2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Wahabeans’: Sebuah Retakan Kecil pada Frasa Besar “de gustibus non est disputandum”

Faikar Ramadhan by Faikar Ramadhan
November 24, 2025
in Esai
‘Wahabeans’: Sebuah Retakan Kecil pada Frasa Besar “de gustibus non est disputandum”

Desain ilustrasi: Faikar Ramadhan | Dibuat dengan bantuan AI

“Menurut saya, dia cantik!” Selesai. Tak perlu dikaji, tak perlu dianalisis. Seisi alam sepakat: Indra menciptakan rasa, pilihan rasa melahirkan suka, dan kumpulan suka itulah yang membentuk selera. Nah, ini poinnya! Selera adalah sidik jari unik tiap insan. Karena indra kita tak mungkin kembar, selera pun pasti berbeda—kecuali Indomie, karena Indomie Seleraku, ehehehe. Inilah hakikat yang dipegang teguh umat manusia, membuat kita berhenti mendiskusikan, mempertentangkan, apalagi mempertanyakan soal selera. Semua tunduk pada satu frasa Latin agung: “De gustibus non est disputandum.” (Selera tidak dapat diperdebatkan).

Lantas, di mana posisi kopi dalam skema ini? Kenapa mendadak kopi?

Gadis Manis nan Misterius

Lupakan pepatah “cinta pada pandangan pertama.” Itu omong kosong! Cinta sejati butuh proses. Ia butuh waktu untuk mengenal, waktu untuk terbiasa, dan waktu untuk benar-benar meyakinkan diri: “Ya, saya jatuh cinta!”

Kopi, ibaratnya, adalah gadis manis di pojok belakang kelas. Pendiam, penuh teka-teki. Dengan kaki menyilang anggun, tangannya sibuk memegang buku yang berbeda setiap hari. Wawasannya luas, namun ia tak pernah mengajak kita bicara duluan. Tapi begitu kita berani memulai diskusi, segalanya terasa nyambung, mencerahkan, menyenangkan tanpa sedikit pun kesan menggurui atau menghakimi.

Perlahan, kita terpesona oleh keanggunan dan keindahan rasanya. Kita merasa “kenal.” Namun, semakin kita merasa akrab, justru kita semakin tersadar dan bertanya: “Benarkah aku mengenalnya?” Setiap hari, gadis ini membawa kejutan baru. Siapa sangka, si pendiam itu ternyata atlet taekwondo?

Ini Soal Rasa

Itulah kopi. Kadang terasa fruity, lalu mendadak nutty, bisa jadi chocolatey, tapi tak jarang muncul sensasi spicy yang mengejutkan. Saat lidah mulai hafal empat rasa dasar itu, ia menyuguhkan layer baru: floral (bunga-bungaan), rasa panggang (roasted), atau bahkan manis yang tersembunyi.

Terlalu banyak kombinasi variabel penyusun rasa. Para pujangga kopi sampai harus menafsirkannya dalam Flavor Wheel—roda rasa. Rasa-rasa unik itu menjelma spektrum warna bak pelangi. Cantik, dan yang pasti, selalu memancing penasaran.

Lambat laun, penasaran itu berubah jadi candu pertama. Tapi tunggu, tak mungkin kita jatuh cinta sedalam ini hanya karena penasaran, kan?

The Hero

Candu kedua datang dari sifatnya. Jika teh seolah berbisik, “Sudah, duduk dulu, santai sejenak, kamu sudah berusaha keras kok,” kopi justru berbisik lantang di telinga kita, “Ayolah! Katanya mau menaklukkan dunia?”

Kafein adalah superhero nyata di dunia yang fana. Ia menendang kantuk, meningkatkan fokus, dan memberikan dorongan energi vital untuk memulai hari atau sekadar mengencangkan kembali mur-mur otak yang kendur menjelang sore.

