25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer dari Kampung untuk Dunia

I Gede Made Surya Darma by I Gede Made Surya Darma
January 7, 2026
in Esai
Putu Sutawijaya Pulang Kampung: Megagapan Ruang Seni Kontemporer dari Kampung untuk Dunia

Putu Sutawijaya di Sangkring Art Space | Foto: Calun Subrata

DALAM tradisi para perantau Bali, megagapan merujuk pada kepulangan ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh yang melampaui benda. Ia adalah akumulasi pengalaman, pengetahuan, jejaring, serta nilai-nilai yang diperoleh di perantauan, lalu dipersembahkan kembali sebagai kekayaan bersama bagi komunitas asal.

Dalam kerangka inilah kepulangan Putu Sutawijaya menemukan maknanya yang paling dalam. Ia pulang bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai seniman yang membawa pulang sebuah visi kultural: menghadirkan ruang seni kontemporer sebagai megagapan intelektual bagi kampung, sekaligus sebagai kontribusi nyata bagi lanskap seni rupa Indonesia dan dunia.

Kampung yang dimaksud adalah Desa Angsri, sebuah desa yang terletak di jantung Pulau Bali. Secara historis, wilayah ini menyimpan jejak panjang peradaban dan hubungan lintas budaya yang telah berlangsung jauh sebelum wacana globalisasi modern dikenal. Desa Angsri bukanlah ruang kosong, melainkan lanskap budaya yang terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan berlapis.

Ngobrol bersama Putu Sutawijaya di Sangkring Art Space | Foto: Calun Subrata

Secara geografis, Desa Angsri berada di bawah naungan tiga gunung penting: Gunung Batukaru, Gunung Sanghyang, dan Gunung Adeng. Dalam kosmologi Bali, gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan sumber energi spiritual, pusat orientasi kosmos, sekaligus ruang lahirnya kesadaran estetik dan kultural. Lanskap pegunungan ini membentuk iklim alam dan batin yang subur ruang kontemplasi, disiplin hidup, serta kepekaan artistik yang diwariskan lintas generasi.

Tidak mengherankan jika kawasan di bawah tiga gunung ini telah lama melahirkan sejumlah seniman besar Indonesia. Di sebelah timur Desa Angsri, di Kampung Apuan, lahir Made Wianta salah satu perupa terpenting Indonesia yang dikenal atas praktik seni konseptual dan eksperimentalnya di panggung internasional.

Sementara di sebelah barat kampung Putu Sutawijaya, tumbuh Nyoman Nuarta, pematung monumental yang membawa nama Indonesia ke kancah seni rupa dunia melalui karya-karya berskala global. Dalam konteks ini, Desa Angsri dan sekitarnya dapat dibaca sebagai lanskap kultural yang secara konsisten melahirkan daya cipta besar, menjadikan seni bukan anomali, melainkan bagian dari ekosistem hidup sehari-hari.

Lapisan geografis dan genealogis ini memberi konteks penting bagi kepulangan Putu Sutawijaya. Ia tidak hadir sebagai figur yang terlepas dari tradisi, melainkan sebagai bagian dari mata rantai panjang kesenimanan yang tumbuh dari lanskap alam, spiritualitas, dan budaya setempat.
Berbagai peninggalan benda kuno dan prasasti semakin menegaskan kedalaman sejarah Desa Angsri. Sebuah prasasti tembaga ditemukan di sebelah timur Pura Taman Purwa.

Sangkring Art Space masih dalam tahap pembangunan | Foto: Surya Darma

Berdasarkan pengamatan almarhum Drs. Putu Budiastra dan Dr. R. Goris—sarjana Belanda yang dikenal luas dalam kajian epigrafi Bali—prasasti tersebut, meski dalam kondisi rusak, terdiri atas beberapa lempeng tembaga yang berhasil dibaca dan diterjemahkan oleh Drs. Putu Budiastra pada 28 Desember 1977 di Pura Pucak Tinggah.

Selain prasasti, ditemukan pula berbagai artefak kuno seperti bajra atau genta dari kuningan, piring tembaga, guci porselen, serta piring porselen dari Tiongkok yang berasal dari Dinasti Ming, sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Temuan-temuan ini menjadi bukti material bahwa kampung-kampung di Bali termasuk Angsri sejak lama telah terhubung dengan jaringan perdagangan maritim dan pertukaran budaya internasional, khususnya dengan Tiongkok. Relasi ini turut membentuk estetika, ritual, dan kosmologi lokal Bali.

Dengan demikian, hubungan antara Bali dan dunia internasional bukanlah fenomena baru. Ia telah berakar selama berabad-abad melalui jalur perdagangan, pertukaran artefak, serta dialog simbolik yang tercermin dalam benda-benda ritual maupun keseharian. Dalam kerangka ini, kehadiran seni kontemporer di Angsri dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi keterbukaan tersebut bukan sebagai sesuatu yang terputus dari masa lalu, melainkan sebagai kesinambungan sikap kosmopolit yang telah lama mengakar.

