23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negara dan Warga Negara

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
December 1, 2025
in Esai
Negara dan Warga Negara

Ilustrasi tatkala.co

Pada salah satu laman google disebutkan negara adalah entitas politik dengan pemerintahan yang berdaulat, sedangkan warga negara adalah individu yang secara hukum diakui sebagai anggota negara tersebut, dengan hak dan kewajiban yang timbal balik. Hubungan keduanya penting untuk stabilitas dan kesejahteraan negara, di mana negara berkewajiban menyejahterakan warganya, dan warga negara berkewajiban menaati hukum serta membayar pajak.

Disebutkan juga negara adalah organisasi politik tertinggi yang memiliki kewenangan mengatur masyarakat, mensejahterakan, melindungi, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan warga negara didefinisikan sebagai orang yang secara hukum menjadi anggota suatu negara dan diakui memiliki hak serta kewajiban penuh.

Di Indonesia satuan terkecil warga negara adalah keluarga, diatasnya disebut RT (rukun tetangga), di Bali disebut banjar/dusun, satuan yang lebih luas adalah desa, lebih luas lagi kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan paling luas disebut negara Republik Indonesia dan warganya disebut sebagai warga negara Republik Indonesia

Republik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘republik’ adalah bentuk pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dan dikepalai oleh seorang presiden.

Istilah republik berasal dari bahasa Latin, “res publica”, yang berarti “urusan publik” atau “urusan rakyat”. Dengan demikian, pemerintahan negara yang berbentuk republik menekankan pada sistem kekuasaan pada negara bukan pada individu atau kelompok tertentu, tetapi pada seluruh warga negara.
Pengertian ini, menyiratkan bahwa negara dan warga negara tidak terpisah, tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh, seperti halnya, manusia, mahluk hidup sebagai mikrokosmos (jagat alit) yang merupakan satu kesatuan dengan makrokosmos (jagat gede).

Manunggaling Kawula Gusti

Dalam kehidupan semua yang hidup, manusia selalu mengusahakan adanya kesehimbangan/keharmonisan, dengan dirinya sendiri, dengan kelompok, maupun kelompok yang lebih besar bernama negara. Bentuk kesehimbangan dan keharmonisan tersebut akan tercapai jika ada penyatuan.

Penyatuan manusia/mahluk/mikrokosmos dengan Yang Maha/makrokosmos dalam filsafat Jawa disebut sebagai “manunggaling kawula gusti”. Agama menyebutnya dengan istilah “Brahman Atman Aikyam” yang artinya Brahman dan atman itu adalah tunggal sebab atman merupakan bagian dari Tuhan.

Hukum Tiga

Harmonisasi bisanya memakai hukum tiga (3) yang bisa digambarkan sebagai bentuk segitiga sama sisi. Media hukum tiga bisa berbentuk material, non material, energi, frekwensi, maupun vibrasi. Bisa berupa unsur (api, air dan udara), sifat (padat, cair, gas), kondisi (lahir, hidup, mati), (manusia, alam keyakinannya), kalimat (subyek, obyek dan predikat). Organisasi (bentuk/jenis, pemimpin, dan yang dipimpin). Usaha dan upaya harmonisasi bisa berubah sesuai tempat, ruang, waktu, kondisi dan situasi. Tapi seberapapun perubahan itu, bentuknya akan tetap segitiga dan tak mungkin menjadi jajaran genjang, atau tak beraturan.

Trias Politika

Negara Republik Indonesia konon memakai sistem Trias Politika (berasal dari Filsuf Yunani), dengan 3 pilar pembagian tugas dan tanggung jawab, yakni: Legislatif (sebagai pembuat undang-undang), Eksekutif (sebagai pelaksana Undang-Undang dan Yudikatif sebagai pengadil/penikai Undang-Undang). Tapi anehnya dalam organisasi politik yang bernama Negara Republik Indonesia ini, sistim politik Republik Trias Politika tersebut seperti berdiri sendiri di awang-awang, tak menginjak bumi dan terpisah dengan warga negara yang disebut publik.