Sebaik itu? Tentu saja tidak! Di dunia ini, tak ada pahlawan se-ikhlas komik Marvel, Bung! Kopi ini ibarat pinjaman online (Pinjol). Dia meminjamkan “kekuatan” sejenak, namun kita harus membayarnya dengan rasa lelah yang amat sangat di waktu mendatang.

Kalau Anda berpikir, “Wah, berarti biasa saja dong? Mana letak candunya?” Anda salah besar. Tidakkah Anda pernah mendengar ada orang yang ketagihan utang? Itulah mengapa, meskipun dibenci, si “pelecit” (rentenir) tetap dianggap pahlawan penyelamat oleh sebagian orang di desa.

Kopi, dengan segala risiko ‘utang lelahnya,’ adalah kick yang kita butuhkan untuk terus maju. Dan karena kita makhluk yang butuh tendangan berulang, maka kita pun ketagihan. Sejatinya kita takut dan tau endingnya ke mana, tapi kita makin terperosok dalam pelukan janji manisnya yang tak pernah ia ingkari.

Sang Penggoda : Saat “Rasa” Menjadi Cinta

Inilah letak perbedaan mendasar yang membuat kopi begitu dicintai dan sulit dilepaskan, namun tidak lantas dibenci seperti adiksi lainnya. Kopi tidak pernah memaksa. Coba bandingkan dengan rokok. Rokok datang bagai penagih hutang yang agresif—ia menuntut dengan sangat. Saat stres, rokok datang menodong. Saat selesai makan, rokok datang mengancam. Saat berkumpul, rokok tega menghakimi. Ia adalah tiran kecil yang mencambuk setiap hari hingga pecandunya merasa tak berdaya untuk menolak seruannya.

Kopi? Ah, ia jauh lebih lembut dan elegan.

Kopi adalah godaan yang manis. Ia tidak pernah memaksa kita menyesap jika sedang sibuk. Ia hanya duduk diam di meja, aromanya yang hangat menelusup perlahan ke otak dan berbisik: “Aku ada di sini, kapan pun kamu siap. Aku tidak akan ke mana-mana. Namun, bukankah akan lebih menyenangkan jika kita bersama?”

Ia menawarkan berbagai bukti cinta, tanpa perlu drama. Godaannya begitu halus, begitu terintegrasi dengan momen-momen terbaik kita: diskusi mendalam, membaca buku di pagi hari, atau sekadar menikmati hujan. Kita tidak akan merasa bersalah jika tak minum kopi. Tapi rasanya “sayang” jika melewatkannya.

Transendensi Keseharian: Kopi sebagai Ritual dan Otoritas Moral

Setelah kopi berhasil menggoda, ia membawa kita ke level yang lebih dalam, level yang sunyi dan personal. Menyesap kopi bukan hanya tentang menyeduh dan meneguk; ini adalah jendela untuk berbicara dengan diri sendiri tanpa gangguan bising dunia luar.

Sadarkah? Betapa tenangnya momen saat air panas mulai menyentuh bubuk kopi? Aroma yang menguap pertama kali itu bukan sekadar bau, itu adalah pemutus koneksi dari hiruk pikuk. Dalam beberapa detik itu, seluruh indra terfokus hanya pada buih, pada uap, pada bunyi tetesan. Ini adalah gerbang menuju keintiman personal.

Saat cangkir hangat sudah di tangan, kita seolah mendapatkan izin untuk diam. Kita duduk, mungkin di balkon, di pojok kafe, atau bahkan di meja kerja yang berantakan, tetapi jiwa justru rapi. Keheningan yang didorong oleh kehadiran kopi memaksa kita berhadapan dengan pikiran sendiri. Kopi menjadi teman meditasi yang paling jujur.