Di lanskap historis dan geografis inilah Putu Sutawijaya membangun Sangkring Art Space Bali, ruang seni Sangkring yang ketiga, setelah dua ruang sebelumnya berdiri di Yogyakarta selama kurang lebih 18 tahun. Ruang ketiga ini kini tengah memasuki tahap pembangunan, berdiri di atas lahan milik kakeknya, Pekak Sangkring, yang namanya kemudian diabadikan sebagai identitas ruang. Pilihan lokasi ini menegaskan dimensi personal sekaligus kultural dari proyek tersebut: sebuah ruang seni kontemporer yang tumbuh dari tanah leluhur.

Sangkring Art Space masih dalam tahap pembangunan | Foto: Surya Darma

Kepulangan Putu Sutawijaya dengan membawa Sangkring Art Space menandai bab penting dalam peta seni kontemporer Indonesia. Ia tidak sekadar kembali ke akar, tetapi menghadirkan sebuah infrastruktur kultural: ruang seni yang dirancang sebagai medan dialog antara praktik seni kontemporer, tradisi lokal, dan dinamika global.

Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, dengan bangunan dua lantai. Kompleks ini memuat 17 ruang pamer berukuran besar yang secara sadar disiapkan untuk merespons kecenderungan seni kontemporer hari ini. Seni tidak lagi dibatasi oleh medium tunggal, melainkan bergerak lintas bentuk lukisan, patung, instalasi berskala ruang, performance art, hingga praktik interdisipliner. Skala ruang yang lapang memungkinkan karya tidak hanya dilihat, tetapi dialami, membangun relasi antara tubuh, ruang, dan waktu.

Di pusat kawasan, sebuah pendopo berukuran luas berfungsi sebagai ruang peralihan antara pameran dan kehidupan sosial. Pendopo ini dirancang sebagai arena diskursus: tempat diskusi seni, pemutaran film, pertunjukan, lokakarya, hingga residensi seniman. Secara simbolik, pendopo menghadirkan nilai keterbukaan dan musyawarah dari arsitektur tradisional Nusantara, yang diberi tafsir baru dalam kerangka seni kontemporer global.

Lebih jauh, ruang ini tidak hanya diposisikan sebagai tempat pamer, tetapi juga sebagai pusat riset dan produksi pengetahuan. Ke depan, kompleks ini akan dilengkapi dengan perpustakaan seni yang memuat arsip, buku, katalog, serta publikasi seni rupa kontemporer baik lokal maupun internasional.

Perpustakaan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi seniman, kurator, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Melalui program riset, residensi, dan pertukaran pengetahuan, Sangkring Art Space Bali diarahkan menjadi medium pertukaran budaya yang aktif. Ia membuka jalur dialog antara praktik seni di kampung dengan jaringan seni internasional, mempertemukan perspektif lokal dan wacana global secara setara dan berkesadaran.

Pemandangan dari Sangkring Art Space | Foto: Surya Darma

Yang signifikan, ruang seni ini tumbuh di luar pusat urban dan destinasi wisata utama. Pilihan ini merupakan pernyataan kritis terhadap pemusatan ekosistem seni dan pariwisata di kota-kota besar atau kawasan komersial. Dalam konteks Bali, kehadiran ruang seni kontemporer di kampung membuka kemungkinan baru bagi pariwisata berbasis pengetahuan, pengalaman, dan refleksi, bukan semata konsumsi visual.

Alih-alih menjadi objek wisata instan, ruang ini mengundang pengunjung untuk melambat: memahami proses artistik, menyelami konteks sejarah dan lokalitas, serta berinteraksi langsung dengan komunitas.

Pariwisata, dalam pengertian ini, bergerak dari ekonomi tontonan menuju ekonomi perjumpaan di mana seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari warga saling bersilangan secara setara.

Pulang kampung yang dilakukan Putu Sutawijaya, dengan demikian, dapat dibaca sebagai sebuah strategi kultural. Ia menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat berakar kuat di lokalitas tanpa kehilangan daya jelajah global. Dari kampung, di bawah tiga gunung yang sejak lama melahirkan para perupa besar, ruang ini berbicara kepada dunia menawarkan model alternatif tentang bagaimana seni, riset, sejarah, dan hubungan internasional dapat tumbuh berdampingan secara berkelanjutan, bermartabat, dan berkesadaran.

Inilah sebuah megagapan seni kontemporer: pulang kampung bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk merumuskan masa depan dengan kesadaran bahwa masa depan hanya mungkin dibangun melalui dialog yang hidup antara sejarah, lokalitas, dan dunia.[T]

Senganan, 6 Januari 2026

Penulis: I Gede Made Surya Darma
Editor: Jaswanto

Tags: baliDesa AngsrimegagapanPutu SutawijayaSangkring Art Space BaliSenitabanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

Next Post

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

I Gede Made Surya Darma

I Gede Made Surya Darma

Pelukis. Lulusan ISI Yogyakarta. Founder Lepud Art Management

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co