12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumbler KAI Heboh, Banjir Sibolga Sunyi —Potret Aneh Netizen Indonesia

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
November 29, 2025
in Esai
Tumbler KAI Heboh, Banjir Sibolga Sunyi —Potret Aneh Netizen Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

SEPERTI biasa, hari-hari ini lini masa kembali menunjukkan pesonanya: mengubah hal yang seharusnya selesai dalam hitungan menit tapi menjadi drama berbabak-babak tak ada ujungnya lengkap dengan soundtrack, “Ku menangis… membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku”. begitulah kira-kira lirik yang selalu terngingang ala sinetron Indosiar “Suara Hati Istri”.

Baiklah, tidak berlama-lama. Pesona fyp-ku dari kisah viral penumpang KAI yang kehilangan tumbler, lalu hampir membuat seorang pegawai dipecat, hingga kisah update hubungan Inara Rusli dan Virgoun yang seakan-akan seluruh bangsa ini menunggu keputusan finalnya seperti final Piala Dunia. Seakan-akan netizen sedang menilai, siapa kira-kira diantara mereka yang lebih baik.

Dua berita yang jika ditimbang-timbang keduanya tidak memiliki bobot itu sebenarnya bisa kita kategorikan sebagai “urusan rumah tangga dan barang hilang biasa”, justru meledak, trending, dan dibahas di mana-mana. Sementara itu, di sudut lain Nusantara, ada peristiwa yang dampaknya jauh lebih nyata dan panjang: banjir besar di Sumatra, gelondongan kayu bertumpuk-tumpuk hanyut bersama derasnya air banjir, dan kabar tiga hektar hutan mangrove yang ditebang demi pembangunan rumah pribadi seorang gubernur.

Ironisnya,  berita banjir dan penebangan hutan mangrove ini tidak mendapatkan panggung yang sama. Tidak trending nomor satu. Tidak terlalu diperebutkan oleh akun gosip, walaupun sempat diberitakan tapi tidak semeledak urusan tumbler dan Inara Rusli. Sunyi, seperti hutan itu sendiri sebelum ditebang.

Fenomena ini membuat kita perlu bertanya dengan jujur dan sedikit satir kepada diri sendiri, kenapa sih kita lebih cepat ngegas ngomentarin tumbler hilang ketimbang marah melihat hutan mangrove yang lenyap? Kenapa kita lebih peduli urusan perselengkuhan orang lain daripada persoalan ekologi dan keselamatan warga di Sumatra?

Apa jangan-jangan sebenarnya masalah kita bukan lagi tentang kurang informasi, tapi terlalu banyak distraksi. Atau ketika lewat di beranda sosmed, kita sebenarnya tahu berita itu, tapi lebih tidak tertarik untuk nge­-hook otak dan jari untuk membanjiri kolom komentar. Kita lebih tertarik untuk komentar berita receh, karena mungkin fomo video yang lewat itu sudah ramai, dan kolom komentar sudah banjir akhirnya membuat kita ikut-ikutan nimbrung.  Bisa dibilang berita receh itu ibarat camilan: gurih, ringan, bikin ketagihan, dan tidak butuh mikir untuk mengunyahnya. Sementara berita penting itu seperti sayur: penuh nutrisi, tapi kalah pamor jika dibandingkan dengan keripik basreng pedas level 100. Benar, gak?

Lagi pula, berita receh selalu punya trik khusus untuk menghipnotis netizen. Dan, selalu menang dalam satu hal: drama. Sedangkan berita tentang lingkungan atau bencana? Ya, tidak ada tokoh utama tampan atau cantik. Tidak ada soundtrack. Tidak ada adegan “video syur 2 jam bocor”. Yang ada hanya warga kebanjiran dan batang-batang kayu yang mendadak muncul bukan karena simsalabim, tapi karena tata kelola hutan yang acakadur.

Padahal, jika dinalar pakai logika, jadi netizen budiman itu tidak harus jadi bijak 24 jam, kok. Kita tetap boleh ketawa, scroll santai melihat hal-hal receh. Kita tetap boleh ikut nimbrung gossip sesekali. Yang penting, jangan sampai kemampuan kita membedakan mana yang hiburan dan mana yang krusial itu hilang. Sampai sini, masuk di akal, ya?

Setelah saya menyelam ke banyak sumber valid, dan saya merangkumnya menjadi beberapa hal penting, sebenarnya ada beberapa cara agar tetap waras di tengah badai berita receh:

Terapkan “aturan 5 detik” sebelum komentar.

    Dalam lima detik ini, tanyakan ke diri sendiri: “Ini penting untuk publik, atau cuma penting untuk algoritma?” Kalau jawabannya yang kedua, mohon tahan hasrat untuk jadi komentator dadakan.

    Latih timeline sehat.

    Follow akun-akun yang membahas isu lingkungan, kebijakan publik, dan investigasi, atau lebih ke cara berkebun semacam dailylife gitu, lah. Biar algoritma juga tahu kalau kita bukan cuma penggemar drama romansa semata. Karena algoritma itu menanyangkan dan mereferensikan tayangan yang sering kita cari di mesin pencarian. 