Dari sinilah muncul spriritualitas. Saat notes floral, acidity (keasaman) yang cerah, atau rasa body yang tebal dicicipi, sesungguhnya kita sedang melakukan perjalanan panjang—bukan hanya lidah, tapi juga pikiran. Kita mulai menyadari:

  • Nikmat Alam: Rasa unik ini datang dari biji yang tumbuh di ketinggian sekian meter, terkena sinar matahari yang tepat, diolah oleh tangan-tangan terampil. Secangkir kopi adalah karya kolaborasi antara alam, iklim, petani, hingga roaster.
  • Proses Hidup: Rasa pahit yang diikuti oleh rasa manis yang seimbang mengajarkan kita bahwa dalam hidup, kepahitan adalah jembatan menuju kenikmatan. Tidak ada rasa yang berdiri sendiri; semua adalah perpaduan (212 Wiro Sableng!).

Maka, saat kita menghirup dan menyesapnya, bukan lagi sekadar kafein yang masuk. Kita sedang menelan sebuah perjalanan syukur. Kita bersyukur atas kesadaran yang muncul, bersyukur atas fokus yang didapatkan, dan yang paling penting, bersyukur atas nikmat kompleks dari Tuhan yang termanifestasi dalam cairan berwarna pekat ini.

Kopi, pada akhirnya, mengajarkan mindfulness—kesadaran penuh terhadap momen. Ia meminta kita menikmati setiap detik, dari aroma bubuk kering hingga tegukan terakhir. Dan karena kita tahu persis seberapa sulit proses yang dilalui biji itu hingga sampai di cangkir kita, maka setiap tegukan terasa bernilai. Kopi mengubah rutinitas menjadi ritual kesyukuran yang mendalam, membuat para pecintanya tidak hanya jatuh cinta, tetapi juga merasa diberkati.

Ketika rutinitas telah menjelma ritual, ia akan menuntut ketaatan. Kopi tidak lagi sekadar pilihan untuk diminum; ia menjadi kewajiban spiritual harian. Jika hari dimulai tanpa aroma khas itu, rasanya seluruh alam semesta sedang tidak sinkron. Gelisah menjajah asa sementara tubuh terasa lelah . Perasaan itu bukan sekadar lelah fisik, melainkan semacam rasa berdosa kosmik. Seolah kita telah melanggar perjanjian suci dengan diri sendiri atau dengan alam raya. “Saya berdosa karena belum ngopi!”—itulah bisikan hati yang ironis dan memaksa, menjadikan kopi sebagai hukum tak tertulis di pagi hari.

Namun, ketika ritual itu sudah ditunaikan, ketika cairan hitam pekat nan hangat itu sudah melewati kerongkongan, efeknya pun transenden. Bukan hanya kafein yang bekerja; ini adalah Ibadah. Rasa kick dari kafein itu tidak hanya menendang kantuk, ia membanjiri jiwa dengan rasa diberkahi.

Tiba-tiba, kita merasa capable. Siap menghadapi kemacetan, siap menghadapi tenggat waktu, siap menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Secangkir kopi mengubah kita dari manusia biasa menjadi manusia yang tersertifikasi untuk menjalani hari. Kita merasa diberkati oleh kekuatan yang diberikan kopi—sebuah sakramen yang memvalidasi keberadaan kita di hari itu. Kopi akhirnya mencapai level tertinggi: ia menjadi penyeimbang moralitas harian.

Dari Sekadar Beriman, Muncul Kewajiban Dakwah

Namun, di sinilah keindahan narasi ini menemukan dilemanya: Kopi bukanlah gadis di pojok sekolah yang hanya bisa dinikmati dan dipahami oleh satu orang. Ia adalah minuman yang disajikan massal, dan inilah yang memicu gejolak di kalangan para penganut fanatiknya.

Jika cinta ini sudah mencapai level iman dan ritual suci, maka muncul kebutuhan untuk menjaga kemurniannya. Di mata para pecinta kopi murni level ekstrem, semua orang yang berani mencampur kenikmatan tunggal kopi—sebuah sakramen kesyukuran—dengan unsur asing adalah bid’ah!

