KAMPUS di malam hari. Yang terbayang tentunya lampu yang terang benderang di setiap sudut halaman kampus. Mahasiswa hilir-mudik, keluar masuk pintu gerbang kampus. Ruang kuliah yang dingin oleh AC dan mahasiswa yang mulai mengantuk.
Suasana seperti itu berlaku bagi kampus yang menyelenggarakan perkuliahan hingga malam hari. Biasanya terjadi pada kampus-kampus favorit, baik pemerintah maupun swasta, yang memiliki jumlah mahasiswa sangat banyak. Ruang kuliah yang terbatas membuat jadwal kuliah dimulai dari pagi hingga malam.
Ada mahasiswa yang suka kuliah malam, ada pula yang malas jika harus keluar malam untuk kuliah. Bagi mahasiswa yang menjadikan kampus sebagai destinasi cinta, kuliah malam dianggap romantis. Tentunya untuk mahasiswa yang berpacaran dengan teman kuliahnya. Berangkat ke kampus berboncengan sepeda motor dengan pacar merupakan keasyikan tersendiri.
Namun ada pula mahasiswa yang enggan kuliah malam. Aktivitas yang padat di pagi hingga sore membuat mahasiswa sudah kecapaian jika masih harus ke kampus malam-malam. Apalagi bila ada tugas terstruktur dari dosen yang harus dikerjakan pada malam hari. Mahasiswa akan menganggap kuliah malam sebagai beban.
Begitu pula dengan dosen. Ada yang senang mengajar di malam hari, ada pula yang mengeluh jika masih harus memberi kuliah di malam hari. Alasannya masing-masing berbeda. Dosen yang senang mengajar malam dengan alasan lebih tenang, tidak bising oleh suara-suara kendaraan yang lalu-lalang di jalanan dekat kampus.
Dosen yang terpaksa mengajar malam hari karena jadwal dan ruang kuliah yang padat di fakultas biasanya akan mengeluh. Waktu yang semestinya bisa digunakan untuk bercengkerama bersama keluarga, masih harus berdiri di depan kelas malam hari. Mahasiswa kadang juga ada yang tidak fokus bila kuliah malam, entah karena belum makan atau mengantuk.
Terlepas dari berbagai alasan, kuliah malam memang sulit dihindari oleh kampus yang memiliki mahasiswa dalam jumlah banyak. Gedung dan ruang kuliah tidak berkembang signifikan dengan perkembangan jumlah mahasiswa. Demikian pula rasio jumlah dosen tak sebanding dengan jumlah mahasiswa, sehingga membuat jadwal kuliah tidak cukup hanya sampai siang atau sore. Bagi dosen dari perguruan tinggi yang “kaya”, mengajar malam hari terobati dengan tunjangan remunerasi yang lumayan selain gaji bulanan.
***
Kampus di tepian Sungai Serayu ini memiliki mahasiswa yang banyak. Namun dengan ruang kuliah yang terbatas, sebagian mahasiswanya harus menikmati kuliah malam. Bagi Fikar Ramdani, mahasiswa semester empat, kuliah malam kadang menyenangkan, kadang pula menyebalkan. Senang karena udara yang sejuk di malam hari. Sebal bila dosen yang mengajar tak bersemangat, membuat mahasiswa tertidur pulas di kampus.
Kuliah Teori dan Metode Perbandingan Politik dari dosen Said Indra Permana di hari Rabu malam pukul 19.30 membuat Fikar Ramdani belum sempat makan. Mau makan sore sebelum kuliah takutnya malam hari akan lapar lagi. Fikar memutuskan makan malam setelah kuliah berakhir saja. Tidak masalah mencari makan malam di lesehan maupun Warteg yang banyak dijumpai di sekitar kampus.
