3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negara dan Warga Negara

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
December 1, 2025
in Esai
Negara dan Warga Negara

Ilustrasi tatkala.co

Pada salah satu laman google disebutkan negara adalah entitas politik dengan pemerintahan yang berdaulat, sedangkan warga negara adalah individu yang secara hukum diakui sebagai anggota negara tersebut, dengan hak dan kewajiban yang timbal balik. Hubungan keduanya penting untuk stabilitas dan kesejahteraan negara, di mana negara berkewajiban menyejahterakan warganya, dan warga negara berkewajiban menaati hukum serta membayar pajak.

Disebutkan juga negara adalah organisasi politik tertinggi yang memiliki kewenangan mengatur masyarakat, mensejahterakan, melindungi, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan warga negara didefinisikan sebagai orang yang secara hukum menjadi anggota suatu negara dan diakui memiliki hak serta kewajiban penuh.

Di Indonesia satuan terkecil warga negara adalah keluarga, diatasnya disebut RT (rukun tetangga), di Bali disebut banjar/dusun, satuan yang lebih luas adalah desa, lebih luas lagi kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan paling luas disebut negara Republik Indonesia dan warganya disebut sebagai warga negara Republik Indonesia

Republik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘republik’ adalah bentuk pemerintahan yang berkedaulatan rakyat dan dikepalai oleh seorang presiden.

Istilah republik berasal dari bahasa Latin, “res publica”, yang berarti “urusan publik” atau “urusan rakyat”. Dengan demikian, pemerintahan negara yang berbentuk republik menekankan pada sistem kekuasaan pada negara bukan pada individu atau kelompok tertentu, tetapi pada seluruh warga negara.
Pengertian ini, menyiratkan bahwa negara dan warga negara tidak terpisah, tetapi menjadi satu kesatuan yang utuh, seperti halnya, manusia, mahluk hidup sebagai mikrokosmos (jagat alit) yang merupakan satu kesatuan dengan makrokosmos (jagat gede).

Manunggaling Kawula Gusti

Dalam kehidupan semua yang hidup, manusia selalu mengusahakan adanya kesehimbangan/keharmonisan, dengan dirinya sendiri, dengan kelompok, maupun kelompok yang lebih besar bernama negara. Bentuk kesehimbangan dan keharmonisan tersebut akan tercapai jika ada penyatuan.

Penyatuan manusia/mahluk/mikrokosmos dengan Yang Maha/makrokosmos dalam filsafat Jawa disebut sebagai “manunggaling kawula gusti”. Agama menyebutnya dengan istilah “Brahman Atman Aikyam” yang artinya Brahman dan atman itu adalah tunggal sebab atman merupakan bagian dari Tuhan.

Hukum Tiga

Harmonisasi bisanya memakai hukum tiga (3) yang bisa digambarkan sebagai bentuk segitiga sama sisi. Media hukum tiga bisa berbentuk material, non material, energi, frekwensi, maupun vibrasi. Bisa berupa unsur (api, air dan udara), sifat (padat, cair, gas), kondisi (lahir, hidup, mati), (manusia, alam keyakinannya), kalimat (subyek, obyek dan predikat). Organisasi (bentuk/jenis, pemimpin, dan yang dipimpin). Usaha dan upaya harmonisasi bisa berubah sesuai tempat, ruang, waktu, kondisi dan situasi. Tapi seberapapun perubahan itu, bentuknya akan tetap segitiga dan tak mungkin menjadi jajaran genjang, atau tak beraturan.

Trias Politika

Negara Republik Indonesia konon memakai sistem Trias Politika (berasal dari Filsuf Yunani), dengan 3 pilar pembagian tugas dan tanggung jawab, yakni: Legislatif (sebagai pembuat undang-undang), Eksekutif (sebagai pelaksana Undang-Undang dan Yudikatif sebagai pengadil/penikai Undang-Undang). Tapi anehnya dalam organisasi politik yang bernama Negara Republik Indonesia ini, sistim politik Republik Trias Politika tersebut seperti berdiri sendiri di awang-awang, tak menginjak bumi dan terpisah dengan warga negara yang disebut publik.

