TIDAK banyak yang tahu, Desa Jinengdalem di Buleleng, pernah menjadi tempat lahirnya sebuah drama gong yang menjadi primadona pada zamannya. Namanya Drama Gong Alapsari.
Drama ini muncul pada tahun 1966 sempat menjadi pembicraaan di mana-mana, sampai akhirnya hilang ditelan zaman. Kisah lahirnya dimulai ketika seorang penglingsir bernama Wayan Kota punya keinginan untuk mempertunjukkan drama berbahasa Bali. Ia kemduian mengumpulkan pemuda desa untuk berlatih.
Drama gong pun terbentuk, dan langsung menarik perhatian warga. Saat itu, hiburan sederhana seperti televisi atau film layar tancap belum ada sehingga drama gong menjadi satu-satunya hiburan masyarakat.

Saat itu Drama Gong Alapsari sempat terkenal dengan kisah klasik, Sri Tanjung. Kisahnya memang bikin penonton saat itu dilanda haru-biru.
Cerita bermula di Kerajaan Sinduraja yang dipimpin oleh Anak Agung Silakrama. Kerajaan itu mengalami wabah penyakit, sehingga banyak warga jatuh sakit. Raja meminta bantuan Sidapaksa untuk menemui seorang pendeta Brahmana di hutan Tamba Petra.
Sidapaksa pergi ke hutan dan bertemu pendeta Tamba Petra, yang menyuruh membuat sesajen di desanya. Secara tidak sengaja, pendeta itu juga mengajak Sri Tanjung, putri Sahadewa dari Pandawa. Sidapaksa, putra Nakula, menyadari bahwa mereka berdua ternyata sepupu. Pertemuan itu membuat mereka jatuh cinta.
Setelah itu, Sri Tanjung dibawa ke puri oleh Sidapaksa. Di puri, Sidapaksa menyampaikan amanat pendeta agar dibuatkan sesajen, yang mungkin belum lengkap sehingga wabah terjadi. Di tengah situasi itu, Anak Agung Silakrama juga jatuh cinta kepada Sri Tanjung.
Anak Agung Silakrama kemudian membuat akal licik untuk memisahkan Sidapaksa dan Sri Tanjung. Sidapaksa disuruh ke surga membawa surat untuk Dewa Indra. Surat itu memerintahkan agar Sidapaksa dibunuh. Sidapaksa yang polos menuruti perintah tanpa membaca isi surat.
Di surga, Sidapaksa disiksa di Tegal Penangsaran, tempat yang namanya berasal dari kata “sangsara”. Meski disiksa berhari-hari, Sidapaksa tetap hidup.
“Saat itu Sidapaksa disiksa, tapi kok ndak mati-mati Sidapaksa,” kata Astawa mengutip dialog dalam cerita itu.
Karena keheranan itu, Bhatara Indra membaca ulang suratnya dan sadar bahwa Sidapaksa tak bersalah. Ia pun dikembalikan ke dunia.
Sementara Sidapaksa berada di surga, Sri Tanjung dirayu Silakrama. Ia menolak setiap kali dipaksa. Raja bahkan mencoba memeluk dan hendak memperkosanya. Sidapaksa yang termakan fitnah mengira istrinya berselingkuh.
Dalam pementasan, adegan Sri Tanjung menatap Sidapaksa sambil berkata lirih selalu diingat Astawa.
”Kalau darahku busuk, aku berdosa. Tapi jika harum, berarti aku jujur,” kata Astawa mengutip dialog Sri Tanjung.
Dan begitu darah itu menyentuh tanah, semerbak wangi memenuhi udara. Saat itu muncul Rangda, utusan Dewi Durga, yang menghidupkan Sri Tanjung kembali.
Sidapaksa menyesal dan meminta ampun. Tapi Sri Tanjung menolak sebelum satu syarat terpenuhi, yaitu membunuh Anak Agung Silakrama dan membawa penggalan kepalanya ke hadapan Sri Tanjung.
“Terjadilah perang. Silakrama kalah, dan kepalanya dibawa sebagai penebus dosa,” tutur Astawa.

