2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumbler KAI Heboh, Banjir Sibolga Sunyi —Potret Aneh Netizen Indonesia

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
November 29, 2025
in Esai
Tumbler KAI Heboh, Banjir Sibolga Sunyi —Potret Aneh Netizen Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPERTI biasa, hari-hari ini lini masa kembali menunjukkan pesonanya: mengubah hal yang seharusnya selesai dalam hitungan menit tapi menjadi drama berbabak-babak tak ada ujungnya lengkap dengan soundtrack, “Ku menangis… membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku”. begitulah kira-kira lirik yang selalu terngingang ala sinetron Indosiar “Suara Hati Istri”.

Baiklah, tidak berlama-lama. Pesona fyp-ku dari kisah viral penumpang KAI yang kehilangan tumbler, lalu hampir membuat seorang pegawai dipecat, hingga kisah update hubungan Inara Rusli dan Virgoun yang seakan-akan seluruh bangsa ini menunggu keputusan finalnya seperti final Piala Dunia. Seakan-akan netizen sedang menilai, siapa kira-kira diantara mereka yang lebih baik.

Dua berita yang jika ditimbang-timbang keduanya tidak memiliki bobot itu sebenarnya bisa kita kategorikan sebagai “urusan rumah tangga dan barang hilang biasa”, justru meledak, trending, dan dibahas di mana-mana. Sementara itu, di sudut lain Nusantara, ada peristiwa yang dampaknya jauh lebih nyata dan panjang: banjir besar di Sumatra, gelondongan kayu bertumpuk-tumpuk hanyut bersama derasnya air banjir, dan kabar tiga hektar hutan mangrove yang ditebang demi pembangunan rumah pribadi seorang gubernur.

Ironisnya,  berita banjir dan penebangan hutan mangrove ini tidak mendapatkan panggung yang sama. Tidak trending nomor satu. Tidak terlalu diperebutkan oleh akun gosip, walaupun sempat diberitakan tapi tidak semeledak urusan tumbler dan Inara Rusli. Sunyi, seperti hutan itu sendiri sebelum ditebang.

Fenomena ini membuat kita perlu bertanya dengan jujur dan sedikit satir kepada diri sendiri, kenapa sih kita lebih cepat ngegas ngomentarin tumbler hilang ketimbang marah melihat hutan mangrove yang lenyap? Kenapa kita lebih peduli urusan perselengkuhan orang lain daripada persoalan ekologi dan keselamatan warga di Sumatra?

Apa jangan-jangan sebenarnya masalah kita bukan lagi tentang kurang informasi, tapi terlalu banyak distraksi. Atau ketika lewat di beranda sosmed, kita sebenarnya tahu berita itu, tapi lebih tidak tertarik untuk nge­-hook otak dan jari untuk membanjiri kolom komentar. Kita lebih tertarik untuk komentar berita receh, karena mungkin fomo video yang lewat itu sudah ramai, dan kolom komentar sudah banjir akhirnya membuat kita ikut-ikutan nimbrung.  Bisa dibilang berita receh itu ibarat camilan: gurih, ringan, bikin ketagihan, dan tidak butuh mikir untuk mengunyahnya. Sementara berita penting itu seperti sayur: penuh nutrisi, tapi kalah pamor jika dibandingkan dengan keripik basreng pedas level 100. Benar, gak?

Lagi pula, berita receh selalu punya trik khusus untuk menghipnotis netizen. Dan, selalu menang dalam satu hal: drama. Sedangkan berita tentang lingkungan atau bencana? Ya, tidak ada tokoh utama tampan atau cantik. Tidak ada soundtrack. Tidak ada adegan “video syur 2 jam bocor”. Yang ada hanya warga kebanjiran dan batang-batang kayu yang mendadak muncul bukan karena simsalabim, tapi karena tata kelola hutan yang acakadur.

Padahal, jika dinalar pakai logika, jadi netizen budiman itu tidak harus jadi bijak 24 jam, kok. Kita tetap boleh ketawa, scroll santai melihat hal-hal receh. Kita tetap boleh ikut nimbrung gossip sesekali. Yang penting, jangan sampai kemampuan kita membedakan mana yang hiburan dan mana yang krusial itu hilang. Sampai sini, masuk di akal, ya?

Setelah saya menyelam ke banyak sumber valid, dan saya merangkumnya menjadi beberapa hal penting, sebenarnya ada beberapa cara agar tetap waras di tengah badai berita receh:

Terapkan “aturan 5 detik” sebelum komentar.

    Dalam lima detik ini, tanyakan ke diri sendiri: “Ini penting untuk publik, atau cuma penting untuk algoritma?” Kalau jawabannya yang kedua, mohon tahan hasrat untuk jadi komentator dadakan.

