3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ngrebon Tugu’ dan Pembersihan Menjelang Galungan

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
November 18, 2025
in Esai
‘Ngrebon Tugu’ dan Pembersihan Menjelang Galungan

Tugu Karang

Sehari sebelum Galungan, penjor-penjor berdiri indah di depan rumah masyarakat Bali. Di dalam dapurnya, masyarakat sibuk mengolah daging yang digunakan untuk berbagai macam masakan khas Bali, yakni lawar, sate, bréngkés, dan sebagainya. Bau bumbu di berbagai penjuru mengundang rasa lapar. Kini, di tengah perdebatan tentang pemasangan penjor yang mendahului Panampahan dan kabel listrik pasléngkat yang harus diwaspadai saat memasang penjor itu, saya ingin berbagi satu tradisi lain di Panampahan Galungan selain penjor dan lawar, yakni ngrebon tugu.

Tradisi ini mungkin terdengar asing di beberapa daerah, sebab ngrebon tugu memang tidak dilakukan merata di seluruh Bali. Sependek yang pernah saya lihat, tradisi ini rata-rata dilaksanakan masyarakat di Denpasar, Badung dan beberapa wilayah Gianyar. Di tempat lain mungkin juga dilaksanakan  sejenisnya, hanya saya tidak pernah melihatnya langsung. Ada bermacam-macam istilah untuk menyebut tradisi ini. Ada yang menyebut ngrebon tugu, mantenin tugu, odalan tugu, otonan tugu, dan sebagainya.

Tradisi ini tergolong sederhana. Dilakukan dengan cara mempersembahkan sajen di tugu karang rumah masing-masing. Sajen itu, umumnya terdiri atas banten tumpeng lima atau tujuh, disertai segehan. Satu perangkat sajen yang menjadi khas adalah banten pangrebuan, yang ditambah lima buah tumpeng penek diwadahi ceper, sate karangan, lawar dan olahan babi diwadahi sebuah sengkui kecil. Sate karangan ini adalah satai yang bentuknya kecil, satu ikat terdiri atas 30 batang. Ada pula yang berpendapat seharusnya berisi 33 batang. Mengenai permasalahan jumlah ini, terkait lagi dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Sajen ini selengkapnya dipersembahkan di tugu karang. Kadang tidak perlu pemangku untuk mengantarkannya. Pemilik rumah dapat mempersembahkan sajen ini sesuai kemampuannya sendiri dalam menyampaikan isi hati masing-masing (seha/atmanastuti). Ada kepercayaan pula jika sajen ini tidak boleh dipersembahkan lewat dari tengah hari, atau kira-kira pukul 12 siang. Konon jika melewati waktu yang dimaksud, persembahan sajen ini tidak akan memberi dampak yang optimal.

Berdasarkan makna harfiahnya, ngrebon berasal dari kata rebu, yang dalam Kamus Bahasa Bali dimaknai sebagai ‘melaksanakan upacara penyucian pada bangunan atau tempat suci menjelang hari raya Sugihan’. Kamus ini membatasi makna marebu atau ngrebon sebatas pada hari Sugihan. Kenyataannya tradisi ini ternyata juga dilakukan saat hari Panampahan. Beberapa daerah lain juga diketahui mengadakan kegiatan marebu untuk hari Pangrupukan. Dalam tulisan ini, ngrebon yang dimaksud adalah ngrebon tugu saat Panampahan. Saya mencoba mendekati kata ini dari bahasa Jawa Kuno, dan hasilnya dalam Kamus Jawa Kuna-Indonesia oleh Zoetmulder, kata rebu itu bermakna ‘menghibur atau membesarkan hati seseorang’. Kalau boleh diformulasikan secara sederhana, maka sebenarnya kata ngrebon dalam konteks ini memang lebih condong berupa ritus pembersihan. 

Bedanya dengan hari Sugihan adalah ngrebon saat Panampahan Galungan difokuskan hanya di tugu karang. Mengapa hanya di tugu karang? Sedangkan saat Sugihan Jawa ritus pembersihan berupa ngrebon sudah dilakukan untuk semua bangunan suci sekaligus?

Sedangkal yang bisa saya gali, saya belum menemukan teks dari lontar yang menjelaskan spesifik tentang jalannya ngrebon tugu. Saya berharap di kemudian hari dapat menemukannya. Namun, jika sekilas diperhatikan dari teks Sundarigama, yang biasa disebut sebagai teks induk rahinan Bali, maka pelaksanaan ritus di hari Panampahan dapat dijelaskan dari nukilan teks sebagai berikut.