Maka jadilah warga negara/publik, hanya sebagai obyek, dari subyek dalam negara yang disebut Republik. Kalau Trias Politika benar-benar dilaksanakan, dalam pikiran sederhana saya, semestinya yang bertindak sebagai Yudikatif/Pengadil/penilai adalah publik/warga negara. Bukankah Legislatif dan Eksekutif juga dipilih oleh publik/warga negara, semestinya juga berhak mengadili/menilai Legestarif dan Eksekutif. Kalau warga/publik diberi hak memilih Legestarif dan Eksekutif mestinya Publik/Warga juga punya hak mengadili.

Yang menurut saya makin lucu adalah pemilihan untuk pengadil/penilai dilakukan oleh Eksekutif yang harus disetujui oleh Legestarif, sehingga sangat memungkinkan terjadi kongkalikong, kerjasama saling menguntungkan antara ketiga pilar tersebut, yang menjadikan warga/publik, terinjak, terjepit, dan gigit jari, hanya memandang dari kejauhan sambil berdoa dalam hati.

Pimpinan, Presiden dan Cakraningrat

Sejarah Indonesia yang panjang dalam sistem berorganisasi politik dalam bentuk kerajaan, semestinya bisa menjadi acuan warga negara Indonesia di masa yang akan datang. Trias Politika bagus, tetapi ada hal-hal mendasar yang mudah diselewengkan, terutama bagi pemimpin yang “berwatak penjajah”, yang hanya mengganggap dan menilai manusia, binatang, mahluk hidup dan alam sebagai obyek kekuasaannya.

Sejarah mencatat keberhasilan raja- raja nusantara dalam menjalankan kepemimpinannya dalam kerajaan yang membuat warga, manusia, binatang, pohon, alam dan semua yang hidup harmonis. Upayanya pengharmonisan yang selalu diupayakan menyangkut hukum tiga yang dikenal dengan sebutan “Cakraningrat” (cakra: lingkaran, putaran, pengelolaan, ning: pada/bening, dan rat: jagat/ dunia). “Cakraningrat’ adalah sebuah kepemimpinan yang bertugas sebagai pengelola alam dan seisinya (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan). Tiga komponen itu adalah pemimpin, sebagai subyek pengelola, sebagai predikat dan alam sebagai obyek, juga bersifat terbalik, pemimpin sebagai obyek yang ditugaskan mengelola oleh alam sebagai subyek.

Keberhasilan Pemimpin “cakraningrat” adalah proses menuju “manunggaling kawula gusti”, bersatunya yang dipimpin dengan pimpinannya, bersatunya pemimpin dengan penciptanya. Kepemimpinan “cakraningrat’ bisa siapa saja, Presiden, Mentri, DPR, Gubernur, Kepala Desa, kelompok atau pribadi.

Empati

Belakangan ini saya merasakan Negara Indonesia, sedang menuju pada proses kepemimpinan “cakraningrat” yang ditunjukkan oleh kepala desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah yang bernama Junaedi Mulyono, kepala desa Banjarnegara, Jawa Tengah, yang bernama
Hoho Alkaf, Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi, Mentri Purbaya Yudi Sadewa, Andi Amran Sulaiman, Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia. Kepemimpinan “cakraningrat”, biasanya dimulai dari rasa empati yang bersangkutan terhadap pihak lain.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasakan keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Dalam hal ini empati membuat seseorang bisa memposisikan dirinya sebagai orang lain. Ciri-ciri empati yang bisa dilihat adalah: mampu dan mau mendengar pembicaraan orang lain dengan baik, mampu mengendalikan emosi, dan memahami sudut pandang orang lain. Empati adalah perasaan pribadi, sebagai manusia, tak bisa berkelompok ,tak bisa diwakilkan, tak bisa diteruskan dari atasan ke bawahan.

Jadi mari bermimpi, mempunyai pemimpin dan menjadi pemimpin yang “manunggaling kawula gusti’ menyatu dengan Tuhan Yang Maha, dengan belajar dan berusaha berempati, pada lingkungan terdekat, termudah dan terlihat (alam, manusia, binatang, pohon, tanah, dan air), sehingga bisa manunggal dengan diri sendiri, mengelola mikrokosmos dalam diri, sehingga harmonis. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: negarawarga negara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hal-hal yang Perlu Diketahui dalam Pendaftaran Hak Atas Tanah Perikatan Jual Beli & Akta Jual Beli

Next Post

“Close the Door After Me”: Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Close the Door After Me”: Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

"Close the Door After Me": Selera Bergeser kepada Reggae Akustik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co