutawijaya. Ia tidak hadir sebagai figur yang terlepas dari tradisi, melainkan sebagai bagian dari mata rantai panjang kesenimanan yang tumbuh dari lanskap alam, spiritualitas, dan budaya setempat.
Berbagai peninggalan benda kuno dan prasasti semakin menegaskan kedalaman sejarah Desa Angsri. Sebuah prasasti tembaga ditemukan di sebelah timur Pura Taman Purwa.

Sangkring Art Space masih dalam tahap pembangunan | Foto: Surya Darma

Berdasarkan pengamatan almarhum Drs. Putu Budiastra dan Dr. R. Goris—sarjana Belanda yang dikenal luas dalam kajian epigrafi Bali—prasasti tersebut, meski dalam kondisi rusak, terdiri atas beberapa lempeng tembaga yang berhasil dibaca dan diterjemahkan oleh Drs. Putu Budiastra pada 28 Desember 1977 di Pura Pucak Tinggah.

Selain prasasti, ditemukan pula berbagai artefak kuno seperti bajra atau genta dari kuningan, piring tembaga, guci porselen, serta piring porselen dari Tiongkok yang berasal dari Dinasti Ming, sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Temuan-temuan ini menjadi bukti material bahwa kampung-kampung di Bali termasuk Angsri sejak lama telah terhubung dengan jaringan perdagangan maritim dan pertukaran budaya internasional, khususnya dengan Tiongkok. Relasi ini turut membentuk estetika, ritual, dan kosmologi lokal Bali.

Dengan demikian, hubungan antara Bali dan dunia internasional bukanlah fenomena baru. Ia telah berakar selama berabad-abad melalui jalur perdagangan, pertukaran artefak, serta dialog simbolik yang tercermin dalam benda-benda ritual maupun keseharian. Dalam kerangka ini, kehadiran seni kontemporer di Angsri dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi keterbukaan tersebut bukan sebagai sesuatu yang terputus dari masa lalu, melainkan sebagai kesinambungan sikap kosmopolit yang telah lama mengakar.

Di lanskap historis dan geografis inilah Putu Sutawijaya membangun Sangkring Art Space Bali, ruang seni Sangkring yang ketiga, setelah dua ruang sebelumnya berdiri di Yogyakarta selama kurang lebih 18 tahun. Ruang ketiga ini kini tengah memasuki tahap pembangunan, berdiri di atas lahan milik kakeknya, Pekak Sangkring, yang namanya kemudian diabadikan sebagai identitas ruang. Pilihan lokasi ini menegaskan dimensi personal sekaligus kultural dari proyek tersebut: sebuah ruang seni kontemporer yang tumbuh dari tanah leluhur.

Sangkring Art Space masih dalam tahap pembangunan | Foto: Surya Darma

Kepulangan Putu Sutawijaya dengan membawa Sangkring Art Space menandai bab penting dalam peta seni kontemporer Indonesia. Ia tidak sekadar kembali ke akar, tetapi menghadirkan sebuah infrastruktur kultural: ruang seni yang dirancang sebagai medan dialog antara praktik seni kontemporer, tradisi lokal, dan dinamika global.

Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, dengan bangunan dua lantai. Kompleks ini memuat 17 ruang pamer berukuran besar yang secara sadar disiapkan untuk merespons kecenderungan seni kontemporer hari ini. Seni tidak lagi dibatasi oleh medium tunggal, melainkan bergerak lintas bentuk lukisan, patung, instalasi berskala ruang, performance art, hingga praktik interdisipliner. Skala ruang yang lapang memungkinkan karya tidak hanya dilihat, tetapi dialami, membangun relasi antara tubuh, ruang, dan waktu.

Di pusat kawasan, sebuah pendopo berukuran luas berfungsi sebagai ruang peralihan antara pameran dan kehidupan sosial. Pendopo ini dirancang sebagai arena diskursus: tempat diskusi seni, pemutaran film, pertunjukan, lokakarya, hingga residensi seniman. Secara simbolik, pendopo menghadirkan nilai keterbukaan dan musyawarah dari arsitektur tradisional Nusantara, yang diberi tafsir baru dalam kerangka seni kontemporer global.

Lebih jauh, ruang ini tidak hanya diposisikan sebagai tempat pamer, tetapi juga sebagai pusat riset dan produksi pengetahuan. Ke depan, kompleks ini akan dilengkapi dengan perpustakaan seni yang memuat arsip, buku, katalog, serta publikasi seni rupa kontemporer baik lokal maupun internasional.