Maka jadilah warga negara/publik, hanya sebagai obyek, dari subyek dalam negara yang disebut Republik. Kalau Trias Politika benar-benar dilaksanakan, dalam pikiran sederhana saya, semestinya yang bertindak sebagai Yudikatif/Pengadil/penilai adalah publik/warga negara. Bukankah Legislatif dan Eksekutif juga dipilih oleh publik/warga negara, semestinya juga berhak mengadili/menilai Legestarif dan Eksekutif. Kalau warga/publik diberi hak memilih Legestarif dan Eksekutif mestinya Publik/Warga juga punya hak mengadili.

Yang menurut saya makin lucu adalah pemilihan untuk pengadil/penilai dilakukan oleh Eksekutif yang harus disetujui oleh Legestarif, sehingga sangat memungkinkan terjadi kongkalikong, kerjasama saling menguntungkan antara ketiga pilar tersebut, yang menjadikan warga/publik, terinjak, terjepit, dan gigit jari, hanya memandang dari kejauhan sambil berdoa dalam hati.

Pimpinan, Presiden dan Cakraningrat

Sejarah Indonesia yang panjang dalam sistem berorganisasi politik dalam bentuk kerajaan, semestinya bisa menjadi acuan warga negara Indonesia di masa yang akan datang. Trias Politika bagus, tetapi ada hal-hal mendasar yang mudah diselewengkan, terutama bagi pemimpin yang “berwatak penjajah”, yang hanya mengganggap dan menilai manusia, binatang, mahluk hidup dan alam sebagai obyek kekuasaannya.

Sejarah mencatat keberhasilan raja- raja nusantara dalam menjalankan kepemimpinannya dalam kerajaan yang membuat warga, manusia, binatang, pohon, alam dan semua yang hidup harmonis. Upayanya pengharmonisan yang selalu diupayakan menyangkut hukum tiga yang dikenal dengan sebutan “Cakraningrat” (cakra: lingkaran, putaran, pengelolaan, ning: pada/bening, dan rat: jagat/ dunia). “Cakraningrat’ adalah sebuah kepemimpinan yang bertugas sebagai pengelola alam dan seisinya (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan). Tiga komponen itu adalah pemimpin, sebagai subyek pengelola, sebagai predikat dan alam sebagai obyek, juga bersifat terbalik, pemimpin sebagai obyek yang ditugaskan mengelola oleh alam sebagai subyek.

Keberhasilan Pemimpin “cakraningrat” adalah proses menuju “manunggaling kawula gusti”, bersatunya yang dipimpin dengan pimpinannya, bersatunya pemimpin dengan penciptanya. Kepemimpinan “cakraningrat’ bisa siapa saja, Presiden, Mentri, DPR, Gubernur, Kepala Desa, kelompok atau pribadi.

Empati

Belakangan ini saya merasakan Negara Indonesia, sedang menuju pada proses kepemimpinan “cakraningrat” yang ditunjukkan oleh kepala desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah yang bernama Junaedi Mulyono, kepala desa Banjarnegara, Jawa Tengah, yang bernama
Hoho Alkaf, Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi, Mentri Purbaya Yudi Sadewa, Andi Amran Sulaiman, Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia. Kepemimpinan “cakraningrat”, biasanya dimulai dari rasa empati yang bersangkutan terhadap pihak lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasakan keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Dalam hal ini empati membuat seseorang bisa memposisikan dirinya sebagai orang lain. Ciri-ciri empati yang bisa dilihat adalah: mampu dan mau mendengar pembicaraan orang lain dengan baik, mampu mengendalikan emosi, dan memahami sudut pandang orang lain. Empati adalah perasaan pribadi, sebagai manusia, tak bisa berkelompok ,tak bisa diwakilkan, tak bisa diteruskan dari atasan ke bawahan.

Jadi mari bermimpi, mempunyai pemimpin dan menjadi pemimpin yang “manunggaling kawula gusti’ menyatu dengan Tuhan Yang Maha, dengan belajar dan berusaha berempati, pada lingkungan terdekat, termudah dan terlihat (alam, manusia, binatang, pohon, tanah, dan air), sehingga bisa manunggal dengan diri sendiri, mengelola mikrokosmos dalam diri, sehingga harmonis. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: negarawarga negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal yang Perlu Diketahui dalam Pendaftaran Hak Atas Tanah Perikatan Jual Beli & Akta Jual Beli

Next Post

“Close the Door After Me”: Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Close the Door After Me”: Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

"Close the Door After Me": Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co