Kuliah berakhir tepat pukul 21.00 malam. Satu per satu mahasiswa keluar ruangan. Kampus sudah tampak sepi. Fikar masih membereskan catatan kuliahnya di laptop ketika mahasiswa lain sudah beranjak pulang. Tinggal ia sendirian berada di kelas. Ia berencana membeli makan malam dibungkus saja untuk disantap di tempat kos.
Perlahan ia berjalan menyusuri halaman kampus. Di tanah lapang yang biasanya digunakan untuk kegiatan olahraga, ia melihat keramaian orang. Semakin dekat ia melihat sepertinya ada pasar malam di kampus yang berjualan aneka makanan dan jajanan. Fikar heran. Sewaktu berangkat tadi ia tak melihat ada pasar malam di lapangan kampus.
Fikar berpikir, lumayan juga membeli makanan untuk menganjal perutnya. Berbagai menu tersedia di pasar malam itu. Hampir semua yang dijual makanan tempo dulu, seperti serabi, soto, dawet, dan sebagainya. Tidak ia lihat makanan kekinian seperti cilok, cimol, batagor, atau makanan-makanan Korea.
Lebih heran Fikar, karena para penjual makanan juga menggunakan pakaian tradisional Jawa. Wajah-wajah mereka juga tampak dingin, hanya sesekali mereka tersenyum kepada pembeli. Percakapan antara penjual dengan pembeli menggunakan bahasa Jawa Banyumasan, bahasa khas di kampus tempat Fikar kuliah.
Salah satu yang menarik perhatian Fikar adalah penjual kue serabi. Makanan khas Banyumas yang berasa manis dan asin. Fikar membeli lima tangkup serabi yang berisi 10 buah. Ia akan bagikan kepada teman-teman kosnya untuk camilan malam sambil belajar. Harganya pun sangat murah, hanya sepuluh ribu rupiah. Itu berarti harga serabi per buah hanya seribu rupiah.
Terpikir belum makan malam, Fikar menuju penjual nasi rames. Penjualnya perempuan yang tampak sudah tua. Penjual nasi rames itu tersenyum pada Fikar. Namun Fikar merasakan senyumannya agak aneh dan misterius. Fikar merasakan suasana mistis di tengah pasar malam itu.
“Ramesnya pakai sayur apa saja, Mas?” tanya penjual kepada Fikar yang masih heran dengan suasana pasar malam di kampus.
Fikar menunjuk sayur oseng kacang panjang, sayur kering tempe, dan telor balado. Harganya pun sangat murah untuk ukuran mahasiswa. Fikar memandang ke sekeliling. Pasar malam semakin ramai dengan pengunjung. Akan tetapi ia merasa heran dengan para pengunjung. Wajah mereka sebagian besar tanpa ekspresi. Ah, Fikar tak ambil pusing. Mungkin suasana malam membuat mereka tak banyak bicara, pikir Fikar.
Bergegas Fikar meninggalkan pasar malam dengan membawa bungkusan jajan serabi dan nasi rames. Sampai di tempat kos, jam di dinding menunjukkan angka 11. Fikar terkejut. Dia berada di pasar malam selama dua jam. Padahal ia merasa hanya sebentar. Teman-teman kosnya heran.
“Kok jam segini baru pulang?” tanya Komar teman kos Fikar.
“Iya.. singgah dulu di pasar malam kampus,” jawab Fikar sambil meletakkan bungkusan makanan yang ia beli.
“Pasar malam kampus.. Memangnya ada pasar malam di kampus?” Komar terkejut.
“Itu saya beli makanan,” jawab Fikar meyakinkan.
Mereka berdua membuka bungkusan makanan yang dibeli Fikar Ramdani di pasar malam kampus. Sungguh mengejutkan. Mata Fikar terbelalak. Komar menutup mulutnya lantaran kaget. Makanan yang dibeli Fikar berubah. Serabi yang ia beli berubah menjadi tumpukan daun waru. Sedangkan nasi ramesnya berubah menjadi tanah liat beraroma bunga kamboja.
