23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumbler KAI Heboh, Banjir Sibolga Sunyi —Potret Aneh Netizen Indonesia

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
November 29, 2025
in Esai
Tumbler KAI Heboh, Banjir Sibolga Sunyi —Potret Aneh Netizen Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPERTI biasa, hari-hari ini lini masa kembali menunjukkan pesonanya: mengubah hal yang seharusnya selesai dalam hitungan menit tapi menjadi drama berbabak-babak tak ada ujungnya lengkap dengan soundtrack, “Ku menangis… membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku”. begitulah kira-kira lirik yang selalu terngingang ala sinetron Indosiar “Suara Hati Istri”.

Baiklah, tidak berlama-lama. Pesona fyp-ku dari kisah viral penumpang KAI yang kehilangan tumbler, lalu hampir membuat seorang pegawai dipecat, hingga kisah update hubungan Inara Rusli dan Virgoun yang seakan-akan seluruh bangsa ini menunggu keputusan finalnya seperti final Piala Dunia. Seakan-akan netizen sedang menilai, siapa kira-kira diantara mereka yang lebih baik.

Dua berita yang jika ditimbang-timbang keduanya tidak memiliki bobot itu sebenarnya bisa kita kategorikan sebagai “urusan rumah tangga dan barang hilang biasa”, justru meledak, trending, dan dibahas di mana-mana. Sementara itu, di sudut lain Nusantara, ada peristiwa yang dampaknya jauh lebih nyata dan panjang: banjir besar di Sumatra, gelondongan kayu bertumpuk-tumpuk hanyut bersama derasnya air banjir, dan kabar tiga hektar hutan mangrove yang ditebang demi pembangunan rumah pribadi seorang gubernur.

Ironisnya,  berita banjir dan penebangan hutan mangrove ini tidak mendapatkan panggung yang sama. Tidak trending nomor satu. Tidak terlalu diperebutkan oleh akun gosip, walaupun sempat diberitakan tapi tidak semeledak urusan tumbler dan Inara Rusli. Sunyi, seperti hutan itu sendiri sebelum ditebang.

Fenomena ini membuat kita perlu bertanya dengan jujur dan sedikit satir kepada diri sendiri, kenapa sih kita lebih cepat ngegas ngomentarin tumbler hilang ketimbang marah melihat hutan mangrove yang lenyap? Kenapa kita lebih peduli urusan perselengkuhan orang lain daripada persoalan ekologi dan keselamatan warga di Sumatra?

Apa jangan-jangan sebenarnya masalah kita bukan lagi tentang kurang informasi, tapi terlalu banyak distraksi. Atau ketika lewat di beranda sosmed, kita sebenarnya tahu berita itu, tapi lebih tidak tertarik untuk nge­-hook otak dan jari untuk membanjiri kolom komentar. Kita lebih tertarik untuk komentar berita receh, karena mungkin fomo video yang lewat itu sudah ramai, dan kolom komentar sudah banjir akhirnya membuat kita ikut-ikutan nimbrung.  Bisa dibilang berita receh itu ibarat camilan: gurih, ringan, bikin ketagihan, dan tidak butuh mikir untuk mengunyahnya. Sementara berita penting itu seperti sayur: penuh nutrisi, tapi kalah pamor jika dibandingkan dengan keripik basreng pedas level 100. Benar, gak?

Lagi pula, berita receh selalu punya trik khusus untuk menghipnotis netizen. Dan, selalu menang dalam satu hal: drama. Sedangkan berita tentang lingkungan atau bencana? Ya, tidak ada tokoh utama tampan atau cantik. Tidak ada soundtrack. Tidak ada adegan “video syur 2 jam bocor”. Yang ada hanya warga kebanjiran dan batang-batang kayu yang mendadak muncul bukan karena simsalabim, tapi karena tata kelola hutan yang acakadur.

Padahal, jika dinalar pakai logika, jadi netizen budiman itu tidak harus jadi bijak 24 jam, kok. Kita tetap boleh ketawa, scroll santai melihat hal-hal receh. Kita tetap boleh ikut nimbrung gossip sesekali. Yang penting, jangan sampai kemampuan kita membedakan mana yang hiburan dan mana yang krusial itu hilang. Sampai sini, masuk di akal, ya?

Setelah saya menyelam ke banyak sumber valid, dan saya merangkumnya menjadi beberapa hal penting, sebenarnya ada beberapa cara agar tetap waras di tengah badai berita receh:

Terapkan “aturan 5 detik” sebelum komentar.

    Dalam lima detik ini, tanyakan ke diri sendiri: “Ini penting untuk publik, atau cuma penting untuk algoritma?” Kalau jawabannya yang kedua, mohon tahan hasrat untuk jadi komentator dadakan.

    Latih timeline sehat.

    Follow akun-akun yang membahas isu lingkungan, kebijakan publik, dan investigasi, atau lebih ke cara berkebun semacam dailylife gitu, lah. Biar algoritma juga tahu kalau kita bukan cuma penggemar drama romansa semata. Karena algoritma itu menanyangkan dan mereferensikan tayangan yang sering kita cari di mesin pencarian. 

