23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negara dan Warga Negara

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
December 1, 2025
in Esai
Negara dan Warga Negara

Ilustrasi tatkala.co

Pada salah satu laman google disebutkan negara adalah entitas politik dengan pemerintahan yang berdaulat, sedangkan warga negara adalah individu yang secara hukum diakui sebagai anggota negara tersebut, dengan hak dan kewajiban yang timbal balik. Hubungan keduanya penting untuk stabilitas dan kesejahteraan negara, di mana negara berkewajiban menyejahterakan warganya, dan warga negara berkewajiban menaati hukum serta membayar pajak.

Disebutkan juga negara adalah organisasi politik tertinggi yang memiliki kewenangan mengatur masyarakat, mensejahterakan, melindungi, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan warga negara didefinisikan sebagai orang yang secara hukum menjadi anggota suatu negara dan diakui memiliki hak serta kewajiban penuh.

Di Indonesia satuan terkecil warga negara adalah keluarga, diatasnya disebut RT (rukun tetangga), di Bali disebut banjar/dusun, satuan yang lebih luas adalah desa, lebih luas lagi kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan paling luas disebut negara Republik Indonesia dan warganya disebut sebagai warga negara Republik Indonesia

Republik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘republik’ adalah bentuk pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dan dikepalai oleh seorang presiden.

Istilah republik berasal dari bahasa Latin, “res publica”, yang berarti “urusan publik” atau “urusan rakyat”. Dengan demikian, pemerintahan negara yang berbentuk republik menekankan pada sistem kekuasaan pada negara bukan pada individu atau kelompok tertentu, tetapi pada seluruh warga negara.
Pengertian ini, menyiratkan bahwa negara dan warga negara tidak terpisah, tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh, seperti halnya, manusia, mahluk hidup sebagai mikrokosmos (jagat alit) yang merupakan satu kesatuan dengan makrokosmos (jagat gede).

Manunggaling Kawula Gusti

Dalam kehidupan semua yang hidup, manusia selalu mengusahakan adanya kesehimbangan/keharmonisan, dengan dirinya sendiri, dengan kelompok, maupun kelompok yang lebih besar bernama negara. Bentuk kesehimbangan dan keharmonisan tersebut akan tercapai jika ada penyatuan.

Penyatuan manusia/mahluk/mikrokosmos dengan Yang Maha/makrokosmos dalam filsafat Jawa disebut sebagai “manunggaling kawula gusti”. Agama menyebutnya dengan istilah “Brahman Atman Aikyam” yang artinya Brahman dan atman itu adalah tunggal sebab atman merupakan bagian dari Tuhan.

Hukum Tiga

Harmonisasi bisanya memakai hukum tiga (3) yang bisa digambarkan sebagai bentuk segitiga sama sisi. Media hukum tiga bisa berbentuk material, non material, energi, frekwensi, maupun vibrasi. Bisa berupa unsur (api, air dan udara), sifat (padat, cair, gas), kondisi (lahir, hidup, mati), (manusia, alam keyakinannya), kalimat (subyek, obyek dan predikat). Organisasi (bentuk/jenis, pemimpin, dan yang dipimpin). Usaha dan upaya harmonisasi bisa berubah sesuai tempat, ruang, waktu, kondisi dan situasi. Tapi seberapapun perubahan itu, bentuknya akan tetap segitiga dan tak mungkin menjadi jajaran genjang, atau tak beraturan.

Trias Politika

Negara Republik Indonesia konon memakai sistem Trias Politika (berasal dari Filsuf Yunani), dengan 3 pilar pembagian tugas dan tanggung jawab, yakni: Legislatif (sebagai pembuat undang-undang), Eksekutif (sebagai pelaksana Undang-Undang dan Yudikatif sebagai pengadil/penikai Undang-Undang). Tapi anehnya dalam organisasi politik yang bernama Negara Republik Indonesia ini, sistim politik Republik Trias Politika tersebut seperti berdiri sendiri di awang-awang, tak menginjak bumi dan terpisah dengan warga negara yang disebut publik.