    Bedakan empati dan kepo.

    Kasus rumah tangga artis bukan undangan umum. Sementara banjir, deforestasi, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah urusan yang harusnya menjadi urusan kita bersama.

    Konsumsi berita seperti diet seimbang.

    Boleh sesekali menyantap camilan, seblak, basreng, dan sejenisnya, tapi jangan lupa makan makanan yang bergizi. Dalam konteks ini: gossip boleh, tapi isu public jangan ditinggalkan.

    Tanyakan, “Siapa yang lebih diuntungkan?”

    Kalau ada berita receh mendadak diblow-up besar-besaran, sementara berita penting tenggelam, coba renungkan: siapa yang diuntungkan kalau public sibuk ributin tumbler dan Inara Rusli.

    Apa kita mau dibodoh-bodohi saja, coba mari kita renungkan dan mulai menebak. Hampir pasti, jika ada berita pemerintahan yang ramai tidak lama lagi pasti ada saja berita receh yang muncul dan trending seperti seakan ada yang men-setting atau mungkin hanya kebetulan saja. Entahlah…

    Pada akhirnya, mejadi netizen yang cerdas itu bukan soal tidak pernah salah. Tapi tahu kapan harus mengonsumsi hiburan, dan kapan harus memeriksa apa yang disembunyikan di balik layar.

    Harapannya, pemerintah juga semakin sadar, semakin tranparan, tidak defensive setiap ada kritik, dan tidak membiarkan isu-isu besar tenggelam begitu saja. Rakyatnya? Semoga tidak mudah diombang-ambingkan percepatan isu receh. Dengan begitu, semoga kita bisa jadi warga yang matanya tidak hanya melek, tapi juga awas. Tidak cuma pandai scroll layar ponsel, tapi juga punya rasa peduli dan empati. Karena suatu hal penting, bangsa ini tidak akan beruah hanya dengan trending gosip, tapi oleh rakyat yang sadar kapan waktunya tertawa, dan kapan waktunya menjaga rumah sendiri, yakni Indonesia. [T]

    Penulis: Mochamad Rifa’i
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: algoritmabanjirmedia sosial
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

    Next Post

    Membaca Pidato Prabowo di Hari Guru 2025 Melalui Filsafat Pancasila dan Konstitusi

    Mochamad Rifa’i

    Mochamad Rifa’i

    Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

    Related Posts

    Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

    by Tri Nugroho Adi
    September 11, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    "Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

    Read moreDetails

    DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    September 10, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

    Read moreDetails

    Kita Salah Menghitung Kesunyian

    by Angga Wijaya
    September 10, 2026
    0
    Kita Salah Menghitung Kesunyian

    SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

    Read moreDetails

    Tubuh yang Saya Suruh Begadang

    by Angga Wijaya
    September 9, 2026
    0
    Tubuh yang Saya Suruh Begadang

    SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

    Read moreDetails

    Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

    by Chusmeru
    September 9, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

    Read moreDetails

    Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

    by Jerry Indrawan
    September 8, 2026
    0
    Mungkinkah Korut Serang AS?

    POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

    Read moreDetails

    Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

    by Wayan Gde Yudane
    September 7, 2026
    0
    Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

    SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

    Read moreDetails

    Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

    by Adwan SA
    September 6, 2026
    0
    Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

    JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

    Read moreDetails

    Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    September 5, 2026
    0
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

    BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

    Read moreDetails

    Topi Para Penyintas Kanker

    by Angga Wijaya
    September 5, 2026
    0
    Topi Para Penyintas Kanker

    Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

    Read moreDetails
    Next Post
    Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

    Membaca Pidato Prabowo di Hari Guru 2025 Melalui Filsafat Pancasila dan Konstitusi

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

      5 shares
      Share 5 Tweet 0
    • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

      43 shares
      Share 43 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
    Panggung

    Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

    Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

    by Nyoman Budarsana
    September 12, 2026
    YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
    Panggung

    YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

    ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

    by Dede Putra Wiguna
    September 12, 2026
    Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
    Cerpen

    Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

    by Ahmad Sihabudin
    September 12, 2026
    Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
    Puisi

    Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

    Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

    by Ahmad Fatoni
    September 12, 2026
    Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
    Budaya

    Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

    Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

    by Ayu Kahuatu Tamar
    September 11, 2026
    Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
    Pameran

    Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

    SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

    by Dede Putra Wiguna
    September 11, 2026
    Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
    Panggung

    Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

    JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

    by Ingga Adelia
    September 11, 2026
    Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
    Gaya

    Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

      Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

    by tatkala
    September 11, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

    "Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

    by Tri Nugroho Adi
    September 11, 2026
    Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
    Panggung

    Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

    Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

    by Nyoman Budarsana
    September 10, 2026
    Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
    Esai

    DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

    INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

    by Petrus Imam Prawoto Jati
    September 10, 2026
    Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
    Khas

    Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

    JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

    by Emi Suy
    September 10, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co