A(nggara), Wa(ge), (Dungulan), panampahan, nga(ran), yata panadhahira sang Bhūta Galungan, marmani pasanggraha de ning pakrĕti ning deṡa-deṡa pakraman, wehana bhūta yajñā rikeng catuspata ning deṡa, sarūpa ning yajñā w(ĕ)nang, anūtakna niṣṭa madhya mottamanya, … , wehana caru ring sakuwu-kuwu kunang, sĕga warṇa, 3, sinasah tandinganya, manūt urip, putih, 5, bang, 9, irĕng, 4, iwak olah bawi, saha tatabuhan, sĕga agung, 1, gĕnahing acaru ring natar umah, sanggar, mwang dĕngĕn, sambat sang Bhūta Galungan … (lontar Sundarigama, koleksi pribadi).

Terjemahan: ‘Selasa Wage (di wuku Dungulan) disebut Panampahan. Itu adalah saatnya sang Bhuta Galungan memangsa, oleh sebab itu agar disambut dengan tindakan oleh warga desa pakraman, dengan memberikan bhuta yadnya di perempatan desa, wujud yadnya apapun boleh, sesuaikan dengan tingkatan kecil, menengah dan besarnya …. Berikan juga caru di rumah-rumah, dengan sega berwarna tiga, yang sajiannya disasah, sesuaikan dengan neptu, yang putih 5 buah, yang merah 9 buah, yang hitam 4 buah, lauknya olahan babi, serta tetabuhan, sega agung satu buah. Tempat melakukan caru itu di pelataran rumah, sanggar, dan dengen. Sebut nama sang Bhuta Galungan …’

Nukilan teks yang saya sebut memang tidak secara tegas menyebut ritus ngrebon tugu. Namun, kata kunci yang penting terkait dengan ngrebon tugu dari teks ini adalah tentang patutnya melakukan bhuta yadnya pada saat hari Panampahan, termasuk di rumah-rumah dengan tempat spesifik yang salah satunya disebut dengen. Kata dengen ini bermakna ‘tugu di pekarangan’, sementara Kamus Jawa Kuna mendefinisikannya sebagai sejenis bangunan suci semata. Dalam Kakawin Sutasoma, kata ini muncul setidaknya tiga kali dan senantiasa berdampingan dengan kata sanggar. Dalam teks-teks lontar Wariga, khususnya terkait tenung, ada pernyataan bahwa sebuah penyakit yang ditimpa orang dari kelahiran tertentu mungkin berasal dari pengaruh sanggah dengen karena pernah melakukan sebuah kesalahan tertentu. Istilah dengen iniyang ditafsir berikutnya sebagai tugu karang.

Tradisi mempersembahkan sajen di tugu ini tidak statis. Besar kemungkinan bentuknya berevolusi melalui proses interpretasi, penyesuaian lokal (désa kala patra), dan pencerapan makna dari teks-teks universal ke dalam konteks yang spesifik. Teks Sundarigama yang sudah disebutkan di muka dalam hal ini memberikan kerangka teologis yang kuat tentang perlunya menetralisir Bhuta Galungan dengan bhuta yadnya di rumah, termasuk di dengen (tugu). Dalam hal ini, maka tradisi ngrebon tugu memiliki status sebagai teks yang hidup dalam praktik.

Terkait dengan tugu karang, bangunan suci di pojok rumah ini memang dikenal sebagai bangunan suci yang sangat angker. Keyakinan ini adalah sebuah mitos kolektif yang seluruh masyarakat Hindu di Bali pasti sudah memahaminya. Busana yang dikenakan padanya serba poleng, sebagai simbol dualitas yang tak terpisahkan. Poleng itu, yang terdiri atas selem ‘hitam’ dan putih ‘putih’ membuat tugu karang dikenal akan kekuatannya untuk nyelem-mutih yakni menyalahkan atau membenarkan sesuatu bagi penghuni rumah. Posisinya yang umumnya berada di sudut barat laut, dalam ilmu perundagian Bali merupakan pos untuk Kala Raksa, diyakini sebagai salah satu benteng pertahanan yang kuat dalam rumah, bersama dengan Aji Raksa (timur laut), Sri Raksa (tenggara) dan Ludra Raksa (barat daya).

