23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ngrebon Tugu’ dan Pembersihan Menjelang Galungan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
November 18, 2025
in Esai
‘Ngrebon Tugu’ dan Pembersihan Menjelang Galungan

Tugu Karang

Sehari sebelum Galungan, penjor-penjor berdiri indah di depan rumah masyarakat Bali. Di dalam dapurnya, masyarakat sibuk mengolah daging yang digunakan untuk berbagai macam masakan khas Bali, yakni lawar, sate, bréngkés, dan sebagainya. Bau bumbu di berbagai penjuru mengundang rasa lapar. Kini, di tengah perdebatan tentang pemasangan penjor yang mendahului Panampahan dan kabel listrik pasléngkat yang harus diwaspadai saat memasang penjor itu, saya ingin berbagi satu tradisi lain di Panampahan Galungan selain penjor dan lawar, yakni ngrebon tugu.

Tradisi ini mungkin terdengar asing di beberapa daerah, sebab ngrebon tugu memang tidak dilakukan merata di seluruh Bali. Sependek yang pernah saya lihat, tradisi ini rata-rata dilaksanakan masyarakat di Denpasar, Badung dan beberapa wilayah Gianyar. Di tempat lain mungkin juga dilaksanakan  sejenisnya, hanya saya tidak pernah melihatnya langsung. Ada bermacam-macam istilah untuk menyebut tradisi ini. Ada yang menyebut ngrebon tugu, mantenin tugu, odalan tugu, otonan tugu, dan sebagainya.

Tradisi ini tergolong sederhana. Dilakukan dengan cara mempersembahkan sajen di tugu karang rumah masing-masing. Sajen itu, umumnya terdiri atas banten tumpeng lima atau tujuh, disertai segehan. Satu perangkat sajen yang menjadi khas adalah banten pangrebuan, yang ditambah lima buah tumpeng penek diwadahi ceper, sate karangan, lawar dan olahan babi diwadahi sebuah sengkui kecil. Sate karangan ini adalah satai yang bentuknya kecil, satu ikat terdiri atas 30 batang. Ada pula yang berpendapat seharusnya berisi 33 batang. Mengenai permasalahan jumlah ini, terkait lagi dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Sajen ini selengkapnya dipersembahkan di tugu karang. Kadang tidak perlu pemangku untuk mengantarkannya. Pemilik rumah dapat mempersembahkan sajen ini sesuai kemampuannya sendiri dalam menyampaikan isi hati masing-masing (seha/atmanastuti). Ada kepercayaan pula jika sajen ini tidak boleh dipersembahkan lewat dari tengah hari, atau kira-kira pukul 12 siang. Konon jika melewati waktu yang dimaksud, persembahan sajen ini tidak akan memberi dampak yang optimal.

Berdasarkan makna harfiahnya, ngrebon berasal dari kata rebu, yang dalam Kamus Bahasa Bali dimaknai sebagai ‘melaksanakan upacara penyucian pada bangunan atau tempat suci menjelang hari raya Sugihan’. Kamus ini membatasi makna marebu atau ngrebon sebatas pada hari Sugihan. Kenyataannya tradisi ini ternyata juga dilakukan saat hari Panampahan. Beberapa daerah lain juga diketahui mengadakan kegiatan marebu untuk hari Pangrupukan. Dalam tulisan ini, ngrebon yang dimaksud adalah ngrebon tugu saat Panampahan. Saya mencoba mendekati kata ini dari bahasa Jawa Kuno, dan hasilnya dalam Kamus Jawa Kuna-Indonesia oleh Zoetmulder, kata rebu itu bermakna ‘menghibur atau membesarkan hati seseorang’. Kalau boleh diformulasikan secara sederhana, maka sebenarnya kata ngrebon dalam konteks ini memang lebih condong berupa ritus pembersihan. 

Bedanya dengan hari Sugihan adalah ngrebon saat Panampahan Galungan difokuskan hanya di tugu karang. Mengapa hanya di tugu karang? Sedangkan saat Sugihan Jawa ritus pembersihan berupa ngrebon sudah dilakukan untuk semua bangunan suci sekaligus?

Sedangkal yang bisa saya gali, saya belum menemukan teks dari lontar yang menjelaskan spesifik tentang jalannya ngrebon tugu. Saya berharap di kemudian hari dapat menemukannya. Namun, jika sekilas diperhatikan dari teks Sundarigama, yang biasa disebut sebagai teks induk rahinan Bali, maka pelaksanaan ritus di hari Panampahan dapat dijelaskan dari nukilan teks sebagai berikut.