“Pasar malam hantu itu…,” kata Komar sambil menjauh dari makanan yang dibeli Fikar.
Fikar tertegun. Mendadak ia merinding. Jadi tadi dia bukan berada di pasar malam sungguhan. Pasar malam di kampus yang mistis. Fikar kembali teringat wajah-wajah penjual dan pengunjung pasar malam yang aneh dan dingin.
***
Rabu malam pukul 19.30 enam minggu kemudian, tepatnya 36 hari dari kejadian yang dialami Fikar Ramdani. Kuliah Studi Kawasan Asia Tenggara sudah dimulai dengan dosen muda yang tampan, Elpana Riyadi. Mahasiswa tampak antusias ketika dibahas peran kepemimpinan Indonesia di kancah ekonomi Asia Tenggara.
Gandhi Rujito dan Priyo Bagus Satrio duduk berdampingan. Mereka berdua sama-sama berada di semester lima. Bagi mereka kuliah malam hari tak jadi masalah sepanjang tidak turun hujan. Jika hujan di malam hari mereka harus menggunakan mantel agar tak basah saat berkendara sepeda motor. Sampai di kampus pakaian akan tetap basah meski pakai jas hujan.
Mereka sudah sepakat selepas kuliah akan makan malam di warung pecel lele Lamongan yang berjualan di trotoar dekat kampus. Murah dan rasanya lumayan nikmat di lidah mereka. Karenanya begitu kuliah berakhir, mereka bergegas keluar ruang kuliah.
Melewati tanah lapang di kampus, langkah mereka terhenti. Gandhi dan Priyo melihat ada pasar malam di tanah lapang. Pengunjungnya sudah cukup banyak. Para pedagang menggunakan busana tradisional. Ada pula pedagang yang menggunakan caping yang biasa digunakan petani di sawah. Sedangkan para pengunjung tampak seperti masayarakat pedesaan, sebagian besar tidak memakai alas kaki.
“Kok ada pasar malam di kampus ya?” tanya Gandhi heran.
“Iya, padahal tadi waktu kita mau masuk kelas belum ada ya,” jawab Priyo terheran pula.
Gandhi Rujito dan Priyo Bagus Satrio lama berdiri mematung sambil memperhatikan pasar malam di kampus. Mereka masih ragu untuk turut berada di tengah pasar malam. Gandhi dan Priyo merasakan hal aneh. Mereka sama-sama merinding. Apalagi saat mereka melihat wajah-wajah pengunjung pasar malam yang misterius.
“Aku merasakan aura mistis di pasar malam itu,” ujar Gandhi yang ditanggapi Priyo dengan anggukan kepala.
Namun entah kenapa mereka seolah tertarik untuk masuk ke dalam pasar malam itu. Mereka merasa ada kekuatan tak terlihat yang mendorong dan menarik mereka untuk masuk. Gandhi dan Priyo pun berjalan di antara para penjual dan pengunjung pasar malam.
Beragam makanan dijajakan, mulai dari nasi hingga jajanan pasar. Meski Gandhi dan Priyo sudah merasa lapar, namun mereka tidak tertarik untuk membeli nasi di pasar malam itu. Mereka tadi sudah berjanji akan malam di lesehan warung Lamongan.
Gandhi tertarik untuk membeli jajanancenil, jajanan khas kota Purwokerto yang berbentuk lonjong kecil, terbuat dari singkong, ditaburi ampas kelapa, dan terasa manis. Di kota asalnya Samarinda, jajanan seperti itu tidak ditemuinya. Harganya sangat murah, hanya lima ribu rupiah dibungkus dengan daun pisang. Hanya saja, Gandhi merasa aneh dengan senyum misterius penjual jajanan itu.