Skenario drama itu diadaptasi dari Pupuh Adri, karangan lama berbentuk sekar alit. Lirik-liriknya diterjemahkan menjadi adegan panggung. “Jadi ini bukan cerita baru, tapi sudah lama,” ucap Astawa.
Egar manah ira ni sri tanjung
Duk teka lakine
Sira mangkin nambut sang laki
Ki sidapaksa handulu
Paliate mrengat-mrengut
Sinambut tang sangku mangke
Tinimpalan ken ring batur
Ni sri tanjung tan pangucap
Kemengan tan wruh ring dosa
Artinya:
Gembira pikiran Ni Sri Tanjung
Saat datang suaminya
Dia menyambut sang laki
Ki Sidapaksa melihat
Pandangannya cemberut
Diambil sangku itu sekarang
Dibanting di atas batu
Ni sri tanjung tertegun
Kebingungan tidak tahu dengan kesalahan
Kehebatan dan Popularitas Drama Gong
Kala itu drama gong Jinengdalem belum memiliki gong kebyar, pementasan hanya diiringi gong angklung. Dari pentas ke pentas, hasilnya tak pernah dibagi pada anggota sekaa. Semuanya masuk kas bersama hingga akhirnya mereka mampu membeli gong gede.
Kini, gong angklung dengan perunggu asli dibeli oleh Desa Jinengdalem seharga Rp70 juta. Nilainya dibagi merata kepada 70 pemain yang terdaftar, sehingga masing-masing pemain menerima Rp1 juta.
“Betul-betul ngayah orang jaman dulu,” katanya bangga. Bahkan sebagian hasil pentas disumbangkan untuk pembangunan SDN 2 Jinengdalem.
Panggung drama digelar dengan tenda gulung yang digambar tangan oleh Jro Dalang Diah dari Nagasepeha. Ukurannya 5×5 meter. Nengah Astawa, Wakil Kelian Adat Dusun Alapsari, yang sejak kelas 6 SD hobi menonton drama gong ini, masih mengingat detailnya.
“Yang saya ingat itu ada latar hutan, di taman, goa, dan puri,” katanya.
Mereka juga menggunakan strongking (lampu pompa) yang dilapisi kertas minyak layangan berwarna merah.
“Kalau adegan raksasa, sinarnya merah. Giliran adegan Sri Tanjung, sinarnya cerah berbinar,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Pada masa itu belum ada televisi, juga belum ada film layar tancap, sehingga drama gong menjadi satu-satunya hiburan masyarakat. Tak heran jika pementasan mereka sampai ke dura desa (luar desa) dan selalu dinanti masyarakat.
“Drama gong menjadi satu-satunya hiburan warga. Sangat metaksu dan populer,” kenang Astawa.
Pemain yang dikenang
Pemain legendaris menjadi kekuatan drama gong Alapsari. Wayan Lenes memerankan Sidapaksa, Wayan Asri sebagai Sri Tanjung, Wayan Toya menjadi Anak Agung Silakrama, sementara Wayan Dasi dan Ketut Sukanegara berperan sebagai pepatih, dan Wayan Neca serta Ketut Suita sebagai penasar.

Ketut Sukanegara, pemeran pepatih Anak Agung Silakrama, kini berusia 78 tahun, mengungkapkan pementasan drama gong bahkan menginspirasi desa-desa lain. Drama Gong Tamblang dengan cerita Jaya Prana lan Layonsari, Drama Gong Puspa Anom Banyuning dengan Sampik Intai, dan Drama Gong Penarungan dengan Mental-Mentul. Ada juga Drama Gong Sangalangit dengan Gobang lan Lengser.
“Setelah Jinengdalem, drama gong mulai menjalar ke desa lain,” ungkapnya.
Sebelum drama gong muncul, desa ini juga punya drama nasional berbahasa Indonesia bertajuk Mustika dari Jemar yang dimainkan oleh pelakon asli Jinengdalem dengan iringan gitar dan drum.
Redupnya Panggung dan Tantangan Regenerasi
Namun tahun 1972, semuanya surut. Regenerasi tersendat. Ketut Suka menjelaskan, mencari sekaa gong pada masa sekarang semakin sulit. Banyak warga merasa kegiatan ini tidak lagi menguntungkan.
“Orang-orang masih berpendapat rugi, sing maan ape,” ujarnya.
Perubahan orientasi membuat masyarakat enggan terlibat dalam kesenian. Berbeda dengan dulu, kesenian digelar murni atas semangat ngayah, tanpa memikirkan keuntungan.
“Sekarang orang berpikir, apa yang akan mereka dapatkan? Apakah ekonominya menjanjikan?” imbuhnya.

Wayan Dasi, pemeran pepatih Sidapkasa yang kini berusia 80 tahun, para pemain lama telah sibuk dengan urusan masing-masing. Banyak pelakon legendaris telah meninggal.
“Arja mulai jarang, wayang masih hidup karena upacara. Anak-anak sekarang kelebihan waktunya di HP. Dulu kan biasa mesatua sebelum tidur, dengar kisah Prabu Nala dan Damayanti, Sri Tanjung dan Sidapaksa,” ucapnya pelan.
Kini jejak Drama Gong Jinengdalem makin dilupakan dan panggung yang dulu dipenuhi tawa itu mulai redup, hanya kenangan penglingsir yang masih tersisa. Akankah generasi muda menoleh dan menghidupkan drama gong? Atau biarkan begitu saja kisah Sri Tanjung dan Sidapaksa tenggelam pelan-pelan? Siapa yang tahu. [T]
Reporter/Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole



