Maka jadilah warga negara/publik, hanya sebagai obyek, dari subyek dalam negara yang disebut Republik. Kalau Trias Politika benar-benar dilaksanakan, dalam pikiran sederhana saya, semestinya yang bertindak sebagai Yudikatif/Pengadil/penilai adalah publik/warga negara. Bukankah Legislatif dan Eksekutif juga dipilih oleh publik/warga negara, semestinya juga berhak mengadili/menilai Legestarif dan Eksekutif. Kalau warga/publik diberi hak memilih Legestarif dan Eksekutif mestinya Publik/Warga juga punya hak mengadili.

Yang menurut saya makin lucu adalah pemilihan untuk pengadil/penilai dilakukan oleh Eksekutif yang harus disetujui oleh Legestarif, sehingga sangat memungkinkan terjadi kongkalikong, kerjasama saling menguntungkan antara ketiga pilar tersebut, yang menjadikan warga/publik, terinjak, terjepit, dan gigit jari, hanya memandang dari kejauhan sambil berdoa dalam hati.

Pimpinan, Presiden dan Cakraningrat

Sejarah Indonesia yang panjang dalam sistem berorganisasi politik dalam bentuk kerajaan, semestinya bisa menjadi acuan warga negara Indonesia di masa yang akan datang. Trias Politika bagus, tetapi ada hal-hal mendasar yang mudah diselewengkan, terutama bagi pemimpin yang “berwatak penjajah”, yang hanya mengganggap dan menilai manusia, binatang, mahluk hidup dan alam sebagai obyek kekuasaannya.

Sejarah mencatat keberhasilan raja- raja nusantara dalam menjalankan kepemimpinannya dalam kerajaan yang membuat warga, manusia, binatang, pohon, alam dan semua yang hidup harmonis. Upayanya pengharmonisan yang selalu diupayakan menyangkut hukum tiga yang dikenal dengan sebutan “Cakraningrat” (cakra: lingkaran, putaran, pengelolaan, ning: pada/bening, dan rat: jagat/ dunia). “Cakraningrat’ adalah sebuah kepemimpinan yang bertugas sebagai pengelola alam dan seisinya (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan). Tiga komponen itu adalah pemimpin, sebagai subyek pengelola, sebagai predikat dan alam sebagai obyek, juga bersifat terbalik, pemimpin sebagai obyek yang ditugaskan mengelola oleh alam sebagai subyek.

Keberhasilan Pemimpin “cakraningrat” adalah proses menuju “manunggaling kawula gusti”, bersatunya yang dipimpin dengan pimpinannya, bersatunya pemimpin dengan penciptanya. Kepemimpinan “cakraningrat’ bisa siapa saja, Presiden, Mentri, DPR, Gubernur, Kepala Desa, kelompok atau pribadi.

Empati

Belakangan ini saya merasakan Negara Indonesia, sedang menuju pada proses kepemimpinan “cakraningrat” yang ditunjukkan oleh kepala desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah yang bernama Junaedi Mulyono, kepala desa Banjarnegara, Jawa Tengah, yang bernama
Hoho Alkaf, Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi, Mentri Purbaya Yudi Sadewa, Andi Amran Sulaiman, Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia. Kepemimpinan “cakraningrat”, biasanya dimulai dari rasa empati yang bersangkutan terhadap pihak lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasakan keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Dalam hal ini empati membuat seseorang bisa memposisikan dirinya sebagai orang lain. Ciri-ciri empati yang bisa dilihat adalah: mampu dan mau mendengar pembicaraan orang lain dengan baik, mampu mengendalikan emosi, dan memahami sudut pandang orang lain. Empati adalah perasaan pribadi, sebagai manusia, tak bisa berkelompok ,tak bisa diwakilkan, tak bisa diteruskan dari atasan ke bawahan.

Jadi mari bermimpi, mempunyai pemimpin dan menjadi pemimpin yang “manunggaling kawula gusti’ menyatu dengan Tuhan Yang Maha, dengan belajar dan berusaha berempati, pada lingkungan terdekat, termudah dan terlihat (alam, manusia, binatang, pohon, tanah, dan air), sehingga bisa manunggal dengan diri sendiri, mengelola mikrokosmos dalam diri, sehingga harmonis. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: negarawarga negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal yang Perlu Diketahui dalam Pendaftaran Hak Atas Tanah Perikatan Jual Beli & Akta Jual Beli

Next Post

“Close the Door After Me”: Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Close the Door After Me”: Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

"Close the Door After Me": Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co