A(nggara), Wa(ge), (Dungulan), panampahan, nga(ran), yata panadhahira sang Bhūta Galungan, marmani pasanggraha de ning pakrĕti ning deṡa-deṡa pakraman, wehana bhūta yajñā rikeng catuspata ning deṡa, sarūpa ning yajñā w(ĕ)nang, anūtakna niṣṭa madhya mottamanya, … , wehana caru ring sakuwu-kuwu kunang, sĕga warṇa, 3, sinasah tandinganya, manūt urip, putih, 5, bang, 9, irĕng, 4, iwak olah bawi, saha tatabuhan, sĕga agung, 1, gĕnahing acaru ring natar umah, sanggar, mwang dĕngĕn, sambat sang Bhūta Galungan … (lontar Sundarigama, koleksi pribadi).

Terjemahan: ‘Selasa Wage (di wuku Dungulan) disebut Panampahan. Itu adalah saatnya sang Bhuta Galungan memangsa, oleh sebab itu agar disambut dengan tindakan oleh warga desa pakraman, dengan memberikan bhuta yadnya di perempatan desa, wujud yadnya apapun boleh, sesuaikan dengan tingkatan kecil, menengah dan besarnya …. Berikan juga caru di rumah-rumah, dengan sega berwarna tiga, yang sajiannya disasah, sesuaikan dengan neptu, yang putih 5 buah, yang merah 9 buah, yang hitam 4 buah, lauknya olahan babi, serta tetabuhan, sega agung satu buah. Tempat melakukan caru itu di pelataran rumah, sanggar, dan dengen. Sebut nama sang Bhuta Galungan …’

Nukilan teks yang saya sebut memang tidak secara tegas menyebut ritus ngrebon tugu. Namun, kata kunci yang penting terkait dengan ngrebon tugu dari teks ini adalah tentang patutnya melakukan bhuta yadnya pada saat hari Panampahan, termasuk di rumah-rumah dengan tempat spesifik yang salah satunya disebut dengen. Kata dengen ini bermakna ‘tugu di pekarangan’, sementara Kamus Jawa Kuna mendefinisikannya sebagai sejenis bangunan suci semata. Dalam Kakawin Sutasoma, kata ini muncul setidaknya tiga kali dan senantiasa berdampingan dengan kata sanggar. Dalam teks-teks lontar Wariga, khususnya terkait tenung, ada pernyataan bahwa sebuah penyakit yang ditimpa orang dari kelahiran tertentu mungkin berasal dari pengaruh sanggah dengen karena pernah melakukan sebuah kesalahan tertentu. Istilah dengen iniyang ditafsir berikutnya sebagai tugu karang.

Tradisi mempersembahkan sajen di tugu ini tidak statis. Besar kemungkinan bentuknya berevolusi melalui proses interpretasi, penyesuaian lokal (désa kala patra), dan pencerapan makna dari teks-teks universal ke dalam konteks yang spesifik. Teks Sundarigama yang sudah disebutkan di muka dalam hal ini memberikan kerangka teologis yang kuat tentang perlunya menetralisir Bhuta Galungan dengan bhuta yadnya di rumah, termasuk di dengen (tugu). Dalam hal ini, maka tradisi ngrebon tugu memiliki status sebagai teks yang hidup dalam praktik.

Terkait dengan tugu karang, bangunan suci di pojok rumah ini memang dikenal sebagai bangunan suci yang sangat angker. Keyakinan ini adalah sebuah mitos kolektif yang seluruh masyarakat Hindu di Bali pasti sudah memahaminya. Busana yang dikenakan padanya serba poleng, sebagai simbol dualitas yang tak terpisahkan. Poleng itu, yang terdiri atas selem ‘hitam’ dan putih ‘putih’ membuat tugu karang dikenal akan kekuatannya untuk nyelem-mutih yakni menyalahkan atau membenarkan sesuatu bagi penghuni rumah. Posisinya yang umumnya berada di sudut barat laut, dalam ilmu perundagian Bali merupakan pos untuk Kala Raksa, diyakini sebagai salah satu benteng pertahanan yang kuat dalam rumah, bersama dengan Aji Raksa (timur laut), Sri Raksa (tenggara) dan Ludra Raksa (barat daya).