    Bedakan empati dan kepo.

    Kasus rumah tangga artis bukan undangan umum. Sementara banjir, deforestasi, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah urusan yang harusnya menjadi urusan kita bersama.

    Konsumsi berita seperti diet seimbang.

    Boleh sesekali menyantap camilan, seblak, basreng, dan sejenisnya, tapi jangan lupa makan makanan yang bergizi. Dalam konteks ini: gossip boleh, tapi isu public jangan ditinggalkan.

    Tanyakan, “Siapa yang lebih diuntungkan?”

    Kalau ada berita receh mendadak diblow-up besar-besaran, sementara berita penting tenggelam, coba renungkan: siapa yang diuntungkan kalau public sibuk ributin tumbler dan Inara Rusli.

    Apa kita mau dibodoh-bodohi saja, coba mari kita renungkan dan mulai menebak. Hampir pasti, jika ada berita pemerintahan yang ramai tidak lama lagi pasti ada saja berita receh yang muncul dan trending seperti seakan ada yang men-setting atau mungkin hanya kebetulan saja. Entahlah…

    Pada akhirnya, mejadi netizen yang cerdas itu bukan soal tidak pernah salah. Tapi tahu kapan harus mengonsumsi hiburan, dan kapan harus memeriksa apa yang disembunyikan di balik layar.

    Harapannya, pemerintah juga semakin sadar, semakin tranparan, tidak defensive setiap ada kritik, dan tidak membiarkan isu-isu besar tenggelam begitu saja. Rakyatnya? Semoga tidak mudah diombang-ambingkan percepatan isu receh. Dengan begitu, semoga kita bisa jadi warga yang matanya tidak hanya melek, tapi juga awas. Tidak cuma pandai scroll layar ponsel, tapi juga punya rasa peduli dan empati. Karena suatu hal penting, bangsa ini tidak akan beruah hanya dengan trending gosip, tapi oleh rakyat yang sadar kapan waktunya tertawa, dan kapan waktunya menjaga rumah sendiri, yakni Indonesia. [T]

    Penulis: Mochamad Rifa’i
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: algoritmabanjirmedia sosial
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

    Next Post

    Membaca Pidato Prabowo di Hari Guru 2025 Melalui Filsafat Pancasila dan Konstitusi

    Mochamad Rifa’i

    Mochamad Rifa’i

    Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

    Related Posts

    Renungan Meja Makan

    by Angga Wijaya
    August 22, 2026
    0
    Renungan Meja Makan

    DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

    Read moreDetails

    Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

    by I Ketut Suar Adnyana
    August 22, 2026
    0
    Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

    DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

    Read moreDetails

    Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

    by I Ketut Suar Adnyana
    August 21, 2026
    0
    Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

    BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

    Read moreDetails

    Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

    by I Wayan Yudana
    August 21, 2026
    0
    Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

    ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

    Read moreDetails

    Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

    by Tri Nugroho Adi
    August 21, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    ---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

    Read moreDetails

    JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

    by I Nyoman Gede Maha Putra
    August 21, 2026
    0
    JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

    SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

    Read moreDetails

    Lampu Merah dan Mental Menerabas

    by Angga Wijaya
    August 20, 2026
    0
    Lampu Merah dan Mental Menerabas

    SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

    Read moreDetails

    Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

    by Ahmad Sihabudin
    August 19, 2026
    0
    ’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

    "Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

    Read moreDetails

    Merawat Warisan Budaya Kolonial…

    by Pande Susan
    August 19, 2026
    0
    Merawat Warisan Budaya Kolonial…

    “Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

    Read moreDetails

    Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

    by Dede Putra Wiguna
    August 18, 2026
    0
    Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

    SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

    Read moreDetails
    Next Post
    Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

    Membaca Pidato Prabowo di Hari Guru 2025 Melalui Filsafat Pancasila dan Konstitusi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

      5 shares
      Share 5 Tweet 0
    • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

      43 shares
      Share 43 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
    Kritik Sastra

    Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

    PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

    by Andre Syahreza
    August 22, 2026
    Renungan Meja Makan
    Esai

    Renungan Meja Makan

    DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

    by Angga Wijaya
    August 22, 2026
    Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
    Esai

    Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

    DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

    by I Ketut Suar Adnyana
    August 22, 2026
    Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
    Lingkungan

    Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

    PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

    by tatkala
    August 21, 2026
    Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
    Esai

    Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

    BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

    by I Ketut Suar Adnyana
    August 21, 2026
    Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
    Kritik Sastra

    Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

    SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

    by Andre Syahreza
    August 22, 2026
    Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
    Tualang

    Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

    SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

    by I Nyoman Tingkat
    August 21, 2026
    Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
    Esai

    Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

    ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

    by I Wayan Yudana
    August 21, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

    ---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

    by Tri Nugroho Adi
    August 21, 2026
    JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
    Esai

    JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

    SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

    by I Nyoman Gede Maha Putra
    August 21, 2026
    Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
    Ekonomi

    Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

    BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

    by tatkala
    August 20, 2026
    Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
    Khas

    Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

    Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

    by Komang Puja Savitri
    August 20, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co