DI Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng, cahaya tak selalu datang dari matahari yang ramah. Kadang ia lahir dari sebuah pesan singkat di Instagram—ringkas, tak terduga, tetapi membuka jalan bagi sesuatu yang besar. Begitulah cerita ini bermula, sebuah DM dari manager Nali New Energy yang menatap visual publikasi mahasiswa KKN Ambengan, lalu memutuskan untuk merentangkan tangan. “Boleh kita bertemu?”
Pertemuan kecil itu kemudian menjadi percakapan panjang tentang listrik, gelap, dan potensi kecil yang bisa menyalakan harapan. Nali New Energy, melalui Arland Academy, menawarkan sesuatu yang tak pernah terpikir sebelumnya, sepuluh panel surya untuk menerangi titik-titik gelap di Desa Ambengan. Sebuah sumbangan yang bukan sekadar alat, tetapi tanda bahwa desa kecil di bukit itu dilihat, diperhatikan, dan dianggap penting.
Pihak desa menerimanya dengan tangan terbuka. Perbekel Ambengan Nyoman Seri menyebutnya “kabahagiaan yang datang pada waktu yang tepat.” “Memang di desa kami ada beberapa kawasan yang sangat gelap dan kurang mendapatkan penerangan, untungnya mahasiswa membawa kabar baik berupa kolaborasi ini” ucapnya.
Kata “gelap” yang ia sebutkan bukan metafora. Gelap di Ambengan adalah gelap yang sungguh gelap—jalan-jalan sempit di antara kebun, jalur kecil menuju rumah warga, tikungan sunyi di bukit. Ada tempat-tempat yang malamnya seperti menelan langkah, membuat pulang menjadi perkara keberanian.
Maka pada 16 November, malam sebelum pemasangan panel surya dilakukan, para mahasiswa memutuskan untuk turun ke lapangan. Mereka menyusuri empat dusun di desa Ambengan: Bukit Balu, Jembong, Pebantenan, dan Dusun Ambengan. Tak ada cahaya kecuali lampu gawai yang sedikit-sedikit menguarkan putih pucat. Mereka berjalan dengan senter kecil, dengan jaket tipis yang tak cukup menahan dingin.

Di Dusun Bukit Balu, mereka mencatat tiga titik gelap, di Jembong dua titik, Pebantenan dua titik lagi. Dan di Dusun Ambengan tiga titik yang juga perlu dibantu cahaya. Sepuluh titik. Cocok dengan sepuluh panel. Seolah semesta merumuskan angka-angka itu tanpa perlu dirapatkan.
Malam itu, para mahasiswa berkendara dalam gelap tanpa banyak bicara. Sesekali mereka menengok ke belakang, memastikan rombongannya tak terpisah. Mereka menembus gelap bukan karena keberanian luar biasa—kadang justru rasa takutnya jelas terasa—tapi karena mereka tahu, besok pagi orang-orang yang lewat di jalan itu tak lagi perlu memeluk bayang-bayang.

Lalu tibalah keesokan harinya, saat pemasangan dimulai. Siang itu, Desa Ambengan diguyur gerimis. Bukan hujan deras, tetapi cukup membuat baju basah dan tangan dingin. Namun pemasangan tetap dilanjutkan. Panel-panel surya diangkat, batu baterai dipasang pada remot kontrol lampu, kabel disambung, dan lampu-lampu ditempel pada tiang-tiang wi-fi desa yang sebelumnya telah disetujui sebagai titik pemasangan. Setiap titik yang selesai dipasangi lampu juga ditempel stiker kecil bertuliskan kolaborasi antara KKN Ambengan dan Arland Academy—bukan untuk pamer, tetapi sebagai penanda kerja sama lintas ruang, lintas niat.
Dalam proses itu, Arland Indrayana—owner Arland Academy—ikut memberikan pandangannya. Baginya, panel surya bukan sekadar alat teknis. Ia menyebutnya sebagai bagian dari gerakan kecil untuk memperbaiki kehidupan desa. “Panel surya itu mempermudah akses listrik di tempat yang belum terjangkau,” jelasnya. “Energi matahari disimpan di baterai, lalu baterai melahirkan cahaya. Hemat, tak perlu bayar per bulan. Dan estetikanya cocok dengan Tri Hita Karana. Tidak ada kabel-kabel semrawut, tidak merusak lingkungan.”
Dalam pandangannya, pembangunan desa seharusnya lahir dari inovasi—dan inovasi hanya mungkin muncul kalau ada ruang belajar yang terbuka. “Kolaborasi dengan KKN Ambengan itu luar biasa,” katanya. “Kawan-kawan tidak tertutup pada ide baru. Mereka mau belajar bersama, mau mencoba hal-hal baru. Dari belajar kita mendapatkan ilmu, dari ilmu lahir karya.”

Hari itu, para mahasiswa mengikat lampu dengan kawat yang diharapkan kuat, membuka baut, menyeret tangga, mengangkat panel, dan kadang berhenti sejenak karena gerimis menjadi hujan. Sedikit keluhan kadang terlontar, tetapi mereka tahu, sore nanti, ketika panel-panel itu mulai menyerap matahari untuk pertama kalinya, Desa Ambengan akan menyimpan cadangan cahaya untuk malam berikutnya. KKN yang berdampak bukan berarti harus membuat sesuatu yang sangat besar, mulai saja dengan hal kecil, yang bermakna, dan menempel di hati masyarakat. [T]
- Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole
![Tuturangan Ambengan [4]: Bersama Arland Academy, Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan Menerangi Jalan Desa Ambengan.](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/11/arik.-ambengan3-750x375.jpeg)


