Beberapa versi yang beredar di masyarakat meyakini jika gelar untuk beliau yang bersetana di tugu karang adalah Hyang Durga Manik. Beberapa versi lain, ada yang menyebutnya Ratu Madué Gumi atau Madué Karang, Ratu Nyoman, Ratu Gede/Jero Gede, dan sebagainya. Semua aspek tersebut diyakini sebagai penjaga, juga sebagai manifestasi yang bertanggungjawab atas stabilitas energi negatif dan positif di pekarangan rumah. Semua jenis bhuta, kala, durga, pamali, termasuk serangan ilmu hitam diyakini tunduk pada kuasa beliau yang disetanakan di tugu karang.  Belakangan ada pula yang menyamakan setana tugu karang di barat laut ini sebagai setana Dewa Sangkara, yang dalam kosmologi Nawa Dewata merupakan penguasa arah tersebut.

Tugu Karang

Persembahan sajen di tugu karang pada hari Panampahan, oleh sebab itu dapat ditarik benang merahnya yakni bentuk penetralisir atas pengaruh-pengaruh buruk yang terkait dengan bhuta, kala dan durga yang ada di tengah pemukiman masyarakat. Lebih-lebih persembahan yang digunakan berupa daging babi, umumnya memang spesifik untuk melengkapi sajen yang terkait dengan caru, bebangkit dan persembahan sor ‘bawah’. Persembahan tantris ini merupakan sebuah harapan untuk menetralisir unsur-unsur bermutu raksasa, agar berubah menjadi unsur yang memiliki mutu dewata.

Sementara itu, jika ditilik lagi tentang ritus yang dilakukan di tugu karang, yang umumnya ada di pojok dan daerah agak tersembunyi, maka ada sejenis pesan untuk membersihkan sudut-sudut yang mungkin jarang diperhatikan. Sudut penempatan tugu yang agak tersembunyi seolah menjadi simbol “sudut gelap” yang sulit dipahami pemilik rumah. “Sudut gelap” itu merupakan simbol untuk mencari ke dalam. Menguliti diri agar memahami esensi sejati atas hidup ini. Tentunya penempatan tugu karang seperti itu sangat berbeda dengan perumahan kontemporer sekarang yang bisa saja menempatkan tugu karang di lantai atas atau bahkan di dekat pintu masuk hingga di tengah-tengah halaman rumah karena keterbatasan ruang.

Pembersihan ini melibatkan keterkaitan makna sebagai ritus transformasi. Filosofi di balik Galungan adalah kemenangan dharma ‘kebenaran’ atas adharma ‘kebatilan’. Sebelum kemenangan itu dirayakan, segala bentuk adharma yang direpresentasikan oleh energi negatif harus dijinakkan dan diubah sifatnya. Persembahan di tugu karang tidaklah untuk “menyembah” kekuatan negatif, melainkan pengakuan yang realistis atas keberadaannya. Dengan ritus ini, kekuatan tersebut “dipuaskan”, dinetralisir, dan diharapkan berubah mutunya dari raksasa menjadi dewata. Singkatnya, ngrebon tugu adalah langkah untuk menciptakan keseimbangan kosmis di lingkungan rumah, guna menyiapkan lebih banyak ruang bersih bagi masuknya kekuatan suci pada hari Galungan.

Pesan implisit dalam tradisi ini adalah bahwa kemenangan kebajikan atas kebatilan juga dapat disambut dengan membersihkan sudut pekarangan kita, juga sudut dalam lubuk hati kita yang mungkin lebih gelap dari sudut barat laut itu. Yang jelas, ritus ini perlu didukung juga dengan rasa saling mengasihi, toleransi, dan saling menghargai satu sama lain di dalam pekarangan itu, lebih-lebih untuk pekarangan yang didiami lebih dari satu kepala keluarga. Jika hal ini belum terpenuhi, rasanya setelah dinetralisir pada Panampahan, esok harinya, atau bahkan nanti sorenya gejolak-gejolak negatif akan kembali menghantam pekarangan kita. Padahal, ini masih dalam rangkaian hari kemenangan dharma, bukan? [T]

A/Wa. 18.11.2025

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Next Post

‘Sejak Padi Mengakar’: Sebuah Gugatan yang Artistik

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
‘Sejak Padi Mengakar’: Sebuah Gugatan yang Artistik

'Sejak Padi Mengakar': Sebuah Gugatan yang Artistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co