Beberapa versi yang beredar di masyarakat meyakini jika gelar untuk beliau yang bersetana di tugu karang adalah Hyang Durga Manik. Beberapa versi lain, ada yang menyebutnya Ratu Madué Gumi atau Madué Karang, Ratu Nyoman, Ratu Gede/Jero Gede, dan sebagainya. Semua aspek tersebut diyakini sebagai penjaga, juga sebagai manifestasi yang bertanggungjawab atas stabilitas energi negatif dan positif di pekarangan rumah. Semua jenis bhuta, kala, durga, pamali, termasuk serangan ilmu hitam diyakini tunduk pada kuasa beliau yang disetanakan di tugu karang.  Belakangan ada pula yang menyamakan setana tugu karang di barat laut ini sebagai setana Dewa Sangkara, yang dalam kosmologi Nawa Dewata merupakan penguasa arah tersebut.

Tugu Karang

Persembahan sajen di tugu karang pada hari Panampahan, oleh sebab itu dapat ditarik benang merahnya yakni bentuk penetralisir atas pengaruh-pengaruh buruk yang terkait dengan bhuta, kala dan durga yang ada di tengah pemukiman masyarakat. Lebih-lebih persembahan yang digunakan berupa daging babi, umumnya memang spesifik untuk melengkapi sajen yang terkait dengan caru, bebangkit dan persembahan sor ‘bawah’. Persembahan tantris ini merupakan sebuah harapan untuk menetralisir unsur-unsur bermutu raksasa, agar berubah menjadi unsur yang memiliki mutu dewata.

Sementara itu, jika ditilik lagi tentang ritus yang dilakukan di tugu karang, yang umumnya ada di pojok dan daerah agak tersembunyi, maka ada sejenis pesan untuk membersihkan sudut-sudut yang mungkin jarang diperhatikan. Sudut penempatan tugu yang agak tersembunyi seolah menjadi simbol “sudut gelap” yang sulit dipahami pemilik rumah. “Sudut gelap” itu merupakan simbol untuk mencari ke dalam. Menguliti diri agar memahami esensi sejati atas hidup ini. Tentunya penempatan tugu karang seperti itu sangat berbeda dengan perumahan kontemporer sekarang yang bisa saja menempatkan tugu karang di lantai atas atau bahkan di dekat pintu masuk hingga di tengah-tengah halaman rumah karena keterbatasan ruang.

Pembersihan ini melibatkan keterkaitan makna sebagai ritus transformasi. Filosofi di balik Galungan adalah kemenangan dharma ‘kebenaran’ atas adharma ‘kebatilan’. Sebelum kemenangan itu dirayakan, segala bentuk adharma yang direpresentasikan oleh energi negatif harus dijinakkan dan diubah sifatnya. Persembahan di tugu karang tidaklah untuk “menyembah” kekuatan negatif, melainkan pengakuan yang realistis atas keberadaannya. Dengan ritus ini, kekuatan tersebut “dipuaskan”, dinetralisir, dan diharapkan berubah mutunya dari raksasa menjadi dewata. Singkatnya, ngrebon tugu adalah langkah untuk menciptakan keseimbangan kosmis di lingkungan rumah, guna menyiapkan lebih banyak ruang bersih bagi masuknya kekuatan suci pada hari Galungan.

Pesan implisit dalam tradisi ini adalah bahwa kemenangan kebajikan atas kebatilan juga dapat disambut dengan membersihkan sudut pekarangan kita, juga sudut dalam lubuk hati kita yang mungkin lebih gelap dari sudut barat laut itu. Yang jelas, ritus ini perlu didukung juga dengan rasa saling mengasihi, toleransi, dan saling menghargai satu sama lain di dalam pekarangan itu, lebih-lebih untuk pekarangan yang didiami lebih dari satu kepala keluarga. Jika hal ini belum terpenuhi, rasanya setelah dinetralisir pada Panampahan, esok harinya, atau bahkan nanti sorenya gejolak-gejolak negatif akan kembali menghantam pekarangan kita. Padahal, ini masih dalam rangkaian hari kemenangan dharma, bukan? [T]

A/Wa. 18.11.2025

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: hari raya galunganhinduHindu BaliTradisi Galungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menembus Lapisan Ideologi, Mewujudkan Kesehatan Holistik

Next Post

‘Sejak Padi Mengakar’: Sebuah Gugatan yang Artistik

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
‘Sejak Padi Mengakar’: Sebuah Gugatan yang Artistik

'Sejak Padi Mengakar': Sebuah Gugatan yang Artistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co