Perpustakaan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi seniman, kurator, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Melalui program riset, residensi, dan pertukaran pengetahuan, Sangkring Art Space Bali diarahkan menjadi medium pertukaran budaya yang aktif. Ia membuka jalur dialog antara praktik seni di kampung dengan jaringan seni internasional, mempertemukan perspektif lokal dan wacana global secara setara dan berkesadaran.

Pemandangan dari Sangkring Art Space | Foto: Surya Darma

Yang signifikan, ruang seni ini tumbuh di luar pusat urban dan destinasi wisata utama. Pilihan ini merupakan pernyataan kritis terhadap pemusatan ekosistem seni dan pariwisata di kota-kota besar atau kawasan komersial. Dalam konteks Bali, kehadiran ruang seni kontemporer di kampung membuka kemungkinan baru bagi pariwisata berbasis pengetahuan, pengalaman, dan refleksi, bukan semata konsumsi visual.

Alih-alih menjadi objek wisata instan, ruang ini mengundang pengunjung untuk melambat: memahami proses artistik, menyelami konteks sejarah dan lokalitas, serta berinteraksi langsung dengan komunitas.

Pariwisata, dalam pengertian ini, bergerak dari ekonomi tontonan menuju ekonomi perjumpaan di mana seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari warga saling bersilangan secara setara.

Pulang kampung yang dilakukan Putu Sutawijaya, dengan demikian, dapat dibaca sebagai sebuah strategi kultural. Ia menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat berakar kuat di lokalitas tanpa kehilangan daya jelajah global. Dari kampung, di bawah tiga gunung yang sejak lama melahirkan para perupa besar, ruang ini berbicara kepada dunia menawarkan model alternatif tentang bagaimana seni, riset, sejarah, dan hubungan internasional dapat tumbuh berdampingan secara berkelanjutan, bermartabat, dan berkesadaran.

Inilah sebuah megagapan seni kontemporer: pulang kampung bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk merumuskan masa depan dengan kesadaran bahwa masa depan hanya mungkin dibangun melalui dialog yang hidup antara sejarah, lokalitas, dan dunia.[T]

Senganan, 6 Januari 2026

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Jaswanto

Tags: baliDesa AngsrimegagapanPutu SutawijayaSangkring Art Space BaliSenitabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

Next Post

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

by Arief Rahzen
May 1, 2026
0
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

Read moreDetails

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
0
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

Read moreDetails

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

by Sugi Lanus
April 30, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

Read moreDetails

Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

by T.H. Hari Sucahyo
April 29, 2026
0
Rahasia Daya Tarik yang Tidak Bisa Dibeli atau Dipoles

DI tengah dunia yang begitu bising oleh standar dan penilaian, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa daya tarik ditentukan oleh...

Read moreDetails

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

by Agung Sudarsa
April 28, 2026
0
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Dari Dapur Menuju Kesadaran Ungkapan Annam Brahman dari Taittiriya Upanishad sering terdengar sederhana, bahkan terasa “terlalu duniawi” untuk ukuran nilai-nilai...

Read moreDetails

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

by Angga Wijaya
April 28, 2026
0
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari...

Read moreDetails

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

by Isran Kamal
April 27, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Budaya

Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini

Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng...

by tatkala
May 1, 2026
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’
Khas

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya
Gaya

HP 12 Jutaan Paling Worth It? —Ini Infinix Note 60 Ultra Harga dan Ulasan Lengkapnya

PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60...

by tatkala
May 1, 2026
Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya
Esai

Menimbang Ulang ‘May Day’ Bagi Pekerja Budaya

TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat...

by Arief Rahzen
May 1, 2026
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan
Ulas Musik

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru
Pop

SWR Bali Kembali dari Istirahat Panjang, “Palas” Jadi Penanda Babak Baru

SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band...

by Dede Putra Wiguna
May 1, 2026
‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran
Kesehatan

‘Vision for All’ Hadirkan Penglihatan Lebih Jelas, 1000 Kacamata Resep bagi Warga Jimbaran

SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak...

by Nyoman Budarsana
April 30, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat
Esai

Oppenheimer: Sains, Sastra, dan Filsafat

Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral...

by Agung Sudarsa
April 30, 2026
Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  
Panggung

Dialog Dini Hari Rilis ‘Di Jumah’: Lagu Tentang Rumah yang Tak Sederhana  

SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie...

by Dede Putra Wiguna
April 30, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI SEDANG KRISIS KEBERANIAN? —‘Cari Aman’, ‘Koh Ngomong’ dan ‘Sing Nyak Uyut’ yang Menghancurkan Bali

— Catatan Harian Sugi Lanus, 29 April 2026 Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan...

by Sugi Lanus
April 30, 2026
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik
Tualang

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

by Chusmeru
April 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co