Sedangkan Priyo memilih membeli gorengan dage, juga makanan khas Purwokerto. Semacam tempe, tetapi terbuat dari ampas tahu. Bentuknya kotak kecil, dan terasa asin. Jajanan itu lebih nikmat bila dimakan dengan cabai rawit. Gorengan itu tidak pernah ia temui di kota asalnya, Malang. Sama seperti Gandhi, perasaan aneh juga dialami Priyo. Ia melihat senyum penjual gorengan begitu misterius, bahkan cenderung menyeramkan.
“Yang jualan kok aneh dan seram yaa..,” kata Priyo kepada Gandhi yang sedang bengong.
Mereka berdua segera meninggalkan tanah lapang di kampus. Pasar malam kian ramai pengunjung. Namun Gandhi dan Priyo merasa asing dengan para pengunjung. Pakaian para pengunjung sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang saat ini. Mereka seperti orang-orang yang hidup di masa silam.
Sesampai di tempat kos, teman-teman Gandhi dan Priyo masih banyak yang sedang membaca buku. Sebagian lagi bermain game di ponsel. Kehadiran Gandhi dan Priyo tidak begitu mengundang perhatian. Namun ketika mereka menaruh jajanan yang dibeli di pasar malam, teman-teman kos mereka berlarian menghampiri.
“Bawa apaan nih?” tanya Didin Iskandar, salah satu di antara teman kos.
“Jajanan cenil dan dage. Beli di pasar malam kampus,” jawab Priyo.
“Pasar malam di kampus?” tanya teman-teman kos serempak.
“Nggak ada pasar malam di kampus. Pasar malam mistis itu,” kata Didin Iskandar membuat Gandhi dan Priyo terkejut ketakutan.
Mereka segera membuka bungkusan yang dibawa Gandhi dan Priyo. Semua terbelalak kaget. Bukan jajanan khas Purwokerto yang mereka lihat. Cenil yang dibeli Gandhi berubah menjadi butiran hitam kotoran kambing. Sedangkan gorengan dage yang dibeli Priyo berubah menjadi potongan genteng atap rumah.
Semua saling pandang. Merinding. Wajah mereka ketakutan. Tak ada satu pun yang berani menyentuh makanan yang sudah berubah bentuk itu. Hawa dingin tiba-tiba mereka rasakan di tempat kos yang biasanya gerah lantaran begitu banyak perabotan mahasiswa yang berantakan.
Pengalaman menyeramkan itu mereka ceritakan kepada pemilik kos yang asli dari kota Purwokerto. Mendengar cerita dari mahasiswa, pemilik kos hanya tersenyum. Seolah ia tahu persis apa yang dialami Gandhi dan Priyo.
“Itu pasar malam mistis. Biasanya setiap hari Rabu Pon malam hari akan muncul pasar malam gaib di kampus,” jelas pemilik kos menambah merinding para mahasiswa.
“Jika tak ingin menjumpai pasar malam mistis itu, baca doa ketika melintasi tanah lapang di kampus. Atau jika berjalan jangan menengok ke arah pekarangan yang biasa dijadikan pasar malam,” tambah pemilik kos. Menurutnya, pasar malam mistis itu memang sudah ada sejak dia masih kecil.
Pemilik kos menenangkan mahasiswanya. Tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan ini memang ada gelap, ada terang. Ada yang nyata, ada pula yang tak nyata. Alam kenyataan hidup berdampingan dengan dunia gaib. Itu hal yang biasa. Semua memiliki ruang masing-masing. Hanya saja, mahasiswa kebetulan memasuki kehidupan dunia gaib, sehingga dapat melihat pasar mistis itu.
Mendengar penjelasan pemilik kos, mahasiswa hanya terdiam. Mereka nyaris tak paham apa yang dijelaskan. Dunia mereka adalah dunia kampus, dunia logika, dan dunia digital. Memahami dunia mistis seakan membuat mereka harus memasuki lorong waktu berabad lalu. Kini mereka sedang berpikir, harus diapakan dan dikemanakan jajanan yang telah mereka beli di pasar malam mistis itu. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