Mereka pun tergabung, bukan sekadar komunitas, tapi sebuah sekte. Sebuah gerakan pemurnian yang memiliki misi dakwah untuk mengembalikan kenikmatan kopi pada fitrahnya : Wahabeans. Bagi mereka, menyeduh kopi bukanlah sekadar menuang air panas. Ini adalah studi mendalam yang setara Manhaj. Rasa yang sempurna adalah hasil dari kepatuhan terhadap Rukun Ibadah yang ketat:

  1. Proporsi yang Benar (Nisab): Setiap gram bubuk harus diimbangi dengan mililiter air yang presisi—biasanya rasio 1:15 atau 1:16. Menyimpang dari rasio ini adalah dosa makruh.
  2. Suhu Air (Ijtihad): Suhu 93 derajat Celsius adalah sunah yang dianjurkan. Air yang terlalu panas akan menghanguskan (over-extract) karakter mulia biji, sementara air yang dingin akan meninggalkan (under-extract) esensi terbaiknya. Suhu adalah batas tipis antara nikmat dan kufur.
  3. Tingkat Kekasaran Biji (Hukum Wajib): Gilingan harus sesuai dengan metode seduh. French Press butuh gilingan kasar, V60 butuh sedang, dan Espresso butuh super halus. Kekasaran adalah rukun sah sebuah sajian. Menyeduh gilingan halus dengan French Press? Itu sama saja membatalkan salat.
  4. Metode Menuang (Adab): Menuang air harus dengan gerakan spiral yang konstan dan merata, dimulai dari tengah (center pour), diikuti bloom (membiarkan kopi mekar), lalu menuang secara bertahap. Ini adalah adab penyajian yang menuntut fokus mindfulness tertinggi.

Seluruh aspek teknis ini bagi Wahabeans bukanlah sekadar tips barista; ini adalah Kitab Suci Teknik Seduh. Mereka fokus dan tekun mempelajarinya, menghabiskan waktu tahunan bercengkrama dengan kopi, mencoba berbagai cara PDKT, hanya demi satu tujuan: Pencapaian Kenikmatan Tertinggi.

Kopi kini bergeser dari ranah selera; ia adalah Kebenaran Mutlak. Maka, hukum Latin yang selama ini dipegang teguh umat manusia—“de gustibus non est disputandum” (selera tidak dapat diperdebatkan)—tiba-tiba menjadi usang, bahkan sesat.

Mereka berhenti percaya pada perbedaan selera ketika dihadapkan pada hal-hal yang mereka anggap syirik dan haram. Menambah Susu kental manis yang membelokkan rasa pahit yang sakral adalah dosa besar, Sirup rasa-rasa yang mengkhianati kompleksitas fruity dan nutty alami biji adalah bid’ah yang nyata, dan yang paling parah, dosa paling besar yang tak termaafkan, yang membuat para Wahabeans mengeluarkan fatwa pengucilan massal: Kopi Saset : Jelas KAFIR!

Di mata sekte ini, kopi saset adalah penistaan terhadap ritual. Ia adalah jalan pintas yang merusak esensi, memangkas proses mindfulness, dan merendahkan kualitas biji kopi yang susah payah tumbuh. Bagi Wahabeans, kopi tidak lagi dapat diperdebatkan. Kopi adalah agama yang harus dijaga kemurniannya.

Dan di tengah perdebatan sengit tentang single origin vs blend, kita harus mengakui: para pecinta kopi murni ekstrem ini memang telah menemukan cinta yang paling dalam. Cinta yang saking dalamnya telah berubah menjadi fanatisme suci yang peduli pada umat. Wahabeans ingin semua orang di dunia dapat merasakan pengalaman spiritual yang sama melalui kopi.

Karena bagi sekte ini, kopi bukan sekadar selera; kopi adalah Agama. [T]

Penulis: Faikar Ramadhan
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupkopiPsikologisuper hero
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Selirih Dua Kota: Tur Pertunjukan Teater ‘Malin Kundang Lirih’ — Jakarta & Bojonegoro, Desember 2025

Next Post

Michio Kaku dan 11 Dimensi Semesta

Faikar Ramadhan

Faikar Ramadhan

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, Fisip Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Michio Kaku dan 11 Dimensi Semesta

Michio Kaku dan 11 Dimensi Semesta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co