    Latih timeline sehat.

    Follow akun-akun yang membahas isu lingkungan, kebijakan publik, dan investigasi, atau lebih ke cara berkebun semacam dailylife gitu, lah. Biar algoritma juga tahu kalau kita bukan cuma penggemar drama romansa semata. Karena algoritma itu menanyangkan dan mereferensikan tayangan yang sering kita cari di mesin pencarian. 

    Bedakan empati dan kepo.

    Kasus rumah tangga artis bukan undangan umum. Sementara banjir, deforestasi, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah urusan yang harusnya menjadi urusan kita bersama.

    Konsumsi berita seperti diet seimbang.

    Boleh sesekali menyantap camilan, seblak, basreng, dan sejenisnya, tapi jangan lupa makan makanan yang bergizi. Dalam konteks ini: gossip boleh, tapi isu public jangan ditinggalkan.

    Tanyakan, “Siapa yang lebih diuntungkan?”

    Kalau ada berita receh mendadak diblow-up besar-besaran, sementara berita penting tenggelam, coba renungkan: siapa yang diuntungkan kalau public sibuk ributin tumbler dan Inara Rusli.

    Apa kita mau dibodoh-bodohi saja, coba mari kita renungkan dan mulai menebak. Hampir pasti, jika ada berita pemerintahan yang ramai tidak lama lagi pasti ada saja berita receh yang muncul dan trending seperti seakan ada yang men-setting atau mungkin hanya kebetulan saja. Entahlah…

    Pada akhirnya, mejadi netizen yang cerdas itu bukan soal tidak pernah salah. Tapi tahu kapan harus mengonsumsi hiburan, dan kapan harus memeriksa apa yang disembunyikan di balik layar.

    Harapannya, pemerintah juga semakin sadar, semakin tranparan, tidak defensive setiap ada kritik, dan tidak membiarkan isu-isu besar tenggelam begitu saja. Rakyatnya? Semoga tidak mudah diombang-ambingkan percepatan isu receh. Dengan begitu, semoga kita bisa jadi warga yang matanya tidak hanya melek, tapi juga awas. Tidak cuma pandai scroll layar ponsel, tapi juga punya rasa peduli dan empati. Karena suatu hal penting, bangsa ini tidak akan beruah hanya dengan trending gosip, tapi oleh rakyat yang sadar kapan waktunya tertawa, dan kapan waktunya menjaga rumah sendiri, yakni Indonesia. [T]

    Penulis: Mochamad Rifa’i
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: algoritmabanjirmedia sosial
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

    Next Post

    Membaca Pidato Prabowo di Hari Guru 2025 Melalui Filsafat Pancasila dan Konstitusi

    Mochamad Rifa’i

    Mochamad Rifa’i

    Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

    Related Posts

    Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

    by Tri Nugroho Adi
    October 2, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

    Read moreDetails

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    0
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    Read moreDetails

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    0
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    Read moreDetails

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    0
    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    Read moreDetails

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026
    0
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    Read moreDetails

    Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

    by Chusmeru
    September 30, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

    Read moreDetails

    Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

    by Putu Arya Nugraha
    September 29, 2026
    0
    Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

    PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

    Read moreDetails

    Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

    by Ahmad Hirzan Anwari
    September 29, 2026
    0
    Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

    PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

    Read moreDetails

    Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

    by Emi Suy
    September 29, 2026
    0
    Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

    ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

    Read moreDetails

    Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

    by Jero Penyarikan Duuran Batur
    September 28, 2026
    0
    Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

    Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

    Read moreDetails
    Next Post
    Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

    Membaca Pidato Prabowo di Hari Guru 2025 Melalui Filsafat Pancasila dan Konstitusi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

    SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

    by Tri Nugroho Adi
    October 2, 2026
    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
    Esai

    Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

    SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

    by I Wayan Yudana
    October 1, 2026
    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
    Khas

    Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

    Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

    by Rusdy Ulu
    October 1, 2026
    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
    Esai

    Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

    ”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

    by Teguh Wahyu Pranata
    October 1, 2026
    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
    Panggung

    Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

    PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
    Pop

    Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

    ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

    by Nyoman Budarsana
    October 1, 2026
    Manusia Purba di Kota Denpasar
    Esai

    Manusia Purba di Kota Denpasar

    SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

    by Angga Wijaya
    October 1, 2026
    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
    Khas

    Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

    “CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

    by Dede Putra Wiguna
    October 1, 2026
    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
    Olahraga

    Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

    KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

    by Jaswanto
    October 1, 2026
    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
    Esai

    Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

    vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

    by Agung Sudarsa
    September 30, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

    DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

    by Chusmeru
    September 30, 2026
    Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
    Budaya

    Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

    TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

    by Rusdy Ulu
    September 30, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co